
Fanya kini lebih tenang dari saat pertama kali ia mendengar berita duka itu. Walaupun saat ini wanita itu masih menangis dalam dekapan Zico yang saat ini sudah ikut berbaring diatas ranjang bersama Fanya. Sedangkan keempat orang lainnya, mereka memilih untuk keluar dari ruang inap Fanya, memberikan waktu untuk sepasang suami-istri itu.
Zico dengan sangat sabar mengelus puncak kepala Fanya dengan sesekali ia memberikan kecupan disana. Ia kini melirik kearah jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam itu menunjukkan pukul 1 siang yang artinya Fanya sudah menangis selama 5 jam lamanya ditambah Fanya sedari tadi tidak ingin makan ataupun minum. Sungguh tindakan dari Fanya yang tak ingin makan dan minum itu membuat Zico khawatir, ia takut Fanya dehidrasi dan berakhir akan tambah sakit nantinya.
Zico melonggarkan pelukannya kala ia merasakan hembusan nafas teratur yang menerpa lehernya. Dan saat ia sedikit melonggarkan pelukannya tadi, bisa ia lihat ternyata istrinya sudah tertidur dengan mata yang terlihat sangat sembab dan hidungnya terlihat memerah. Ada rasa sesak di dadanya melihat kerapuhan Fanya.
Zico mengecup lama kening Fanya lalu perlahan kecupan itu turun ke kedua mata sembab itu dan berakhir di hidung mancung milik istrinya. Setelahnya tangan Zico bergerak, mengusap lembut pipi Fanya sembari berkata, "Maafkan aku yang lalui menjaga kamu dan malaikat kecil kita sayang. Maaf sudah membuat kamu hancur seperti ini. Maafkan aku sayang. Aku benar-benar minta maaf."
Mau satu dunia mencegahnya untuk tidak menyalahkan siapapun atas musibah yang telah menimpa keluarga kecilnya, tetap saja Zico akan menyalahkan dirinya yang menganggap tak bisa menjaga istri dan calon anak mereka. Andaikan saja ia terus di samping sang istri, mungkin kejadian kemarin tak akan pernah terjadi. Namun sayang, Zico hanya bisa berandai-andai saja karena semua yang sudah terjadi maka tak bisa lagi ia cegah ataupun ulangi. Tapi Zico berjanji dengan dirinya sendiri jika Fanya nanti hamil lagi, ia akan memperketat penjagaan kepada istrinya dan ia pastikan jika dirinya akan 24 jam berada di samping Fanya. Kalau perlu saat istrinya itu ke kamar mandi, ia akan tetap mengikutinya.
Usapan lembut yang Zico berikan membuat tidur Fanya terusik sehingga wanita itu kini menggeliat dan perlahan kelopak matanya terbuka, memperlihatkan mata cantik yang saat ini terlihat memerah akibat terlalu banyak menangis.
__ADS_1
Zico yang menyadari Fanya terbangun pun ia memberikan kecupan lembut di pipi Fanya. Dan saat istrinya menatapnya ia tersenyum, "Maaf jika aku membangunkan kamu, sayang. Kalau masih mengantuk tidur lagi saja. Aku akan terus menemani kamu disini."
Setelah mengucapakan kalimat tadi, Zico kembali merengkuh tubuh Fanya kedalam dekapannya sembari mengelus punggung Fanya, berharap dengan elusan itu bisa membuat Fanya kembali terlelap. Namun nyatanya, mata istrinya itu terus terbuka dan tertuju kepadanya.
Zico yang merasa di perhatikan pun ia mendudukkan kepalanya hingga tatapan keduanya bertemu. Tangan Zico yang tadi bergerak mengelus punggung Fanya, kini beralih mencolek hidung mancung milik istrinya itu.
"Kenapa kamu lihatin aku seperti itu sih sayang? Aku tau kok kalau aku tampan," ujar Zico yang berhasil membuat Fanya mendengus kesal. Namun dengusan yang Fanya lakukan justru membuat Zico tersenyum lebar dengan perasaan lega karena dengan reaksi yang diberikan Fanya saat ini menandakan jika istrinya itu mungkin sudah berdamai dengan takdir yang harus mereka lalui. Dan jika memang seperti itu, Zico sangat bersyukur karena ia tak perlu lagi melihat Fanya yang berlarut-larut dalam kesedihannya yang tentunya akan membuat Zico merasakan sakit hati yang teramat dalam.
