MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
144. Merindukan Dia


__ADS_3

Sudah satu minggu Vega menghindari Cokro. Apapun yang pria itu kirimkan, Vega menolaknya mentah-mentah. Vega juga sudah memblokir nomor ponsel pria itu.


Cokro yang biasa melenggang bebas masuk kedalam rumah melalui jendela, Kini Vega sudah memasang teralis diseluruh jendela dan pintu rumahnya. Dia tidak membiarkan Cokro punya kesempatan masuk kedalam rumahnya, karena dia tidak ingin bertemu pria itu. Namun malam ini Vega menangis sesegukkan akibat pengaruh hormon, atau mungkin memang perasaannya yang jujur.


"Aku merindukan dia. Pria jelek brengsek itu! hiks...."


Di tempat berbeda. Cokro juga uring-uringannya. Dan yang menjadi pelampiasannya adalah seluruh anak buahnya.


"Kamu kenapa sih? marah-marah nggak jelas," tanya Rano teman baik Cokro.


"Ini si Vega nggak ngerti aku jalan pikirannya. Dia nggak mau aku bertanggung jawab atas anak yang dia kandung. Dia menutup semua akses buat aku ketemu sama dia." Jawab Cokro kesal.


"Ya ampun kenapa kamu sampai semarah itu? sudah berapa puluh atau ratus cewek yang loe tidurin? kenapa mesti perduli dengan bayi itu?" tanya Rano.


"Pertanyaan tolol. Ya jelas gue perduli, itu anak gue." Jawab Cokro.


"Gue tahu itu anak loe, tapi emang harus ya loe ngurus soal remeh kayak gitu? loe itu preman, ngapain mewek gegara hal yang nggak penting itu," ucap Rano.


"Loe salah. Gue emang preman, gue emang brengsek! tapi gue nggak mungkin mengabaikan anak gue sendiri. Itu calon penerus gue," ujar Cokro.


"Sebenarnya loe perduli tentang bayinya atau perduli tentang wanita yang mengandungnya? loe bersikap seperti ini, itu karena loe nggak dapat jatah dari gadis itu bukan?" tanya Rano.


"Sembarangan kalau ngomong! kamu tahu sendiri aku bisa meniduri wanita mana saja yang aku mau," ucap Cokro.


"Tapi pada kenyataannya kamu sudah lama tidak keluar untuk meniduri wanita lain selain dia," timpal Rano.


"Tapi ngomong-ngomong, apa kamu sungguh tidak menyukainya? dia sangat cantik dan sexy," tanya Rano.


"Tidak." Jawab Cokro.


"Kalau begitu setelah dia lahiran, aku bisa dong mendekatinya. Aku tidak mau cari pacar lagi, aku sudah cukup dewasa dan ingin mencari seorang istri," ujar Rano.


"Enak saja. Awas saja kalau kamu berani mendekatinya," ucap Cokro.


"Loh kenapa? kamu kan tidak mencintinya. Atas dasar apa kamu melarangku?" tanya Rano.


"Atas dasar...atas dasar dia ibu dari anakku " Jawab Cokro asal.


"Omong kosong! kamu itu menyukainya, tapi masih juga nggak sadar. Dasar payah!" ucap Rano sembari berlalu dari hadapan Cokro.


"Rano tunggu!" Cokro menghadang Rano dengan tangan terentang.


"Ada apa?" tanya Rano.


"Apa menurutmu dia benar-benar mencintaiku?" tanya Cokro.


"Ma-Maksudku. Kamu tahu sendiri wajahku seperti apa. Mana mungkin dia tulus mencintaiku. Dia pasti cuma butuh uangku kan?" tanya Cokro.


"Kenapa kamu khawatirkan itu? apapun alasannya, dia layak mendapatkan uangmu Lagipula kamu mampu memberikannya. Jadi impas kan? kamu dapat tubuhnya, sementara dia dapat uangmu. Anggap saja kamu membayar jasanya, dan selesai! gitu aja repot." Jawab Rano.


"Rano brengsek! tidak bisakah kamu berdusta sedikit agar bisa membuat hatiku senang? misalnya kamu katakan saja kalau dia menyukai hatiku, bukan wajahku," ujar Cokro.

__ADS_1


"Tapi aku bukan orang naif. Kamu memang berwajah jelek, mau bagaimana lagi memang itu kenyataannya. Aku sarankan kamu operasi plastik, mungkin dengan begitu dia bisa mencintaimu dengan tulus," ucap Rano asal dan pergi dari hadapan Cokro.


"Op-Operasi plastik," ucap Cokro lirih sembari memegang kedua wajahnya.


Cokro pergi ke kamarnya dan menatap cermin besar disana. Bisa Cokro lihat, banyak sekali bekas luka di wajahnya itu. Yang membuat wajahnya terlihat seram dan tidak enak dilihat.


"Apa aku harus melakukan apa yang Rano katakan? tapi buat apa aku melakukannya? kalau aku merubah wajahku, itu berarti dia tidak tulus menyukaiku. Tapi lebih penting dari itu, aku sungguh tidak tahan ingin bertemu dengannya. Ap-Apa aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya?"


"Sekarang bagaimana caraku bertemu dengannya? dia bahkan tidak mau membukakan pintu untukku," ucap Cokro lirih.


