MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
106. Aneh


__ADS_3

Lensi bersandar dijok mobil. Tak ada percakapan diantara mereka saat ini. Ibrahim juga tidak ingin bertanya apapun, dia tahu suasana hati istrinya itu sedang tidak baik.


"Mau makan diluar nggak? pengen jajan atau apa gitu," tanya Ibrahim yang mencoba membuka suara untuk mencairkan suasana yang sunyi.


"Nggak bang. Kita pulang aja." Jawab Lensi sembari menatap keluar jendela.


"Baiklah," ucap Ibrahim yang sedikit menambah kecepatan mobilnya.


Sementara itu ditempat berbeda, Arman tengah membujuk Okta yang tengah menangis. Sejak dirinya dinyatakan hamil oleh dokter, Okta lebih sensitif dan mempunyai keinginan aneh.


"Sayang. Lensi kan lagi hilang ingatan. Lagipula suaminya pasti nggak akan mengizinkan," bujuk Arman.


"Dewi pasti mau bang. Ini kan demi calon ponakkan dia," ucap Okta.


"Kamu minta makanan saja ya? jangan minta yang itu. Kasihan anak kita kalau begitu," ujar Arman.


"Kan nggak pakai duit bang. Cuma main bohongan aja. Abang nggak ngerti perasaan aku," ucap Okta.


Arman memijat kepalanya yang berdenyut tiba-tiba.


"Bang,"


"Hem?"


"Ayo telpon si Dewi." Jawab Okta.


Arman menghela nafas berat. Sebagai pria berumur, dia memang harus lebih banyak bersabar menghadapi sikap Okta yang sangat kekanakkan akhir-akhir ini. Arman kemudian meraih ponselnya dan membuat panggilan untuk Lensi.


Tring


Tring


Tring


Lensi yang tengah melamun sembari menatap luar jendela, melirik kearah ponselnya yang dia letakkan disamping tempat duduknya.


"Bang Arman?" batin Lensi.


Lensi meraih ponselnya dan menggeser tanda panah hijau untuk menerima panggilan itu.


"Ya bang?"


"Emm..Len, apa kamu bisa ke rumah abang sebentar?" tanya Arman.


"Ada apa bang?" tanya Lensi.


"Ini si Okta sedabg hamil. Dia...."


"Apa? Okta hamil? kok bisa?" tanya Lensi.

__ADS_1


"Eh? kok bisa bagaimana? kan abang suaminya." Jawab Arman.


"Eh? ma-maaf bang aku lupa," ujar Lensi. Sementara Ibrahim jadi menahan tawanya.


"Jadi Okta kenapa bang?" tanya Lensi.


"Dia ngidam mau main kartu sama kamu." Jawab Arman.


"Apa? aneh banget istrimu itu. Apa nggak ada yang lebih berkelas dikit ngidamnya. Naik baling-baling hellykopter misalnya," ujar Lensi.


"Please Len kamu kesini ya? abang nggak bisa nanganin dia lagi. Udah berjam-jam dia nangis," ucap Arman.


"Ya sudah nanti aku kabarin ya bang. Aku mau minta izin dulu sama suamiku," ujar Lensi yang membuat Ibrahim menyunggingkan senyum.


"Ya. Aku juga mau menghubungi teman-teman kamu yang lain. Agar lebih enak mainnya," ucap Arman.


"Ya bang" ujar Lensi.


Lensi dan Arman mengakhiri percakapan itu.


"Ada apa?" tanya Ibrahim.


"I-Itu. Okta lagi ngidam, tapi ngidamnya aneh bang." Jawab Lensi.


"Aneh gimana?" tanya Ibrahim.


"Dia pengen main kartu sama aku." Jawab Lensi yang kemudian menghentikan ucapannya. Karena dia ingin melihat ekspresi suaminya itu.


"Eh? kita mau kemana bang?" tanya Lensi.


"Ke rumah bang Arman kan?"


"Abang nggak keberatan?" tanya Lensi.


"Jangan pakai uang. Pakai hukuman arang wajan saja." Jawab Ibrahim.


"Kok abang bisa tahu kalau kami main nggak pakai uang hukumannya pakai arang wajan?" tanya Lensi.


"Lihat lagi video di galery ponselmu. Kalau nggak salah ingat, kamu pernah merekam kegiatan itu," ucap Ibrahim.


"Ngerekam video? perasaan aku nggak pernah buat video saat main kartu. Kurang kerjaan aja," batin Lensi namun tangannya bergerak membuka galery diponselnya.


