
"Gue pindah dulu ya? kapan-kapan main ke rumah gue. Dan satu lagi, jauhi Sendy. Gue bisa merasakan kalau wajahnya saat ini ditutupi topeng," bisik Lensi yang membuat tubuh Zoya jadi menegang.
Zoya hanya membalas ucapan Lensi dengan senyuman. Lensi kemudian pamit dengan Arman dan teman-temannya yang lain.
"Bang. Awasi Sendy," bisik Lensi yang membuat Arman jadi mengerutkan dahinya.
Lensi kemudian menaikki motor sportnya dan pergi dari markas. Setelah kepergian Lensi, Arman mengirim chat ke 10 orang kepercayaannya termasuk Zoya. Arman ingin mereka berkumpul di ruangannya.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!"
Zoya memimpin teman-temannya masuk lebih dulu ke ruangan Arman. Merekapun berdiri berjejer, untuk mendengarkan pengarahan dari Arman.
"Lensi bilang. Kita harus mengawasi Sendy. Aku tidak tahu apa maksud ucapannya, karena dia hanya memberikan petunjuk itu saja. Tapi aku percaya, instingnya tidak pernah meleset. Dia bicara seperti itu, pasti karena dia melihat ada sesuatu pada pria itu."
"Kita memang belum mengenalnya lama. Kalian selidiki dengan cermat. Hari ini rencananya aku akan membeli cctv. Untuk menambahi cctv yang masih kurang dibeberapa tempat. Ingat! hal ini jangan sampai bocor, aku hanya percaya pada kalian saja."
Ucapan Arman seperti sebuah hantaman keras bagi Zoya. Ada rasa sesak yang dia rasakan tiba-tiba.
"Sendy. Apa benar kamu seorang penghianat? kalau benar, itu artinya kamu hanya ingin memanfaatkanku saja?" batin Zoya.
Zoya jadi teringat saat tadi malam dirinya datang lagi ke kamar pria itu. Hampir sepanjang malam mereka menghabiskan waktu dengan berbagi keringat. Sampai akhinya di sesi percintaannya yang terakhir, Sendy menanyakan seputar masalah barang yang akan masuk dua hari lagi. Sendy juga menanyakan jumlah pasti anggota markas yang dipimpin oleh Arman. Dan masih banyak hal yang Sendy tanyakan padanya. Karena terbuai dengan ketampanan pria itu, Zoya menjawabnya tanpa ragu. Karena dia berpikir Sendy adalah bagian dari dirinya.
"Kalau itu benar, maka bisa dipastikan dia akan kabur malam ini. Sendy, aku harap kamu tidak menghianatiku. Aku harap semua yang di tuduhkan orang-orang itu tidaklah benar," batin Zoya.
Arman memperhatikan Zoya yang tengah melamun, alias tidak fokus mendengarkan ucapannya.
"Zoya. Apa kamu sakit?" tanya Arman.
"Eh? e-enggak bang. Aku cuma kecapek'an latihan saja." Jawab Zoya.
"Pergilah istirahat. Siang nanti bawakan aku pembukuan tentang senjata api yang akan masuk dua hari lagi," ucap Arman.
"Iya bang." Jawab Zoya.
Zoya segera keluar dari ruangan itu, disusul dengan teman-temannya yang lain. Namun saat keluar dari situ, hal pertama yang dia lakukan adalah mencari Sendy. Namun pria itu tidak ada di dapur atau di kamarnya. Zoya jadi berpikir ulang untuk menemui pria itu. dia akan membuktikan perkiraannya nanti malam.
Saat mendekati makan siang, Zoya menghampiri Sendy di dapur. Zoya masih membiarkan pria itu mencuri-curi ciuman darinya, bahkan setelah orang-orabg selesai makan siang. Zoya dan Sendy kembali berbagi keringat di kamar pria itu. Saat Sendy tertidur, Zoya menatap wajah pria itu. Dia masih tidak bisa percaya kalau Sendy benar-benar seorang penghianat.
Sementara itu di tempat berbeda. Lensi yang tiba di rumah barunya beberapa jam yang lalu tengah duduk santai dipinggir kolam sembari memainkan sebuah laptop.
"Mari kita buat gonjang ganjing dulu. Mari kita buat ketenangan Surya sedikit terusik. Hehehe"
__ADS_1
Lensi kemudian mulai meretas data perusahaan Gemilang group. Lensi tertawa keras, saat dirinya dengan mudah mencuri data perusahaan Surya dan menyebarkannya pada perusahan saingan Surya yang sejak dulu menginginkan perusahaan Surya jatuh.
Jangan ditanya bagaimana respon pihak IT dibagian perusahaan Surya. Mereka sangat panik, karena sebagian data mereka telah berhasil dicuri dan kemudian dihapus oleh virus yang tiba-tiba menyerang pertahanan mereka.
Surya menjadi heboh karena marah-marah disiang itu. Bahkan dia menyuruh orang untuk mencari peretas terbaik, agar bisa mengembalikan data yang hilang.
Lensi kemudian masuk ke dalam rumah. Dia ingin nonton tv sembari menikmati camilan yang sempat dia beli. Lensi ingin mencari kesibukkan, agar dia bisa melupakan Ibrahim.
"Ckk...lagi-lagi tato yang sama," ucap Lensi, saat melihat kejahatan kembali terjadi.
Tersangka kembali terekam cctv saat tengah melakukan pembegalan di tempat umum. Bahkan seorang korban mengalami luka bacok di punggungnya, dan sepeda motornya kemudian raib dibawa dua orang pria bertopeng.
"Bang. Mereka beraksi lagi. Mereka melakukan aksi begal di tempat umum," ujar Lensi diseberang telpon.
