
"Hakim memutuskan. Terdakwa Vega Gemilang dijatuhi hukuman 1 tahun dua bulan, setelah dikurangi masa tahanan selama 3 bulan,"
Tok
Tok
Tok
Hakim mengetuk palu sebanyak 3 kali. Vega tersenyum senang, karena tuntutan itu jauh lebih ringan daripada tuntutan jaksa penuntut umum. Setelah melewati beberapa kali sidang, vonis Vega akhirnya dijatuhkan juga. Dari pihak Vega maupun Lensi, tidak ada yang mengajukan banding. Semua menerima keputusan hakim.
"Apa kamu ikhlas dia menerima hukuman 1,2 tahun penjara?" tanya Ibrahim.
"Kalau mengikuti naluriku, tentu saja itu sangat tidak sebanding. Tapi bukankah aku sudah berjanji pada abang untuk mengikhlaskan semuanya?"
Ibrahim mengusap kepala Lensi. Mereka memang sengaja tidak menyewa pengacara, karena mereka tidak ingin memperpanjang masalah ini lagi.
Drap
Drap
Drap
Surya menghampiri Lensi dengan dada membusung dan langkah yang tegap.
"Aku tidak menyangka punya suami kaya dan terkenal tapi tidak bisa melakukan apa-apa untukmu. Sudah jadi rahasia umum, kalau perbuatan Vega itu bisa masuk penjara lebih lama dari sekedar satu tahun dua bulan penjara," Surya menyulut api provokasi.
Puk
Puk
Puk
"Sebaiknya dada anda jangan terlalu dibusungkan, karena takutnya sekali dada anda membungkuk, maka tidak akan bisa tegak lagi." Jawab Lensi sembari menepuk pelan dada Surya.
"Ayo kita pulang pa! tidak usah diladeni anak durhaka seperti dia," ucap Marini yang kemudian menggandeng tangan Surya untuk pergi.
"Tunggu!" ucap Lensi yang membuat langkah Surya terhenti.
"Aku cuma ingin bertanya satu hal pada anda tuan Surya Gemilang. Seberapa sayang anda terhadap Vega. Maksudku jika dibandingkan dengan aku, berapa persen terhadap Vega dan berapa persen terhadapku," tanya Lensi.
Surya berbalik badan dan tersenyum sinis. Sementara Lensi semakin mendekat kearah pria parubaya itu.
"Aku tidak perlu membaginya. Bagiku putriku hanya Vega saja. Jadi sudah pasti dia akan mendapat 100% secara utuh. Dan kamu hanya hadir kedunia ini hanya dari kesalahan, dan tipu muslihatku terhadap ibumu." Jawab Surya dengan lantang.
Lensi mengepalkan tangannya dengan erat. Ibrahim bisa melihat kalau tangan istrinya itu tengah bergetar.
"Kasihan Lensi. Aku baru menyaksikan secara langsung, ada seorang ayah yang sekejam Surya. Pria ini aku sangat yakin, tidak lama lagi dia akan hidup sengsara disisa hidupnya," batin Ibrahim.
Ibrahim mendekat kearah Lensi, dan membuka genggaman tangan istrinya itu. Kemudian Ibrahim menyelipkan jari-jari tangannya, diantara jari-jari Lensi.
__ADS_1
"Lensi juga tidak membutuhkan orang tua yang tidak pandai bersyukur seperti anda," ucap Aisyah dari arah belakang Surya.
"Lensi sudah memiliki saya sebagai ibunya dan suami saya sebagai pengganti anda. Kami akan mencurahkan semua kasih sayang kami sama dia, yang tidak pernah anda berikan selama ini," sambung Aisyah.
"U-Umi," ucap Lensi lirih, dengan jatuhan air mata haru.
"Bodoh. Apa yang kamu tangisi. Hem? air matamu ini terlalu berharga untuk menangisi orang seperti dia," ucap Aisyah sembari menyeka air mata Lensi. Lensi kemudian langsung masuk kedalam pelukkan Aisyah.
"Biar aku beritahu rahasia besar yang mungkin cukup membuat anda menyesal tuan Surya," ucap Ibrahim sembari mendekat kearah Surya.
"Rahasia besar apa maksudmu?" tanya Surya.
"Vega bukanlah putri kandungmu," bisik Ibrahim.
"Omong kosong apa yang kamu bicarakan?" tanya Surya dengan wajah merah padam.
"Datanglah ke kantorku besok, kalau kamu ingin tahu kebenarannya." Jawab Ibrahim yang kemudian berbalik badan.
"Sayang. Ayo kita pulang!" ucap Ibrahim yang kemudian menggandeng erat tangan Lensi.
Ibrahim sekeluarga meninggalkan ruang sidang. Sementara Surya tampak berpikir keras dan kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak percaya.
