
Fanya menghela nafas lega saat menatap kebelakang ia tak menemukan keberadaan Zico. Ia pikir laki-laki itu akan mencari dirinya setelah ia pergi tadi atau jika tidak laki-laki itu mengikutinya secara diam-diam. Namun nyatanya Zico tak melakukan hal tersebut yang justru membuat Fanya merasa tenang.
Fanya mendorong pintu gerbang besi yang berada di hadapannya. Suara decitan pintu gerbang tersebut mengalihkan seluruh atesi semua orang yang berada di lingkungan rumah dua lantai tersebut. Dan saat mereka semua melihat Fanya yang datang, semua orang yang kebanyakan anak kecil berlari menuju ke arahnya dengan teriakan nyaring menyambut kedatangannya.
"KAK FANYA!" Fanya tersenyum kearah anak-anak yang semakin mendekatinya. Ia berjongkok dengan kedua tangannya yang ia rentangkan, menyambut tubuh anak-anak yang berjumlah sekitar 15 orang itu kedalam pelukannya. Tentu saja tangan Fanya tak cukup merangkul ke-lima belas anak-anak itu secara bersamaan. Tapi justru anak-anak itu yang memeluk tubuhnya.
"Kak Fanya tumben hari ini cepat pulang," celetuk salah satu anak perempuan setelah pelukan dari ke lima belas anak-anak tadi terlepas dari tubuh Fanya.
Fanya tersenyum sebelum ia mulai menulis. Anak-anak itu dengan setia menunggu Fanya, namun salah satu anak laki-laki menyadari lutut Fanya yang terbalut. Ia sangat yakin jika perempuan yang masih jongkok dihadapan mereka semua tengah terluka sekarang.
"Kak Fanya, apa yang terjadi dengan Kakak hari ini? Kenapa Kakak memiliki luka? Apa Kakak mengalami hal buruk sampai Kakak terluka? Siapa yang berani melukai Kakak? Beritahu Jaiden, Jaiden akan membalas perlakuan dia terhadap Kak," ucap Jaiden, anak laki-laki yang berusia 6 tahun itu.
Fanya menghentikan pergerakan tangannya kala ia mendengar ucapan dari Jaiden tadi. Kepalanya pun ia tegakkan untuk menatap kearah Jaiden sebelum ia mengikuti arah pandang Jaiden yang mengarah ke lututnya.
Tentunya ucapan Jaiden tadi membuat anak-anak lainnya mencari dimana letak luka yang sempat Jaiden katakan tadi.
"Astaga lutut Kakak terluka!" Teriak anak perempuan dengan menujuk kearah lutut Fanya.
__ADS_1
"Lihat ini! Lengan Kak Fanya juga terluka!" Tatapan anak-anak beralih kearah lengan Fanya.
"Astaga Kak. Siapa yang berani melukai Kakak? Katakan. Kita semua akan membalas perbuatan dia," ujar anak laki-laki yang memiliki umur satu tahun lebih tua dari Jaiden.
"Benar. Ayo Kak katakan siapa orangnya!" timpal anak lainnya dan suara timpalan yang lainnya juga terdengar saling bersautan, memaksa Fanya untuk memberitahu mereka siapa orang yang sudah menorehkan luka di tubuhnya.
Fanya yang mendengar suara ricuh itu tentunya sangat kewalahan untuk menghentikan suara anak-anak tersebut. Ia sudah menggerakkan jarinya di depan bibir, isyarat agar semua anak-anak itu berhenti berucap, justru mereka semakin menjadi. Hingga suara seseorang terdengar.
"Ada apa ini? Kenapa ribut sekali?" Semua orang mengalihkan pandangan mereka tepat ke arah seorang wanita paruh baya yang berjalan mendekati mereka semua.
"Nenek, lihatlah. Di lutut dan lengan Kak Fanya terluka. Kita saat ini sedang menuntut Kak Fanya untuk memberitahu kita semua siapa pelaku yang sudah melukai Kak Fanya," adu Tera, anak perempuan dengan rambut sebahunya itu.
"Astaga Fanya, kenapa bisa terluka? Ini pasti sangat sakit kan. Sini ibu bantu kamu jalan. Dan ceritakan semuanya didalam," ujar wanita paruh baya tersebut yang saat ini membantu Fanya berdiri dari posisi berjongkoknya tadi. Awalnya Fanya menolak atas bantuan dari sosok wanita yang sudah ia anggap ibu itu karena ia merasa lukanya tidak parah sampai membuat ia tak bisa berjalan. Tapi wanita tersebut langsung meraih tangannya dengan lembut alhasil ia sudah tak bisa lagi menolaknya.