Namun bibir Lensi tiba-tiba tersungging, saat dirinya melihat video kenangan dirinya saat merekam kegiatan bermain kartu. Lensi bahkan tertawa, saat melihat wajah Ibrahim penuh dengan arang wajan.


"Sepertinya kamu menikmati sekali melihat penyiksaan itu. Hem?" tanya Ibrahim sembari mengusap puncak kepala Lensi.


"Habisnya abang terlihat lucu disini. Aku nggak nyangka, kalau sebelum hilang ingatan kita mempunyai momen indah seperti ini." Jawab Lensi.


"Mau hilang ingatan atau tidak. Kita akan selalu membuat kenangan yang indah bersama," ujar Ibrahim.

__ADS_1


"Bang,"


"Hem?"


"Bagaimana kalau aku hilang ingatan selamanya?" tanya Lensi.


"Tidak masalah. Karena kamu hilang ingatan saat pertemuan kita yang pertama, maka kita akan membuat pertemuan pertama kita yang buruk, menjadi pertemuan kedua kita yang indah."


"Sebenarnya abang lebih suka kamu hilang ingatan," sambung Ibrahim.


"Kok gitu bang? kok abang malah senang lihat aku hilang ingatan?" tanya Lensi.


"Karena awal-awal pernikahan kita abang memberikan noda yang buruk. Abang membuatmu sedih karena salah paham. Hingga kita jadi terpisah selama 5 bulan, dan sama-sama hidup menderita." Jawab Ibrahim.


"Tapi dengan kamu hilang ingatan, kamu bisa melupakan kenangan buruk itu. Dan mengulang kehidupan rumah tangga kita yang indah tanpa masalah," sambung Ibrahim.


"Tidak masalah meski ada masalah juga. Rumah tangga tanpa masalah juga nggak enak bang. Kenapa harus takut ada masalah? tapi jangan berat-berat juga sih masalahnya," ujar Lensi.


"Masalah berat? contohnya?" tanya Ibrahim.


"Bagiku masalah apapun bisa diselesaikan, bisa aku maafkan. Tapi kalau masalah menyangkut orang ketiga, alias perselingkuhan Janganlah abang coba-coba. Aku jamin burung abang tidak akan berada disarangnya lagi." Jawab Lensi.


"Kok gitu? dimana-mana orang kalau diselingkuhin minta cerai, kenapa jadi motong burung?" tanya Ibrahim dengan menahan tawanya.


"Keenakkan abang sama selingkuhan abang itu. Jadi kalau udah kupotong, siapapun yang mau aku persilahkan." Jawaban Lensi membuat Ibrahim jadi tertawa keras.


Setelah menempuh perjalanan hampir 25 menit, merekapun tiba di kediaman Arman. Namun Lensi sangat terkejut saat melihat Zoya dalam keadaan perut membuncit.


"Zo-Zoya. Loe hamil? siapa yang menghamili loe?" tanya Lensi sesaat turun dari mobil.


"Noh yang buntingin gue. Ganteng nggak?" tanya Zoya dengan santainya.


"Kok loe malah santai begitu sih? dia siapa?" tanya Lensi.


Ibrahim yang tidak ingin istrinya terlihat jadi orang bodoh, langsung merangkul pundak istrinya itu.


"Dia suaminya sayang. Sebelum kamu hilang ingatan, dia sudah menikah dengan adik bang Arnan."


"Adik bang Arman?" tanya Lensi.


"Iya Len. Sammy adik abang yang sudah lama hilang lebih dari 20 tahun." Jawab Arman.


Lensi menghela nafas dan tertunduk. Ibrahim mengusap-usap lengan Lensi. Dia tahu betul apa yang Lensi rasakan saat ini.


"Nggak apa sayang. Nanti abang akan menceritakan sedikit-sedikit apa yang kamu tidak ingat selama kita menikah," ucap Ibrahim.


"Ternyata begitu banyak yang aku lewatkan ya?" ujar Lensi dengan wajah sedih.


"Tidak masalah. Jangan terlalu dipikirkan. Yang pasti semuanya baik-baik saja," ucap Ibrahim.

__ADS_1


"Dew...loe udah datang?" tanya Okta yang semringah saat melihat kehadiran Lensi.


Okta kemudian menyeret tangan sahabatnya itu. Arman hanya bisa menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Okta yang sangat aneh semenjak mengadung anak mereka. Sementara itu teman-teman Okta yang lain juga ikut mengekor dibelakang. Karena tempat bermain sudah Arman siapkan diruang tamu mereka.


__ADS_2