
"Bos. Ada Lensi dan Ibrahim juga ada bos mafia Arman, Sammy, dan juga anak buahnya. Mereka kemari dengan kekuatan penuh," ucap salah seorang anak buah Cokro.
Mendengar itu Cokro mengerutkan dahinya. Dia sama sekali tidak tahu apa tujuan kedatangan Lensi. Pasalnya yang dia tahu urusan mereka sudah kelar.
"Mau apa mereka kemari?" batin Cokro.
"Tetap waspada. Jangan lengah, katakan dengan yang lain agar siaga," ucap Cokro yang kemudian diangguki oleh anak buahnya.
Cokro kemudian mencuci wajahnya dan mengenakan pakaiannya. Setelah itu dia keluar dengan menyelipkan sebuah pistol dibalik saku jaketnya.
Cokro menatap barisan orang-orang yang Lensi bawa. Mereka semua dilengkapi dengan berbagai senjata. Mulai dari senjata tumpul, senjata tajam, maupun senjata api. Lensi kemudian maju kedepan, dan berdiri tepat dihadapan musuhnya itu.
"Dimana putraku?" tanya Lensi tanpa basa basi.
"Apa maksudmu?" tanya Cokro.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk bermian-main dengan manusia sampah sepertimu brengsek! harusnya kami tahu, kriminal sepertimu tidak akan bisa menepati janji. Kamu sudah mendapatkan uangnya, tapi kenapa kamu tidak mengantar anakku pulang?" ujar Lensi dengan penuh emosi.
"Apa maksudmu putramu tidak pulang? aku sudah mengirim anak buahku untuk mengantar anakmu," tanya Cokro.
"Anakku tidak kamu antar brengsek! berhenti bermain-main denganku!"
Cokro yang menyadari Lensi akan membidiknya dengan pistol, juga sigap menodongkan pistol nya pada Lensi. Kini keduanya sudah saling todong.
"Jangan berani menyentuh istriku, kalau tidak mau kepalamu berlubang!" Ibrahim menodongkan pistol kearah samping kepala cokro.
"Kalian sendiri yang memasuki kandang singa, tapi kalian sendiri yang merasa menjadi singanya. Aku sudah mengatakan yang sebenarnya, kalau putra kalian sudah aku antar ke rumah kalian," ucap Cokro.
"Tapi kenyataannya anakku tidak pernah sampai. Kamu terlalu meremehkan kekuatan kami Cokro. Dari dulu aku sudah ingin menghabisimu, tapi aku masih berbaik hati padamu. Tapi kali ini aku tidak akan mengampunimu karena kamu sudah berani menyentuh anakku," ujar Lensi.
"Ranoooo...." teriak Cokro.
"Ya bos,"
"Kemana Mardi dan Saidi yang aku tugaskan untuk mengantar anak mereka?" tanya Cokro.
"Me-Mereka belum kembali sampai saat ini bos. Aku juga sudah menghubungi mereka, tapi sama sekali tidak aktif." Jawab Rano.
"Ap-Apa?" Cokro terkejut.
__ADS_1
Greppppp
Kamu harus bertanggung jawab karena anakku hilang Cokro. Aku akan menghabisimu sekarang juga.
Klaakk
Klakkkk
"Tunggu!" Vega menyela dari kumpulan orang-orang.
Gadis sexy itu kemudian menghalau Lensi dan berdiri ditengah-tengah antara Lensi dan Cokro.
"Kakak. Aku mohon jangan bunuh Cokro. Kalau dia mati, anakku akan jadi anak yatim. Ini semua salahku, akulah yang menghasut Cokro agar menculik anakmu dan meminta uang tebusan. Tapi sungguh Cokro sudah mengembalikan anakmu. Ini pasti anak buahnya yang menyeleweng," ucap Vega.
"Minggir! Cokro harus di lenyapkan, agar tidak meresahkan masyarakat lagi," ujar Lenai.
"Tidak! aku mohon jangan. Hiks...sejak kecil semua pria selalu menyukaimu, sementara aku selalu di tolak pria. Sekarang cuma Cokro yang perhatian padaku, aku tidak mau kehilangan dia. Aku mencintainya, kalau dia mati bagaimana denganku dan anakku. Aku mohon jangan bunuh dia, kami janji nggak akan jadi orang jahat lagi,"
"Ve-Vega mencintaiku? apa itu benar? atau hanya ingin mengelabuhi Lensi saja? tapi mana mungkin dia mencintaiku. Gadis secantik dan sesexy dia, pasti menginginkan pasangan yang sempurna," batin Cokro.
