
Fabya melepaskan pelukannya kala dirasa Zico sudah kembali tenang. Ia menatap wajah sang kekasih yang hidungnya masih memerah dan justru membuat laki-laki itu terlihat menggemaskan. Fanya tersenyum lalu ia menangkup kedua pipi Zico, mengusap lembut sisa air mata yang ada di pipi kekasihnya dengan sapuan jempolnya.
Tapi hal itu justru membuat Zico cemberut.
"Aku pasti jelek kan sekarang?" tanya Zico tiba-tiba yang membuat Fanya menghentikan usapan di pipi Zico.
Fanya menatap Zico dengan salah satu alisnya yang terangkat.
"Kan aku habis nangis. Jadinya wajahku sekarang pasti jelek karena hidungku yang memerah dan mataku yang sembab. Ck, padahal aku tadi tidak memiliki niat buat nangis. Tapi tiba-tiba kebawa perasaan. Huh, aku cowok tapi cengeng ya kan sayang?" Lagi-lagi Fanya tersenyum. Sedari tadi ia menahan kegemasannya kepada kepada sang kekasih akhirnya ia tak bisa menahannya kembali sehingga ia mencubit lalu menarik pelan hidung Zico yang otomatis membuat hidung itu semakin memerah.
"Ishhh sakit sayang," ucap Zico dengan melepaskan tangan Fanya dari hidungnya.
Fanya terkekeh kecil sebelum ia membalas ucapan Zico.
"Maaf-maaf. Aku tidak bisa menahan gemas kepadamu. Dan aku memaklumi kamu menangis seperti tadi. Lagian emangnya yang boleh menangis hanya seorang perempuan saja? Jelas tidak. Seorang laki-laki juga boleh menangis untuk mengungkapkan sekaligus mengeluarkan segala emosi yang ada di dalam hatinya. Sama seperti yang kamu lakukan tadi. Kamu menangis untuk melupakan kekesalan, emosi, rasa sedih dan senang sekaligus yang tak bisa lagi kamu ekspresikan menggunakan ekspresi wajah kamu ini. Dan aku tanya, bagaimana perasaanmu sekarang? Apa kamu merasa cukup lega?"
Zico menganggukkan kepalanya.
"Heem, aku merasa lega setelah aku menangis tadi. Tapi aku malu sekarang," balas Zico yang semakin mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa harus malu? Apa karena aku melihat sisi lemahmu ini?"
__ADS_1
Lagi dan lagi Zico menganggukkan kepalanya.
"Tidak perlu malu. Sejujurnya seorang pasangan itu juga harus memperlihatkan sisi lemah dia bukan hanya sekedar sisi kuatnya saja. Karena jika setiap pasangan memperlihatkan sisi lemahnya, maka pasangannya akan mencoba untuk menjadi penguat atas kelemahan yang dia punya. Contohnya, aku yang merupakan seorang perempuan yang manja dan kamu tau kelemahanku ini, kamu akan mencoba menjadi seseorang yang bisa aku andalkan, seseorang yang bisa menuruti semua yang aku pinta, bukan begitu sayang?"
Zico tampak terdiam. Ia seperti setuju dengan pernyataan dari Fanya tadi. Memang setelah mereka menjalin hubungan menjadi sepasang kekasih, Fanya langsung memperlihatkan sisi manja dia dan dia berusaha sekeras apapun untuk memenuhi sifat manja dari sang kekasih.
Fanya menepuk pelan paha Zico agar laki-laki itu kembali fokus kepadanya sebelum ia kembali mengeluarkan bahasa isyaratnya.
"Nah begitu juga dengan aku. Kalau kamu tengah memperlihatkan sisi lemah kamu yaitu menangis saat kamu tidak bisa menjabarkan perasaanmu. Maka aku akan berusaha untuk tetap disisimu, memberikan pelukan hangat yang mungkin bisa membuat kamu tenang. Jadi kita sebagai pasangan harus melengkapi kelemahan ataupun kekurangan pasangan kita. Kamu paham kan sayang?"
