
Ibrahim memegang pipinya yang baru saja Lensi cium. Ibrahim juga memegang dadanya yang terasa berdebar dengan cepat. Itu kali pertama dia dicium oleh seorang wanita, dan dia merasa ada yang aneh dalam dirinya.
Krieekkkk
Lensi perlahan membuka pintu kamar mandi. Mengintip keberadaan Ibrahim yang masih ada di kamar itu, atau sudah pergi bekerja. Tanpa Ibrahim tahu, dibalik pintu kamar mandi dirinya juga sedang menetralkan debaran dijantungnya. Dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba dia seberani itu.
Tap
Tap
Tap
Lensi perlahan menuruni anak tangga. Lensi pikir Ibrahim sudah pergi bekerja, ternyata pria itu sedang menikmati sarapan paginya dimeja makan.
"Aduh...sial. Ternyata dia belum pergi bekerja. Rasanya aku mau naik lagi keatas.Tapi dia sudah terlanjur lihat. Bagaimana ini? aku merasa sangat malu bertemu dengan dia," batin Lensi.
Lensi terpaksa mendekati meja makan, dan duduk disamping Ibrahim.
"Kenapa abang belum berangkat kerja?" tanya Lensi.
"Sedang menunggu seseorang untuk mengantar suaminya berangkat bekerja, setelah kabur ke dalam kamar mandi." Jawab Ibrahim.
"A-Abang nungguin aku?" tanya Lensi.
"Tuangkan nasi gorengnya!" ujar Ibrahim tanpa menjawab pertanyaan dari Lensi.
Lensi bergegas menuangkan dua centong nasi goreng kedalam piring suaminya dan mengambilkan sepotong ayam goreng dan meletakkannya kedalam piring itu.
"Dinda suapin ya bang?" tanya Lensi.
"Tidak perlu." Jawab Ibrahim yang tidak protes dengan sebutan Dinda yang Lensi katakan.
"Sekali saja ya bang? Dinda pengen nyuapin abang," tanya Lensi.
Ibrahim tidak menjawab ucapan Lensi. Dan Lensi mengartikan itu sebagai persetujuan dari Ibrahim. Lensi kemudian menyendokkan nasi goreng, dan menyuapkannya kedalam mulut Ibrahim.
"Maaf. Ada nasi disini," ujar Lensi sembari menyentuh sudut bibir Ibrahim.
Deg
Deg
Deg
Tanpa mereka tahu. Jantung mereka masing-masing berdegup dengan kencang. Untuk menghilangkan kecanggungan, Ibrahim segera mengambil alih sendok ditangan Lensi dan mulai makan sendiri.
Ibrahim menyudahi makannya, setelah meneguk segelas air putih hingga tandas.
"Aku berangkat kerja dulu," ujar Ibrahim.
"Dinda akan mengantar abang," ucap Lensi.
Lensi mengekor dibelakang Ibrahim. Saat akan menyerahkan tas kantor Ibrahim, Lensi juga meraih tangan Ibrahim untuk dia cium.
__ADS_1
"Kalau kamu ingin berkumpul dengan teman-temanmu akan aku izinkan. Tapi kalau kamu keluar rumah malah melakukan maksiat, maka sungguh aku tidak akan meridhoi," ucap Ibrahim.
"Kalau main kartunya nggak pakai duit boleh nggak bang?" Lensi menawar sembari nyengir.
Ibrahim menatap istri cantiknya itu dan kemudian menghela nafas panjang. Sebenarnya dengan Lensi tidak menggunakan hijab saja dirinya sudah terbebani. Apalagi dengan kelakuan Lensi yang tidak mencerminkan seorang istri Ustad dan seorang pengusaha kondang.
"Aku tidak akan bicara dua kali. Lagipula kamu sudah dewasa dan bersuami. Aku yakin kamu pasti bisa membedakan mana hal yang buruk dan mana hal yang baik." Jawab Ibrahim yang kemudian melangkah pergi dan memasukki mobil yang sudah disediakan supir.
๐น๐น๐น๐น๐น
Max yang sedang beristirahat terganggu saat mendengar ketukkan diluar kamarnya.
Kriekkkk
"Ada apa?" tanya Max.
"Maaf tuan. Ada tamu seorang wanita diluar." Jawab Pelayan.
"Seorang wanita? perasaan aku sudah lama tidak memesan ja**ng. Hirano juga tidak menghubungiku, kalau dia memesankan aku wanita hari ini," batin Max.
"Siapa namanya?" tanya Max.
"Dia bilang katakan saja nona L datang." Jawab Pelayan.
"L?" Max terkejut. Namun disisi lain hatinya berbunga.
"Suruh dia masuk dan tunggu sebentar. Buatkan juga dia minuman dan camilan," ujar Max.
"Baik tuan." Jawab Pelayan.
"L," sapa Max dengan senyun semringah dibibirnya.
"Lensi. Namaku Lensi Deva," ujar Lensi.
"Max Mandow," ucap Max.
