
"Ayo sarapan Len. Dari semalam loe nggak makan," ujar Zoya.
"Nggak Zoy. Nggak selera makan gue." Jawab Lensi. Sembari menatap luar jendela.
Wajah murung terlihat sekali di wajah Lensi saat ini. Sejak kemarin sore Lensi tidak menyentuh makanan apapun. Wanita itu bahkan sesekali menangis.
"Zoy,"
"Hem?"
"Mereka pasti semalam menghabiskan malam pertama," ujar Lensi.
"Kenapa harus memikirkan itu? apa kita akan menonton tv sekarang? berita pernikahannya pasti tersiar disana," tanya Zoya.
"Gue mohon jangan nyalakan tv atau buka artikel apapun ya? gue bener-bener nggak sanggup," ucap Lensi.
Zoya hanya bisa menghela nafasnya. Dia merasa kasihan pada Lensi, terlebih pada dirinya sendiri.
Ditempat berbeda Ibrahim tengah mendapat panggilan telpon dari Vega. Dirinya yang tengah lelah dan mengantuk, sama sekali tidak merespon ucapan Vega dengan benar.
"Ibra. Apa kamu punya waktu siang ini? aku ingin mengajakmu makan siang, sebagai ucapan terima kasih karena sudah membeli aset keluargaku," tanya Vega antusias.
"Iya." Jawab Ibrahim dengan mata terpejam.
"Dimana kita janjiannya? emm...bagaimana kalau di restauran Bintang? nanti aku akan mereservasinya atas namaku," tanya Vega.
"Iya." Jawab Ibrahim.
"Oke. Kalau begitu aku tunggu jam 12 disana ya?"
"Iya." Jawab Ibrahim.
"Sampai jumpa nanti ya,"
"Ya."
Vega mengakhiri panggilan itu dan loncat-loncat kegirangan.
"Gimana?" tanya Marini.
"Dia mau ketemu sama aku ma." Jawab Vega semringah.
"Apa mama bilang. Nggak mungkin ada pria yang nolak wanita cantik dan sexy. Nanti kamu pesan yang private room. Kamu bisa menggodanya disana. Mangsa sebagus itu jangan sampai lepas," ucap Marini.
"Baik ma." Jawab Vega menyeringai.
Waktu menunjukkan pukul 11.30. Saat Vega keluar rumah dengan dandanan yang super sexy. Dia ingin Ibrahim terpukau dengan dandanannya saat ini. Dan tepat pada pukul 12 siang Vega tiba disebuah restauran mewah, tempat yang sudah dia reservasi atas namanya sendiri.
Waktu semakin lama berlalu. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul 2 siang. Namun tanda-tanda kedatangan Ibrahimpun tak terlihat. Vega bahkan sudah menghabiskan 3 gelas jus dan satu porsi kentang goreng, karena dirinya sangat lapar. Sudah beberapa kali dia menghubungi Ibrahim, namun ponsel pria itu sama sekali tidak bisa di hubungi alias tidak aktif.
__ADS_1
Sementara itu di tempat berbeda, Ibrahim kembali tidur setelah makan siang dan sholat dzuhur. Dia bahkan tidak perduli dengan ponselnya yang kini sudah kehabisan baterai. Vega yang kesal menunggu, dengan nekat menyambangi rumah pribadi Ibrahim yang megah.
"Wanita itu sangat tidak layak mendapatkan kemewahan seperti ini. Akulah yang pantas berada sisi Ibrahim. Lihat saja, aku akan menaklukkan Ibrahim secepatnya," ucap Ibrahim lirih.
Vega kemudian menekan bel rumah Ibrahim, dan seorang pelayan membukakan pintu.
"Maaf cari siapa ya non?" tanya Pelayan.
"Tuan Ibrahimnya ada? saya sudah buat janji sama dia," tanya Vega.
"Tuan lagi istirahat. Maaf dengan nona siapa ya?" tanya Pelayan.
"Katakan saja Vega datang." Jawab Vega.
"Baik. Tunggu didalam saja non," ujar pelayan.
Vega melangkah masuk ke dalam rumah. Matanya sangat takjub, karena disuguhan kemewahan rumah itu.
"Bagaimanapun caranya, aku harus mendapatkan Ibrahim, dan menyingkirkan istrinya itu. Aku jadi penasaran, seperti apa wanita yang Ibrahim nikahi itu. Aku sangat yakin dia tidak ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan aku," batin Vega.
Setelah menunggu agak lama, terlihat Ibrahim menuruni anak tangga dengan berpakaian santai.
"Dia masih terlihat tampan meski dengan pakaian santai dan baru bangun tidur."
"Wanita ini sudah gila. Beraninya dia datang kerumah. Untung Lensi tidak ada, bisa berabeh rencananya kalau ketahuan sebelum waktunya," batin Ibrahim.
"Ada apa?" tanya Ibrahim dengan wajah tidak bersahabat.
"Kita? janjian makan siang? kapan aku bilang?" tanya Ibrahim syok.
"Ya ampun bra. Kamu lupa atau gimana?" Vega tertawa renyah. sangat terlihat jelas kalau tawa itu sengaja dibuat.
"Aku nelpon kamu loh sekitar jam 10 tadi. Kamu jawab iya-iya aja saat aku mengajakmu makan siang," sambung Vega.
Ibrahin jadi teringat saat sedang menerima panggilan dari seseorang tanpa melihat atau mendengar suaranya dengan jelas. Ibrahim jadi mengurut dahinya.
"Maaf aku kecapek'an. Jadi kamu sudah makan?" tanya Ibrahim yang merasa tidak enak hati.
