My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 113


__ADS_3

"SAYANG!" teriakan yang sangat nyaring membuat keempat orang yang tengah bercanda gurau di ruang keluarga dengan cepat menolehkan kepala mereka kearah sumber suara yang mereka dengar berasal dari arah tangga. Dan benar saja sesaat setelahnya, pelaku yang berteriak tadi muncul dengan muka bantal, rambut acak-acakan dan jangan lupakan piyama yang dia kenakan masih sama seperti yang dia pakai tadi pagi ketika menemui keluarganya. Dan jangan tanya lagi siapa orang itu jika bukan si tuan rumah alias Zico.


Sedangkan ketiga perempuan yang berada di ruang keluarga mengalihkan pandangan mereka ke arah satu perempuan yang bergabung dengan mereka, siapa lagi jika bukan Fanya.


"Bayi gede kamu tuh Fan, udah bangun," ucap Vivian dengan gelengan kepalanya melihat tingkah adiknya yang baru kali ini terlihat seperti anak kecil.


"Samperin dulu sana Fan. Kayaknya mata dia masih nutup itu, jadi dia tidak sadar keberadaan kita disini. Takutnya dia malah cari kamu sampai ke luar rumah nanti," ucap Yola yang membuat Fanya menolehkan kepala kearahnya hanya sesaat saja sebelum ia menganggukkan kepala lalu beranjak dari tempat duduknya setelah dirinya melihat sang suami sudah berlalu begitu saja. Dan sepertinya benar apa yang dikatakan oleh Yola jika Zico tidak melihat keberadaannya. Pasalnya dia terus saja berjalan sekarang.


Fanya mempercepat langkah kakinya menyusul Zico walaupun sedikit kesusahan karena perutnya yang terasa berat itu. Namun akhirnya ia bisa menyamai langkah Zico. Tangan Fanya kini bergerak, mencekal lengan Zico hingga membuat suaminya berhenti berjalan.


Dengan gerakan perlahan, Zico menolehkan kepalanya kearah samping, ia menyipitkan matanya yang masih terasa berat itu untuk melihat siapa yang berani mencekal tangannya, maklum saja matanya masih mengantuk pasalnya ia semalam lembur sampai pagi untuk menyelesaikan pekerjaannya.


Saat mata sayunya itu berhasil melihat wajah sang istri, Zico langsung berhambur kedalam pelukan Fanya.


"Kok kamu ada disini sih? Kenapa kamu tadi ninggalin aku sendirian di kamar? Harusnya kamu nungguin aku sampai bangun, harusnya kamu terus peluk aku selama aku tidur bukan malah ninggalin aku begitu saja," protes Zico dengan nada suara yang sangat manja.


Fanya yang mendengarnya hanya tersenyum kecil sembari menepuk-nepuk punggung sang suami.


Namun reaksi yang diberikan oleh Fanya yang sayangnya tak bisa di lihat oleh Zico itu membuat Zico langsung melepaskan pelukannya dengan wajah yang tertekuk.

__ADS_1


"Ck, kok kamu diam saja sih? Aku marah sama kamu tau," ucap Zico merajuk.


Fanya sebisa mungkin ia menahan tawanya. Karena jika ia tertawa, sudah dipastikan suaminya itu nanti akan tambah merajuk dan berakhir dirinya yang akan di buat pusing memikirkan bagaimana cara membujuk Zico. Dan karena ia tak ingin hal itu terjadi, ia memilih menahan tawanya dan mengganti raut wajahnya menjadi raut wajah penuh penyesalan.


"Maafkan aku sayang. Aku meninggalkan kamu sendirian dikamar karena aku merasa tidak enak dengan keluarga kamu yang bertamu ke rumah kita. Kalau tadi aku terus nemenin kamu tidur, jatuhnya aku jadi tidak sopan dan tidak menghormati keluarga kamu doang. Dan yang pastinya setelah itu aku akan di cap sebagai menantu dan ipar yang tidak memiliki tata krama dan sopan santun. Memangnya kamu mau istrimu ini di cap buruk sama keluarga kamu sendiri?"


Fanya berusaha memberikan pengertian kepada bayi besarnya itu. Terlihat Zico tampak berpikir sesaat sebelum helaan nafas terdengar, "Ya gak mau lah. Masak iya istriku yang baik ini di cap buruk sama keluargaku sendiri. Tapi setidaknya kalau kamu tadi mau keluar izin dulu kek sama aku biar aku tidak uring-uringan sendiri saat tidak melihat kamu di sampingku tadi."