"Ehhh kok kamu malah balas ucapanku dengan dengusan sih. Kan apa yang aku katakan benar adanya sayang. Suamimu ini kan memang tampan. Dan buktinya kamu saja sampai terpesona begitu tadi sampai-sampai gak berkedip," tutur Zico kembali yang membuat Fanya langsung menutup bibir suaminya itu agar ia tak mendengar ocehan yang sayangnya memang fakta. Suaminya itu memang sangat tampan, sampai-sampai ia heran dulu Zico dikasih makan apa sama kedua orangtuanya hingga bisa membuat Zico sesempurna ini bagi Fanya.
"Aku kan---" belum sempat Zico menyelesaikan ucapannya, jari telunjuk Fanya sudah lebih dulu berada di depan bibirnya hingga membuat bibir seksi milik Zico kembali terkatup. Namun tatapan mata laki-laki itu tak lepas dari Fanya bahkan kini Zico memincingkan salah satu alisnya sebagai perwakilan ia untuk protes kepada Fanya. Tapi Fanya membalasnya dengan gelengan kepala sebelum ia menjauhkan jari telunjuknya tadi lalu mencoba untuk mendudukkan tubuhnya. Tentunya Zico yang melihat Fanya sedikit kesusahan untuk duduk pun dengan sigap ia turun dari atas brankar lalu membantu Fanya untuk duduk dengan memberikan bantal di belakang tubuh istrinya agar istrinya itu nyaman kala bersandar.
__ADS_1
Zico yang melihat Fanya sudah mendapatkan posisi ternyamannya, ia mendudukkan tubuhnya di pinggir brankar dengan kedua tangannya menggenggam salah satu tangan Fanya.
Fanya kembali menatap lekat wajah suaminya. Dapat Fanya lihat jika mata Zico sedikit sembab. Ia yakin suaminya itu juga sama terpukulnya seperti dirinya tapi hebatnya suaminya itu mampu menahan rasa sedih di hadapan dirinya. Dia mampu tetap tegar menjalani itu semua dan terlihat ikhlas menerima takdir yang sangat menyakitkan ini. Bahkan suaminya itu masih bisa menghiburnya dengan kata-kata penuh kepercayaan diri yang tadi dia lontarkan. Ya, Fanya tau ucapan Zico sebelumnya hanya untuk menghiburnya saja karena ia tau sejak ia mengenal Zico, ia tak pernah mendengar ucapan penuh kesombongan seperti tadi. Dan hal itu berhasil membuat Fanya semakin terjerat dalam pesona suaminya sendiri.
Zico yang melihat keterdiaman Fanya dengan tatapan lurus yang terus menatapnya, salah satu tangannya ia lambaikan tepat di depan wajah Fanya hingga berhasil mengembalikan kesadaran dari istrinya yang ternyata tengah melamun.
"Sayang, jangan ngalamun terus kayak gitu. Gak baik sayang," ucap Zico sembari mengusap lembut pipi Fanya. Namun tangannya yang berada di pipi sang istri dengan cepat wanita itu genggaman. Zico sempat bingung saat Fanya kembali terdiam dengan terus menatap kepadanya. Sebelum Zico di buat kelabakan sendiri saat ia melihat mata Fanya mulai berkaca-kaca.
"Please jangan nangis sayang. Sumpah demi apapun, hatiku rasanya kayak di terkam harimau saat melihat kamu meneteskan air mata. Jangan nangis please," ucap Zico sembari menangkup kedua pipi Fanya. Hingga wajah Zico kini ia dekatkan ke wajah Fanya dengan mata yang melotot lebar, bukan hanya itu saja melainkan raut wajah Zico berubah menjadi garang.
"Hey air mata. Tidak ada yang menyuruhmu keluar dari dalam mata istriku. Kembali masuk saja. Sebelum aku meniup kamu sampai kamu terhempas bersama hembusan nafasku dan berakhir jatuh ketanah yang membuat kamu akan kesakitan. Mau kamu hah?" ucap Zico tentunya yang ia tujukan kepada cairan bening yang berada di pelupuk mata sang istri.
__ADS_1
Sedangkan Fanya yang mendengar ucapan dari Zico, perlahan bibirnya terangkat keatas dan dengan cepat ia menubruk tubuh sang suami. Memeluk tubuh yang terasa begitu menenangkan dirinya.
Zico yang sempat melihat senyum dari sang istri, membuat sudut bibir Zico ikut terangkat. Laki-laki itu pun kini membalas pelukan dari Fanya dengan sangat erat, seolah-olah ia menyalurkan kekuatan kepada istrinya itu.