MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
60. Syuting Iklan


__ADS_3

"Ya bos?" tanya Lensi saat agensi menghubunginya pada pukul 9 malam.


"Besok jam 11 siang syuting Iklan produk kecantikkan yang sudah kamu kontrak di mulai. Kamu jangan lupa datang ya Len?"


"Gitu ya bos? ya sudah akan aku usahakan bos," ujar Lensi.


"Bukan diusahakan Len, tapi memang keharusan. Kalau kamu sampai membatalkan kontrak secara sepihak, kamu akan membayar pinalti sebesar 10 kali lipat,"


"Saya mengerti bos," ucap Lensi.


Percakapan itu berakhir setelah pembicaraan selesai. Lensi menoleh ke arah ibrahim yang ternyata sudah tertidur lelap.


"Besok ajalah minta izinnya. Sekarang mending tidur sambil meluk laki ganteng dulu," ujar Lensi lrih.


Lensi kembali berbaring dan memeluk Ibrahim. Tidak lama kemudian diapun tertidur lelap.


๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


"Bangunlah! kita sholat subuh berjama'ah," ujar Ibrahim.


Lensi bergegas bangun, dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah selesai merekapun sholat berjama'ah.


"Bang. Hari ini dinda izin nggak belajar dulu ya?" ucap Lensi.


"Kenapa?" tanya Ibrahim.


"Semalam agensi menelponku. Aku memang sudah tanda tangan kontrak untuk produk kecantikkan. Jadi jam 11 nanti aku ada syuting iklan untuk produk yang akan aku bintangi." Jawab Lensi.


Ibrahim terdiam. Dia masih belum percaya kalau Lensi benar-benar seorang model.


"Aku akan menemanimu," ujar Ibrahim sembari mencari pakaian di lemari.


"Eh? n-nggak usah bang. Biar aku sendiri saja. Lagian abang kan sibuk, syuting itu pasti membutuhkan waktu yang lama. Abang pasti bosan deh," ujar Lensi.


Ibrahim menatap Lensi. Dia ingin menemukan alasan lain, kenapa Lensi menolak diantar dirinya.


"Emm...selain itu, agensi nggak tahu kalau aku sudah menikah," sambung Lensi.


"Mulai sekarang aku yang akan menjadi managermu," ucap Ibrahim.


"Eh? ma-managerku? a-aku mana sanggup membayar abang. Gaji model nggak sebesar gaji karyawan kantor abang," ucap Lensi.


"Aku nggak butuh uangmu yang sedikit itu. Aku minta bayaran yang lain," ujar Ibrahim.


"Ba-Bayaran yang lain? bayaran yang lain apa bang?" tanya Lensi.


"Aha...jangan-jangan abang minta dibayar dengan ehem- ehem ya bang? yuk bang, dinda siap. Sekarang aja DP nya," ujar Lensi.


Ctakkkkk


Ibrahim menyentil dahi Lensi dengan lumayan keras.


"Awww...sakit bang," Lensi mengusap-usap dahinya.


"Mesum saja yang ada dipikiramu," ucap Ibrahim.


"Ya namanya juga pengen berkembang biak bang." Jawab Lensi.


"Aku ingin kamu membacakan surat Ar-Rahman setiap sebelum tidur," ujar Ibrahim.


"Oke deal," ucap Lensi.


Lensi mengulurkan tangan dengan senyum semringah.


"Jangan senang dulu. Sebagai managermu, kamu harus patuh apa yang akan aku perintahkan," ucap Ibrahim.


"Eh? kenapa terdengar seram sekali? tahu gitu mending kerja sendiri saja. Nggak pakai manager juga masih bisa idup," garutu Lensi.


"Kenapa?" tanya Ibrahim.


"Nggak kenapa-kenapa. Abang mau pergi pakai baju apa?" tanya Lensi.


"Tidak usah mengajariku. Agensi kecilmu itu tidak sebanding dengan cabang perusahaanku." Jawab Ibrahim.

