
"Apa maksudnya ini? kenapa kita pergi dengan mobil tahanan?" tanya Vega dengan wajah pucat pasi.
"Jangan membuat keributan di bandara, kalau kamu nggak mau viral lagi. Naiklah tanpa bersuara, itu akan lebih baik buat kamu." Jawab Ibrahim.
"Tapi apa maksudnya ini? kamu menipuku?" tanya Vega, yang sedikit berontak karena petugas polisi sudah menahan tangannya untuk di borgol.
"Kamulah yang menipu diri sendiri. Padahal kamu tahu, kamu nggak akan bisa kabur kemanapun tanpa di adili. Jadi bekerjasamalah sebaik mungkin. Pak," Ibrahim memberikan kode pada polisi, agar polisi segera membawa Vega ke kantor polisi.
"Ibrahim. Kamu katakan dulu, ini tidak ada hubungannya denganmu juga. Lensi cuma mantan karyawanmu," ucap Vega sembari di paksa naik keatas mobil tahanan.
Dua polisi kemudian mengapit Vega setelah gadis itu naik mobil tahanan. Sementara Ibrahim kembali pulang ke rumah dengan perasaan lega.
Ceklek
Ibrahim membuka handle pintu, dan mendapati Lensi masih tertidur dengan pakaian yang sama seperti dia meninggakkannya dua jam yang lalu. Padahal dia sudah membohonginya dengan mengatakan memasang kamera pengintai di kamar itu, tapi tetap saja Lensi tidak mematuhinya.
"Istri yang nakal," ucap Ibrahim sembari mengusap puncak kepala Lensi dengan lembut.
"Dia pasti sangat ngantuk. Sebaiknya kubiarkan saja dia beristirahat," sambung Ibrahim.
Ibrahim berbaring disamping Lensi sembari memeluk istrinya itu. Dan dia terbangun saat waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang.
"Astagfirullah...aku telat sholat dzuhur," ucap Ibrahim saat melihat jam di ponselnya.
Ibrahim melirik kearah Lensi yang masih setia tertidur lelap.
"Sayang. Bangunlah! sudah jam 1. Kita sudah telat sholat dzuhur," bisik Ibrahim ditelinga Lensi.
Mata Lensi langsung terbuka dan menatap Ibrahim yang berada dibelakang punggungnya.
"Abang sudah pulang?" tanya Lensi.
"Sudah dari tadi sayang. Bahkan abang ikut tidur disampingmu. Bangunlah! kamu nakal sekali, disuruh mandi malah tidur." Jawab Ibrahim yang dibalas cengiran oleh Lensi.
Ibrahim kemudian lebih dulu menggunakan kamar mandi dan mengambil air wudhu.
"Mandilah! abang duluan sholatnya. Ini sudah sangat telat," ujar Ibrahim.
"Iya bang."Jawab Lensi.
__ADS_1
๐น๐น๐น๐น
"Pelan-Pelan sayang," ujar Ibrahim saat melihat Lensi makan dengan tergesa-gesa.
"Laper banget bang. Ini gara-gara Vega si kutu rambut." Jawab Lensi.
"Setelah makan bersiaplah. Abang akan mengajakmu bertemu dengan seseorang," ujar Ibrahim.
"Siapa sih bang? abang bikin aku penasaran aja deh," tanya Lensi sembari menggigit paha ayam goreng.
"Rahasia dong. Kalau dikasih tahu sekarang, nggak surprise lagi namanya." Jawab Ibrahim membuat Lensi mencebikkan bibirnya.
Setelah selesai makan siang, Lensi dan Ibrahim pergi menuju ke kantor polisi. Saat memasuki kawasan itu, tentu saja Lensi jadi mengerutkan dahinya.
"Kok ke kantor polisi bang? kita mau nemuin siapa di penjara?" tanya Lensi.
"Ada deh." Jawab Ibrahim.
"Ih...abang nyebelin deh," ujar Lensi.
Lensi kemudian disuruh Ibrahim menunggu di ruang besuk. Sementara Ibrahim berbicara pada polisi agar bisa mempertemukan Vega dan istrinya.
"Siapa sih bang?" tanya Lensi lagi, saat Ibrahim kembali duduk disampingnya.
Setelah menunggu hampir 10 menit, Vegapun dibawa ke ruang besuk dengan memakai seragam orange. Melihat Vega yang datang dalam kondisi tangan diborgol, Lensi jadi tertawa keras.
"Senang kamu melihat saudaramu sendiri sengsara. Hem?" tanya Vega dengan gigi bergemeratuk.
"Dan kamu Ibrahim. Bisa-Bisanya kamu termakan oleh bujuk rayunya gadis sok polos ini. Dia nggak sebaik yang kamu kira," sambung Vega.
