
"Apa abang sudah siap?" tanya Lensi.
Lensi saat ini sudah siap untuk menunjukkan kebolehannya berolahraga Ekstrim yang membuat suaminya itu sangat penasaran.
"Abang lihat saja cara Dinda. Abang kan pemula, dinda nggak mau abang cidera," ujar Lensi yang saat ini tengah memakai celana trening dan baju kaos oblong. Lensi juga sudah mengikat rambutnya menjadi satu bagian.
Sementara itu Ibrahim juga mengenakan seragam yang sama. Mereka pagi-pagi memang sedang melakukan joging bersama disekitar area pesantren.
"Jadi apa yang ingin kamu panjat sekarang? disini pohon dan temboknya juga tinggi. Dinding pesantren juga nggak ada bidang yang pas buat dipanjat," tanya Ibrahim.
"Itukan menutut abang. Kalau kami yang sudah mendalami parkour, semua bidang tidak jadi masalah. Kuncinya cuma yakin saja." Jawab Lensi.
"Yakin? yakin apa?" tanya Ibrahim.
"Yakin nggak jatuh." Jawab Lensi sembari terkekeh.
Ibrahim menarik hidung mancung istrinya, dan mulai memperhatikam Lensi yang sudah ingin mengambil ancang-ancang. Kali ini Lensi ingin menunjukkan pada Ibrahim cara ia memanjat tembok setinggi hampir 3 meter itu dengan tangan kosong. Dengan begitu Ibrahim pasti akan percaya, kalau dirinya memang menyelinap masuk waktu itu.
Tap
Tap
Tap
Hanya butuh waktu 5 detik bagi Lensi untuk berada dipuncak pagar. Ibrahim yang menyaksikan hal itu hanya bisa melongo tak percaya. Lensi kemudian turun dari pagar seolah hal enteng baginya. Lensi seolah memiliki ilmu peringan tubuh dan tubuhnya itu seolah terbuat dari kapas.
Ternyata tidak hanya Ibrahim yang menyaksikan hal itu. Ustad Gofur dan Aisyah juga terkejut saat tidak sengaja melihat kemampuan menantunya itu.
"Ternyata menantu umi nggak bohong ya waktu itu?" ucap Aisyah yang datang bersama Ustad Gofur.
"Iya Umi. Istriku ini selalu membuat kejutan untuk kita," timpal Ibrahim.
"Umi pengen lihat sekali lagi dong. Tapi yang lebih ekstrim bisa?" Aisyah yang ternyata dulunya punya jiwa tidak jauh dengan Lensi, jiwa mudanya kembali terpancing.
"Umi jangan mancing mantumu. Itu sangat berbahaya," ujar Ustad Gofur.
"Alah...bilang aja abi juga penasaran kan?" tanya Aisyah.
__ADS_1
"Iya sih." Jawab Ustad Gofur.
Lensi melihat pohon mangga dan akasia yang menjulang tinggi, dan terhubung dengan atap pesantren. Bagi seorang pencinta olahraga parkour, dihadapkan atau ditemukan dengan bidang seperti itu, sangatlah membahagiakan. Dengan gerakkan lincah Lensi mulai berlari sekencang mungkin, dan segera mendarat diatas pohon mangga. Aisyah, Ibrahim dan Ustad Gofur yang menyaksikan hal itu, sudah seperti melihat monyet yang bergelantung dari dahan satu kedahan yang lain. Dan entah bagaimana bisa Lensi kini sudah berada diatas pohon akasia dan kemudian melompat ke atap rumah yang bersandingan dengan pesantren.
"Ya Tuhan...aku pikir adegan seperti ini cuma bisa umi saksikan di tv. Apa ini bukan mimpi?" gumam Aisyah.
"Baim bangga punya istri seperti dia," ucap Ibrahim.
"Tentu saja. Abi juga bangga. Tapi Baim, kamu juga jangan lupa mengarahkan dia tentang pentingnya berhijab. Tapi jangan juga memaksanya," ujar Ustad Gofur.
"Itu pasti. Tapi Baim punya keyakinan, kalau suatu hari nanti dia akan menyadari kodratnya sebagai seorang istri dan menantu Ustad kondang. Dia pasti bisa memposisikan dirinya." Jawab Ibrahim.
"Oh ya. Hari ini kami pulang dulu ya Mi, Bi. Kerjaan kantor udah numpuk," sambung Ibrahim.
