
Mata orang-orang terbelalak, termasuk Hirano dan Max. Saat melihat Lensi dengan lincah melompat dari atap gedung yang satu ke atap gedung yang lain. Tubuh gadis itu terlihat ringan, bahkan yang lebih mencengangkan lagi Lensi mampu meniti kabal listrik tanpa berpegangan.
"Ap-Apa dia itu titisan spiderman?" Hirano sampai syok saat melihat kemampuan yang Lensi milikki.
"Tapi apapun itu. Kalian kejar dia, kepung dia, aku ingin uangku kembali. Cepat!" teriak Hirano.
Semua anak buah Hirano bergerak menyusul kearah tempat Lensi kabur. Sementara itu Lensi masih dengan Lincah melompat dari gedung satu ke gedung tang lain. Yah...Lensi memang pernah belajar olahraga ekstrim saat dirinya mengunjungi markas Arman. Disana bahkan ada sekelompok orang yang melakukan olahraga ekstrim itu.
Lensi pernah berlatih slackline dengan meniti seutas tali yang berfungsi untuk melatih meringankan tubuhnya. Lensi juga berlatih Parkour dan menjadi Le traceur bersama teman-temannya. Olahraga itu berfungsi untuk melatih kekuatan tulangnya, dengan memanfaatkan gedung markas untuk melompat kedinding satu ke dinding yang lain.
Lensi berhenti sejenak disebuah atap gedung, dan mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Okta.
"Dimana?" tanya Lensi.
"Masih di depan gerbang. Apa situasinya sudah gawat? aku melihat ada banyak orang keluar dari gerbang dengan buru-buru," ucap Okta.
"Aku berhasil kabur dengan menerobos dinding kaca. Akhirnya keahlianku menjadi Le traceur terpakai juga. Tidak sia-sia aku berlati Parkour," ujar Lensi terkekeh.
"Apa loe sudah gila? bagaimana kalau kakimu patah?" tanya Okta cemas.
"Sama saja. Berada disana mereka juga akan melubangi kepalaku. Lebih baik aku mati dengan cara terhormat, daripada mati diperbudak oleh kaum haram jadah itu." Jawab Lensi.
"Bang Arman sudah disini. Kami akan menyusulmu. Ke arah mana kamu melompat?" tanya Okta.
"Barat. Ingat! jangan terlibat adu fisik apapun. Kalau memang tidak memungkinkan, kalian mundur saja. Apa kamu dengar?" tanya Lensi.
"Iya." Jawab Okta yang langsung mengakhiri percakapan itu.
"Abang sudah dengar ucapan gadis keras kepala itu kan?" tanya Okta yang dijawab kekehan oleh pria bertato itu.
"Dia gadis yang hebat. Sebaiknya jangan buang waktu lagi, ayo kita selamatkan dia." Jawab Arman.
Merekapun segera menyalakan mesin motor dan mengikuti pergerakkan musuh yang tengah melihat-lihat ke atap gedung. Sementara itu Max yang melihat tubuh Lensi semakin menghilang di kegelapan malam, masih tidak percaya dengan kemampuan gadis yang diam-diam mampu menggetarkan hatinya itu.
Karena tidak ingin berpangku tangan, Max ingin beranjak keluar. Dia juga ingin menemukan Lensi, tentu saja dengan niat yang berbeda.
"Kamu mau kemana?" tanya Hirano.
"Daripada melihat saja. Lebih baik aku ikut menangkap dia. Bukankah kamu ingin uangmu kembali?" tanya max.
"Bagus. Semoga berhasil. Aku tunggu kamu membawa gadis itu hidup-hidup. Lihat saja, gadis nakal itu akan kunikmati sendiri, kalau sampai dia berhasil tertangkap." Jawab Hirano dengan seringai dibibirnya.
__ADS_1
"Dasar brengsek!" batin Max.
Max bergegas turun dan meraih kunci motornya yang berada dalam saku jaketnya.
Tap
Tap
Tap
Lensi sudah hampir mendarat dekat jalan raya. Namun naas, saat dirinya turun, anak buah Hirano sudah menunggu dibawah. Perkelahian sulit dihindari, Lensi pun terlibat adu jotos dengan beberapa orang pria. Tidak berapa lama kemudian Arman dan anak buahnya datang membantu, perkelahian itu semakin sengit saat orang-orang Hirano mendapat lagi bala bantuan.
"Len. Pergilah!" teriak Arman.
"Tidak bang. Kita berjuang bersama," teriak Lensi.
"Bodoh. Dengarkan perintahku! kalau tidak dengar, abang akan marah!"
