My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 30


__ADS_3

Fanya menggigit bibir bawahnya. Ia bingung akan menjawab apa tentang ajakan Zico tadi. Terus terang, Fanya mengakui jika dirinya menaruh hati kepada Zico setelah kejadian dimana Zico membuat dirinya bangkit dari keterpurukan. Tapi lagi-lagi kekurangannya membuat ia minder jika harus bersanding dengan laki-laki sesempurna Zico ini. Pikirannya pun berkelana, jika dirinya menerima lamaran mendadak dari Zico ini, apakah keluarga laki-laki itu bisa menerimanya seperti Zico menerima dirinya apa adanya? Ia takut saat dirinya dikenalkan oleh keluarga Zico, mereka memiliki sifat seperti kebanyakan orang yang pernah ia temui yaitu mengolok-olok kekurangannya atau bahkan menginjak-injak harga dirinya. Tolong, Fanya tidak akan sanggup jika hal itu terjadi.


Zico yang tak kunjung mendapat jawaban dari Fanya, ia menjauhkan kepalanya dari bahu perempuan kesayangannya dengan tatapan sendu yang menatap sekilas wajah Fanya sebelum tatapan itu ia alihkan ke sembarang arah, mengindari agar ia tak menatap wajah cantik Fanya.


Zico menghela nafas panjang lalu ia berkata, "Aku tidak memaksa kamu untuk menerima lamaranku ini Fanya. Jadi jika kamu tidak mau menikah denganku, aku akan menerima keputusanmu walaupun rasanya akan sakit. Dan sepertinya aku sudah mendapatkan jawaban darimu. Keterdiaman kamu ini akan aku artikan jika kamu. Huft, kamu menolak lamaranku."


Suara Zico melemah saat mengatakan kalimat terakhir dalam ucapannya tadi. Bahkan kepalannya ia tundukkan dengan mata yang terasa panas ingin mengeluarkan air mata saat itu juga. Tapi Zico sebisa mungkin menahan air matanya, ia tak ingin terlihat lemah di hadapan Fanya. Sehingga ia kembali mengambil nafas dalam-dalam lalu ia hembusan secara perlahan sebelum akhirnya ia tegakkan kembali kepalanya dengan senyum terpaksa di wajahnya.


"Aku tidak apa-apa kok Fan. Kamu tenang saja. Oh ya aku pergi dulu ya. Kamu istirahatlah. Jangan memforsir diri kamu untuk bekerja keras. Bekerjalah sesuai kemampuanmu, jika lelah langsung istirahat. Jangan telat makan, ingat kamu memiliki penyalin maag. Dan obatnya jangan lupa diminum. Jika kamu memerlukan bantuanku, jangan segan-segan untuk menghubungiku. Kalau kamu tidak lupa, nomorku yang pertama kali aku gunakan untuk menghubungi kamu adalah nomorku yang selalu aktif. Aku pamit Fan, dan anggap saja apa yang terjadi barusan tentang aku yang mengungkapkan perasaanku tidak pernah terjadi. Aku tidak akan membebani kamu karena kamu memikirkan tentang lamaranku tadi. Sehat-sehat ya Fan, jaga diri baik-baik," ucap Zico dengan menahan semua rasa sakit di dadanya, ia beranjak dari tempat duduknya, memberikan elusan lembut di kepala Fanya lalu setelahnya ia berjalan menuju pintu keluar.


Fanya yang tadi sudah meneteskan air matanya karena merasa tak tega melihat tatapan terluka dari Zico, ia turun dari atas ranjang kemudian ia berlari menuju kearah Zico yang sebentar lagi akan keluar dari ruang pribadinya. Fanya yang tak tau caranya agar Zico menghentikan langkahnya, ia memilih untuk langsung memeluk tubuh Zico dari belakang. Tentu saja hal itu membuat tubuh Zico menegang sempurna. Tatapan matanya yang tadinya lurus ke depan, perlahan ia tundukkan, menatap kedua tangan yang melingkar indah di perutnya.


"Fa---Fanya," ucap Zico terputus. Ia tak percaya jika Fanya saat ini memeluknya. Siapapun tolong dirinya agar tak semakin jatuh cinta kepada Fanya. Bisa gila jika dirinya jatuh cinta dengannya sedangkan dirinya sudah di tolak mentah-mentah olehnya. Ia tak ingin menderita sendiri akibat cintanya yang terlalu besar kepada perempuan yang satu ini.

