
"Mau apa kamu kemari? kamu tidak ada kepentingan disini. Dasar tidak sopan! masuk rumah orang tidak mengetuk pintu dulu," hardik Marini.
"Buat apa aku mengetuk pintu rumahku sendiri." Jawab Lensi sembari menyandarkan tubuhnya dengan santai.
"Oh jadi kamu kesini mau minta pembagian penjualan rumah? jangan mimpi kamu. Aset sudah dibagi secara rata. Rumah ini adalah hak kami, dan kamu tidak lagi berhak atas rumah ini," timpal Vega.
"Aku tidak mau uang kalian, karena akulah yang sudah menyelamatkan kalian dari kemiskinan. Emosi dengan orang-orang yang tidak tahu malu seperti kalian, hanya akan mengotori bibirku," ucap Lensi.
"Apa maksudmu?" tanya Surya.
"Nona Lensi adalah bos yang sebenarnya. Dialah yang sudah mengakuisisi perusahaan dan rumah ini." Jawab Arman.
Mendengar jawaban Arman, tentu saja Surya terkekeh. Karena dia sama sekali tidak percaya Lensi mempunyai uang sebanyak itu.
"Apa kamu menjual asetmu yang lain, demi membeli perusahaan bangkrut dan rumah ini? kamu tidak akan mampu menjalankan perusahaan besar. Kamu sama sekali tidak memiliki kemampuan, dan pada akhirnya akan bangkrut juga," ejek Surya.
"Aku tidak perlu menjual asetku untuk membeli rumah dan perusahaan, karena aku memiliki kemampuan lain untuk menghasilkan uang." Jawab Lensi.
"Kemampuan apa? menjual diri? kamu tidak mungkin kan mengandalkan uang gaji suami kamu yang guru ngaji itu?" tanya Vega sarat dengan hinaan.
Arman yang mendengar hinaan itu sudah akan bergerak ingin memberi Vega pelajaran, namun Lensi mencegahnya.
"Vega benar. Anak tidak berguna sepertimu, mana mungkin punya kemampuan selain menghambur-hamburkan uang," timpal Surya.
"Oh ya? kalau tidak salah ingat, ada seorang pria tua mengatakan padaku. Kalau aku ini gadis yang berbakat, dan ingin mengajakku bekerjasama untuk membuka klub judi terbesar di kota ini." Jawab Lensi dengan tersenyum licik.
"Ap-Apa maksudmu?" tanya Surya terkejut.
"Aku adalah nona L. Lensi, yang memenangkan kompetisi judi dengan hadiah 300 milyar. Dengan uang itu aku bisa membeli rumah dan perusahaan Sudrajat yang kalian rampas secara paksa." Jawab Lensi.
Surya, Marini dan Vega tertegun, saat mendengar pengakuan Lensi yang mengejutkan.
"Sekarang kalian sudah tidak punya hak lagi menginjakkan kaki di rumahku. Kalian silahkan angkat kaki dan jangan pernah muncul lagi dihadapanku," ucap Lensi.
"Dan satu lagi. Ini baru permulaannya saja Surya Gemilang. Aku baru membuatmu mundur dari jabatan palsumu diperusahaan. Aku belum membuat perhitungan padamu dan istrimu atas kematian mama yang sudah kalian rencanakan. Bebaslah untuk sementara waktu, karena suatu saat nanti aku akan kembali untuk kalian," sambung Lensi.
Surya dan Marini terbelakak. Karena Lensi sudah mengetahui tentang pembunuhan berencana itu.
"Oh jadi kamu sudah tahu ya? apa kamu tahu? aku sangat menikmati saat wanita itu terjun bebas kedalam jurang. Aku bahkan merayakannya bersama suamiku, dengan mabuk berat disebuah klub," ucap Marini tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
"Lagipula kamu tidak punya buktinya, dan kasus ini sudah dinyatakan sebagai kecelakaan murni," timpal Surya.
"Bagus Surya. Sedikitpun kamu tidak punya rasa bersalah karena sudah melakukan perbuatan itu. Apa kalian pikir aku akan membalasnya dengan menjebloskan kalian kepenjara?" tanya Lensi.
