
"Kamu jadi pergi?" tanya Ibrahim saat istrinya itu baru selesai mandi.
"Jadi bang. Teman abang itu jadi lamaran hari ini?" tanya Lensi.
"Jadi. Jam 8 nanti abang akan pergi kerumahnya buat ngecek semua persiapan lamaran." Jawaban Ibrahim membuat Lensi tersenyum kecut.
"Kalau lamarannya hari ini, hari pernikahannya kapan bang?" tanya Lensi.
"Kalau mempelai wanita setuju, rencananya akhir pekan akan diadakan pernikahan dan malam harinya diadakan resepsi." Jawab Ibrahim.
"Aku percaya kamu bisa jadi imam yang adil bang. Bahkan untuk pernikahanpun kamu buat sama megahnya. Tapi maaf bang, hatiku tidak sekuat itu. Aku belum bisa berbagi suami dengan orang lain," batin Lensi.
"Kamu nanti naik motor?" tanya Ibrahim.
"Iya." Jawab Lensi.
"Hati-Hati ya?"
"Ya." Jawab Lensi seperlunya.
"Kamu kenapa sih? kok aku merasa ada yang beda gitu?" tanya Ibrahim.
"Apa dia punya firasat kalau aku akan pergi hari ini?" batin Lensi.
"Abang mau pakai baju yang mana buat pergi keacara itu?" tanya Lensi mengalihkan pembicaraan.
"Emm...yang ini," ujar Ibrahim sembari menunjukkan baju kemeja berwarna putih, dengan celana dasar warna hitam.
"Karena rencananya aku akan mendampingi temanku, aku akan memakai baju yang sama dengannya," sambung Ibrahim.
"Ya Allah... aku memaafkan suamiku jika memang ucapannya itu bohong demi menjaga perasaanku," batin Lensi.
"Biar Dinda bantu pakai ya?"
"Eh?"
Tanpa persetujuan Ibrahim, Lensi membantu Ibrahim mengenakan pakaian pada pria itu. Ibrahim tidak berkedip mengagumi kecantikkan istrinya itu dari jarak yang sangat dekat. Dan terakhir Lensi memasangkan peci hitam dikepala suaminya yang terlihat tampan dan gagah itu.
"Gantengnya suamiku," puji Lensi sembari menepuk-nepuk dada Ibrahim pelan.
"Makasih pujiannya nyonya Ibrahim yang cantik." Jawab Ibrahim.
Mata Lensi berkaca-kaca saat mendengar pujian Ibrahim. Itu pujian pertama yang Lensi dengar selama mereka menikah.
"Hey...kamu kenapa?" tanya Ibrahim.
Lensi hanya bisa menggelengkan kepalanya dan kemudian berhambur kepelukkan Ibrahim.
"Ada apa dengannya? kenapa hari ini dia sedikit agak manja? tapi aku suka," Ibrahim membalas pelukkan Lensi sembari tersenyum.
"Rasanya begitu berat aku melepaskan pelukkan ini. Andai saja dia mencintaiku seorang," batin Lensi.
"Apa masih mau pelukkan sampai besok pagi? sudah hampir jam 8 nanti aku telat," ujar Ibrahim.
__ADS_1
Lensi melerai pelukkannya setelah menyeka air matanya secepat kilat.
"Segitu tidak sabarnya kamu ingin melamar kekasih hatimu bang," batin Lensi.
"Hati-Hati ya bang. Dinda do'akan semoga lamarannya lancar, dan semua urusan dipermudahkan," ujar Lensi.
"Terima kasih istriku. Aku pergi dulu ya?"
" Emm." Lensi mengangguk.
Ibrahim keluar kamar, dan menutup pintu. Lensi langsung terisak ketika Ibrahim pergi. Hatinya begitu hancur melepas kepergian Ibrahim keluar dari kamar itu. Lensi kemudian mengambil tas ranselnya yang dia bawa pertama kali saat menginjakkan kaki kerumah itu. Semua pakaiannya dia bawa, kecuali baju gamis yang baru dia beli saat berada di rumah itu. Dan dia juga membawa cincin kawinnya, sebagai kenangannya dengan Ibrahim.
