My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 101


__ADS_3

"Dok, gimana hasilnya?" pertanyaan yang dilayangkan oleh Zico berhasil membuat Dokter Safitri yang sedari tadi asik dengan pikirannya sendiri, kini ia mengerjabkan matanya. Dan ketika ia sadar, ia tersenyum kekuk kepada sepasang suami-istri yang tengah menatapnya.


"Maaf," ucap dokter Safitri sebelum dirinya mengalihkan pandangannya kearah layar monitor di depannya.


Ia menggerakkan sedikit alat USG tersebut hingga senyum terbit di bibirnya.


"Kalian lihat lingkaran hitam itu adalah kantung janin yang artinya memang nyonya Fanya tengah mengandung saat ini. Dengan perkiraan kandungannya baru memasuki usia 3 minggu yang artinya masih sangat kecil dan biasanya rawan akan keguguran. Terlebih kelihatannya kandungan nyonya Fanya lemah sekali yang bisa menyebabkan potensi keguguran yang sangat besar. Tapi Nyonya dan tuan tidak perlu khawatir, saya akan memberikan obat penguat kandungan nanti. Dan sebaiknya Nyonya Fanya tidak terlalu banyak gerak, kalau bisa harus istirahat total demi janin yang ada di dalam kandungan Nyonya," ucap dokter Safitri menjelaskan kondisi Fanya saat ini. Tentunya penjelasan itu tak lagi membuat sepasang suami-istri itu terkejut, karena sudah biasa mereka mendengar jika kondisi kandungan Fanya lemah. Tapi yakinlah ada sedikit rasa khawatir jika mereka harus merasakan kehilangan untuk yang kesekian kalinya. Walaupun jujur saja mereka sangat senang dengan kabar bahagia yang semoga saja tidak hanya sementara.


"Ohhh tunggu sebentar," ucap dokter Safitri yang membuat sepasang suami-istri itu yang tadi sempat saling tatap satu sama lain kini mengalihkan pandangannya kearah dokter Safitri dengan wajah yang sangat tegang.


Bahkan Zico yang sudah penasaran pun ia angkat suara, "Ada apa Dok?"


Dokter Safitri mengalihkan pandangannya kearah Zico dan Fanya dengan senyum yang semakin merekah.


"Lihatlah, ternyata saya menemukan ada satu kantung janin lagi di dalam rahim Nyonya Fanya. Yang artinya nyonya Fanya saat ini tengah mengandung bayi kembar. Selamat ya nyonya dan tuan," jelas dokter Safitri.


Terkejut, tentu saja Fanya dan Zico terkejut ketika dokter Safitri mengatakan jika ada dua janin di dalam rahim Fanya. Rasa bahagia pun semakin membuncah di dalam diri sepasang suami-istri itu itu. Bahkan saking bahagianya terlihat mata Zico berkaca. Namun laki-laki itu sebisa mungkin untuk menahan air matanya agar tak jatuh saat ini juga. Ia malu jika harus menangis di depan dokter Safitri, walaupun tangisannya itu tangis bahagia.


Sedangkan Fanya, ia yang masih tak percaya, dirinya menepuk pelan lengan dokter Safitri hingga dokter perempuan itu menatapnya, Fanya mulai bertanya dengan bahasa isyarat, "Apa dokter tidak salah lihat dan tidak salah memeriksa kandungan saya?"


Dokter Safitri yang paham jika Fanya masih tak percaya pun ia tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, "Tidak. Saya tidak salah lihat. Kalau nyonya masih tidak percaya, perhatikan layar monitor ini dan saya akan menggerakkan alat USG lagi."

__ADS_1


Fanya menuruti ucapan dari dokter Safitri tadi, sedangkan dokter Safitri, ia kembali menggerakkan alat USG di atas perut Fanya.


"Lihat, disebelah sini ada kantung janin. Dan disebelahnya lagi ada satu lagi kantung janin yang saya pastikan kalau nyonya memang mengandung bayi kembar," jelas dokter Safitri sekali lagi dengan sabar.


"Apakah Nyonya sekarang sudah percaya?" tanya dokter Safitri dengan menatap kearah Fanya. Tentunya pertanyaan itu dibalas dengan anggukan kepala oleh Fanya.


"Syukurlah kalau nyonya sudah percaya sekarang. Kalau begitu, biar saya cetak hasil USG hari ini dan untuk pemeriksaan selanjutnya, kita jadwalkan bulan depan di tanggal yang sama. Bagaimana? Apakah Nyonya atau tuan keberatan? Jika keberatan, kita bisa menjadwalkan pemeriksaan rutin bulanan kandungan nyonya Fanya di hari lain," ucap Dokter Safitri sembari membereskan alat yang sudah ia gunakan tadi.