"Hukuman penjara terlalu ringan buat kalian. Kalian lihat saja, suatu saat nanti ada masanya kalian akan menangis darah," sambung Lensi.
"Omong kosong," ujar Surya sembari menyeret koper mereka pergi dari rumah itu.
__ADS_1
Lensi hanya menatap kepergian mereka dengan senyum sinis.
"Makasih ya bang atas kerja keras abang buat semuanya. Nanti bagian abang akan aku transfer," ucap Lensi.
"Tidak perlu kalau kamu memang mengaggapku abangmu. Abang ikhlas melakukannya untukmu. Lalu kamu ingin perusahaan ini kamu jadikan apa?" tanya Arman.
"Aku ingin mengembalikan namanya seperti semula. Dan membangun citra perusahaan seperti dulu, seperti sebelum mama meninggal. Aku akan menghubungi orang-orang yang pernah bekerjasama dengan. SU Group, untuk kembali bekerjasama denganku." Jawab Lensi.
"Apa kamu bisa? masalahnya ini bukan seperti permainan judi," tanya Arman.
"Aku sudah banyak belajar dari Ibrahim. Aku yakin aku bisa." Jawab Lensi.
"Abang akan selalu mendukungmu," ujar Arman.
"Kalau aku berhasil membuka cabang nanti, apa abang bersedia keluar dari dunia hitam? rencananya sisa uang yang aku punya, akan aku bangunkan sebuah gudang besar tempat penyimpanan barang-barang yang akan didistribusikan oleh perusahaan. Dan aku hanya percaya abang dan orang-orang abang untuk menjaga gudang itu," tanya Lensi.
"Mereka tidak akan bisa. Orang-Orang abang tidak berpendidikkan sama sekali. Itulah sebabnya mereka memilih masuk kedunia hitam," ucap Arman.
"Tapi aku yakin mereka bisa.Tugas mereka hanya mencatat barang keluar masuk saja. Mustahil mereka tidak bisa berhitung sama sekali. Nanti sembari belajar, aku akan mendatangkan guru untuk mereka ke markas nanti."
"Bang. Tidak selamanya kalian bisa berada disana. Usia kalian semakin tua, anak istri butuh jaminan hidup. Tapi aku bisa menjamin, anak-anak kalian nanti yang akan menjadi penerus orang-orang yang akan pensiun dari perusahaan," sambung Lensi.
"Keberkahan sendiri buat abang bisa mengenal orang sebaik kamu Lensi. Baiklah, apapun rencanamu nanti, abang akan turut serta. Abang juga akan mengabarkan hal ini pada orang-orang di markas. Abang yakin mereka senang karena memiliki harapan baru," ujar Arman.
"Apa kamu masih ingin disini?" tanya Arman.
Ya. Kalau abang mau pulang, duluan saja." Jawab Lensi.
"Oke. Abang duluan ya?"
"Emm." Lensi mengangguk.
Arman kemudian pergi dari situ. Sementara Lensi masuk kedalam gudang, untuk mencari foto ibunya yang diasingkan kedalam sana. Lensi sempat terisak, saat dia berhasil menemukan foto itu. Foto yang sangat usang, namun sangat berarti untuknya. Lensi kemudian naik keatas dan melihat kamar utama yang ditempati surya.
"Apa mama bisa melihat dari surga? Lensi sudah berhasil merebut perusahaan dan rumah kita lagi ma. Mama, kakek, dan nenek bisa beristirahat dengan damai sekarang. Echi janji akan menjaga aset keluarga Sudrajat dengan baik," ucap Lensi.
Lensi menyibak tirai di kamar itu dan mengganti sprei yang sudah Surya gunakan bersama Marini. Lensi bahkan membakar sisa-sisa barang Surya, Marini dan Vega tanpa sisa sedikitpun.
