MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
131. Serangan


__ADS_3

"Kenapa kamu nggak berpikiran panjang? siapa tahu Handoko melakukan itu karena ingin mengujimu. Lagi pula itu bagus untuk membangun citramu dihadapan Handoko dan orang kantor," ucap Marini.


"Ini kenapa pemikiran mama sama persis kayak pemikiran Handoko. Meski harus membangun citra, nggak jadi cleaning service juga kali ma. Mama lihat dong penampilan aku yang cantik dan sexy ini. Mana cocok kerja sebagai cleaning service," Vega bersungut-sungut.


"Aduh sayang. Ibarat kita pergi memancing, butuh umpan besar kalau mau mendapatkan ikan yang besar. Dengan kamu menuruti kemauan Handoko, bukan tidak mungkin suatu saat nanti dia akan membuatmu menggantikan dia."


"Coba kamu pikir deh. Si Gita kan sudah memutuskan buat menjadi abdi negara, Jadi siapa lagi yang bisa menggantikan posisinya nanti selain kamu. Iya kan?"


Vega tampak diam dan berpikir. Sesaat kemudian dia menghela nafas. Sementara itu ditempat berbeda, Gita membuat pembahasan yang lain dengan kedua orang tuanya.


"Kalau nggak ada halangan, sebentar lagi Iko akan membawa kedua orang tuanya kesini," ujar Gita.


"Benarkah? apa itu semacam lamaran? kapan?" tanya Susi antusias.


"Mungkin. Aku sudah berbicara dengan Iko, dan dia setuju untuk melamarku. Aku nggak tahu pastinya kapan, nanti akan dia kabari lagi." Jawab Gita.


"Hah...sebenarnya mama masih belum rela kamu nikah muda. Tapi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, lebih baik kalian nikah saja. Dan mama cepat gendong cucu," ucap Susi.


Tring


Tring


Tring


Ponsel Gita berdering, dan itu berasal dari Iko.


"Ya Ko?"


"Sekarang aku baru selesai berdiskusi dengan kedua orang tuaku. Mereka bilang minggu depan siap buat datang ke rumahmu. Jadi bisa dibilang minggu depan kami akan datang melamarmu," ujar Iko.


"Baiklah nanti akan aku sampaikan. Aku baru juga selesai memberitahu mereka," ucap Gita.


"Ya sudah aku mau mandi dulu, belum sempat ganti baju soalnya," ujar Iko.


"Ya aku juga,"


Iko dan Gita mengakhiri perbincangan itu, dengan sisa senyum yang terbit dibibir Gita.


"Sepertinya ada yang senang nih. Hem?" ujar Handoko.


"Kata Iko. Minggu depan dia dan orang tuanya akan datang kesini buat lamaran," ujar Gita.


"Benarkah? itu bagus. Kamu harus cari kebaya yang cantik buat menyambut calon mertuamu," ucap Handoko.


"Aduh...apa itu diperlukan? aku tidak suka pakai yang begitu pa. Aku rasa pakai gamis saja sudah cukup," ucap Gita.


Handoko terkekeh mendengar ucapan putrinya itu. Dia tahu betul putrinya memang bukan gadis yang feminim.


"Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri berpenampilan feminim. Dimana-mana cowok itu suka perempuan yang suka dandan dan sexy. Beruntung Iko mau sama kamu," ucap Susi.


"Iko bukan pria seperti itu. Dia mencintaiku apa adanya. Dia malah tidak suka melihat gadis-gadis dengan pakaian terbuka," ujar Gita.


Handoko dan Susi saling berpandangan. dan mencebikkan bibir mereka.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


Hak


Hak


Hiaaattt


Tap


Tap


Brukkkk


Hosh


Hosh


Gita berhasil menjatuhkan lawannya keatas matras setebal 20 centimeter. Iko menyunggingkan senyumnya, dia sangat bangga akan kemampuan kekasihnya itu.


"Selanjutnya tim biru dan tim merah dari laki-laki," seorang pembawa acara pertandingan persahabatan memanggil perwakilan dari kedua tim untuk bertanding.


Iko bangkit dari tempat duduknya, karena dia ingin mewakili dari tim nya. Setelah melakukan salam penghormatan, Iko dan lawannya mulai bertanding. Tidak butuh waktu lama, lawan Iko sudah tumbang diatas matras. Kini giliran Gita yang menyunggingkan senyumnya atas aksi kekasihnya itu. Dan setelah tim mereka dan tim lawan beberapa kali melakukan pertandingan, tim Gita dan tim Iko dinyatakan menang.