Lensi meletakkan sepucuk surat yang sudah Lensi siapkan untuk Ibrahim diatas meja rias. Lensi bahkan menuliskan kata i love you di cermin dengan lipstik berwarna merah. Setelah itu Lensi pergi setelah meraih sebuah figura kecil, yang berisi foto pernikahannya.
"Nyonya mau kemana?" pertanyaan pelayan menghentikan langkah kaki Lensi.
"Tuan tahu saya pergi kemana." Jawab Lensi.
"Hati-Hati Nyonya," ujar pelayan yang dijawab anggukkan oleh Lensi.
Lensi akhirnya pergi meninggalkan semua kemewahan rumah Ibrahim, meninggalkan semua kenangannya, dan meninggalkan orang yang dia cintai. Disepanjang jalan menuju markas Arman Lensi menangis terisak. Entah kenapa dia begitu sedih kali ini, bahkan kesedihan itu lebih parah dia rasakan saat tahu Surya menghianati ibunya.
"Aku tidak boleh memberitahu Okta dan yang lain, tentang rumah baruku. Ibrahim pasti mencari informasi dari mereka nanti. Mungkin kejadian ini ada hikmahnya juga, aku jadi bisa fokus menyusun rencana untuk menghancurkan Surya," batin Lensi.
"Bang Arman dimana? aku sudah di depan markas nih," ujar Lensi dari seberang telpon.
"Abang masih di luar. Lihat rumah yang pengen kamu beli. Kamu mau lihat langsung sekarang, atau nanti saja?" tanya Arman.
"Aku langsung nyusul aja bang. Kirim lokasi sekarang ya?"
Lensi melihat anak buah Arman menjaga pintu markas, dan menitipkan ransel itu pada mereka. Setelah itu dia langsung menyusul Arman ke lokasi yang sudah pria itu kirim. Tidak butuh waktu yang lama, Lensi tiba di lokasi yang dia tuju.
Rumah itu lumayan mewah, dengan banyak pepohonan rindang yang memang Lensi sukai. Rumah itu juga sudah dilengkapi dengan kolam renang dan lapangan olah raga. Saat melihat pertama kali Lensi sudah klik dan langsung menyetujui pembelian rumah yang dibanrol dengan harga 10 milyar.
"Maaf. Jadi dapat yang 10 M. Padahal kamu mau cari yang 1 sampai 2 M saja," ujar Arman.
"Nggak apa bang. Aku berterima kasih sekali sudah dibantu. Untuk sementara rumah ini dibersihkan, aku tinggal di markas dulu ya bang?" tanya Lensi.
"Loh kenapa? apa kamu dan...."
"Akhirnya waktu itu sudah tiba bang. Hari ini dia melamar mantan tunangannya itu, dan kalau tidak ada halangan akhir pekan ini dia akan menikah. Aku tidak kuat jika harus dipoligami meskipun aku sudah jatuh hati padanya,"
"Kurang ajar. Apa kamu ingin abang memberinya pelajaran?" tanya Arman.
"Jangan bang. Ini bukan salahnya, akulah yang masuk diantara mereka. Dan apa yang memang bukan hakku, memang harus ku kembalikan bukan?"
Arman menghela nafas panjang saat melihat mata Lensi berkaca-kaca. Baru kali ini dia melihat sisi lemah dari adik angkatnya itu.
"Apa yang bisa abang bantu buatmu?" tanya Lensi.
"Aku ingin bersembunyi dan menghilang dari dia sampai aku siap bertemu dengannya lagi dan menggugat cerai dipengadilan. Saat ini aku ingin fokus memberi Surya pelajaran, dan mengambil semua hak keluarga Sudrajat yang sudah dia rampas," ucap Lensi.