Sementara itu ditempat berbeda Ibrahim sangat gusar saat ini. Dirinya merasa bersalah pada Lensi karena merasa gagal dan terlambat mengakuisisi perusahaan itu. Ibrahim mengira orang asing yang sudah mengakuisisi perusahanan dan juga membeli rumah Lensi. Pria itu tidak tahu, kalau Arman adalah sebagai perantaranya saja.
"Temui orang bernama Arman itu. Tawarkan harga dua kali lipat dari harga pembelian yang dia lakukan. Bagaimanapun caranya, dua aset itu harus berhasil kita dapatkan," ujar Ibrahim pada orang kepercayaannya.
"Baik bos." Jawab.
๐น๐น๐น๐น
"Kamu mau kemana?" tanya Zoya.
__ADS_1
"Aku mau menemui orang-orang penting untuk diajak kerjasama dengan perusahaan." Jawab Lensi yang saat ini sedang berpakaian rapi.
"Moga sukses ya?"
"Emm. Nanti kalau kamu habis lahiran, kamu akan aku ajak masuk perusahaan. Jadi gajimu nanti bisa kamu tabung buat masa depan anakmu." Jawab Lensi.
"Makasih ya Len. Aku benar-benar beruntung bisa memiliki sahabat sepertimu," ujar Zoya.
"Apa sih? kayak ngomong sama siapa aja, aku berangkat dulu ya," ujar Lensi.
"Emm. Hati-Hati," ucap Zoya yang kemudian mengantar Lensi hingga kedepan pintu.
Keesokkan harinya Lensi mulai bergerak memimpin perusahaan, dengan nama perusahaan yang kembali diganti dengan SU Group. Meski kabar itu sudah terdengar ditelinga Ibrahim, tapi Ibrahim tidak menyangka kalau yang meminpin perusahaan itu adalah istrinya sendiri. Orang yang dia perintahkanpun gagal menemui orang bernama Arman, karena Arman menolak bertemu.
"Ah...capek...." ujar Lensi sembari berbaring di sofa panjang.
"Bagaimana usahamu? apa mengalami kemajuan?" tanya Zoya.
"Tentu saja. Tidak sia-sia aku belajar banyak dari Ibrahim. Targetku aku harus bisa di nobatkan menjadi pengusaha nomor 3 dibawah Ibrahim. Syukur-Syukur aku bisa jadi yang nomor satu."Jawab Lensi terkekeh.
"Kapan kamu akan menemui Ibrahim?" tanya Zoya.
"Nanti. Sampai perusahaanku stabil dulu." Jawab Lensi.
"Sudah jam 8. Kamu pergilah beristirahat. Kalau kamu lembur terus begini, kamu bisa sakit," ujar Zoya.
Namun saat Lensi dan Zoya akan beranjak naik keatas. Ponsel Lensi tiba-tiba berdering. Lensi mengerutkan dahinya, karena itu nomor yang tidak dia kenal.
"Hallo," sapa Lensi
"Nona Lensi. Markas diserang oleh orang-orang bertato itu. Bos Arman melarangku memberitahumu, tapi orang-orang kita banyak yang luka-luka. Mereka membius kita, dan mereka sudah seperti mengenal tempat ini dengan baik. Kami butuh bala bantuan, mereka menyerang dengan kekuatan penuh."
"Apa yang mereka inginkan?" tanya Lensi.
"Mereka ingin markas dan pengakuan, kalau bos Arman mundur dari dunia bawah tanah
Mereka ingin menguasai semuanya."
"Aku akan datang." Jawab Lensi.
Lensi mengakhiri percakapan itu dan segera mengganti pakaiannya.
"Kamu diam dirumah, aku akan membantu bang Arman," ujar Lensi.
"Tidak. Aku mau ikut. Aku ingin berjuang bersamamu," ucap Zoya.
"Jangan keras kepala. Kamu sedang hamil. Itu sangat berbahaya. Awas saja kalau kamu tidak menurut, aku akan sangat marah padamu," ucap Lensi.
__ADS_1
Lensi langsung menaikki motor sportnya dan pergi membelah malam. Namun tanpa Lensi tahu, zoya dengan nekat juga pergi dari sana.