
"Dew. Bawa Ustad loe pulang gih. Ntar balik lagi kesini. Kalau dia masih disini, kita nggak bisa main Dew," bisik Okta.
"Kita mainnya nggak pake duit kok bang. Mainnya pakai hukuman," ujar Lensi.
"Hukuman? hukuman apa?" tanya Ibrahim.
"Ta. Seperti biasa," ujar Lensi.
Teman-Teman Lensi memutar bola mata dengan malas. Bermain dengan hukuman mereka lakukan disaat tidak memiliki uang. Namun saat ini mereka ingin benar-benar menggunakan taruhan uang untuk menguji kemampuan berjudi mereka.
Okta dengan malas mengambil kuwali langganan berpantat hitam, yang mereka jadikan sebagai sarana bermain tanpa uang.
"Nah ini hukumannya bang. Jadi yang kalah kena coret ini mukannya. Nggak dosa kan?" bujuk Lensi.
Ibrahim tampak diam. Dan akhirnya mengalah demi Lensi bisa bermain.
"Nanti kalau dia kalah, kalian jangan mencoret mukannya. Biar gantikan denganku saja," ujar Ibrahim.
Perkataan itu seperti angin segar bagi Lensi. Diapun tersenyum penuh kemenangan.
"Ya sudah. Mulai bagikan kartunya," ujar Lensi.
Okta mulai mengocok kartunya dan membagikan kesemua teman-temannya. Permainan itu tampak sengit awalnya, namun tiba-tiba Lensi meletakkan kartunya.
"Ah...sial, kalah gue," ujar Lensi.
Teman-Teman Lensi saling berpandangan satu sama lain. Karena sejak mereka tahu berjudi, Lensi sama sekali tidak pernah kalah saat bermain. Dan kali ini tiba-tiba Lensi kalah, pastilah ada sesutu yang tidak beres.
Riko melihat kartu Lensi ya g tergeletak di meja. Begitu juga Karman, Mawan dan okta. Namun saat melihat jenis kartu itu, jelas saja mereka terkejut. Karena sebenarnya Lensi memiliki peluang besar untuk menang. Lensi kemudian mengedipkan matanya kearah teman-temannya.Temannya yang paham hanya bisa menahan tawa mereka.
Sementara Ibrahim yang mendengar bahwa Lensi sudah kalah, wajahnya jadi tegang.
"Berhubung si Dewi sudah kalah, jadi kita semua harus mencoret wajah tuan Ibrahim bukan?" ucap Riko.
Semua teman-teman Lensi mulai mencolek pantat kuwali yang hitam pekat, dan mengoleskannya pada wajah Ibrahim. Sementara itu Lensi yang jahil, mengabadikan momen langka itu dengan video ponselnya.
Permainanpun dilanjutkan sampai babak akhir. Dan pemenangnya kali ini adalah Karman. Sementara yang lain juga sudah kena hitamnya arang kuwali.
"Kocok maning," ucap Riko.
Okta kembali mulai mengocok kartu, dan kemudian membagikannya. Dipermainan selanjutnya lagi-lagi Lensi berpura-pura mengalah. Dan lagi-lagi pula wajah Ibrahim kena sasaran. Teman-Teman Lensi sangat puas, kapan lagi mereka bisa ngerjain Ustad dan seorang pengusaha ternama.
Namun untuk permainan selanjutnya Lensi tidak mau mengalah lagi, hingga Ibrahim punya kesempatan untuk membalas teman-temannya. Terdengar tawa Ibrahim yang renyah, karena pria itu senang akhirnya Lensi memenangkan permainan. Dengan semangat Ibrahim mencoret wajah teman-teman Lensi. Lensi sangat bahagia bisa mendengar tawa Ibrahim yang tidak pernah dia dengar selama mereka menikah.
"Sudah adzan. Hentikan dulu permainannya, ayo kita sholat berjama'ah!" ucap Ibrahim yang membuat teman-teman Lensi jadi melongo.
