MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
109. Hasil DNA


__ADS_3

Dua minggu telah berlalu sejak Handoko dan Marini mengajukan test DNA di salah satu rumah sakit terbesar di kota Jakarta. Kini setelah mengambil hasil test DNA itu, Handoko dan Marini kembali duduk di sebuah Kafe untuk melihat hasilnya.


Handoko perlahan merobek ujung amplop, dan menarik kertas putih yang sudah dilipat menjadi 3 bagian. Handoko perlahan membuka hasil test DNA itu, dan menghela nafas panjang saat tahu Vega memang benar adalah putri kandungnya.


"Bagaimana mas? cocok kan DNA nya?" tanya Marini.


"Ya cocok. Tapi yang aku nggak habis pikir, kamu kok bisa-bisanya membohongi Surya sejauh ini?" ucap Handoko.


"Ya mau gimana lagi mas. Aku benar-benar minta maaf. Waktu itu dia bisa memberikan aku segalanya, dan menerima aku apa adanya. Tapi tetap saja, Mas lah orang yang pertama kali mengambil keperawananku. Seharusnya mas tidak mudah melupakan aku begitu saja," ujar Marini.


"Seperti yang aku katakan waktu itu. Itu bukan salahku, karena kamulah yang memutuskan hubungan kita lebih dulu. Sekarang lebih baik kita lupakan masa lalu. Apa yang kamu inginkan dariku?" tanya Handoko.


"Aku ingin mas membantu Vega untuk meringankan hukumannya." Jawab Marini.


"Siapa orang yang akan kita hadapi? maksudku, siapa orang yang sudah Vega singgung?" tanya Handoko.


"Lensi. Putri kandung Surya. Dan suami Lensi Ibrahim Al-Gifari. Pemilik Al-Gif Group." Jawab Marini.


"Kenapa dia bisa melakukan hal yang tidak terpuji begitu? sebenarnya bagaimana caramu mendidik anak?" tanya Handoko.


"Itu sudah berlalu mas. Aku juga tidak mungkin mengontrol Vega 24 jam. Namanya juga anak muda. Sekarang kita cuma perlu memikirkan cara, bagaimaimana mengeluarkan Vega dengan cepat." Jawab Marini.


"Aku akan membantunya, tapi aku ingin mengajukan syarat," ucap Handoko.


"Apa itu mas?" tanya Marini.


"Jangan pernah kalian datang ke rumahku. Jangan pernah menemui istri dan anakku. Mereka tidak tahu tentang keberadaan kalian. Setiap bulan aku akan mengirimkan nafkah untuk Vega. Tapi cuka sebatas itu saja. Setelah dia menikah, tentu saja tanggung jawab itu berakhir." Jawab Handoko.


"Kena kamu mas. Sekarang aku tahu kelemahanmu. Jadi kamu tidak ingin anak istrimu tahu kan? enak saja mau memberi jatah setiap bulan yang nggak seberapa itu. Aku ingin semuanya mas, semuanya! awalnya kamu memang mililkku, dan sekarang juga kamu harus jadi milikku lagi," batin Marini.


"Baiklah kalau itu yang mas inginkan. Aku hanya bisa menurut saja." Jawab Marini.


"Nanti ada pengacara yang akan menghubungimu. Dia akan membantu menangani perkaranya," ujar Handoko.


"Makasih mas," ucap Marini.


"Aku pulang dulu. Aku sudah terlalu lama keluar kantor," ujar Handoko.


"Kapan mas akan menemui Vega?" tanya Marini.

__ADS_1


"Sebaiknya kamu yang memberitahu dia terlebih dahulu. Kalau langsung menemuinya sekarang, takutnya dia akan syok." Jawab Handoko.


"Baiklah aku mengerti mas," ujar Marini.


Handoko kemudian melenggang pergi, sementara Marini pergi menemui Vega di penjara dengan membawa hasil test DNA.


"Apa ini ma?" tanya Vega.


"Buka saja." Jawab Marini.


Vega kemudian membuka kertas itu dan membaca isi didalamnya.


"Apa ini maksudnya ma? ini hasil DNA antara Vega dengan Handoko? siapa Handoko?" tanya Vega.


"Papa kandungmu." Jawab Marini dengan santai.


"Pa-Papa kandungku? jadi maksud mama papa Surya bukan papa kandungku? lelucon macam apa ini ma? puluhan tahun aku menganggap orang lain sebagai papa kandungku? apa Surya juga tahu kalau aku ini bukan putri kandungnya?" tanya Vega.