"Huffttt capek. Sial, minumku habis." Ucap Gita.


"Ya sudah kamu tunggu di mobil saja, biar aku beli minum. Kamu mau minuman apa? yang dingin atau yang biasa?" tanya Iko.


"Biar aku saja sayang. Biar kamu tunggu di mobil! sekalian aku mau cari camilan juga," ucap Gita.


"Ya sudah kalau begitu," ujar Iko.


Bughh


Salah seorang pria memukul bagian depan mobil Iko dengan sebuah tongkat kayu. Iko bergegas keluar untuk memastikan apa kemauan dari orang tersebut.


"Oh kamu. Ada apa?" tanya Iko yang mengingat lawannya saat bertanding beberapa jam yang lalu.


"Aku belum puas bertanding denganmu. Ayo kita selesaikan sekarang." Jawab pria itu.


Iko melihat beberapa pria berdiri dibelakang pria itu dengan membawa tongkat kayu yang sama.


"Kamu tahu sendiri, kadang ilmu bela diri terkadang tidak diperlukan untuk situasi tertentu. Aku ingin tahu, apa ilmu bela dirimu itu juga berguna didepan tongkat kayuku ini?" tanya pria itu.


"Mana tahu kalau tidak dicoba." Jawab Iko.


Hiaaaattt


5 orang pria menyerang Iko secara bersamaan,


dengan membawa tongkat yang sama. Awalnya semua baik-baik saja. Namun Iko sedikit kuwalahan, karena musuhnya menyerang secara membabi buta dengan senjata. Iko terpaksa merelakan punggungnya dihantam oleh sebuah tongkat kayu.


Gita yang baru selesai belanja cukup syok saat melihat Iko sudah tersungkur di tanah. Saat musuh ingin menyerang Iko kembali, Gita menerjang pria itu hingga musuhnya itu tersungkur ke tanah.


"Sayang. Pergilah!" teriak Iko.


"Oh...jadi dia pacarmu. Mending kamu jadi pacarku saja," ujar salah seorang pria sembari memberikan tatapan nakal untuk Gita.

__ADS_1


"Mimpi saja di neraka! hiaaattt...."


Tap


Tap


Tap


Bugh


Bagh


Bugh


Gita memberikan pukulan bertubi-tubi. Setelah musuhnya itu berhasil dikalahkan, Gita bergegas membantu Iko berdiri.


"Sayang. Kamu nggak kenapa-napa kan?" tanya Gita khawatir.


"Nggak apa-apa. Kenapa kamu keras kepala, pergi saja!" ucap Iko.


Tanpa mereka tahu, seseorang dari musuh mengeluarkan sebuah pisau dan segera menyerang Iko.


"Iko awas!"


Tap


Tap


Tap


Jebretttt


Melihat Iko diserang mendadak dan mendapatkan luka dilengan kekasihnya itu, Gita bergegas menyerang musuhnya dengan memberikan tendangan telak. Musuh-Musuh Iko dan Gita tidak mau menerima kekalahan begitu saja. Mereka menyerang secara bersaman. Lensi yang kebetulan lewat dikawasan itu menghentikan motor sportnya dan ikut membantu Iko dan Gita untuk mengalahkan lawannya.


"Pengecut! kalau berani tanpa senjata dong. Badan aja yang dibesarin. Nyali udah kayak lekong. Lebih baik kalian pergi, atau aku laporin kalian ke polisi," ucap Lensi sembari menunjuk-nunjuk kearah lawannya yang sudah tumbang.


"Wah...kakak hebat sekali," ucap Gita yang takjub saat melihat kemampuan bertarung Lensi.


"Pulanglah! lain kali berhari-hati," ujar Lensi.


"Makasih kak atas bantuannya," ucap Gita.


"Sebaiknya cepat tangani luka kekasihmu. Takutnya infeksi," ujar Lensi sembari menunjuk kearah lengan Iko.


"Kok kakak bisa tahu kalau kami pasangan kekasih?" tanya Gita.


"Karena kalian sangat serasi." Jawab Lensi sembari melambaikan tangan dan pergi dengan motornya.


"Ah...sial, kita lupa menanyakan namanya," ujar Gita.


"Ya sudah ayo kita pulang," ucap Iko.


"Pulang? nggak ada pulang-pulangan. Kamu harus mengobati lukamu dulu. Sepertinya cukup dalam," ujar Gita yang kemudian mengeluarkan sapu tangannya dari dalam tas dan kemudian menekannya pada luka kekasihnya itu.


Karena tidak ingin mendengar kebawelan Gita, Iko menurut saja. Merekapun pergi ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2