
Tubuh Zico lemas setengah mati saat sejak tadi pagi ia tak henti-hentinya keluar masuk kamar mandi untuk mengeluarkan seluruh isi di dalam perutnya. Ya, ini dihari selanjutnya setelah kemarin akhirnya Fanya berhasil membawanya ke rumah sakit dan kata dokter dia hanya kelelahan saja. Zico tentunya tak percaya dengan diagnosa dokter itu bahkan ia menganggap jika dokter yang menanganinya kemarin hanya dokter gadungan. Ayolah Zico tahu betul kondisi tubuhnya sendiri. Dan ia sangat yakin jika sakitnya saat ini bukan karena ia kelelahan.
Selama Zico terus muntah, Fanya selalu mendampingi suaminya dengan memijat tengkuk Zico. Hingga kini Zico yang sudah benar-benar lemas, ia berjalan lunglai menuju ke arah toilet duduk, untuk sekedar mendudukkan tubuhnya disana. Ia terlalu capek jika harus kembali ke dalam kamar yang tentunya nanti ia akan kembali ke bilik kamar mandi.
Sedangkan Fanya, ia langsung menyodorkan air minum yang berada di dalam botol minum. Tentunya langsung di teguk oleh laki-laki tersebut dan setelah ia minum, ia memeluk tubuh Fanya yang berdiri dihadapannya. Ia menyembunyikan wajahnya di perut istrinya.
Fanya memberikan usapan lembut di kepala suaminya itu. Ia merasa kasian dengan Zico, rasa-rasanya jika bisa ditukar, biarkan dia saja yang merasakan rasa sakit Zico saat ini daripada ia harus melihat laki-laki kesayangannya kesakitan seperti ini.
"Sakit, Yang. Capek," keluh Zico dengan sedikit menengadahkan kepalanya agar bisa melihat wajah Fanya.
"Kita ke rumah sakit lagi ya. Kali ini ke rumah sakit keluarga kamu bukan ke rumah sakit yang lain. Kita pastikan apa memang penyebab kamu sampai sakit seperti ini gara-gara kelelahan," pinta Fanya dengan gerakan tangannya.
Tentu saja Zico menggelengkan kepalanya. Sudah dibilang bukan kalau dia paling benci yang namanya rumah sakit entah itu rumah sakit milik keluarganya sendiri sekalipun. Dan ya, kemarin Fanya membawa Zico ke rumah sakit yang memilki jarak terdekat dari kantor suaminya itu. Jadi dirinya sendiri juga kurang mantap dengan diagnosis dokter kemarin. Ia ingin memastikan sekali lagi, takut ada penyakit serius yang tengah bersarang di tubuh suaminya. Tapi melihat Zico menggelengkan kepalanya membuat Fanya menghela nafas.
"Kalau kamu gak mau ke rumah sakit, kapan kamu mau sembuhnya? Jadi please kita ke rumah sakit ya."
"Gak mau sayang. Aku gak suka rumah sakit."
__ADS_1
"Tapi kalau kamu tidak periksa lagi, kita tidak akan pernah tau penyakit kamu yang sebenarnya sayang. Dan takutnya sakit kamu ini semakin parah nantinya."
"Gak akan. Percaya sama aku, mualku ini akan hilang sebentar lagi. Dan biarkan aku terus memelukku karena harum di tubuhmu ini bisa mengurangi rasa mualku," pinta Zico yang tentu saja jujur. Ia juga tidak tau kenapa saat ia memeluk tubuh Fanya dan mencium harum tubuh istrinya membuat rasa mualnya yang hampir membuat dia gila, perlahan mereda. Bahkan ia saat ini sudah menyembunyikan wajahnya kembali ke perut Fanya.
Fanya hanya bisa pasrah dan membiarkan Zico melakukan apa yang dia mau. Tapi lama kelamaan, Fanya merasakan kakinya yang pegal sehingga ia menepuk pelan pundak suaminya yang justru memejamkan matanya. Sepertinya pelukannya itu membuat Zico jadi mengantuk.
"Masih mual?"
"Masih tapi cuma sedikit. Dan aku sekarang mengantuk sayang. Aku mau tidur tapi harus kamu peluk," ucap Zico dengan rengekan yang terdengar sangat manja di telinga Fanya. Fanya memincingkan alisnya, merasa aneh dengan sikap Zico yang biasanya selalu bersikap dewasa tapi kini terlihat seperti anak kecil yang sangat manja. Apa ini adalah tabiat Zico saat ia sedang sakit? Entahlah, Fanya juga tidak paham.
"Sayang, kok kamu diam saja sih? Aku mau tidur sambil peluk kamu," rengekan itu kembali terdengar di telinga Fanya. Bahkan wanita itu juga merasakan goyangan di lengan tangannya. Tentu saja itu ulah Zico.