"Ya. Bina rumah tangga kalian seharmonis mungkin. Jangan sakiti hati istrimu lagi. Kasihan dia. Saat ini kamulah pengganti orang tua bagi dia, karena dia tidak mendapatkan itu dari keluarganya," ujar Aisyah.
"Baim mengerti umi," ucap Ibrahim.
Ibrahim tersenyum menatap Lensi yang tengah melambaikan tangan dipuncak atap rumahnya.
"Sayang turunlah! ayo kita bersiap pulang," teriak Baim dari bawah.
Tap
"Kita mau pulang sekarang bang?" tanya Lensi yang bersikap seolah-olah keahliannya itu bukan apa-apa.
"Umi. Apa Baim ini menikahi seorang wonder woman? atau cucunya spiderman?" tanya Ibrahim.
"Bang...." bibir Lensi mengerucut. Sementara Ustad Gofur dan Aisyah jadi terkekeh.
"Ayo kita siap-siap pulang. Ada banyak berkas yang harus abang tanda tangani. Tadi sekretaris abang sudah mengantarkan berkasnya ke rumah," ucap Ibrahim.
"Iya bang." Jawab Lensi.
Ibrahim dan Lensi memasuki rumah dengan saling bergandengan tangan. Merekapun bersiap pulang ke rumah. Sementara itu di tempat berbeda, Okta tengah melamun dengan menatap awang-awang ruang tamu, sembari menyilangkan kedua tangannya dibelakang kepala.
"Elu kenape lagi sih? udah Nyak perhatiin 3 hari ini elu banyak melamun. Ade ape? ape yang mengganggu pikiran elu?" tanya Rogaya sembari mengaduk adonan tepung terigu untuk celupan pisang goreng.
__ADS_1
"Nyak. Dulu Nyak ama Babeh nikah beda usia berapa taon?" tanya Okta sembari menopang satu tangannya dikepala.
"10 tahun. Ade ape?" tanga Rogaya.
"Lumayan jauh juga ya nyak?"
"Ya nggak ape-ape. Kite perempuan kadang tuanye cepat nyusul. Karena kite pan ngandung dan ngelahirin. Jadi kalau nggak dirawat cepat terlihat tua dibanding laki yang beda usia 10 taon dari kite." Jawab Rogaya.
"Gitu ye nyak? kalau bedanya sampai 17 tahunan nggak ape-ape juga nyak?" tanya Okta.
"Elu kenapa sih Ta? elu demen ama suami atau bapak orang? jangan macam-macam lu. Meski elu buluk nggak secantik neng Lensi, tapi jangan pernah ngerendahin harga diri elu dengan ngambil yang bukan hak lu."
"Lu juga pernah ngerasain, Babeh elu direbut ama perempuan laen. Jadi kira-kira begitu itu sakitnye dikhianatin," sambung Rogaya.
"Lagian siapa juga yang demen ama laki orang nyak." Jawab Okta.
"Terus? jadi elu demennya sama siape?" tanya Rogaya.
"Bang Arman." Jawab Okta dengan tegas.
"Arman? Arman yang ketua mafia ntu?" tanya Rogaya.
"Iye." Jawab Okta.
"Busyet. Lu yang bener aja lu. Kagak takut digorok lu? die jadi perjaka tua pasti karena kagak ade yang demen ama dia. Lah elu? kok bisa-bisanye demen ama tu laki," ucap Rogaya.
"Pan nyak sendiri yang bilang kalo aye nih perawan buluk. Kalo aye cakep juga nggak milih bang Arman, noh anak presiden aye pacarin." Jawab Okta
"Terserah elu. Siapapun yang elu demenin yang penting elu bahagia. Tapi ngomong-ngomong emang si Arman ntu demen ama lu?" tanya Rogaya.
"Kagak." Jawab Okta.
"Haduhhh...panjang ntu ceritanye," ujar Rogaya.
"Ape aye duluan aje ya nyak ngungkapin perasaan aye? ya kalau dia mau sukur, kalau kagak mau ya kagak ape-ape," tanya Okta.
"Terserah elu kalau elu punya nyali." Jawab Rogaya.
__ADS_1
Okta dengan segala kegilaannya segera membuat panggilan untuk Arman. Arman yang tengah berbincang dengan Sammy, melirik ponselnya dan segera menggeser tanda panah hijau.