"Bukankah suamimu itu pandai meretas?" tanya Arman.
__ADS_1
"Ya."
"Kalau begitu bawa ponselmu ketempat pinggir kota, dan non aktifkan disana. Kalau nomor ponselmu aktif terus sampai kamu pindah ke rumah baru, dia akan mudah melacak keberadaanmu,"
Mendengar ucapan Arman, Lensi langsung menepuk dahinya. Dia benar-benar lupa akan hal itu.
"Makasih ya bang sudah mengingatkan aku. Aku hampir saja menyia-nyiakan usahaku,"
"Kalau kamu sudah pandai meretas, retas juga semua cctv jalanan,"
"Kenapa begitu bang?" tanya Lensi.
"Tentu saja dia bisa melacak keberadanmu dengan melihat cctv jalanan. Atau kalau kamu nggak mau ribet, setiap kamu pulang ke rumah barumu, kamu harus melewati jalan yang jauh dari jangakauan cctv. Tapi aku yakin akan membuatmu nggak nyaman,"
"Abang benar. Mungkin sudah saatnya aku menjajal kemampuan meretas yang aku miliki." Jawab Lensi.
"Ayo abang temani memusnahkan jejak kartu ponselmu," ucap Arman.
"Emm." Lensi mengangguk.
Arman dan Lensi akhirnya pergi ke pinggiran kota untuk menon aktifkan kartu ponsel Lensi dan menggantinya dengan nomor baru.
"Untuk sementara jangan beritahu Okta dan yang lain ya bang? soalnya Ibrahim pasti nanya mereka. Dia sudah pernah kubawa kerumah Okta soalnya," ujar Lensi.
"Iya." Jawab Arman.
"Untuk sementara kamu tinggal saja di rumah abang, jangan dimarkas," sambung Arman.
"Biar di markas aja bang. Disana juga ada Zoya kan? lumayan ada teman buat melatih kemampuan. Sudah lama nggak latihan nih," ucap Lensi.
"Baiklah kalau itu maumu. Ayo kita pulang ke Markas dulu," ucap Arman.
"Oke bang." Jawab Lensi.
Selang 30 menit kemudian merekapun tiba di Markas. Lensi disambut hangat oleh orang-orang disana, karena dulu dirinya memang sempat tinggal beberapa minggu disana.
"Len? aa kabar loe?" tanya Zoya.
"Baik. Sepertinya tambah kuat loe sekarang?" tanya Lensi.
"Belum tahu kuat kalau belum di coba bukan?" tanya Zoya.
Lensi dan Zoya sama-sama tersenyum dan mengerti keinginan masing-masing. Merekapun mulai bertarung satu sama lain, untuk menguji kemampuan bela diri masing-masing. Namun baru menginjak gerakkan ke 17, Zoya harus mengakui kalau Lensi memang kuat darinya saat lengan Lensi akan menghantam Lehernya dengan gerakkan memutar.
"Owhh sial...." Zoya terkekeh.
Lensi membantu Zoya berdiri, sementara Arman dan anak buahnya yang menyaksikan pertarungan persahabatan itu memberi tepuk tangan yang meriah.
"Kemajuanmu sangat pesat," ujar Lensi sembari meraih handuk kecil yang anak buah Arman berikan.
"Belum pesat kalau belum bisa ngalahin loe," ucap Zoya sembari meraih botol minum diatas meja dan meneguknya.
"Kalau untuk yang satu itu butuh perjuangan." Jawab Lensi sembari terkekeh.
__ADS_1
"Kita ke Aula besar. Sudah disiapkan bandrek dan gorengan disana," ujar Arman.
Lensi dan yang lain mengikuti Arman untuk berbincang di Aula besar. Disana juga terdapat sebuah layar besar, yang biasa mereka gunakan untuk memantau pergerakkan kriminal yang terjadi di kota J.