Sementara Lensi jadi mengulun senyumnya dan mengambil tisu diatas meja.
"Kalian bersihkan muka kalian. Nanti bang Baim yang akan jadi imam kita," ujar Lensi.
__ADS_1
Karena Lensi sudah bersuara, teman-temannya tidak ada yang membantah. Mereka pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.
"Kapan terakhir loe sholat?" tanya Karman.
"Lupa." Jawab Mawan.
"Masuk nerakalah kalian," ujar Riko.
"Emang loe kapan Rik?" tanya Mawan.
"Tahun kemarin waktu sholat ied." Jawab Riko sembari terkekeh.
"Yang tiap hari aja belum tentu masuk surga, apalagi setahun sekali kayak kalian," timpal Okta.
"Emang loe kagak pernah bolong Ta sholatnya?" tanya Mawan.
"Bolong tiap hari malah." Jawab Okta sambil tertawa.
"Pokoknya turuti saja. Kapan lagi di imami oleh pengusaha hebat. Ya nggak?" tanya Karman.
"Ho'oh. Ntar bisa suruh si Dewi rekam video pas kita sholat nggak? biar nanti aku bisa pamer ama tetanggaku," ujar Mawan.
"Iya juga. Banggalah kita pasti. Sudah punya teman anak orang kaya, suaminya pengusaha hebat, kan ikut kecipratan pamor kita," timpal Riko.
"Dasar otak edun. Bagaimana caranye si Dewi suruh ngerekam? pan kita mau sholat berjama'ah," sahut si Okta.
"Cepat buruan. Nanti keburu dipanggil sama si Ustad," ujar Karman.
"Yang tua duluan biasanya," timpal Riko.
"Sialan," ujar Karman yang merasa dirinya paling tua dari teman-temannya.
Sementara itu Lensi masih membantu Ibrahim membersihkan wajahnya. Sembari membersihkan Lensi menyembunyikan senyumnya karena melihat wajah Ibrahim yang sudah hitam semua.
"Sepertinya kamu senang melihat suamimu begini," ujar Ibrahim sembari melihat senyum Lensi yang dikulum.
"E-Enggak! siapa yang senang bang. Tapi meski wajah abang bentuknya seperti apapun, wajah abang tetaplah tampan," ucap Lensi.
Cup
Lensi mencium pipi Ibrahim, setelah wajah itu bersih kembali.
"Sudah ganteng lagi. Ayo kita wudhu," ujar Lensi.
"Ehemmm...nggak gitu juga kali Dew. Mau mesra-mesraan liat-liat tempat. Bikin yang jomblo iri aja," ujar Okta.
Lensi menoleh kebelakang, dan terlihat teman-temannya sudah berjejer untuk menunggu mereka yang ingin sholat berjama'ah. Wajah Lensi dan Ibrahim jadi bersemu merah karena ketahuan.
"Ehemm...ayo wudhu," ujar Ibrahim sembari berjalan lebih dulu.
__ADS_1
"Hihihi...malu-malu tuh Ustad," ujar Okta.
"Kalian ganggu moment aja," ujar Lensi sembari berlalu pergi.
"Si Dewi agresif juga ternyata ya? nyosor aja duluan," ucap Karman.
"Dewi sudah bilang. Selama mereka masih bersama, dia akan memperlakukan si Ustad seperti miliknya sendiri karena dia berhak. Gue jadi sedih kalau bayangin si Dewi bakal patah hati ntar," ucap Okta.
"Mana mungkin Dewi patah hati? gue bisa lihat tuh Ustad juga suka sama si Dewi. Lagian tidak ada alasan buat nolak si Dewi. Dewi orangnya cantik, baek, pintar. Cuma agak tengil aja dikit, tapi kalau cuma itu kan bisa di poles," timpal Mawan.
"Nggak tahu. Kita lihat aja ntar," ujar Okta.