"Anak-anak kalian ke ruang makan gih. Sebentar lagi waktu makan siang. Untuk urusan Kakak kalian yang satu ini, biar nenek yang mengatasi. Jadi kalian tidak perlu khawatir," ujar wanita paruh baya tersebut yang langsung diangguki patuh oleh 15 anak-anak itu.
"Kak, kita makan siang dulu. Kakak cepat sembuh ya. Perbanyak istirahat Kak biar cepat sembuh," ujar Adi, anak paling perhatian. Fanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, tak lupa salah satu tangannya terulur untuk mengelus rambut Adi. Adi yang mendapat perlakuan lembut dari Fanya, ia membalas senyuman Fanya dengan senyuman pula sebelum dirinya berlari menyusul kepergian teman-teman yang lebih dulu beranjak dari hadapan Fanya dan wanita paruh baya tersebut.
__ADS_1
"Ayo nak, kita masuk. Pelan-pelan saja jalannya." Fanya hanya bisa menganggukkan kepalanya. Kini ia berjalan dengan dipapah oleh wanita paruh baya yang selalu memegangi lengannya yang tak terluka.
"Jadi apa yang sebenarnya terjadi dengan kamu tadi, nak? Dan selain dua luka ini apa ada luka lainnya di tubuh kamu?" tanya wanita paruh baya tersebut yang memiliki nama Suci dengan tatapan khawatirnya.
Fanya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya sebelum dirinya menggerakkan tangannya menulis deretan huruf yang tersusun dalam sebuah kalimat lalu tak berselang lama, ia menyerahkan tulisannya tadi kepada ibu Suci.
"Luka Fanya hanya dua ini saja ibu. Sebenarnya luka ini tidak cukup parah. Tidak terlalu sakit juga. Jadi ibu tidak perlu khawatir."
Ibu Suci menghela nafas panjang, ia sedikit lega karena mengetahui jika tak ada luka lain selain di dua tempat tersebut juga tak ada luka serius di tubuh Fanya. Tapi tetap saja naluri seorang ibu melekat dirinya yang akan khawatir jika salah satu keluarganya pergi dari rumah dalam keadaan baik-baik saja tapi setelah pulang ia mendapat luka.
"Ibu bersyukur jika tidak ada luka lain yang sangat serius di tubuh kamu. Tapi kenapa bisa?" Ibu Suci menuntut penjelasan kepada Fanya karena ia harus tau yang tadi sempat dialami oleh Fanya.
Fanya yang tak ingin semakin membuat khawatir ibunya, ia dengan gerakan cepat menulis kembali. Dan sekitar 3 menit, ia menyerahkan buku note-nya ke pangkuan ibu Suci. Dengan khusyuk ibu Suci membaca deretan kalimat disana.
"Dijalan tadi Fanya tidak sengaja melihat seorang anak kecil yang tiba-tiba berlari ketengah jalan. Bertepatan dengan itu, dari arah selatan ada satu mobil yang untungnya tidak melaju dengan kecepatan tinggi. Tapi tetap saja, pasti orang yang mengendarai mobil sempat terkejut saat melihat ada anak kecil yang tiba-tiba menghalangi jalannya. Karena Fanya tadi sempat mendengar decitan mobil yang mungkin sang sopir sempat mengerem sekuat tenaga. Namun karena jarak mobil cukup dekat dengan anak kecil itu, Fanya pikir mobil tadi tetap akan menabraknya. Alhasil Fanya lari, mencoba menyelamatkan anak kecil itu dari tabrakan yang bisa melukai dia. Saat Fanya sudah meraih tubuh anak kecil itu, Fanya refleks melompat ke sisi jalan dan menjadikan tubuh Fanya sebagai tameng anak kecil itu. Alhasil lutut dan lengan Fanya terluka. Tapi syukurnya anak kecil itu tidak terluka sama sekali."
Penjelasan panjang lebar dari Fanya membuat ibu Suci tersentuh. Ia menatap Fanya yang sedari tadi menatapnya tanpa melunturkan senyumannya di bibirnya. Ia raih tangan Fanya sebelum ia berkata, "Ibu bangga dengan apa yang kamu lakukan Fanya. Tapi ibu minta tolong ke kamu, jika kamu mau menolong orang lain, pastikan keselamatanmu juga. Kamu mengerti Fanya?"
__ADS_1
Fanya menganggukkan kepalanya sebelum ia berhambur ke pelukan ibu Suci yang tadi sempat merentangkan tangannya.