Anggukan dari Fanya tentunya mendapat senyum lebar dari Zico. Laki-laki itu segar berdiri dari posisi duduknya lalu mengandeng tangan Fanya menuju ke kamar mereka dengan salah satu tangan Zico yang laki-laki itu gunakan untuk menutup hidungnya saat ia merasa mual kembali disaat ia tak bisa menghirup aroma Fanya.
Dan ketika ia sudah sampai di samping ranjang, ia langsung saja merebahkan tubuhnya tanpa melepaskan tangannya yang selalu menghampit hidungnya.
"Cepat tidur sini sayang, keburu aku mual lagi nanti." Fanya menurut, ia ikut membaringkan tubuhnya disamping suaminya. Tentunya Zico langsung memeluk tubuh Fanya, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher istrinya.
__ADS_1
Lagi-lagi Fanya hanya bisa pasrah. Namun tangannya bergerak, mengusap punggung Zico. Hingga beberapa saat setelahnya terdengar dengkuran halus yang menandakan jika Zico sudah berada di alam mimpi.
Fanya sedikit melonggarkan pelukannya, menatap lekat wajah suaminya yang terlihat pucat itu. Tangannya pun bergerak, mengusap pipi Zico dengan penuh ke hati-hati agar tak mengganggu Zico yang tengah terlelap dalam tidurnya.
"Baru pertama kali aku melihat kamu sakit seperti ini sayang. Jujur aku tidak tega melihat kamu yang biasanya berdiri gagah harus terbaring dengan tubuh lemas seperti ini. Bahkan jika bisa, aku mau menggantikan rasa sakitmu ini. Toh aku juga pernah merasakan mual dan muntah sama seperti yang terjadi kepadamu ini saat aku mengidam dulu bahkan mungkin lebih parah, jadi setidaknya saat aku mengganti rasa sakitmu, aku tidak terlalu merasa kesakitan sampai sepertimu ini. Tapi sayangnya, itu cukup mustahil sayang. Jadi aku harap semoga kamu lekas sembuh," batin Fanya diakhiri dengan ia memberikan kecupan di kening Zico.
Kecupan itu hanya berlangsung sesaat saja sebelum Fanya menjauhkan wajahnya dari kening Zico kala ia merasakan pergerakan dari Zico. Dengan sigap, Fanya kembali memeluk tubuh suaminya itu dan mengelus punggung kekar itu. Hingga Zico kembali ke dunia mimpi pun Fanya terus melakukan hal yang sama sampai tiba-tiba satu pikiran muncul di otaknya yang membuat Fanya menghentikan pergerakan tangannya.
"Tunggu, apa ini? Kenapa tiba-tiba aku berpikir kalau Kak Aka tengah mengidam? Tapi masak iya laki-laki bisa mengidam, bukannya hanya wanita saja ya yang bisa karena wanita kan yang mengandung dan janin pun juga tumbuh dan berkembang di perut wanita bukan laki-laki. Jadi seperti tidak mungkin jika Kak Aka tengah mengidam saat ini," batin Fanya mengungkapkan isi pikirannya tadi.
Bahkan ia pun dengan cepat berusaha menyingkirkan pikiran yang menurutnya tak masuk akal itu dengan mengganti dengan pikiran penting lainnya. Namun semakin ia berusaha menyingkirkannya, justru ia semakin kepikiran. Hingga membuat Fanya mengusap wajahnya frustasi.
"Arkhhh! Oke fine, aku akan coba test pack. Tapi jika nanti hasilnya tidak sesuai jangan sampai kamu kecewa ya Fanya!" batin Fanya tentunya yang ia tujukan kepada dirinya sendiri. Ia benar-benar tak ingin kecewa untuk yang ke sekian kalinya jika hasil yang ia dapatkan tidak sesuai dengan keinginannya.
Dan setelah keputusannya tadi, Fanya perlahan melepaskan pelukan dari Zico. Untung saja, setiap pergerakannya tak mengganggu tidur Zico hingga ia berhasil keluar dari pelukan sang suami.
Fanya segara turun dari atas ranjang, menuju ke laci meja riasnya. Untung saja stok test pack yang dibelikan oleh Zico satu bulan yang lalu masih ada sehingga ia segara membawa beberapa alat tes kehamilan itu menuju ke kamar mandi.
__ADS_1
Lima tes pack sekaligus Fanya masukan kedalam urin yang sudah ia tampung di cup kecil. Hanya beberapa saat saja sebelum ia angkat dan ia taruh di pembatas wastafel.
Dengan harap-harap cemas dan degup jantung yang terpacu begitu cepat, Fanya menunggu hasil yang keluar dari benda pipih panjang itu. Hingga beberapa menit telah berlalu, ke lima tes pack itu telah memperlihatkan hasilnya.