Dilain tempat mata Vega sudah bengkak karena terlalu sering menangis.


"Kamu kenapa sih bego banget nolak pemberian cokro? kalian bertengkar? kenapa mesti bertengkar? yang penting duitnya selalu ngalir buat kamu," tanya Marini.


"Aku nggak mau ma. Dia tidak mau bertanggung jawab buat nikahin aku." Jawab Vega.


"Kenapa kamu perdulikan itu? yang kamu butuhkan itu uang, bukan manusia jelek itu," ujar Marini.


"Tapi aku men...ah...sudahlah. Mama tidak akan mengerti, lebih baik mama tinggalkan aku sendiri," ucap Vega.


Marini memutar bola mata dengan malas dan keluar dari kamar.


Ting tong


Ting tong


Ting tong


"Ah...sial. Terlalu banyak menangis, aku jadi lapar dan menginginkan Pizza," ucap Vega sembari menyeka air matanya.


"Kamu siapa?" tanya Marini.


"Kami mendapat pesanan dari nona Vega. Dia memesan satu kotak besar pizza." Jawab pria bertopi merah.


"Oh ya sudah sini pizzanya," ujar Marini.


"Totalnya 173 ribu," ujar pria itu.


"Tunggu sebentar biar saya ambil uangnya dulu," ujar Marini yang diangguki pria itu.


Tanpa Marini tahu, pria itu menyelinap masuk dan segera menaiki tangga, saat Marini pergi ke kamarnya untuk mengambil uang. Pria itu bahkan membawa kotak pizza yang Marini letakkan di meja ruang tamu.


Tok


Tok


Tok


Ceklek


Pria itu menekan handle pintu dan memasuki kamar itu tanpa Vega suruh.

__ADS_1


"Hey...siapaa kau? lancang sekali memasuki kamarku?" teriak Vega sembari beranjak dari tempat tidur.


Cokro bergegas melepas topinya, dan itu membuat Vega terbelalak. Pria itu bergegas mengunci pintu kamar dan segera berhambur kepelukkan Vega.


Ceklek


Ceklek


Ceklek


"Vega. Tadi ada yang ngantar pizza, apa pizza itu kamu yang ambil dan membayarnya?" tanya Marini yang membuat Cokro dan Vega jadi tegang.


Vega melirik kearah kotak pizza. Pizza yang sangat dia inginkan.


"I-Iya ma." Jawaban Vega membuat Cokro lega.


"Bagi dong. Mama juga pengen," ucap Marini.


"Na-Nanti akan aku sisakan," ujar Vega.


"Mama mau sekarang!" ucap Marini.


Cokro melirik kearah piring yang ada diatas meja. Kemudian dia membuka kotak pizza dan membaginya menjadi dua bagian.


"Berikan ini pada mamamu," ucap Cokro setengah berbisik.


Vega menuruti ucapan Cokro, karena dia tidak ingin Marini tahu kalau Cokro ada di dalam kamarnya.


"Ini. Mama pergilah! jangan menggangguku. Aku sedang asyik menikmati pizzanya, mama malah mengacaukannya," ujar Vega.


"Ya baiklah." Jawab Marini sembari meraih piring dari tangan Vega.


Vega segera menutup pintu dan menguncinya. Gadis itu menatap Cokro yang juga tengah menatapnya. Cokro kemudian mendekati Vega dan memeluk gadis yang sangat dia rindukan itu.


"Kenapa kamu menghindariku?" tanya Cokro.


"Buat apa aku menemuimu. Kamu tidak mencintaiku, dan juga tidak menginginkan aku. Jadi lebih baik putus komunikasi saja." Jawab Vega.


"Ap-Apa perkataan cintamu itu sungguh-sungguh?" tanya Cokro.


"Kenapa kamu meragukanku?" tanya Vega.


"So-Soalnya wajahku jelek. Selama ini wanita mendekatiku pasti karena uangku. Mana mungkin gadis secantik dan sesexy kamu mau denganku yang buruk rupa." Jawab Cokro.


"Aku juga tidak tahu kenapa aku mencintaimu, tapi aku merasa nyaman saat kamu memperlakukan aku dengan lembut dan juga perhatianku. Tapi percuma saja, toh cintaku juga bertepuk sebelah tangan," ujar Vega.


"Se-Sepertinya tidak begitu. Selama seminggu lebih aku tidak melihatmu, aku jadi tahu perasaanku yang sebenarnya. Vega, aku juga mencintaimu. Penolakkanku waktu itu hanya karena aku takut kalau kamu mempermainkan perasaanku. Aku sudah terlalu sering patah hati, jadi aku sedikit trauma di tolak oleh seorang wanita," ucap Cokro.


Grepppp


Vega kembali berhambur kepelukkan Cokro.

__ADS_1


"Aku merindukanmu," bisik Cokro yang membuat Vega jadi tersipu.


Cokro tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Pria itu bergegas menanggalkan pakaiannya, begitu juga dengan Vega. Dua sejoli itu seolah tidak sabar ingin segera menyatu satu sama lain. Dan untuk selanjutnya, ruangan itu sudah dipenuhi oleh suara-suara merdu mereka.


__ADS_2