"Tidak." Jawab Marini.


"Jadi apa tujuan mama menunjukkan hasil DNA ini padaku. Ini sama sekali nggak bisa membuatku keluar dari penjara," tanya Vega.


"Benarkah?" tanya Vega senang.


"Tentu saja. Kamu jangan bodoh menolak dia sebagai papamu. Sekarang Surya tidak mempunyai apa-apa. Kamu harus pintar memgambil hati Handoko." Jawab Marini.


"Tapi ma. Handoko pasti sudah punya anak dan istri juga kan?" tanya Vega.


"Lalu kenapa kalau punya? kamu harus pikirkan juga bagaimana caranya kita bisa berada diposisi mereka.Tapi sekarang fokus saja dengan kasus yang sedang kamu hadapi." Jawab Marini.


"Lalu bagaimana dengan papa Surya?" tanya Vega.


"Kenapa harus memikirkan dia. Dia sudah tidak berguna lagi buat kita. Lagipula dia pasti akan membunuh mama, kalau sampai dia tahu uangnya sudah mama habiskan buat investasi bodong." Jawab Marini.


"Kalau begitu katakan pada Handoko. Kalau aku ingin bertemu denganya," ujar Vega.


"Berusahalah dengan keras. Kamu punya saingan yaitu putrinya, dan mama punya saingan yaitu istrinya. Kita harus pikirkan, bagaimana caranya bisa menyingkirkan dua manusia itu," ucap Marini.


Sementara itu di tempat berbeda, Lensi menyeringai saat melihat titik-tik lokasi kepergian Marini.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Ibrahim sembari meletakkan dua cangkir coklat panas diatas meja.


"Sepertinya hasil DNA itu sudah keluar. Dan Marini sudah menebarkan racunnya." Jawab Lensi.


"Sekarang apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Ibrahim.


"Sesuai rencana awal saja. Aku ingin melihat Surya hancur dulu, baru kemudian membuat perhitungan dengan kedua wanita itu." Jawab Lensi.


Ibrahim terdiam. Dia cukup dilema melihat istrinya masih dengan penuh dendam. Sejatinya dia ingin melarang istrinya itu melakukan hal-hal yang tidak terpuji, tapi dia ingin menegurnya sehalus mungkin agar tidak tersinggung.


"Sayang. Kita sudah hampir 7 bulan menikah. Abang sudah sangat ingin memiliki anak. Bagaimana kalau biarkan Allah saja yang bekerja," tanya Ibrahim.


Deg


"Jadi bang Baim sangat menuntut soal anak ya? berarti diam-diam dia juga merasa iri, karena Fatimah, Zoya, dan Okta sudah hamil. Tapi benar juga, kenapa sampai saat ini aku belum hamil juga? padahal kami sangat aktif melakukan hubungan seksual," batin Lensi.


"Ma-Maksud abang apa?" tanya Lensi.


"Maksud abang kita konsentrasi buat miliki anak. Masalah Surya dan keluarganya biar Allah saja yang memberikan keadilan." Jawab Ibrahim.


"Emm...apa abang benar-benar ingin memiliki anak dengan cepat?" tanya Lensi.


"Tidak juga. Tapi abang pikir mungkin kita terlambat mendapat kabar baik karena kamu terlalu fokus dengan aksi balas dendammu itu. Kata orang kalau mau cepat hamil hati kita harus tenang, jangan banyak pikiran, dan harus selalu berpikiran positif." Jawab Ibrahim.


"Jadi abang mau menyuruhku melupakan begitu saja kejadian yang menimpa mama tanpa memberi keadilan apapun pada Surya dan Marini?" tanya Lensi.


"Apa kamu tidak percaya dengan keadilan Allah?" tanya Ibrahim.


"Percaya. Tapi kan suka lama," gerutu Lensi tapi masih bisa di dengar oleh Ibrahim.


"Apa?"


"Eh? e-enggak bang. Aku percaya kok." Jawab Lensi.


"Kalau percaya, kamu mau nggak membebaskan semuanya?" tanya Ibrahim sembari menatap mata istrinya itu.


"Demi abang, demi kebaikan kamu dan demi calon anak kita," sambung Ibrahim.


Mata Ibrahim yang teduh, ditambah keyakinan pria itu, membuat Lensi tanpa sadar menganggukkan kepalanya dan membuat senyum Ibrahim merekah.

__ADS_1


__ADS_2