
Disebuah gedung hotel yang akan dijadikan tempat pertunangan Zico dan Fanya didekorasi sangat indah nan mewah. Disana juga sudah terdapat beberapa tamu undangan yang sudah datang dan jangan lupakan di tempat masuk gedung hotel, terdapat beberapa wartawan yang akan meliput jalannya acara pertunangan itu.
"Perhatian-perhatian!" suara menggema yang di pantulkan dari mic seorang MC mengalihkan pandangan seluruh tamu undangan. Seketika ruangan itu pun juga tampak hening, mereka dengan setia menunggu MC melanjutkan ucapannya.
"Acara pertunangan tuan Zico dan nona Fanya akan segera dimulai. Dimohon untuk para hadirin semuanya untuk menempati kursi yang sudah di sediakan!" Seluruh tamu undangan menuruti perintah dari MC tadi.
Sang MC, kini mengedarkan pandangannya guna melihat apakah seluruh tamu sudah berada di tempat masing-masing atau belum. Dan setelah dirasa situasi serta kondisi sudah kondusif, sang MC tersenyum karena bertepatan dengan ia yang bisa mengatur para tamu, para pemilik acara datang.
Keluarga Abhivandya tampak datang di dalam satu mobil yang sama. Keluarga itu lebih dulu keluar dari dalam mobil yang langsung disambut kilatan flash dari para wartawan. Keluarnya ke-empat orang dari pihak keluarga Zico, diikuti oleh 6 orang yang merupakan inti dari pihak keluarga Fanya. Sedangkan para penghuni panti yang lain, mereka langsung digiring masuk kedalam gedung tersebut bahkan para anak-anak kecil, sudah mendapatkan satu baby sitter di setiap anak, yang akan siap menjaga mereka.
"Maaf ya. Untuk sesi wawancara akan ada waktunya tersendiri nanti setelah acara selesai. Terimakasih," ucap Vivian yang sebenarnya sangat risih jika dirinya menjadi pusat perhatian semua orang yang ada di sekitarnya ataupun di media sosial.
Setelah mengatakan hal tadi, Vivian lebih dulu melangkahkan kakinya memasuki gedung itu tentunya langsung diikuti oleh pihak keluarga yang lain tak terkecuali dengan keluarga Fanya.
"Pihak keluarga dari pasangan kita malam ini memasuki gedung! Harap para hadirin sekalian berdiri!" Lagi dan lagi ucapan dari MC tadi langsung diikuti oleh para tamu undangan.
Mereka semua yang berada di alam gedung itu memberikan tepuk tangan mereka saat pihak keluarga kedua pasangan melewati red karpet menuju ke meja khusus untuk mereka.
__ADS_1
Tak ada satupun entah dari pihak keluarga Zico ataupun Fanya melunturkan senyum mereka dengan sesekali sedikit menundukkan kepala mereka kepada para tamu undangan sebagai balasan atas sapaan secara tak langsung dari para tamu undangan itu.
Kini dua keluarga itu telah sampai di meja khusus mereka. Dan masih dalam posisi berdiri, tiba-tiba lampu di ruangan itu mati seketika bertempat dengan itu, MC mulai mengeluarkan suaranya kembali.
"Hadirin dan hadirat sekalian, mari kita sambut dengan meriah sepasang kekasih yang malam ini akan menggelar acara pertunangan mereka, tuan Akalanka Zico Bagaskara Abhivandya dengan nona Evanthe Fanya Zahira!"
Setelah sang MC berkata, pintu yang tadinya sempat di tutup kini terbuka kembali. Sorot cahaya kini menyoroti sepasang kekasih yang kini berdiri diambang pintu masuk dengan tangan Fanya yang melingkar indah di lengan Zico.
Fanya tampak anggun nan cantik dengan gaun berwarna biru gelap dengan potongan kain panjang yang menutup seluruh kaki jenjangnya, ditambah gaya rambut yang di sanggul kecil hanya menyisakan sedikit rambut yang diberikan menjuntai di setiap depan telinganya. Riasan wajah yang tak terlalu menor membuat kecantikannya Fanya bertambah.