"Pantau cctv jalanan saat kejadian. Jangan lupa juga pantau cctv yang ada di markas. Hari ini aku memasang cctv baru di setiap sudut. Kalau dugaanmu benar, pasti akan ada pergerakkan malam ini," ujar Arman.
"Siap bang," Jawab Lensi.
๐น๐น๐น๐น๐น
Drap
Drap
Drap
Tap
"Jadi benar kamu penghianatnya. Sammy Richard Si-la-la-hi?" tanya Zoya dengan penuh penekanan.
Sementara Sendy yang memiliki nama asli Sammy itu, tampak menegang saat tahu Zoya sudah menangkap basah dirinya. Sammy perlahan membalikkan tubuhnya dan menatap wajah cantik Zoya yang sudah dipenuhi air mata. Sammy menelan ludahnya, dan sejenak ingin meraih wajah Zoya namun dia urung melakukannya.
Tap
Zoya memberikan dompet Sammy tepat didada pria itu. Dari situlah dia bisa tahu identitas asli pria itu. Zoya Sempat mencuri dompet itu setelah Sammy tertidur usai mereka bercinta tadi siang.
"Ikutlah denganku Zoya," Sammy mulai bersuara.
"Jadi penghianat sepertimu?" tanya Zoya.
"Kamu tidak akan mengerti meskipun aku menjelaskannya,"
"Aku cukup mengerti, saat aku tahu kamu menghianati aku Sam. Kenapa kamu lakukan ini padaku. Kamu merampas semuanya dariku, aku berikan segalanya karena aku percaya padamu dan sangat mencintaimu. Tapi kamu...hiks...."
"Kalau kamu memang mencintaiku, maka kamu pasti mau ikut denganku keluar dari sini," ujar Sammy.
Zoya menyeka air matanya, kemudian terkekeh.
__ADS_1
"Aku memang bodoh. Bisa-Bisanya aku termakan bujuk rayu pria sepertimu. Kamu berharap ingin keluar dari sini, jangan harap! akulah orang yang akan menanngkapmu dan membawamu menghadap bang Arman hidup-hidup,"
Tap
Zoya mencengkram tangan Sammy dan akan menyeret pria itu. Tapi Sammy tentu saja tidak menuruti kemauan Zoya. Zoya kemudian langsung menyerang Sammy, berharap bisa melumpuhkan pria itu dan membawanya menghadap Arman.
Namun tentu saja Sammy tidak datang dengan tangan kosong. Pria itu sudah membekali dirinya dengan ilmu bela diri yang cukup tinggi. Hingga dirinya tidak susah untuk menjatuhkan lawannya. Namun saat dirinya akan memberi pukulan telak pada Zoya, tangan pria itu terhenti di udara. Dia jadi teringat saat-saat dia mengahabiskan malam bersama Zoya saat terakhir kali.
"Kenapa? pukul aku brengsek! aku membencimu Sammy, aku sungguh membencimu!"
"Jaga dirimu. Maaf...."
Tap
Tap
Tap
Sammy ternyata juga memiliki kemampuan melakukan olah raga ekstrim parkour. Zoya hanya bisa menatap kepergian Sammy dengan tangisan.
"Sammy...aku membencimu...kau dengar itu? aku membencimu," teriak Zoya.
Sementara Sammy yang sudah berhasil melewati tembok tinggi markas, hanya bisa terus berjalan meski dia masih bisa mendengar umpatan dari mulut gadis itu. Zoya bangkit dari tanah. Dan berjalan menuju markas dengan langkah gontai. Namun hal yang sama sekali tidak dia duga adalah, kesembilan orang kepercayaan Arman tengah menunggunya dipintu belakang markas sembari menatap kearahnya. Tidak hanya mereka, bahkan Arman dan Lensipun ada disana.
Zoya bergegas menghapus air matanya dan segera berlutut di depan Arman.
"Maafkan aku bang. Aku ceroboh," ujar Zoya tertunduk dengan kedua tangan menopang tubuhnya di tanah.
"Malam ini senjata api yang seharusnya datang esok hari, sudah dibajak oleh sekelompok orang yang tidak di kenal. Senjata api sebanyak 150 unit raib. Kini aku mengerti kenapa itu bisa terjadi, besar kemungkinan Sendy adalah mata-mata yang dikirim musuh untuk mencari informasi tentang markas kita dan semua kegiatan kita. Dan informasi itu bocor, karena kamu dan Sendy terlibat urusan asmara."
"Maafkan aku bang. Dia sudah menipuku, dan aku gagal menangkapnya kembali. Untuk semua kerugian, potong saja dari semua gajiku. Aku siap mengabdi seumur hidup tanpa digaji," ucap Zoya.
Arman menghela nafas panjang. Dia tahu Zoya tengah patah hati berat saat ini.
"Zoya. Kita semua disini adalah saudara, keluarga. Terlebih kamu dan Lensi sudah kuanggap seperti adik kandungku sendiri. Sekarang kamu aku tugaskan menemani Lensi saja di rumah barunya untuk sementara waktu," ujar Arman.
"Tapi bang. Aku mau abang memberikan hukuman untukku," ujar Zoya.
"Kalau begitu kamu harus membantu Lensi menemukan musuh kita itu. Lensi akan meretas semua tempat yang terjangkau oleh cctv," ucap Arman.
"Baik bang," ujar Zoya.
"Zoya. Ikut aku," ujar Lensi yang kemudian diikutu oleh Zoya.
Kedua wanita itupun kembali ngobrol diatas genting.
"Apa kamu sudah melakukan hal ity dengannya?" tanya Lensi yang langsung menembak pada sasaran.
__ADS_1
Zoya tidak sanggup bicara. Hanya anggukan kepala dan air matanya yang sudah mewakili jawaban dari pertanyaan itu.