MENIKAHI DEWI JUDI

MENIKAHI DEWI JUDI
45. Lensi Jahil


__ADS_3

"Abang?" Ibrahim ingin memastikan kalau dirinya tidak salah dengar.


"Kenapa? kurang greget ya panggilannya? bagaimana kalau kang mas?" tanya Lensi.


"Tidak terima kasih. Abang saja sudah cukup." Jawab Ibrahim sembari nyelonong lebih dulu dari Lensi. Sementara itu Lensi menutup mulutnya karena ingin menyembunyikan tawanya.


Setelah mereka sampai dimeja makan, Lensi mengambil tempat duduk disebelah Aisyah. Padahal tempat itu biasa diduduki oleh Ustad Gofur. Saat Ibrahim ingin protes, Ustad Gofur memberikan isyarat agar Ibrahim membiarkannya saja.


"Umi. Hari ini Echi berulang tahun," ujar Lensi saat semua orang membuat piring mereka menganga.


"Oh ya? selamat ulang tahun kalau begitu. Semoga panjang umur, murah rejeki, dan cepat memberikan Umi cucu," ucap Aisyah.


"Eh?" Lensi melirik Ibrahim yang tampak cuek sembari menuangkan nasi dan lauk ke piringnya.


"A-Apa Umi tidak ingin memberikan Echi hadiah?" tanya Lensi.


Ibrahim menghentikan gerakkan tangannya, saat akan menyuapkan makanan kedalam mulutnya. Sementara Aisyah dan Ustad Gofur jadi saling bertatapan.


"Kamu...."


"Baim...." Aisyah memotong ucapan putranya yang terlihat sudah emosi.


"Aku harus waspada. Sepertinya dia ini sangat matre. Berani sekali dia minta hadiah pada Umi. Lagipula aku tidak mengenalnya, dan sama sekali tidak tahu asal usulnya. Aku harus menyuruh orang buat menyelidiki siapa dia sebenarnya," batin Ibrahim.


Sementara itu Aisyah kembali menyunggingkan senyuman kearah Lensi.


"Apa yang kamu inginkan sayang? baju baru?" tanya Aisyah yang dijawab gelengan kepala oleh Lensi.


"Kamu minta perhiasan? uang?" tanya Aisyah yang juga dijawab gelengan kepala oleh Lensi.


"Mobil? rumah?" Ibrahim langsung menimpali. Karena dia yakin Lensi ingin meminta yang lebih mahal.


"Tidak. Aku tidak membutuhkan materi seperti itu." Jawab Lensi.


"Lalu apa maumu? jangan kebanyakkan gaya. Mereka orang tuaku, bukan orang tuamu. Jadi jangan minta yang aneh-aneh," ujar Ibrahim.


"Ibrahim...kenapa kamu bicara seperti itu dengan istrimu? kamu itu imam bagi dia. Kamu harus memberikan contoh yang baik buat dia," ujar Ustad Gofur.


"Maaf Abi," ucap Ibrahim lirih.


"Apa itu benar Umi? kalau status ibu dan ayah mertua tidak ada pengaruhnya dalam hubungan? aku pikir setelah menjadi ibu mertuaku, aku bisa dianggap seperti anak kandung," ujar Lensi tertunduk sedih.


Aisyah melirik kearah Ibrahim. Wanita itu langsung memplototi putranya itu.


"Siapa bilang? kamu terlalu mendengarkan ucapan suamimu. Suami itu kadang juga bisa melakukan kekeliruan. Kamu jangan ambil hati ya? Umi itu sudah menjadi ibumu juga. Kalau Umi mampu, Umi pasti akan menuruti semua permintaan anak-anak Umi," ucap Aisyah.

__ADS_1


"Yang benar Umi? Echi bisa meminta apapun?" tanya Lensi senang.


"Tentu saja." Jawab Aisyah.


"Apa Umi tahu? mama meninggal waktu usiaku 10 tahun. Setiap aku berulang tahun, aku hanya menginginkan satu kado saja. Dan kado itu selalu diberikan berulang setiap tahunnya. Karena mama sudah meninggal, maukah Umi menggantikan peran mama saat memberikan kado itu setiap tahunnya? terus terang Echi sangat merindukannya hari ini," ucap Lensi dengan mata berkaca-kaca.


"Kado apa yang kamu inginkan itu nak? Umi bersedia menggantikan peran mamamu itu," tanya Aisyah.


"Sungguh Umi?" tanya Lensi sembari menyeka air matanya.


"Ya. Katakanlah." Jawab Aisyah.


"Echi hanya ingin disuapi makan dengan tangan Umi. Tidak dengan bantuan sendok atau garpu, atau alat makan yang menunjang. Echi cuma mau makan langsung dari tangan Umi." Jawab Lensi.


Ibrahim, Gofur, dan Aisyah tertegun saat mendengar permintaan Lensi yang sepele.


"Astagfirullah...aku malah sempat su'udzon dengan istriku sendiri. Lensi, siapa kamu sebenarnya. Kenapa Tuhan mengirimmu untukku?" batin Ibrahim.


Aisyah tersenyum mendengar ucapan Lensi. Wanita itu kemudian menaruh nasi dan lauk kedalam piringnya. Dia bergegas mencuci tangan dan kemudian mulai menyuapi Lensi makan dengan tangannya itu. Gofur tersenyum saat melihat pemandangan itu. Dia merasa seperti memiliki seorang putri kandung.