Mendengar ucapan Vega, tawa Lensi jadi mereda. Dia menatap Vega dengan sinis.
"Aku tidak pernah menganggapmu saudara. Dan kamu jangan menganggap dirimu itu yang paling teranianaya disini. Apa kamu tahu? gara-gara perbuatanmu itu, sampai saat ini aku masih mengalami amnesia. Aku kehilangan beberapa ingatanku. Aku...."
"Kenapa kamu nggak kehilangan nyawa aja sekalian? apa kamu tahu? aku itu sangat membencimu setengah mati. Semua yang aku inginkan kamu selalu meraihnya," ucap Vega dengan berapi-api.
"Aku hidup tidak butuh disenangi oleh orang sepertimu. Karena aku hidup tidak untuk menyenangkan hati orang lain. Kamu membenciku, tentu saja itu sangat aneh. Bukankah sebaliknya aku yang membencimu. Kamu adalah anak haram dari Surya. Ibumu dinikahi setelah kamu lahir. Dan kamu! kamu selalu mencari perhatian Surya, dan selalu berusaha menyingkirkan aku dari rumahku sendiri,"
"Jangan serakah. Seharusnya kamu sudah puas dengan status putri sah. Tapi ya maaf saja, kalau papa lebih menyayangiku dari pada putrinya yang tidak berguna," ucap Vega.
__ADS_1
"Kamu mengataiku tidak berguna, tapi siapa pemimpin dari Group SU sekarang? bukankah kamu terakhir datang menemuiku dan menganiayaku, karena ingin mencuri uang perusahaanku?"
"Katanya kamu cerdas. Kenapa hanya uang sedikit, kamu sama sekali nggak mampu mencarinya?" sambung Lensi.
"Lihat itu Ibrahim! gadis sombong seperti ini yang kamu bela-bela?" tanya Vega.
"Sepertinya harus diluruskan. Kalau aku ini sudah nggak gadis lagi. Malam-Malamku sudah dihangatkan oleh suamiku." Jawab Lensi yang membuat Ibrahim menahan tawanya.
"Aduh Lensi. Jangan kebanyakkan halu deh. Siapa yang mau ngawinin gadis arogan sepertimu? tahu dandan aja nggak," ucap Vega sembari terkekeh.
"Aku. Aku yang mau nikahin dia. Bahkan kami sudah menikah selama 8 bulan lebih." Jawab Ibrahim dengan mantap.
"Ma-Mana mungkin. Nggak mungkin kamu menikah dengan gadis murahan ini? apa kamu tahu kerjaannya bergaul dengan sembarang laki-laki? kamu sudah mendapat barang bekas," ucap Vega tidak terima.
"Berhenti berkata yang bukan-bukan tentang istriku. Karena akulah orang yang pertama kali mengambil mahkota berharga milik dia." Jawab Ibrahim.
"Nggak mungkin! kamu bohongkan? kamu suka sama aku kan?" tanya Vega dengan hilang kendali.
Pakkkk
Lensi memukul tangan Vega yang ingin meraih tangan Ibrahim.
"Jangan pernah sentuh suamiku dengan tangan kotormu itu," ujar Lensi.
"Lensiiii...kenapa kamu selalu mengambil apapun yang aku mau. Kamu...."
"Vega sayang...."
Marini menghampiri Vega yang tampak histeris. Sementara Surya mengekor dibelakangnya.
"Ma. Mama...hiks. Keluarin aku dari sini ma. Keluarin aku dari sini. Aku nggak mau tidur dipenjara. Hiks...." Vega memeluk erat Marini.
Marini melirik kearah Lensi dengan mata berapi-api.
"Dasar kamu anak tidak tahu diri. Siapa yang membesarkanmu selama ini ha? bisa-bisanya kamu membuat perhitungan kejam dengan adikmu sendiri," ucap Marini.
"Dia bukan adikku. Kalian sudah kehilangan hak menyebutku sebagai anak, ataupun saudara. Kamu bertanya padaku siapa yang membesarkanku? tentu saja diriku sendiri. Dan uang untuk menghidupiku jelas saja berasal dari keluarga Sudrajat yang hartanya kalian rampok." Jawab Lensi.
"Hari ini aku sudah membuat putri kesayanganmu masuk penjara.Tunggulah giliran kalian. Aku akan membuat kalian berdua juga merasakan apa itu yang namanya kehilangan," ucap Lensi.
__ADS_1
"Lensi. Papa mohon cabut tuntutan terhadap adikmu. Walau bagaimanapun kita itu masih ada hubungan darah," ujar Surya dengan tidak tahu malunya.
"Orang gila," ucap Lensi yang kemudian menarik tangan Ibrahim untuk membawa suaminya itu pergi.