__ADS_1


"Sombongnya... sombong dosa loh bang," ucap Lensi.


"Aku nggak sombong. Yang aku katakan memang kenyataan," ujar Ibrahim yang dibalas cebikkan oleh Lensi.


Waktu memunjukkan pukul 10, saat Ibrahim mengajak Lensi pergi untuk syuting iklan.


"Ini kan baru jam 10 bang. Syutingnya jam 11," ujar Lensi.


"Dibiasakan datanglah sebelum waktu yang ditentukan. Itu bisa jadi nilai plus buat kamu," ucap Ibrahim.


"Aku nggak butuh penilaian mereka. Biar nggak disiplin gini, yang pengen ngontrak jasa ku sangat banyak. Aku saja yang nolak mereka mentah-mentah," ucap Lensi.


"Jangan banyak bicara. Cepatlah mandi! aku tunggu 15 menit lagi. Aku tunggu kamu dibawah," ujar Ibrahim.


Bibir Lensi mengerucut. Dia benar-benar merasa terpaksa.


"Ckk...kamu itu harus bersikap profesional dong. Mana bisa kamu berpenampilan tomboy kayak preman begini. Pakai gamis bila perlu," ujar Ibrahim saat melihat Lensi turun dengan pakaian preman.


"Sudahlah bang. Mereka tahu siapa aku kok. Dari dulu aku memang tampil apa adanya. Abang beruntung punya istri cantiknya dari dalam kandungan," ucap Lensi.


Ibrahim hanya bisa geleng-geleng kepala. Hari ini Lensi bergi dengan motor bersama Ibrahim. Ibrahim menatap sebuah gedung yang sangat dia kenali itu.


"Kamu bekerja disini?" tanya Ibrahim.


"Ya." Jawab Lensi.


"Sudah berapa lama kamu disini?" tanya Ibrahim.


"Hampir 3 tahun. Tapi aku tidak mengambil semua pekerjaan. Aku kerjanya santai, karena aku nggak mau terbebani." Jawab Lensi.


"Berapa yang agensi berikan untuk iklan ini?" tanya Lensi.


"50 juta." Jawab Lensi.


"Sialan William. Masih aja licik kayak dulu," batin Ibrahim.


"Lain kali kalau mau ambil job, harus diskusikan dulu denganku tentang harganya. Apa kamu mengerti?" tanya Ibrahim.


"Kamu masuk duluan saja, nanti aku akan menyusul," ujar Ibrahim.


"Eh? nanti abang nyasar loh," ucap Lensi.


"Apa menurutmu aku ini bodoh?"


"Eh? hufffttt...iya. Abang yang paling cerdas." Jawab Lensi.


Lensi berjalan lebih dulu, sementara Ibrahim pergi ke ruang yang berbeda.


Tok


Tok


Tok


"Masuk!"


Ibrahim menekan handle pintu, tentu saja pria yang berada didalam ruangan itu sangat terkejut melihat kedatangan teman lamanya.


"Baim? whats up bro?" tanya William sembari bangkit dari kursi kebesarannya.


"Baik." Jawab Ibrahim sembari menjabat tangan William.


"Mimpi apa gue, didatangi pengusaha besar di kota ini," ucap William yang kemudian duduk bersama disebuah sofa.


"Aku lagi menemani istriku buat syuting iklan." Jawab Ibrahim santai.


"Syuting iklan? disini?" William terkejut.


"Iya. Aku juga tidak menyangka kalau istriku bekerja di agensimu. Jadi mulai sekarang, aku yang akan bertindak sebagai managernya," ucap Ibrahim.


"Si-Siapa istrimu disini?" tanya William.


"Lensi." Jawab Ibrahim.

__ADS_1


"Lensi Deva maksudmu?" tanya William terkejut.


"Ya." Jawaban Ibrahim membuat wajah William jadi pias.


"Jadi Will. Berapa uang kontrak yang kamu berikan pada Lensi untuk iklannya ini?" tanya Ibrahim.


