MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
94. Gempor


__ADS_3

Okta menunggu dengan gugup dikamarnya. Saat ini dirinya terlihat sangat sexy dengan lingerie berwarna merah yang ia kenakan.


"Haduh...jadi begini ya rasanya nunggu malam pertama? aku kok jadi gugup setengah mampus gini. Ada rasa-rasa pengen pipis, ada rasa-rasa bengen be'ol. Ah...pipis dulu kalau gitu, nggak lucu kan kalau gituan ampe pipis,"ucap Okta sembari senyum-senyum sendiri.


Okta kemudian memasuki kamar mandi, sembari menunggu Arman pulang dari luar. Setelah selesai, dirinya keluar dari kamar mandi. Namun alangkah terkejutnya dia saat keluar, Arman ternyata baru saja membuka pintu kamarnya. Mata mereka beradu, Arman menelan ludahnya karena Okta terlihat sangat sexy dan Mengga*rahkan malam ini.


Arman bergegas menutup pintu dan menguncinya. Pria itu kemudian mendekati istrinya. Tanpa aba-aba pria itu langsung menyerang istrinya.


"Gila mantap bener nih obat. Aku akan tempur sampai gempor malam ini," batin Arman.


Arman tergesa-gesa melepaskan kain yang melekat ditubuhnya dan kemudian menggendong Okta untuk dia baringkan ditemlat peraduan mereka.


"Bang Arman kenapa ya? aku jadi bertambah berdebar kalau begini. Dia sudah seperti orang kesurupan. Apa karena ini efek nggak gituan sampai usia 40 tahun?" Okta jadi geli sendiri membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


Breetttt


Arman yang tidak sabar merobek kain tipis yang Okta kenakan. Okta tidak menggubris hal itu karena dia terlalu fokus dengan apa yang Arman lakukan.


Arman mulai beraksi. Pria itu sangat ingin membuat Okta senang dengan apa yang dia lakukan. Sebagai pria dewasa, dia tidak perlu berpikir keras bagaimana cara melakukannya. karena hal seperti itu cukup menuruti naluri saja. Dan saat ini dia tengah berusaha, agar istrinya itu tidak mengeluh.


Okta tidak bisa menjabarkan bagaimana rasa sensasi yang dia rasakan saat ini. Namun dia ingin agar Arman terus melakukannya. Dan tidak butuh waktu yang lama baginya, tubuh Okta menggelepar bak ikan kekurangan air.


Arman tersenyum menatap Okta yang begitu menikmati apa yang dia lakukan pada istrinya itu. Pria itu bergegas melepas kain terakhir yang menutupi kejantanannya. Mata Okta terbelalak saat melihat ukuran benda yang baru pertama kali dia lihat itu.


"Ba-Bang...apa itu akan muat? aku takut punyaku jadi berbentuk segi 7 nantinya," tanya Okta.


"Ckk...disaat seperti ini jangan melucu. Kamu akan tahu dan merasakannya, apa kamu lebih suka yang besar atau lebih suka ular lidi." Jawab Arman.


Arman kembali menyerang Okta. Dia ingin membuat Okta rileks sembari perlahan menekan miliknya secara perlahan.


"Ah...bang sakittt...." ucap Okta lirih.


"Tahan ya...nanti pasti nggak sakit lagi," bisik Arman.


"Kamu boleh mencakar punggung abang, kalau nggak kuat dengan sakitnya," sambung Arman yang hanya dianggukki oleh Okta.


Arman semakin mendorong masuk miliknya, dan terhenti saat menemui sebuah hambatan. Mata Arman terpejam, karena milik Okta mencengkram kuat miliknya. Sepertinya dia menyadari kalau Okta sangat takut dan belum bisa rileks saat ini.


"Lemaskan sayang. Percayalah, abang juga kesakitan saat ini," bisik Arman yang kemudian diangguki oleh Okta. Okta perlahan mulai merilekskan dirinya.


Arman yang merasa Okta sudah rileks, kemudian membuat hentakkan keras hingga dia berhasil menjebol pertahanan Okta


"Ahh....Nyaaakkkkkkkk....sakittt Nyakkk...."


Hap


Arman melahap daging lembut milik Okta, untuk meredam teriakkan istrinya itu. Arman juga membiarkan miliknya terbenam dibawah sana tanpa bergerak terlebih dahulu. Arman menghapus air mata Okta yang tengah menangis kesakitan.

__ADS_1


"Apa masih sakit? kalau sangat sakit abang cabut saja ya?" jahil Arman.


"Enak aja. Abang harus tanggung jawab buat aku enak karena sudah buat aku sakit." Jawaban Okta membuat Arman terkekeh.


Perlahan Arman mulai bergerak. Sambil bergerak, sembari dia menatap wajah Okta.


"Masih sakit?" tanya Arman disela-sela gerakkannya.