Lensi saling berpandangan dengan Ibrahim. Lensi kemudian menatap wajah Vega yang tampak pucat. Wanita itu hanya bisa menghela nafas panjang. Meski dia sangat marah, tapi dia tahu betul rasanya jadi anak yang kehilangan orang tua. Dan perkataan Vega cukup menyentuh perasaannya.
Lensi dan Ibrahim kompak menurunkan pistolnya.
"Ambilkan dua laptop untukku," ucap Ibrahim.
"Rano. Ambilkan laptop di ruang kerjaku," ujar Cokro.
"Sebaiknya kita masuk ke dalam saja," ucap Cokro.
Lensi, Ibrahim, Arman dan Sammy masuk kedalam markas itu. Sementara yang lain tetap siaga di luar.
Jari-Jari Ibrahim dan Lensi mulai bergerak diatas laptop, saat laptop yang mereka inginkan sudah berada dihadapan mereka. Mata Vega, Cokro dan semua orang yang berada di ruangan itu tampak takjub, saat melihat kepiawaian kedua sejoli itu saat meretas cctv jalanan.
Ibrahim dan Lensi akui, Cokro tidak berbohong dengan perkataannya. Karena anak buahnya memang pergi membawa putra mereka dari markas. Mardi dan Saidi terlihat membawa anak mereka ke salah satu rumah mewah, dan keluar tanpa membawa anak itu.
"Sialan. Pantas saja mereka mengajukan diri untuk mengantar anak itu. Ternyata mereka punya tujuan lain," ucap Cokro.
"Uang kalian ada padaku. Aku akan mengembalikanya," ujar Vega.
__ADS_1
"Kenapa kamu ingin mengembalikannya? nanti kamu nggak bisa menuruti gaya hidup mamamu," sindir Lensi.
"Aku sadar selama ini aku sudah di doktrin oleh mama. Tapi mau bagaimana lagi, dia tetap mamaku bukan? sekarang aku hanya ingin hidup tenang bersama anakku dan juga ayah dari anakku." Jawab Vega.
"Kamu bilang nggak suka denga pria...."
"Cokro memang tidak setampan suamimu, tapi dia sangat baik dan perhatian terhadapku. Kini aku sadar, cuma Cokro yang aku mau,"
Lensi mengurut dahinya. Rasanya dia seperti mimpi saat mendengar Vega mau menerima Cokro apa adanya.
"Sayang. Ayo kita pergi, kita harus menjemput anak kita," ujar Ibrahim.
"Ya bang." Jawab Lensi sembari bangkit dari tempat duduknya.
"Tunggu! berapa nomor rekeningmu? aku ingin mengembalikan uangmu," tanya Vega
Lensi menatap Vega. Pandangan mata keduanya bertemu. Sesaat kemudian Lensi tersenyum.
"Tidak perlu. Anggap itu hadiah untuk kelahiran anakmu nanti. Gunakan uang itu dijalan yang baik. Kamu bisa buka usaha dengan uang itu. Jalani kehidupanmu yang lebih baik lagi, percayalah. Kamu akan mendapatkan ketenangan, dan semua keinginanmu akan tercapai," ujar Lensi.
"Kakak. Maukah kamu memelukku?" tanya Vega.
Lensi kemudian merentangkan kedua tangannya. Vega berhambur ke pelukkan Lensi sembari terisak.
"Maafkan aku. Maafkan aku yang selalu jahat sama kamu selama ini. Hiks...."
"Aku sudah memaafkanmu," ujar Lensi sembari melepaskan dekapannya.
"Aku pergi dulu. Aku tidak mau terlambat menjemput anakku," ujar Lensi yang kemudian diangguki oleh Vega.
Lensi dan Ibrahim bergegas pergi. Mereka segera menuju rumah, tempat anaknya berada. Namun saat tiba disana, Lensi dan Ibrahim sangat terkejut saat pelayan mengatakan majikannya membawa putra mereka menuju bandara.
"Aku harus merepotkanmu lagi kawan," ucap Ibrahim diseberang telpon.
"Ada apa Ustad?"
"Aku ingin kamu menahan tuan dan Nyonya Gideon, karena mereka sedang membawa putraku dan akan membawanya ke Amerika." Jawab Ibrahim.
"Baiklah. Kamu datang langsung saja ke bandara, aku akan mengecek orangnya,"
__ADS_1
Lensi dan Ibrahin tidak ingin menyia-nyiakan waktu. Merekapun pergi menuju bandara.