"Hari ini aku datang karena aku ingin menepati janjiku waktu. Setelah berjuang cukup lama, aku baru menemukan kediaman megahmu ini," ujar Lensi yang membuat matanya memutari ruangan itu.
"Aku senang kamu datang. Apa kabarnu? apa terjatuh dari jembatan itu menimbulkan masalah ditubuhmu?" tanya Max.
"Tidak. Aku baik-baik saja. Dan kamu? apa Hirano memberkan hukuman, karena membuatnya keluar uang banyak?" tanya Lensi.
"Tidak juga. Walau bagaimanapun dia membutuhkan aku di klub. Kalau tidak ada aku, siapa yang akan dia suruh untuk melakukan pertarungan." Jawab Max.
"Apalagi bulan depan aku akan mengikuti kompetisi judi di Amerika. Semua ahli judi akan berkumpul disana. Apa kamu mau ikut denganku?" tanya Max.
"Aku tidak bisa. Perkerjaanku sangat banyak disini." Jawab Lensi.
"Sayang sekali. Padahal kamu sangat berbakat ujar Max.
"Kamu bisa memenangkan setiap kompetisi jika kamu banyak berlatih trik," ucap Lensi
"Trik? trik seperti apa yang kamu mainkan? apa waktu itu kamu melakukan kecurangan?" tanya Max.
__ADS_1
"Curang dengan cara apa? jelas-jelas kompetisi itu diawasi dengan ketat. Kartu malah banyak disetuh oleh petugas klub. Aku bahkan menggulung lengan jaketku, dengan tangan yang selalu berada diatas meja." Jawab Lensi.
"Maaf aku tidak bermaksud...."
"Tidak masalah." Jawab Lensi.
"Oh ya trik seperti apa yang kamu maksud?" tanya Max.
"Kamu bisa memperhatikan lawan mainmu saat menyusun kartunya. Kamu akan tahu, jenis kartu apa yang dia miliki. Saat kamu sudah tahu, kamu bisa membuat keputusan kartu apa yang ingin kamu keluarkan. Apa kamu mengerti maksudku?" tanya Lensi.
Max tersenyum saat mendengar penjelasan Lensi. Karena menurut Max Lensi sangat cerdas. Bahkan dirinya saja yang dijuluki Dewa judi, tidak pernah terpikirkan buat menghafal urutan kartu lawan.
"Len. Apa kamu sudah punya pacar?" tanya Max.
"Pacar? aku tidak punya pacar. Tapi...." Jawab Lensi.
"Tapi? tapi apa?" tanya Max.
"Apa aku harus jujur padanya tentang statusku sebagai istri orang? tapi kalau aku jujur, bagaimana kalau Ibrahim tidak suka aku menyiarkan status kami sebagai pansangan suami istri? aku harus konfirmasi dulu dengan Ibrahim," batin Lensi.
"Tidak apa. Emang kenapa kamu menanyakan aku punya pacar atau belum? kamu jomblo ya?" ledek Lensi.
"Iya. Emm...Len, apa malam besok kamu punya acara?" tanya Max.
"Ada apa?" tanya Lensi balik.
"Aku ingin mengajakmu makan malam." Jawab Max.
"Waduh Max. Kakakku sangat galak. Aku bisa digorok kalau berani keluar malam lagi. Sejak kejadian malam itu, aku dilarang keras keluar malam lagi," ujar Lensi.
Max Jadi teringat saat Arman mendatangi klub perjudian, dan menanyakan keberadaan Lensi waktu itu. Wajah pria itu memang seram, ditambah banyak tato ditubuhnya. Namun lain Max, lain pula dengan Lensi. Dibayangan wanita itu, sosok kakak yang dia maksud adalah Ibrahim suaminya sendiri.
"Emm...kalau makan siang boleh?" tanya Max.
"Aku harus izin dari dia, kemanapun aku pergi." Jawab Lensi.
"Baiklah akan ku tunggu kabarmu. Aku senang bisa mengenalmu dan juga berteman denganmu," ujar Max.
"Aku juga senang berteman denganmu," ucap Lensi.
"Awalnya hanya teman. Tapi aku ingin kamu jadi milikku Len. Kamu benar-benar gadis idamanku," batin Max.
"Aku pulang dulu ya Max? ada pekerjaan lainnya yang harus aku urus," ujar Lensi.
"Biar aku antar kamu ya?" tanya Max.
"Nggak perlu Max. Aku bawa motor sendiri soalnya." Jawab Lensi.
"Baiklah hati-hati. Biar aku antar kamu sampai teras," ujar Max.
"Emm." Lensi menganggukkan kepalanya.
"Oh ya. Apa Hirano masih mencari keberadaanku?" tanya Lensi.
__ADS_1
"Masih. Kamu harus selalu berhati-hati." Jawab Max.
Lensi dan Max berjalan menuju teras. Max merasa takjub, karena Lensi pergi dengan menggunakan sebuah motor Sport. Setelah membunyikan klakson satu kali, Lensipun pergi hingga menghilang dibalik pagar. Kali ini Lensi ingin pergi ke kantor Alex. Dia ingin meminta maaf pada pria itu.