"Papa kenapa? kenapa papa jadi tegang? apa yang anak itu bicarakan?" tanya Marini penasaran.
"Tidak mungkin Marini menghianatiku. Aku ingat betul akulah yang pertama kali mendapatkan keperawanannya. Tapi kenapa anak itu bicara dengan penuh kayakinan?" batin Surya.
"Marini tidak boleh tahu dulu sebelum aku memastikannya lebih dulu. Aku tidak akan memaafkannya, kalau sampai apa yang dikatakan anak itu benar,"
"Apa gunanya dia minta diakui. Sekarang dia bukan siap-siapa lagi. Dasar anak bodoh," batin Marini.
"Ya sudah ayo kita pulang," ucap Marini.
"Emm." Yang diangguki oleh Surya.
Sementara itu Lensi di dalam mobil hanya diam membisu. Suasana hatinya jadi memburuk, setelah berbicara dengan Surya.
"Sayang. Apa kamu ingin makan sesuatu?" tanya Ibrahim yang ingin mencoba menghibur Lensi.
"Nggak bang." Jawab Lensi singkat sembari melihat kearah luar jendela.
Aisyah melirik kearah Ustad Gofur sembari bertanya dengan alisnya. Sementara Ibrahim melirik kearah kedua orang tuanya lewat kaca mobil bagian depan.
"Tapi Umi sangat lapar. Apa Echi nggak mau nemenin Umi makan?" tanya Aisyah.
"Eh? i-iya Umi. Bang, kita cari makan sekarang. Umi mau makan apa?" tanya Lensi.
"Umi pengen ngebakso nih." Jawab Aisyah.
"Bang. Kata Umi dia pengen bakso," ucap Lensi.
__ADS_1
"Abang dengar sayang." Jawab Ibrahim.
Aisyah tersenyum melihat keharmonisan anak dan menantunya itu. Dia sangat berharap, agar bisa segera diberikan cucu.
๐น๐น๐น๐น
"Tuan. Ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda," ujar sekretaris Ibrahim
"Siapa?" tanya Ibrahim tanpa mengalihkan pqndangannya saat menanda tangani berkas.
"Tuan Surya." Jawab Sekretaris yang membuat tangan Ibrahim berhenti bergerak.
"Antar dia ke ruangan saya!" ucap Ibrahim.
"Baik tuan,"
Ibrahim tersenyum. Dengan segala koneksi yang dia milikki, dia berhasil mendapatkan salinan hasil test DNA antara Vega dan Handoko. Ibrahim juga memiliki bukti percakapan, antara Marini dan Handoko.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" ucap Ibrahim.
Ceklek
Surya tampak menekan handle pintu dan melangkah perlahan.
"Silahkan duduk pak Surya," ucap Ibrahim sembari mempersilahkan Surya duduk di sofa.
Ibrahim kemudian menghampiri Surya dan duduk disebelah pria parubaya itu.
"Aku tidak ingin berbasa basi. Aku kesini hanya ingin melihat bukti perkataanmu tempo hari," ucap Surya.
"Saya juga tidak suka berbasa basi," ujar Ibrahim sembari menyodorkan selembar kertas, dan video di ponselnya.
Alih-Alih membaca isi kertas itu, Surya malah lebih tertarik dengan Video yang akan Ibrahim tunjukkan. Mata Surya terbelalak, saat melihat kebersamaan Marini dan Handoko. Terlebih saat Marini mengatakan bahwa Handokolah orang yang pertama kali mengambil keperawanannya.
"Apa maksud perkataan Marini? jelas-jelas pagi itu...."
Surya jadi teringat saat dirinya mabuk malam itu. Pagi-pagi sekali dia mendapati dirinya dan Marini tanpa busana. Surya juga melihat bercak darah pada sprey, yang di klaim Marini sebagai darah keperawanannya.
"Marini. Jadi dia sudah menipuku selama ini?" batin Surya.
Surya kemudian melihat hasil test DNA yang dia pegang. Dan hasilnya sunggguh mengejutkan, bahwa Vega memang bukanlah putri kandungnya. Kertas itu bahkan terlepas dari tangannya dan melayang diatas lantai.
"Ti-Tidak mungkin! tidak mungkin putri yang aku besarkan dengan penuh kasih sayang selama ini, bukan putri kandungku. Bahkan aku memberikan segalanya untuk dia, mengakuinya sebagai putriku satu-satunya di depan publik. Aku bahkan menyingkirkan putri kandungku sendiri," bibir Surya bergetar saat bergumam.
__ADS_1
Ibrahim menyeringai, saat melihat wajah pucat Surya. Dia sangat puas melihat wajah kekalahan Surya yang sudah menyakiti hati istrinya selama bertahun-tahun.