"Aku tidak tega membangunkan kamu, sayang. Kamu baru tidur di jam 4 pagi dan kebangun di jam setengah 6 karena keluarga kamu datang dan baru bisa tidur lagi di jam setengah 7. Jadi aku tidak tega membangunkan kamu yang tengah tidur nyenyak."


Lagi dan lagi decakan dari bibir Zico terdengar, tanda jika laki-laki itu masih sebal dengan ketidak hadiran Fanya disampingnya kala bangun tidur. Beginilah sifat manja Zico selama ini kepada Fanya. Ia akan marah jika Fanya tidak ada disampingnya jika ia baru bangun tidur karena ia ingin seseorang yang pertama kali ia lihat ketika membuka mata kembali adalah wajah istrinya tercinta. Dan Fanya yang sudah hidup bersama dengan Zico cukup lama, hanya bisa pasrah menerima Zico saat dalam mode manja seperti ini.


Walaupun Zico masih kesal, tetap saja ia menganggukkan kepalanya. Ia tak bisa marah lama-lama dengan sang istri.


"Tapi janji jangan mengulangi kesalahan kamu ini," ucap Zico sembari memeluk tubuh Fanya kembali.


Fanya hanya bisa menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas permintaan suaminya tercinta itu. Lalu kemudian tak ada lagi pembicaraan antara sepasang suami-istri tersebut, mereka hanya saling berpelukan dengan Fanya yang selalu menepuk-nepuk punggung Zico sedangkan Zico, laki-laki itu kembali menutup matanya. Hingga hampir saja Zico memasuki alam mimpi, suara pintu yang terdengar terbuka cukup keras disertai dengan suara cempreng seseorang membuat mata Zico seketika langsung terbuka lebar, sedangkan Fanya, ia terperanjat kaget.


"YUHU ASSALAMUALAIKUM EVERYONE! MOMMY-MOMMY CANTIK DATANG!"

__ADS_1


"Ck, ini rumah, bukan hutan. Jadi jangan teriak-teriak!" ucap Zico menatap tajam kearah perempuan yang hanya berjarak satu tahun darinya siapa lagi jika bukan Edrea namanya.


Sedangkan Edrea, ia nyengir kala mendengar teguran dari sang Kakak.


"Maaf kelepasan. Btw bang, kamu baru bangun tidur ya?" tanya Edrea mendekati sepasang suami istri itu.


"Iya, kenapa emang?" tanya Zico dengan salah satu alis yang terangkat.


Edrea tampak menelisik wajah Zico hingga dengan menahan tawanya ia berkata, "Pantas saja, di pipi Abang masih ada peta yang terbuat dari air alami."


Zico tidak bodoh dengan maksud yang di ucapkan oleh sang adik tadi. Ia kini memelototkan matanya kemudian tanpa mengucapakan sepatah katapun ia langsung berlari menuju ke lantai atas, tempat dimana kamarnya berada meninggalkan Edrea, Fanya maupun Mommy Della yang sedari tadi hanya diam melihat interaksi anak-anaknya dengan senyum yang mengembang.


"Kamu ini lho Rea, dari dulu sampai sekarang masih aja suka ngerjain abang-abangnya," ucap Mommy Della tak habis pikir.


Sedangkan Edrea yang sedari tadi tertawa terbahak-bahak perlahan ia menghentikan tawanya. Sembari ia mengusap air matanya yang keluar, ia menjawab, "Sekali-kali Mom. Karena kalau Rea udah balik ke negara tetangga lagi, gak ada yang bisa Rea jahilin. Mau jailin anak-anak yang ada Rea sendiri yang akan pusing nanti apalagi kalau mau jailin bapaknya anak-anak, bisa di suruh tidur di luar Rea nanti."


Mommy Della yang mendengar balasan dari sang putri hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Dan karena ia tak ingin menimpali ucapan dari Edrea kembali, ia memilih mendekati sang menantu. Ia mengelus lembut surai hitam milik Fanya sampai menantunya menatap kearahnya.


"Kita duduk yuk sekalian kita lihat-lihat hasil belanjaan Mommy dan Rea tadi. Kamu penasaran kan?" Dengan binar dimatanya Fanya menganggukkan kepalanya. Dan anggukan kepala itu dibalas senyum oleh Mommy Della sebelum ia menggandeng tangan Fanya menuju ke ruang tamu, diikuti Edrea dan beberapa bodyguard Zico yang membawakan barang belanjaan mereka tadi.

__ADS_1


__ADS_2