My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 9


__ADS_3

Zico kini menatap intens mata Fanya tanpa melepaskan genggaman tangannya.


"Fanya, apa kamu mau memaafkanku? Memaafkan semua kesalahanku?" tanya Zico saat tak ada balasan sepatah katapun dari Fanya setelah ucapan panjangnya tadi.


Untuk beberapa detik, Zico kembali menunggu jawaban dari Fanya yang masih diam dengan menatapnya sebelum mata perempuan itu mengerjab. Fanya sadar akan keterbengongannya. Fanya sempat terkejut saat menundukkan kepalanya dan melihat tangannya berada di genggaman laki-laki yang mengaku memiliki salah kepadanya. Dengan cepat Fanya menarik tangannya sampai terlepas dari genggaman tangan Zico. Lalu setelahnya ia menggeser posisi duduknya semakin mepet ke pembatas kursi taman tersebut.


Sedangkan Zico, laki-laki itu menatap kosong tangannya. Baru saja ia bisa merasakan tangan lembut nan hangat perempuan pujaannya, sekarang ia harus rela jika tangan yang sempat ia genggam lepas dari jangkauannya. Ia menghela nafas panjang. Rasa kecewa sempat Zico rasakan tapi ia segara mengenyahkan perasaannya itu dan memilih untuk menatap Fanya dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya.


"Aku memaklumi jika kamu belum bisa memaafkanku yang sudah melukai fisik kamu di waktu dulu ataupun sekarang. Tapi aku benar-benar dengan tulus meminta maaf kepadamu. Dan apa yang aku katakan tadi bukan hanya karanganku semata, tapi semua itu benar adanya. Mungkin kamu lupa, tapi aku tidak. Sekali lagi aku minta maaf kepadamu Fanya dan beritahu aku apa yang harus aku lakukan agar mendapat maaf darimu?"


Fanya masih diam membisu yang membuat Zico bingung sendiri. Apakah kesalahannya memang sefatal itu sampai Fanya tak mau memaafkannya? Bahkan tak mau mengeluarkan sepatah katapun dari bibirnya.


"Fanya, aku---" belum sempat Zico melanjutkan ucapannya sebuah buku note kecil terulur tepat di depannya. Tentunya buku itu berasal dari Fanya.


Zico menatap buku note tersebut dan menatap kearah Fanya secara bergantian sebelum tatapan matanya kini sepenuhnya tertuju ke buku note yang terdapat tulisan, "Aku sudah memaafkanmu."


Senyum lebar seketika menghiasi wajah Zico. Dengan tatapan penuh binar, ia mengalihkan pandangannya kembali kearah Fanya yang tengah menundukkan kepalanya. Sepertinya perempuan itu masih ada rasa takut dengannya.


"Kamu benar-benar sudah memaafkanku?" Fanya hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan dari ucapan Zico tadi.


"Syukurlah kalau begitu," ujar Zico yang saat ini bisa bernafas lega. Rasa bersalahnya selama bertahun-tahun perlahan menghilang juga kala dirinya sudah mendapatkan maaf dari orang yang pernah ia lukai.


Zico yang merasa ada sedikit peluang untuk memulai mendekati Fanya walaupun masih ada kecanggungan dari Fanya, Zico kembali berkata, "Baiklah kalau begitu mari kita memulai perkenalan kita secara resmi. Ya walaupun aku sudah mengatakan namaku sebelumnya, tapi aku akan mengulanginya."


Zico berdehem sesaat lalu tangannya ia ulurkan tepat di depan Fanya.


"Perkenalkan namaku, Akalanka Zico Bagaskara Abhivandya. Kamu boleh memanggilku dengan nama apapun yang kamu mau. Mau panggil sayang sekalipun dengan senang hati akan aku terima," ucap Zico tentunya ia melanjutkan kalimat terakhir itu didalam hatinya. Tak mungkin ia mengatakannya secara terang-terangan, takut Fanya akan menjadi ilfil kepadanya dan alhasil menjauh kembali darinya.


Fanya menatap lekat tangan Zico. Dengan ragu ia mulai menggerakkan tangannya untuk membalas uluran tangan Zico. Hanya beberapa detik saja tangan keduanya menyatu karena Fanya segara menariknya. Lagi-lagi Zico hanya merelakan genggaman hangat dari pujaan hatinya. Tapi ia berjanji jika dirinya sudah berhasil mendapatkan Fanya, ia tak akan membiarkan Fanya melepaskan genggamannya.