"Mulai enak." Jawab Okta dengan tersipu.


Cup


Arman mencium kening Okta. Pria itu mulai bergerak gencar, membuat suara ranjang mereka berdecit. Nafasnya dan Okta saling memburu. Okta tak kuasa menahan suara merdunya, ketika Arman menghujam dirinya.


Okta tidak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat dirinya kembali mendapatkan pelepasan keduanya. Namun tidak bagi Arman, mungkin karena efek obat, Arman semakin gencar bergerak saat mendengar erangan Okta dibawah kungkungannya.


Dan setelah mengubah beberapa posisi, barulah Arman tumbang sembari mendekap erat istri kecilnya itu.


Hosh


Hosh


Hosh


Nafas keduanya saling memburu satu sama lain.


Arman mencubit pipi Okta dengan gemas, karena istrinya itu sangat suka meledeknya.


"Mengapa mulutmu ini sangat suka mengucapkan kata yang seharusnya tidak perlu diucapkan. Hem?" tanya Arman sembari menguncit bibir Okta dengan jumputan tangannya.


Okta melepaskan jumputan tangan Arman, dan mengalungkan kedua tangannya dileher suaminya itu.


"Kenapa harus malu mengakui kalau tadi itu benar-benar enak. Aku saja nyesel umur 23 baru kawin. Kalau tahu seenak itu, mungkin dari dalam kandungan aku minta dikawinin sama abang," ujar Okta yang semakin ngawur


Ctakkkkk


"Otakmu ini sudah bermasalah. Jangan-Jangan kepalamu ini sering terbentur ya?" tanya Arman.


"Iya. Karena tadi terbentur kepala...." Okta menaik turunkan alisnya. Sementara Arman hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari tersenyum. Pria itu jadi malu sendiri mendengar ucapan sang istri.


"Abang benar. Tadinya aku sempat takut, tapi setelah merasakannya aku malah...."


Lagi-Lagi Okta menaik turunkan alisnya, hingga Arnan tak kuasa menahan tawanya.


"Kamu ini seorang perempuan. Kenapa tidak punya rasa malu seperti itu. Hem?" tanya Arman.


"Kenapa harus malu? punya suami sendiri. Ngomong-Ngomong yang dibawah belum mau dicabut bang?" tanya Okta.

__ADS_1


"Nggak perlu. Karena dia sudah bangun lagi._ Jawab Arman yang gantian menaik turunkan alisnya.


"Ap-Apa? lagi?" tanya Okta terkejut. Karena pinggangnya belum juga lentur kembali.


"Kenapa? katanya enak?" sindir Arman sembari mulai bergerak kembali.


"Haduhhh...kalau begini caranye, si Rogaye pasti cepat dapat cucu. Die pasti seneng, tapi mpot ayam aye bersegi 7," ucap Okta yang membuat Arman tertawa keras disela gerakkan intensnya.


Tidak jauh berbeda di kamar Okta, dikamar Lensi tidak kalah panasnya. Jika Okta dan Arman sudah menyelesaikan ronde pertama, Ibrahim dan Lensi belum menyudahi sama sekali. Mungkin karena Ibrahim sudah sering berlatih, jadi dia sudah semakin kuat dan tahan lama. Setelah bermain hampir satu jam, barulah Lensi dan Ibrahim mendapatkan pelepasan mereka.


Hosh


Hosh


Hosh


"Capek banget bang," ujar Lensi disela nafas mereka yang memburu.


"Pokoknya malam ini nggak boleh tidur," ucap Ibrahim.


"Abang mau minta lagi?" tanya Lensi.


"Tentu saja. Abang sudah terlanjur minum obat. Dan khasiatnya benar-benar dahsyat." Jawab Ibrahim yang keceplosan.


"Obat? jadi abang minum obat? pantas saja beda. Hati-Hati loh bang, bahaya buat jantung abang," ujar Lensi.


"Asalkan mati disisimu abang...."


Hap


Lensi menutup mulut Ibrahim sembari menggelengkan kepalanya.


"Jangan bicara tentang kematian lagi. Kalau abang mati, aku mau ikut. Aku nggak bisa kalau nggak ada abang," ujar Lensi.


Ibrahim tersenyum dan kemudian mengecup kening Lensi.


"Abang mencintaimu dinda," ucap Ibrahim


"Dinda juga mencintai abang," ucap Lensi.


"Oh god. Obatnya luar biasa," ujar Ibrahim yang memejamkan mata.


Lensi bisa merasakan dibawah sana dirinya kembali merasakan sesak penuh, yang membuat Lensi jadi panik.


"Lagi bang?" tanya Lensi yang dianggukki Ibrahim sembari tersenyum.


Lensi hanya bisa menepuk dahinya, karena Ibrahim belum sempat menarik kepemilikkannya namun malah kembali menggoyangnya.

__ADS_1


__ADS_2