Sedangkan Zico, laki-laki itu memakai tuxedo serta celana dengan warna yang senada dengan gaun yang dipakai oleh Fanya.
Fanya yang merupakan orang pemalu, ditambah dirinya yang mendengar banyaknya pujian, ia kini justru menundukkan kepalanya saat Zico mulai melangkahkan kakinya yang otomatis ia juga akan ikut pergi bersama laki-laki itu.
Zico yang menyadari calon istrinya tengah malu-malu kucing pun, ia tersenyum sebelum wajahnya ia dekatkan tepat di telinga Fanya.
"Jangan menundukkan kepalamu sayang. Jangan menyembunyikan kecantikanmu. Jadi angkatlah kepalamu, biar semua orang tau calon istri seorang Akalanka Zico Bagaskara memiliki paras yang sangat cantik dan sempurna." Bisikan dari Zico tadi membuat Fanya menggigit bibir bawahnya. Namun tak urung, ia menghela nafas panjang sebelum dirinya menegakkan kepalanya kembali dengan senyum yang kembali ia perlihatkan untuk semua para tamu undangan.
__ADS_1
Zico yang melihat hal tersebut pun refleks bibirnya ikut terangkat membentuk sebuah senyum manis yang jarang sekali ia perlihatkan.
Tak terasa sepasang kekasih itu sudah sampai di atas podium. Sang MC pun sudah membacakan rentetan susunan acara yang akan digelar malam ini. Sambutan-sambutan dari perwakilan keluarga dari Zico maupun Fanya pun sudah selesai diadakan. Sampai akhirnya ini lah moments yang mereka tunggu-tunggu yaitu pertukaran cincin Zico dan Fanya.
Suara gemuruh tepuk tangan memenuhi seluruh gedung itu kala Zico langsung memeluk tubuh Fanya sesaat setelah pertukaran cincin itu. Kini mereka telah resmi bertunangan dan satu minggu lagi, mereka akan resmi menjadi sepasang suami istri. Mengingat hal tersebut, membuat Zico tak sabar menunggu satu minggu kedepan.
...****************...
Saat Zico dan Fanya tengah berbahagia stas pertunangan mereka, disisi lain terlihat ada seseorang yang tengah mondar-mandir tak jelas di dalam kamarnya dengan ponsel yang selalu tertempel di telinganya.
"Ck, dia kemana sih? Kenapa dia tidak mengangkat puluhan kali telepon dariku? Pesan pun juga tidak dia balas sejak 3 hari kedepan. Padahal dia sendiri yang bilang waktu itu jika aku merindukannya, tinggal kirim sebuah pesan atau langsung menelepon dia. Tapi nyatanya, semua sudah aku lakukan tapi tidak ada satupun balasan dari dia. Arkkhhhhhhh menyebalkan," ucapnya dengan menghentakkan kakinya. Ia begitu kesal dengan seseorang yang sangat ia rindukan itu.
"Tunggu, jangan-jangan dia tidak menjawab satupun pesan ataupun mengangkat teleponku karena ada sesuatu hal yang terjadi dengan dia disana?" sambungnya. Namun sesaat setelahnya ia menggelengkan kepalanya.
"Tidak, tidak. Tidak mungkin hal itu terjadi. Dia pasti baik-baik saja."
"Atau malah dia sengaja mengabaikanku karena dia ingin menjauh dariku?" orang itu masih menebak-nebak alasan apa yang mendasari seseorang yang tengah ia rindukan itu tak membalas pesan atau teleponnya.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jika memang dia berniat menjauh dariku, aku akan melakukan segala cara agar dia tetap berada di sampingku. Jadi Jio, tunggu aku untuk membuatmu bertekuk lutut di depanku!" ujarnya dengan tekat kuat diakhiri dengan senyum miring di bibirnya.