__ADS_1


Saat Zico tengah sibuk dengan pikirannya, ia disadarkan dengan buku note yang kembali di sodorkan di hadapannya. Tanpa rasa bingung seperti sebelumnya, Zico langsung membaca setiap kalimat di buku tersebut.


"Namaku Evanthe Fanya Zahira. Dan aku ingin berterimakasih kepadamu karena sudah membantuku untuk mengobati lukaku. Terimakasih Aka."


Zico yang membaca kalimat tersebut apalagi saat ia membaca kata Aka, jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kencang. Wajahnya terasa panas. Ia yakin kata Aka itu merupakan panggilan dari Fanya untuknya. Terdengar aneh memang karena ini baru pertama kalinya ada seseorang yang memanggilnya dengan nama depannya. Tapi aneh itu tertutup dengan rasa bahagia yang membuncah dihatinya. Apakah dengan ia yang mendapatkan panggilan khusus dari Fanya, menandakan jika niat pendekatannya sudah mendapatkan lampu hijau dari orang yang ingin ia dekati? Zico rasa memang seperti itu.


Zico yang tengah senyum-senyum sendiri dengan mengalihkan pandangannya kearah danau untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti tomat membuat Fanya heran sendiri melihatnya. Tapi ia hanya menggedikkan bahunya sebelum tangannya bergerak untuk mencoret buku note yang berada di tangan kirinya membentuk sebuah kalimat yang akan ia berikan ke Zico nantinya.


Saat sudah selesai, Fanya tampak ragu-ragu ingin menepuk pundak Zico. Tangannya yang sudah terulur di pundak Zico kembali ia tarik, namun sesaat setelahnya kembali ia dekatkan lagi di pundak laki-laki yang duduk disampingnya lalu menariknya lagi. Hal itu ia lakukan berulang sampai Zico yang menyadari akan aksi Fanya tadi, ia langsung menolehkan kepalanya saat tangan Fanya hampir menyentuh pundaknya. Dengan cepat Fanya menarik tangannya gugup.


"Ada apa?" tanya Zico yang tengah berusaha untuk menahan tawanya saat melihat tingkah Fanya tadi. Tak hanya menahan tawanya saja, melainkan Zico juga harus menahan rasa gemasnya yang akan mencubit pipi Fanya.


Sedangkan Fanya, tanpa menatap kearah Zico karena merasa malu, ia menyodorkan tangannya yang membawa kertas note yang sudah ia sobek dari dalam buku note-nya tadi. Saat ia merasa jika kertas itu sudah berada di genggaman Zico, ia langsung berdiri.


Beranjaknya Fanya dari tempat duduknya membuat Zico langsung mencekal lengannya hingga mau tak mau Fanya menghentikan kakinya yang akan melangkah.


"Kamu mau kemana?" tanya Zico.


Fanya memincingkan sebelah alisnya, lalu tatapannya beralih kearah kertas yang masih digenggam Zico. Zico yang mengerti pun, ia mengikuti arah pandang Fanya. Barulah ia sadar jika dirinya belum membaca pesan dari Fanya tadi.


Zico kini mulai membaca deretan kalimat di kertas tersebut.


"Aka, aku pamit pulang. Sekali lagi terimakasih atas bantuanmu hari ini."


"Biar aku mengantar yang kamu pulang." Dengan cepat Fanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak mau aku antar? Kenapa?" Fanya dengan cepat menulis kembali, lalu setelah selesai ia perlihatkan kepada Zico.


"Rumahku sangat dekat dari sini. Hanya butuh waktu sekitar 5 menit saja sudah sampai. Jadi kamu tidak perlu repot-repot mengantarku."

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak merasa di repotkan. Jadi ayo biar aku antar saja." Zico bangkit dari posisi duduknya tentunya tangannya masih setia di lengan Fanya.


Sedangkan Fanya, ia kembali menggeleng.


"Aku kan tadi sudah bilang Fanya, kalau aku tidak merasa di repotkan sama sekali olehmu. Jadi tidak perlu sungkan, jika aku mengantarmu."