"Eh? i-itu. Berhubung ini iklan pertamanya, jadi pemasang iklan ingin melihat dulu kinerja Lensi. Kalau hasil iklannya bagus, mungkin dia akan mendapat brand dan jumlah kontrak yang lebih besar lagi." Jawab William.


"Baiklah. Untuk kali ini aku maklumi. Kamu tahu sendiri, aku tidak mungkin tidak sanggup memberi uang bulanan untuk istriku kalau hanya uang segitu. Aku hanya ingin istriku bahagia, makanya aku tidak melarangnya bekerja."


"Tapi kerja juga harus masuk akal kan hasilnya?" sindir Ibrahim.


"Tentu." Jawab William.


"Kalau begitu aku mau pergi melihat syuting iklannya dulu. Takutnya dia membutuhkan aku," ujar Ibrahim.


"Apa perlu aku temani?" tanya William.


"Tidak perlu. Aku juga tidak ingin Lensi tahu kalau kita berteman. Terus jangan istimewakan dia, bersikap seperti biasa saja," ujar Ibrahim.


"Aku mengerti." Jawab William.


Ibrahim melangkah pergi untuk melihat proses syuting iklan yang Lensi lakukan. Ibrahim sangat terkejut, saat melihat penampilan cantik Lensi yang tengah menggunakan busana muslimah sembari memegang sebuah produk kecantikkan ternama.


Sementara itu sejak Ibrahim masuk, semua model berkasak kusuk karena terpesona dengan ketampanan yang Ibrahim milikki. Bahkan ada yang sengaja bertanya tentang siapa diri Ibrahim, dan diakui Ibrahim sebagai manager Lensi.


Ibrahim menyembunyikan senyum kagumnya pada Lensi yang terlihat sangat cantik dan menawan di depan kamera. Dalam diam dia telah mengakui, bahwa dirinya sudah jatuh cinta pada istrinya sendiri.


"God job. Kamu hebat Len. Hanya dengan dua kali take, iklannya langsung jadi sempurna," ujar Sutradara.


"Makasih bang," ucap Lensi.


Lensi melihat kearah Ibrahim, yang kemudian diacungi jempol oleh Ibrahim. Namun reaksi Lensi cukup mengejutkan Bain, karena Lensi tiba-tiba memalingkan wajahnya.


"Ada apa dengannya? kok dia begitu?" batin Ibrahim.


Lensi kemudian berganti pakaian, karena syuting iklanmya sudah selesai. Saat di parkiran, Ibrahim tidak sabar ingin bertanya pada Lensi yang tiba-tiba jadi pendiam.


"Kamu kenapa?" tanya Ibrahim.


"Nggak kenapa-kenapa." Jawab Lensi.


"Kok dari tadi diem?" tanya Ibrahim.


"Laper, ngantuk." Jawab Lensi asal.


Ibrahim jadi terkekeh saat mendengar jawaban Lensi.


"Masya Allah. Jadi kamu lapar? ya sudah kamu mau makan apa?" tanya Ibrahim.


"Mau makan orang boleh?" tanya Lensi.


"Kok makan orang? mau jadi sumanto?" tanya Ibrahim.


"Ugghhh...dasar nggak peka," ujar Lensi yang langsung berjalan lebih dulu di depan Ibrahim.


"Dia kenapa lagi sih? kok marah-marah nggak jelas?" batin Ibrahim.


Ibrahim menaikki Motor, disusul Lensi di belakangnya. Setelah sampai disebuah restauran, merekapun turun untuk makan siang.


"Kamu marah sama siapa?" tanya Ibrahim.


"Aku nggak marah bang...."


"Cuma?" Ibrahim memotong ucapan Lensi.


"Cuma kesel aja." Jawab Lensi tertunduk.


"Kesel? kesel kenapa?" tanya Ibrahim.


"Abang tadi tebar pesona kan sama model-model ganjen itu?" tanya Lensi.


Ibrahim jadi tersenyum. Kini dia tahu, bahwa istrinya itu tengah dilanda rasa semburu.

__ADS_1


__ADS_2