"Belum. Aku sangat lapar." Jawab Vega yang tidak menyiakan kesempatan.
"Ikut aku," ujar Ibrahin yang bangkit dari tempat duduknya dan mengajak Vega ke meja makan.
"Ini baru permulaan saja. Hari ini aku sudah berhasil makan di meja makan kamu, besok-besok aku akan berhasil tidur diatas ranjang utamamu," batin Vega.
"Kalau bukan aku ingin menepati janji, mana mungkin aku sudi kaleng sarden ini berada dalam rumahku," batin Ibrahim.
"Kamu makan saja dulu ya? sudah adzan asyar, aku mau sholat dulu," ucap Ibrahim.
"Istri kamu kemana?" tanya Vega.
__ADS_1
"Dia sedang liburan ke luar negeri." Jawab Ibrahim.
"Ya ampun. Boros juga ya gaya hidup istri kamu. Bahkan dia tega ninggalin suaminya sendiri dirumah. Kalau aku jadi istri kamu, aku nggak bakalan seperti itu," Vega berusaha mengambil hati Ibrahim.
"Emangnya kenapa? selagi aku mampu. Jabgankan keluar negeri, keluar angkasapun akan aku kasih izin," batin Ibrahim.
Ibrahim tidak menggubris ucapan Vega. Dia bergegas naik ke atas untuk melaksanakan perintah tuhan. Namun saat dirinya akan keluar kamar setelah sholat, dia dikejutkan dengan keberadaan Vega di depan pintu kamarnya.
"Kamu kenapa kesini? ini bukan tempat yang bisa kamu datangi seenaknya," ujar Ibrahim.
"Aku tahu kamu kesepian. Mumpung nggak ada istri kamu, aku bersedia menemani kamu."
Jawaban Vega membuat Ibrahim jadi muak. Dia segera memancing Vega untuk ikut turun kebawah. Karena dia tidak mau Vega nekat masuk kedalam kamarnya yang berisi banyak foto pernikahannya dengan Lensi. Dan foto terbaru saat Lensi tengah mencium dirinya yang tertidur.
Ibrahim duduk di salah satu sofa ruang tanu, disusul dengan Vega yang duduk di sampingnya.
"Vega. Sepertinya aku harus menegaskan ini sama kamu. Aku sama sekali tidak tertarik sama kamu, ataupun sama wanita lain. Aku cuma ingin menikah sekali dalam seumur hidup. Aku sangat mencintai istriku, dan hanya dia satu-satunya wanita yang aku inginkan dalam hidupku,"
"Jadi aku minta kamu berhenti merendahkan harga diri kamu sendiri, karena itu akan sia-sia saja. Sekarang kamu silahkan pulang saja, aku tidak mau menimbulkan fitnah karena keberadaan kamu disini," sambung Ibrahim.
"Tidak mungkin kamu tidak menyukaiku. Lalu apa artinya kamu membantuku membeli aset keluargaku, bahkan dengan harga yang sangat mahal," tanya Vega.
Ibrahim terkekeh mendengar ucapan Vega yang terlalu percaya diri itu.
"Apa kamu lupa aku ini seorang pebisnis handal? meski aku membelinya dengan harga mahal, kamu bisa membayangkan berapa harga aset itu untuk 10 atau 20 tahun mendatang. Pasti akan bertambah mahal." Jawab Ibrahim.
"Bohong. Kamu pasti menyukaiku kan? " tanya Vega dengan frustasi.
"Maaf Vega. Sepertinya kamu sudah keliru menanggapi kebaikkan aku selama ini. Aku seperti ini tidak hanya denganmu saja, tapi setiap orang yang kenal denganku." Jawab Ibrahim.
"Jadi sebaiknya kamu pulang saja. Aku benar-benar lelah dan mengantuk," sambung Ibrahim.
Vega segera bangkit dari tempat duduknya dan pergi dengan kesal. Sementara ditempat berbeda, tanpa pemberitahuan dulu. Alex sudah memesan tiket bulan madu ke Swiss. Fatimah yang kesal, hanya menurut saja perintah suaminya itu. Tanpa dia tahu, ada banyak perubahan yang terjadi diantara mereka nanti.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, mereka akhirnya tiba di swiss yang saat ini sedang turun salju.
"Gunakan baju hangatmu," ujar Alex saat mereka baru tiba di bandara Swiss.
Fatimah menurut saja apa yang Alex katakan. Alex cukup terkesan, saat tahu Fatimah begitu fasih berbahasa Inggris. Saat ada seseorang bertanya padanya letak toilet di bandara
"Istriku sangat pintar berbahasa asing ternyata," ujar Alex sembari mengusap puncak kepala Fatimah.
"Terima kasih pujiannya." Jawab Fatimah.
"Kita langsung cari hotel saja. Aku sudah tidak sabar minta dihangatkan olehmu," bisik Alex yang lagi-lagi membuat Fatimah menegang.
"Bagaimana ini? apa aku akan tamat di Swiss? ini semua gara-gara Umi dan Abi. Kenapa pakai acara membahas cucu segala. Sudah tahu menantunya ini sangat mesum. Jadilah dia sangat bersemangat ngajak bulan madu," batin Fatimah.
"Lucu sekali wajahnya yang tegang itu. Aku tidak tahu akan seperti apa hubungan kami selama berada di Swiss. Tapi aku akan berusaha menumbuhkan perasaan kami secara perlahan," batin Alex.
__ADS_1
Alex membuyarkan lamunan Fatimah, dengan menggenggam erat tangan lembut yang tengah kedinginan itu. Alex bahkan memasukkan tangan itu bersama tangannya kedalam baju hangat miliknya.