Lagi dan lagi Fanya menggelengkan kepalanya. Tak hanya itu saja, perempuan itu saat ini sudah menangkupkan kedua telapak tangannya untuk memohon agar Zico tidak mengantarnya.


Zico yang melihat hal tersebut ditambah melihat tatapan penuh permohonan dari Fanya, ia menghela nafas. Tak mungkin ia tega memaksa keinginannya untuk mengantar Fanya, saat ia melihat tatapan mata Fanya. Tapi jika dirinya tak mengantar Fanya, ia takut perempuan itu akan kembali menghilang darinya. Karena jika dirinya mengantar Fanya sampai di rumah perempuan tersebut, setidaknya ia memiliki arah tujuan saat ingin mencari keberadaan Fanya.


"Aka, aku mohon."


Tiga kata itu terukir di buku note yang sudah berada di hadapan Zico.


"Baiklah. Aku tidak akan mengantarmu pulang. Tapi bolehkan aku meminta nomor teleponmu?" Ide brilian tiba-tiba muncul di otak cerdas Zico saat pikirannya penuh dengan kekhawatiran jika Fanya akan menghilang lagi darinya. Setidaknya jika ia memiliki nomor Fanya, ia bisa bertukar pesan kepadanya, melakukan sambungan telepon ataupun video call jika dirinya rindu. Tentunya dengan ia memiliki nomor ponsel Fanya akan semakin mempermudah niatnya mendekati Fanya.


Fanya cukup terkejut dengan permintaan Zico. Tapi mengingat waktu yang menunjukkan hampir jam setengah 12 siang, mau tak mau ia menuliskan deretan nomor ponselnya di kertas kemudian menyerahkannya kepada Zico.


Mata Zico berbinar menatap nomor ponsel milik Fanya itu, sampai-sampai ia tak menyadari jika Fanya sudah mulai berjalan menuju darinya.


"Aku nanti akan meng--- lho ehhh kok hilang," beo Zico ketika ia menegakkan kepalanya kembali dan tak mendapati Fanya di depannya.


Ia mengedarkan pandangannya tapi sayangnya ia sudah benar-benar tak bisa melihat keberadaan Fanya di taman itu, mengingat di taman yang rindang ini semakin siang semakin ramai pengunjungnya. Sehingga ia tak bisa menemukan keberadaan Fanya yang sudah berbaur dengan pengunjung lain. Alhasil Zico berdecak kesal.


"Ck, padahal aku belum puas bersamanya. Huh, tapi tidak apa-apa karena aku sudah mendapatkan nomor ponselnya, aku bisa sesuka hati menghubunginya nanti," ujar Zico dengan menatap kembali nomor telepon Fanya sebelum ia kecup kertas tersebut lalu kemudian ia melangkahkan kakinya dengan riang gembira, sampai-sampai ia sesekali meloncat-loncat kecil dalam langkahnya. Tak peduli dengan tatapan mata orang-orang yang menatapnya aneh. Bagaimana mereka semua tidak merasa aneh saat melihat seorang laki-laki dewasa yang memiliki postur tubuh besar, memakai pakaian formal tengah senyum-senyum sendiri dengan langkah kaki yang meloncat-loncat persis seperti anak kecil yang di belikan es krim oleh ibunya. Tingkahnya Zico itu sangat-sangat tak menggambarkan penampilannya saat ini.


...****************...


Hai semua yang sudah baca cerita ini. Menurut kalian cerita ini gimana sih? Gak bagus kah atau gimana? Kalau gak bagus, aku minta maaf ya. Karena aku juga masih belajar hehehe. Dan seperti biasa, disini tidak ada konflik yang bikin sakit kepala. Karena ingat, cerita ini aku ciptakan untuk hiburan kalian semua yang sudah penat karena urusan dunia. Kalau mau konflik berat, hmmmm mungkin akan aku bikin nanti 😂 Jadi tunggu saja. Kalau tidak mau menunggu ya baca ceritaku yang judulnya "The Triplek Story" tapi menurutku konfliknya gak berat juga sih. Tapi masih mending lah daripada ceritaku yang lain hahaha 😂 Udah ahhh curhatnya. Jangan lupa LIKE, VOTE, KOMEN, HADIAN dan SHARE ke teman-teman kalian ya. See you next eps bye 👋

__ADS_1


__ADS_2