Lensi segera mundur. Okta dan teman-temannya juga di suruh mundur oleh Arman. Namun naasnya mereka terpisah, karena mereka sama-sama dalam pengejaran.
"Sialan. Aku harus ketemu jalan buntu. Dan setelah ini kalau tidak salah ada jembatan. Aku pasti kalah telak, karena aku tidak memiliki kendaraan. Ini hanya jalan raya sepi, dan hampir mencapai pinggiran."
Lensi masih berlari semampunya. Dia tahu sorot lampu dibelakangnya, adalah sorot lampu musuh.
Tepat saat diatas jembatan, Lensi berhenti dari aksinya. Ada 4 buah motor sport mengitari dirinya. Salah satu dari mereka mengabari yang lain, kalau mangsa utama mereka sudah ditemukan.
"Menyerahkah nona. Ikuti saja kemauan tuan Hirano. Dijamin kehidupan anda tidak sulit kedepannya," ujar salah seorang pria bertato.
"Jangan kebanyakan mulut. Kalau aku setuju, tidak mungkin aku sampai kabur dan berada disini. Lebih baik kita bertarung saja sampai ditentukan hidup dan mati,"
Lensi sengaja mengulur waktu. Karena dirinya cukup lelah berlari dan mencari celah agar bisa beristirahat sejenak sebelum akhirnya bertempur habis-habisan.
"Kalau begitu kami akan membawamu secara paksa,"
"Silahkan kalau bisa." Jawab Lensi.
Hiaaaaatttttt
Bagh
Bugh
__ADS_1
Bagh
Bugh
Lensi kembali terlibat perkelahian sengit. Keempat pria itu kalah telak, sebelum akhirnya Max datang ke lokasi.
"Ikutlah denganku. Kamu jangan takut, aku akan membawamu pergi dari sini. Kalau kamu sampai tertangkap oleh Hirano, kamu akan ditidurinya," ujar Max membujuk Lensi.
"Tidak ada jaminan kalau aku harus mempercayaimu. Kamu adalah salah satu dari mereka, kenapa aku harus percaya padamu yang baru kukenal beberapa jam yang lalu?"
"Aku tidak punya banyak waktu menjelaskannya. Ikutlah denganku. Kamu harus percaya padaku sekali saja," ucap Max.
"Tidak!"
Lensi hendak menaiki salah satu motor sport dari musuhnya yang tumbang, namun belum sempat dirinya berhasil, segerombolan orang-orang Hirano sudah datang dari jarak 100 meter.
"Cepatlah naik ke atas motorku!" teriak Max
Namun Lensi tidak semudah itu mempercayai orang lain. Gadis itu malah memilih menaikki besi jembatan yang dibawahnya terdapat air yang cukup deras.
"L. Apa kamu sudah gila?" Max bergegas turun dari motornya, dan berlari ke arah Lensi.
"Aku lebih memilih mati daripada harus kembali ke tempat itu." Jawab Lensi.
Lensipun terjun dari atas jembatan, dengan menatap lekat kearah Max.
Tap
Max manangkap tangan Lensi. Pandangan mata keduanya beradu. Lensi tiba-tiba tersenyum, saat melihat mata Max berkaca-kaca.
"Aku baru percaya padamu. Tapi biarkan aku mencari peruntunganku sendiri. Kalau aku berhasil hidup, aku janji akan menemuimu suatu saat nanti. Lepaskan tanganmu, sebelum kamu dan aku sama-sama berada dalam masalah," ujar Lensi.
Dengan tangan gemetar Max melepaskan tangan Lensi. Dirinya tidak punya cukup waktu untuk menyelamatkan gadis yang namanya hanya dia tahu satu huruf saja.
Byurrrrrrrrr
Suara dentuman tubuh Lensi di air deras, begitu jelas terdengar di telinganya. Tidak hanya Max, semua anak buah Hirano juga ikut melihat, saat suara dentuman keras itu membuat riak air bertambah besar.
"Bagaimana ini? apa mungkin kita ikut terjun dari atas jembatan ini?" tanya salah seorang bertubuh besar.
"Kalau mau mati hanyut silahkan saja. Ini sudah dini hari, air dibawah pasti dingin. Belum lagi resiko ada binatang buas atau hanyut karena airnya sangat deras," ucap Max.
__ADS_1
"Kalau kalian mau mati silahkan saja. Kalau aku mau pulang," sambung Max.
Melihat Max melangkah pergi, merekapun ikut pergi. Mereka harus memberikan laporan seadanya pada Hirano.