Zico menganggukkan kepalanya. Entah kenapa situasi sekarang Fanya menjadi lebih dewasa darinya dan Zico semakin jatuh cinta gadisnya itu.
Zico yang sedari tadi mengerucutkan bibirnya kini bibir itu menerbitkan sebuah senyuman. Lalu tanpa aba-aba ia memeluk tubuh Fanya yang tentunya langsung dibalas pelukan oleh perempuan itu.
"Entah aku harus berterimakasih dengan cara apa lagi dengan Tuhan yang sudah mengirimkan kamu untuk menjadi pasanganku. Aku benar-benar beruntung memilikimu sayang. Dan aku sudah tidak sabar lagi menunggu 1 minggu lagi untuk meminang kamu menjadi milikku sepenuhnya," ucap Zico yang membuat Fanya tersenyum dibalik pelukan mereka.
Mereka masih terus berpelukan sampai Zico yang lebih dulu melepasnya. Zico menatap kearah jam yang melingkar indah di pergelangan tangannya. Waktu kini sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Dimana mereka sudah berada di taman ini 1 jam lamanya.
"Sayang kita balik ke kamar yuk. Udah jam 2. Besok pukul 10 kita juga akan kembali ke Jakarta untuk mengurus segala persiapan pernikahan kita. Jadi kita istirahat sekarang ya," kata Zico dengan mengusap lembut kepala Fanya.
Fanya menganggukkan kepalanya setuju. Zico yang melihat anggukan itu, ia berdiri terlebih dahulu dari Fanya lalu ia mengulurkan tangannya tepat didepan sang kekasih. Fanya yang paham pun, ia menaruh tangannya di tangan Zico sehingga laki-laki itu bisa menggenggam erat tangannya.
__ADS_1
Keduanya kini berjalan memasuki gedung hotel yang masih ada beberapa orang berlalu lalang disana. Sampai saat mereka telah berada di depan pintu kamar Fanya, Zico melepaskan genggaman tangan kekasihnya.
"Good night sayang. Jika ada apa-apa langsung menghubungiku lewat video call atau pesan, oke?" pinta Zico saat Fanya menghadap kearahnya. Fanya dengan tingkat konyolnya ia memberikan sikap hormat sebagai balasan atas perintah yang diberikan oleh Zico tadi.
Zico terkekeh kecil dengan mengacak-acak rambut Fanya sebelum ia memberikan kecupan singkat di kening dan kedua pipi Fanya. Dan apa yang Zico lakukan itu dibalas hal yang sama dengan Fanya.
"Masuk sana gih." Fanya menganggukkan kepalanya sebelum ia melangkahkan kakinya untuk masuk kedalam kamar inapnya.
Dan setelah ia masuk, ia menyempatkan dirinya untuk melambaikan tangannya kearah Zico yang dibalas oleh laki-laki tersebut.
"Mimpi indah, sayang. I love you," ucap Zico yang sudah bucin akut dengan kekasihnya.
"Mimpi indah juga, sayang. Love you too."
Balasan Fanya itu sekaligus sebagai penutup pertenunan mereka hari ini. Fanya kini sudah menutup pintu kamar inapnya. Sedangkan Zico, tanpa melunturkan senyumannya ia berjalan menuju kamar inapnya yang berada di sebrang kamar inap Fanya.
Saat ia sudah masuk kedalam kamarnya, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size dengan mata yang menatap langit-langit kamar tersebut sembari membayangkan awal mula ia bertemu dengan Fanya sampai kenang-kenangan indah yang selalu mereka ciptakan. Namun bayangan indah itu harus buyar seketika kala ia mendengar dering ponselnya yang berbunyi nyaring.
Zico berdecak malas, siapa yang sudah berani menggangu ketenangannya malam ini?
Zico meraih ponselnya yang berada diatas nakas, dan saat ia melihat nama seseorang di layar ponselnya ia menghela nafas dan tanpa merubah posisinya, ia menggeser ikon telepon berwarna hijau itu untuk mengangkat telepon dari seseorang.
__ADS_1