Setelah menunggu beberapa saat, Ibrahim dan Lensi segera kembali. Merekapun melakukan sholat berjama'ah. Pemandangan yang Nyak Rogaya tidak pernah lihat selama bertahun-tahun anaknya bergaul dengan teman-temannya.
"Demen banget lihat pemandangan ini. Rasanye adem banget," ujar Nyak Rogaya lirih.
Setelah mereka selesai sholat berjama'ah, merekapun ngobrol banyak hal. Teman-teman Lensi banyak mendapat ilmu dan pencerahan setelah bertukar pikiran dengan Ibrahim. Lensi tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk merekam Video percakapan itu. Dia ingin mengumpulkan kenangan sebanyak mungkin bersama Ibrahim. Agar saat dirinya berpisah, dia bisa membuka kenangan itu sewaktu dia merindukan Ibrahim.
"Ntaran lagi ngobrolnye. Kite makan berjama'ah dulu," ujar Nyak Rogaya yang sudah menyiapkan hidangan di amben yang terbuat dari bilah bambu.
"Nyak suka pilih kasih nih. Bertahun-Tahun kita main dimari, kagak pernah ditawarin makan. Saban kesini cuma dikasih gorengan. Giliran ada Ustad Baim, langsung diajak makan," ujar Riko.
"Beda dong. Kalau Ustad Baim orang cakep. Ngapain Nyak repot-repot nyiapin makan orang buluk." Jawab Nyak Rogaya yang membuat Ibrahim jadi tersenyum.
"Abang ganteng kalau senyum," bisik Lensi yang membuat senyum Ibrahim jadi lenyap.
"Hajarrrr Rikooo mainnnkan...musriiikkkk," Okta tiba-tiba berteriak.
Riko berlari mengambil galon konsong, dan centong nasi diatas meja.
"Kurrrrrrr....bisik-bisik tetangga, kini mulai terdengar selalu ditelinga, hingga menusuk dihatiku....tarikkk," Okta mendendangkan sebuah lagu yang berjudul bisik-bisik tetangga yang dipopulerkan oleh penyanyi dangdut elvi sukaesih.
Sementara Karman dan Mawan ikut bergoyang saat mendengar musik buatan dan nyanyian Okta.
"Teman sialan. Bikin malu aja," batin Lensi.
"Udeh-Udeh anak-anak burik. Kalian ini bisa aje ngeledekin neng Echi. Kalau iri cari noh pasangan sendiri," ujar Nyak Rogaya.
"Tau nih si Okta, kelihatan banget jomblonya," ujar Riko yang ingin cari aman.
"Teman-Teman kamu asyik juga ya?" bisik Ibrahim.
"Riko....mainkan lagi...tarikkk...bisik-bisik tetangga kini mulai terdengar selalu ditelinga hingga menusuk dihatiku...tarikkk manggg,"
Kali ini Ibrahim jadi terkekeh melihat teman-teman Lensi yang berjoget sembari menabuh galon kosong sebagai alat musik. Sementara Lensi menatap suaminya yang sedang terkekeh, moment hari ini tidak mungkin bisa dia lupakan.
Setelah makan bersama, Lensi dan Ibrahim memutuskan untuk pulang. Kali ini Ibrahim sudah mulai bisa rileks saat mendapat pelukkan Lensi dari belakang. Ibrahim memperlambat laju motornya, karena dia menyadari Lensi tengah tertidur saat ini.
"Kayak anak kecil. Bisa-Bisanya dia tertidur diatas motor. Sepertinya dia sangat kelelahan," batin Ibrahim.
__ADS_1
Ibrahim menggendong Lensi, saat mereka sudah tiba di rumah. Perlahan dia meletakkan Lensi diatas tempat tidur. Ditatapnya wajah cantik itu, dan lagi-lagi dorongan ingin mencium dia rasakan kembali. Dan kali ini dahi Lensi yang menjadi sasaran.