MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
73. Insden


__ADS_3

"Mau kemana?" tanya Alex.


"Mau mandi mas." Jawab Fatimah.


Alex membiarkan Fatimah membersihkan diri, sementara dirinya bermain ponsel. Setelah Fatimah selesai, Alex lalu bergantian menggunakan kamar mandi itu. Namun setelah selesai mandi, lagi-lagi Alex keluar dengan hanya menggunakan handuk. Fatimah memalingkan wajahnha, karena tidak ingin melihat pemandangan asing untuk matanya itu.


"Kita turun kebawah ya? cari makanan yang hangat-hangat dulu," ujar Alex sembari mengenakan pakaian.


"Apa kita mau langsung jalan-jalan hari ini?" tanya Fatimah.


"Siapa kesini mengajakmu jalan-jalan? tentu saja kita kesini ingin berbulan madu. Jadi kita akan berada dikamar menghabiskan waktu di ranjang. Jalan-Jalan tidak diperlukan kecuali saat akan mencari makanan." Jawab Alex dengan jahil.


Fatimah jadi terdiam. Sungguh dia sedang takut saat ini. Melihat Fatimah yang gelisah, Alex kemudian menarik hidung mancung Fatimah agar buyar dari lamuanan.


"Ayo kita cari makanan hangat," ujar Alex.


Fatimah hanya menuruti kemauan Alex, dan kemudian bangkit dari tempat tidur. Alex meraih baju hangat Fatimah yang tergantung di akar pohon buatan khusus yang memang digunakan untuk menggantungkan baju hangat. Alex kemudian memakaikan baju hangat itu untuk Fatimah, yang membuat istrinya itu menatap Alex.


"Jangan menatapku terus menerus, nanti kamu bisa jatuh cinta terlalu cepat dengan ketampananku," ujar Alex yang membuat Fatimah jadi memalingkan wajah.


"Tapi tidak masalah juga. Karena aku kan suamimu, dan sepertinya aku juga mulai menyukaimu," sambung Alex.


Cup


Alex mengecup pipi Fatimah, yang membuat wajah istrinya itu jadi merona.


"Ayo kita pergi," ujar Alex dan menjulurkan tangannya pada Fatimah untuk dia genggam.


Fatimah melirik kearah tangan itu, dan sesaat kemudian dia mengulurkan tangan untuk digenggam oleh Alex . Alex segera meraih tangan Fatimah dan menyelipkan jari-jari mereka. Alex kemudian membawa tangan itu masuk kedalam baju hangat bersama dengan tangannya.


"Kamu ingin makan apa?" tanya Alex.


"Apa saja yang penting halal. Apa disini ada semacam pasar tradisional yang menjual makanan khas swiss?" tanya Fatimah.


"Kurang tahu. Tapi kita akan bertanya-tanya nanti." Jawab Alex.


Merekapun kemudian menemukan tempat yang menjual aneka jajanan pasar yang mereka inginkan. Alex bisa melihat, binar bahagia dimata Fatimah saat melihat keramaian yang banyak menjual aneka makanan dan juga banyak pengunjung tentunya.


"Tunggu disini, aku akan mengantri untuk beli makanan itu," ujar Alex.


Saat sedang mengantri, Alex sempat lengah dan tidak menyadari kalau Fatimah sudah tidak ada lagi di belakangnya. Fatimah pergi melihat berbagai aksesoris cantik yang tidak sengaja dia lihat dari kejahuan. Fatimah akhirnya membeli gelang dan segera kembali ketempat Alex mengantri.


Namun Saat dia kembali, Alex tidak terlihat lagi disana. Fatimah jadi cemas dan segera mencari Alex di keramaian. Tidak jauh berbeda dengan Fatimah, Alex saat ini sedang kebingungan mencari Fatimah.


"Apa yang sedang kamu cari nona? kami perhatikan kamu seperti sedang kebingungan," tanya Seorang pria bertubuh tinggi besar.


"Tidak ada." Jawab Fatimah yang kemudian malah pergi keluar dari tempat itu.


Namun Fatimah malah diikuti oleh kedua pemuda yang ingin berbuat jahat padanya.


"Daripada bingung mencari yang tak pasti, mending ikut kami bersenang-senang," kedua pria itu mendekati Fatimah, yang membuat Fatimah jadi ketakutan.

__ADS_1


Fatimah dengan refleks menjerit histeris, karena para pria itu ingin menyentuhnya.


"Mas Alex...mas Alex tolong aku...mas...hiks...."


Alex yang berada tidak jauh dari situ mendengar jeritan Fatimah yang memanggil namanya. Alex refleks melemparkan makanan yang dia beli ke tanah. Dia bergegas mencari sumber suara.


"Mas Alex...tol....hemmmppthh"


Mulut Fatimah sudah dibekap oleh salah seorang pria yang mengganggunya. Fatimah kemudian ditarik paksa, meski dirinya berusaha berontak sembari menangis.


Bugh


Bugh.


Alex langsung menerjang kedua pria asing itu.


"Beraninya kalian mengganggu istriku. Aku akan menjebloskan kalian ke penjara," hardik Alex.


"Maaf tuan. Kami tidak tahu kalau dia istri anda,"


Kedua pemuda itu lari ketakutan. Mereka tahu betul tidak akan mudah jika sudah berurusan dengan polisi. Alex menoleh kearah Fatimah yang tertunduk sembari terisak. Alex bisa melihat tubuh Fatimah sedang gemetar saat ini.


"Apa kamu terluka? apa ada yang sakit? apa mereka memukulmu? kamu kemana saja? aku tadi panik mencarimu," tanya Alex bertubu-tubi.


Fatimah melihat kearah Alex, dia yang ketakutan saat ini langsung berhambur kepelukkan Alex sembari terisak. Alex membalas pelukkan itu dan mencium puncak kepala Fatimah.