Fanya yang saat ini sudah terduduk tentunya dengan bantuan Zico, ia menatap kearah sang suami. Kode agar Zico saja yang memutuskan untuk pertemuan mereka dengan dokter Safitri.


Zico yang paham pun ia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya kepada Fanya. Lalu kemudian, ia menatap dokter Safitri yang tengah menunggu keputusan dari mereka berdua.


"Kita setuju dengan keputusan dokter tadi. Pemeriksaan kedua istri saya akan di lakukan di bulan depan dengan tanggal yang sama dengan tanggal hari ini," ujar Zico.


Dan tak berselang lama, dokter Safitri yang sudah selesai menuliskan resep pun ia segara menyerahkan catatannya tadi kehadapan Fanya juga Zico.


"Tolong diminum secara teratur ya nyonya karena obat-obatan yang saya tulis ini sangat baik untuk kandungan Nyonya. Dan saya berdoa semoga kandungan nyonya selalu sehat, janin yang ada di dalam sehat hingga lahir nanti tanpa ada kekurangan apapun dan semoga bumilnya juga sehat," tutur dokter Safitri dengan sangat tulus.


"Aamiin. Terimakasih atas doanya, Dok. Saya pastikan jika istri saya rutin minum obat dari dokter," balas Zico yang diangguki oleh dokter Safitri.


"Ya sudah kalau begitu, kita pamit dulu Dok. Selamat siang dan terimakasih," ucap Zico sembari menyodorkan tangannya yang langsung dibalas oleh dokter Safitri. Keduanya bersalaman dan bergantian dengan Fanya yang menyalami dokter Safitri. Kemudian setelahnya barulah kedua orang itu keluar dari dalam ruangan dokter Safitri.

__ADS_1


Terlihat jelas wajah bahagia yang terpencar dari keduanya.


"Kamu tau sayang. Aku sangat bahagia mendengar kabar hari ini. Dan aku baru paham sekarang kenapa selama beberapa hari ini aku selalu merasa mual bahkan sampai muntah karena mungkin aku tengah mengidam," ucap Zico sembari menolehkan kepalanya kearah Fanya yang juga tengah menatapnya dengan senyum di bibirnya namun senyuman itu hilang dan digantikan oleh kerutan di keningnya.


"Ngidam? Mual dan muntah kamu itu artinya kamu ngidam?"


Pertanyaan dari Fanya tadi tentunya dibalas anggukan oleh Zico.


"Kok bisa? Padahal kan aku yang hamil. Harusnya aku yang ngidam bukan kamu."


Zico tersenyum tapi ia tak menjawab hingga membuat Fanya yang kepo maksimal harus menahan rasa keponya itu ketika mereka telah sampai di tempat pengambilan obat.


Zico membantu Fanya untuk duduk di salah satu kursi tunggu dan ketika wanita itu telah duduk dengan nyaman, Zico menjongkokkan tubuhnya di hadapan sang istri. Ia genggam kedua tangan istrinya itu dengan menatap lekat kedua mata Fanya.


"Kamu mau tau alasannya kenapa aku bisa menggantikanmu mengidam?" Tentunya Fanya menganggukkan kepalanya.


Zico mengecup sekilas punggung tangan Fanya sebelum ia menjawab, "Karena kata orang-orang, jika seorang suami yang mengidam ketika istrinya tengah hamil maka rasa cinta dan sayang suaminya sangat besar kepada sang istri. Ya walaupun semua suami cinta dan sayang sama istrinya walaupun mereka tidak mengalami yang namanya ngidam. Tapi perlu kamu tau sayang, aku memang sangat mencintai dan sayang sekali denganmu. Bahkan tak ada satupun benda di alam semesta ini yang bisa mendeskripsikan seberapa besar rasa cinta dan sayangku kepadamu. I love you."


Fanya yang mendengar penuturan dari Zico matanya berkaca-kaca, ia terharu dengan ucapan dari suaminya tadi. Dan dengan gerakkan bibirnya ia membalas, "I love you too."


Zico yang melihat itu pun ia tersenyum sembari bangkit dari posisi berjongkoknya tadi. Ia usap kepala sang istri sembari berkata, "Jangan nangis sayang. Kamu boleh terharu tapi tidak boleh sampai meneteskan air matamu karena air matamu sangat berharga. Sayang, kamu tunggu disini sebentar, aku mau antri dulu. Jangan kemana-mana oke."

__ADS_1


Fanya menganggukkan kepalanya, menuruti ucapan dari Zico. Zico yang melihat anggukkan dari sang istri, ia segara beranjak dari depan Fanya untuk mengantri bersama dengan keluarga pasien rumah sakit itu.


__ADS_2