__ADS_1


Fanya yang mendengar ucapan dari Zico, ia buru-buru melepaskan pelukannya dan dengan gerakkan cepat ia berada di hadapan Zico dengan kedua tangan yang ia rentangkan sehingga menghalangi jalan Zico dengan gelengan di kepalanya, tanda jika ia tak mengizinkan Zico keluar dari dalam ruang pribadinya.


"Kenapa kamu menghalangi jalanku Fan? Aku tadi sudah berpamitan kepadamu untuk pergi darimu," ucap Zico yang kembali membuat Fanya menggeleng ribut.


"Fan---" belum sempat Zico melanjutkan perkataannya, salah satu tangan Fanya membungkam bibirnya yang otomatis membaut dirinya menghentikan ucapannya tadi. Namun tatapan matanya tak pernah lepas dari Fanya yang saat ini memberikan kode agar ia diam dengan jari telunjuknya yang ia tempelkan di bibirnya.


Zico yang paham akan kode itu pun ia menganggukkan kepalanya. Lalu setelahnya, bungkaman Fanya terlepas, tergantikan dengan tangannya yang menari-nari diatas note booknya tanda jika ia tengah menulis sesuatu yang akan ia tujukkan ke Zico nantinya.


Mata Zico mengerjab kala tepukkan di lengannya ia rasakan. Dan saat ia tersadar dari lamunannya, sebuah notebook sudah tersodor di hadapannya. Zico tampak ragu untuk melihat tulisan di notebook itu, tapi gara-gara Fanya yang terus mendorong notebooknya ke dadanya alhasil mau tak mau ia menerima notebook tersebut.


Dan dengan detak jantung yang menggila ia mulai membaca tulisan Fanya.


"Siapa yang mengizinkan Kakak buat pergi dari sini? Ingat Kak, aku belum memberikan izinku kepada Kakak. Dan tentang lamaran Kakak tadi. Kenapa Kakak langsung memutuskan jika aku tidak menerima lamaran itu? Padahal aku saja belum memberikan jawaban sama sekali. Tapi hanya karena aku diam, Kakak malah mengartikan jika aku tidak menerima lamaran Kakak. Kalau kayak gini kan aku jadi harus berpikir ulang buat menerima lamaran Kakak tadi."

__ADS_1


Kerutan di kening Zico terlihat. Sepertinya ia belum paham dengan maksud dari tulisan tersebut.


"Tunggu Fan, maksud ucapanmu ini apa? Kenapa kamu tidak mengizinkan aku untuk pergi? Dan apa maksud kamu untuk berpikir ulang untuk menerima lamaranku? Ahhh apa kamu sebelumnya ingin menerima lamaranku, begitu?" tanya Zico bingung.


Namun sesaat setelahnya ia baru sadar jika...


"Bentar! Jadi maksud kamu, kamu tadi menerima lamaranku? Benar begitu, Fan?" Fanya memutar bola matanya malas namun tak urung ia menganggukkan kepalanya.


"Apa?! Kamu menerima lamaranku?!" ucap Zico terkejut akan fakta yang ia terima. Sedangkan Fanya, ia mendatarkan wajahnya. Jangan sampai ia berubah pikiran setelah melihat Zico dalam mode bodoh seperti ini.


"Fan, jawab Fan. Kamu menerima lamaranku dan kita akan menikah?" Zico menggoyang-goyangkan bahu Fanya menuntut jawaban dari perempuan itu padahal Fanya tadi sudah memberikan jawabannya. Ziconya saja yang masih belum puas dengan jawaban yang Fanya berikan tadi.


Fanya yang masih sedikit pusing dan malah semakin di tambah pusing akibat guncangan yang di berikan oleh Zico, ia menggeram kesal. Dan karena ia sudah cukup sebal dengan laki-laki di depannya itu sekaligus ia tak ingin berulangkali memberikan jawaban yang sama kepada Zico, ia kini berjinjit lalu tanpa Zico duga, Fanya menempelkan bibir mungilnya ke bibir seksi Zico yang otomatis membuat laki-laki itu membeku di tempatnya dengan mata yang melebar sempurna.

__ADS_1


__ADS_2