"Maafkan aku mas. Harusnya aku patuh dengan ucapanmu buat menunggu di tempat. Aku malah tergoda saat melihat aksesoris itu. Maaf...hiks," tubuh Fatima kembali bergetar karena isak tangisnya.


Alex awalnya memang kesal karena panik. Namun setelah mendengar penjelasan Fatimah yang lembut, dirinya langsung luluh seketika.


Fatimah melerai pelukkannya, dan menatap Alex. Alex menyeka air mata Fatimah dengan kedua ibu jarinya. Fatimah kemudian merogoh saku baju hangatnya dan meraih sebuah gelang cantik dari dalam sana.


"Gelang?" tanya Alex.


"Iya. Soalnya gelang ini sedikit mirip dengan gelang pemberian Umi yang aku hilangkan di acara resepsi pernikahan Ibrahim. Meski nggak sama, paling tidak aku sedikit terhibur karena hilangnya gelang warisan keluarga itu." Jawab Fatimah.


"Imut sekali gelangnya? nanti akan aku belikan yang lebih besar, indah, pastinya yang lebih mahal," ucap Alex.


"Tidak mau. Aku tidak suka yang besar-besar. Aku suka yang kecil dan halus," ujar Fatimah.


"Aduh...kacau ....," ucap Alex sembari menepuk dahinya sendiri.


"Kacau kenapa mas?" tanya Fatimah serius.


"Punya suamimu sangat besar, dan tidak halus karena ada...." Alex mengedipkan matanya yang jahil.


Wajah Fatimah kembali merona, sesaat kemudian Alex berdehem.


"Kamu belum mencoba yang besar, jadi tidak tahu suka atau tidak sukanya,"


Griiyyuuttt

__ADS_1


Fatimah mencubit pinggang Alex, hingga pria itu terjengkit.


"Aduhh...sakit sayang. Maksud mas gelangnya. Kan belum dicoba yang besar, siapa tahu suka," ucap Alex.


Alex dan Fatimah jadi saling melihat satu sama lain. Sesaat kemudian mereka jadi tertawa bersama.


"Kamu cantik kalau sedang tersenyum," ucap Alex yang membuat Fatimah jadi tersipu.


"Mas,"


"Hem?"


"Lapar. Mana makanan yang mas beli tadi?" tanya Fatimah yang dijawab tepukkan dahi oleh Alex.


"Kenapa mas?" tanya Fatimah.


"Saat mendengar suara teriakkanmu tadi, mas jadi panik dan melemparnya ke tanah. Kita cari restauran saja ya? cari amannya. Mas nggak mau saat sedang ngantri, kamunya ngilang lagi." Jawab Alex.


"Maafkan Fatimah ya mas? Fatimah janji nggak gitu lagi," ucap Fatimah.


"Itu tergantung saat performamu nanti malam. Kalau memuaskan, barulah mas maafkan," ujar Alex yang membuat Fatimah bersemu merah.


"Ya sudah ayo kita cari restaurant,"


Alex meraih tangan Fatimah, dan kembali memasukkan tangannya kedalam saku baju hangatnya. Setelah menemukan restaurant halal, merekapun berbincang sembari menunggu makanan disajikan. Setelah mereka selesai makan merekapun kembali ke hotel untuk beristirahat.


Saat malam harinya setelah makan malam, mereka mulai berbincang banyak hal untuk mempererat hubungan mereka. Alex tiba-tiba meraih ponselnya dan mengeluarkan sesuatu dari balik silicon ponselnya itu.


"Mana tanganmu," ujar Alex.


"Ada apa mas?" tanya Fatimah.


"Berikan saja. Aku ada kejutan untukmu," ucap Alex.


Fatimah mengulurkan tangannya, dan Alex sedikit menarik lengan baju Fatimah yang memperlihatkan kulitnya yang putih dan halus. Alex kemudian memakaikan sebuah gelang ditangan Fatimah, yang membuat Fatimah sangat terkejut.


"M-Mas. I-Ini kan gelangku yang hilang? kenapa ada sama kamu?" tanya Fatimah.


"Sepertinya aku sudah ingat. Ada seorang gadis yang sedang menangis disudut gelap, karena sedih ditinggal nikah oleh mantan tunangannya. Saat aku menyapanya, dia malah kabur tanpa menjawab." Jawab Alex.


Greppppp


Fatimah berhambur kepelukkan Alex, dan Alex membalas pelukkan itu.


"Kini aku mengerti, kenapa Allah tidak membuatku berjodoh dengan Ibrahim. Karena Allah ingin aku berjodoh sama kamu mas. Meski awalnya aku mengira Ibrahimlah yang terbaik, tapi kata Allah dia bukan orang yang tepat untukku. Karena apa yang baik menurut manusia, belum tentu baik menurut Allah."


"Fatimah benar. Kalau saat itu aku berjodoh dengan Lensi, mungkin aku belum tentu bisa bahagia seperti sekarang ini. Semua sudah Allah atur sesuai porsinya," batin Alex.


"Aku ingin bercerita denganmu tentang sebuah rahasia besar. Karena kita sudah menjadi pasangan suami istri, jadi aku pikir tidak boleh ada rahasia diantara kita," ujar Alex.


Fatimah melerai pelukkannya, dan menatap kearah Alex sebagai tanda dirinya penasaran tentang rahasia besar itu.

__ADS_1


"Ini tentang aku, Ibrahim, kamu, dan Lensi...."


Alex kemudian menceritakan duduk persoalan yang terjadi diantara mereka semua. Hingga seolah mereka sedang bertukar jodoh saat ini. Fatimah tertunduk sedih saat mendengar semua cerita Alex.


__ADS_2