"Gimana masakkannya Im? enak?" tanya Aisyah sembari terus menyuapi Lensi dan sesekali menyuapi untuk dirinya sendiri.


"Tentu saja sangat nikmat dan lezat. Masakkan Umi tidak perlu diragukan lagi. Baim pasti akan menghabiskan semuanya." Jawab Ibrahim sembari makan dengan lahapnya.


"Kamu dengar itu Chi? suami kamu sangat suka hasil masakkan kamu," ujar Aisyah


Uhukkk


Uhukkk


Ibrahim tersedak, saat mendengar ucapan Aisyah.


"Ini masakkan dia? mana mungkin? kok rasanya bisa sama persis seperti masakkan Umi?" tanya Ibrahim setelah meneguk air minum hingga tandas.


"Ya memang Umi yang mengajarkan. Tapi Echi hebat loh. Dia sangat cepat belajar." Jawab Aisyah.


"Umi. Echi mau ayamnya lagi dong," ujar Lensi tanpa malu-malu.


"Lensi sungguh anak perempuan yang berbeda dari anak perempuan lain. Kalau Fatimah yang menjadi menantuku, belum tentu dia bisa bersikap lues seperti ini. Lensi benar-benar menganggap kami seperti orang tuanya sendiri. Sebenarnya apa yang terjadi padanya? kenapa aku merasa dia seolah kekurangan kasih sayang orang tuanya?" batin Ustad Gofur.


"Makan sendiri kenapa? kasihan Umi pegel tuh nyuapin kamu. Aku yang anaknya senduri saja nggak pernah minta disuapin," ucap Ibrahim.


"Baimmm...." Aisyah melotot.


"Tauk nih Umi...Bang Baim syirik nih," ujar Lensi.

__ADS_1


"Aku bilangin ya bang. Abang akan ketagihan kalau makan disuapin langsung dari tangan seorang ibu. Abang belum ngerasain kan? cobain gih, rasanya itu endol tak kendol-kendol," sambung Lensi.


Ucapan Lensi mengundang gelak tawa Ustad Gofur dan Aisyah. Ibrahim terpaku saat melihat kedua orang tuanya tertawa bahagia saat mendengar ucapan Lensi yang dianggapnya menghibur. Tawa lepas yang tidak pernah dia dengar sejak puluhan tahun, karena orang tuanya tipe orang yang serius dalam segala hal.


Tanpa semua orang tahu, Ibrahim menerbitkan senyum tipis nyaris tak terlihat. Namun senyum itu cepat menghilang, karena dia tidak ingin membuat Lensi besar kepala.


"Umi. Abi, rencananya besok Baim ingin memboyong Lensi ke rumah," ujar Ibrahim yang membuat tawa orang tuanya lenyap seketika.


Wajah Aisyah mendadak mendung. Dia tahu akan ada masanya tiba saat-saat seperti itu. Tapi wanita parubaya itu masih belum rela Lensi secepat itu pergi dari pesantren.


"Ini maksud abang rumah siapa ya bang?" tanya Lensi sembari menggigit paha ayam goreng ditangannya.


"Tentu saja rumahku." Jawab Ibrahim.


"Rumah abang? bukannya rumah abang disini?" tanya Lensi.


"Echi. Ibrahim kesini hanya sesekali. Saat ada keperluan mengajari santri atau sekedar kangen dengan Umi dan Abi. Jarak disini dengan tempatnya bekerja sangat jauh, dia bisa terlambat bekerja kalau kejauhan." Jawab Aisyah.


"Kalau begitu kenapa Abi dan Umi tidak ikut kami saja? soalnya nanti kalau ada seseorang yang galaknya minta ampun marahin Echi, siapa yang akan belain Echi Mi?" sindir Lensi.


Aisyah mengulum senyumnya saat mendengar sindiran Lensi.


"Kamu bisa nelpon Umi. Umi Pasti akan datang dan langsung menjewer orang itu." Jawab Aisyah.


"Pesantren adalah darah daging Umi dan Abi. Kami tidak bisa meninggalkannya. Tanggung jawab Umi dan Abi sangat besar disini. Karena mereka harus pintar ilmu agama, setelah berhasil keluar dari sini," sambung Aisyah.


"Echi mengerti Umi." Jawab Lensi.


"Masih mau nambah lagi?" tanya Aisyah saat melihat isi piringnya sudah hampir habis.


"Cukup Umi. Echi sudah kenyang. Umi saja yang nambah." Jawab Lensi.


"Nggak ah....Umi juga sudah kenyang," Ujar Aisyah.


"Echi pamit ya Mi, Bi? Echi mau mandi," ucap Lensi.


"Ya." Jawab Aisyah.


"Sayangku, cintaku. Belahan jiwamu ini ke kamar dulu ya?" ucap Lensi yang membuat Ibrahim tersedak seketika.


Uhukk


Uhukkk


Uhukk

__ADS_1


Ibrahim kembali terbatuk saat mendengar ucapan Lensi yang menurutnya memalukan di depan orang tuanya. Sementara itu Ustad Gofur dan Aisyah menahan tawa mereka, terlebih melihat Lensi yang langsung kabur seperti tanpa dosa.


__ADS_2