
Selama perjalanan menuju ke rumah pribadinya, Fanya terus terdiam dengan tatapan yang selalu ia arahkan ke luar kaca mobil. Matanya memang saat ini menatap kearah bangunan di luar sana tapi tidak dengan pikirannya. Bohong jika dirinya tidak kepikiran tentang ucapan dari dokter Safitri tadi. Walaupun dokter kandungan itu sudah menjelaskan kenapa pemeriksaan bulanan dirinya di ajukan tapi entah kenapa di dalam hati kecil Fanya mengatakan jika perkataan dokter Safitri itu tidak benar. Pasti ada sesuatu yang terjadi yang sayangnya tidak ia ketahui.
"Nyonya. Kita telah sampai." Ucapan dari sang sopir pribadinya menyadarkan Fanya dari lamunannya. Ia pun menolehkan kepalanya kearah depan, tempat sopirnya berada sebelum matanya menatap kearah samping kanan dan kirinya yang memperlihatkan halaman rumahnya.
Fanya menghela nafas lega. Saking asiknya ia larut dalam pikirannya, sampai-sampai ia tak sadar telah sampai di kediamannya.
Fanya kembali menatap kearah sang sopir kemudian ia tersenyum sembari memberikan bahasa isyarat yang berkata, "Terimakasih."
Untung saja beberapa pekerja di rumah itu tau bahasa dasar dari bahasa Fanya jadi hanya sekedar terimakasih mereka tidak perlu bingung lagi. Dan sang sopir pun menganggukkan kepalanya tak lupa senyum pun ia perlihatkan.
Setelahnya Fanya barulah keluar dari dalam mobil tersebut. Langkah kakinya langsung menuntun dirinya menuju kearah kamar pribadinya. Sapaan dari beberapa maid tadi hanya ia acuhkan begitu saja di karenakan pikirannya kembali tertuju ke pembicaraan Dokter Safitri tadi. Hingga kini ia telah sampai di dalam kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya di kasur king size tanpa berganti pakaian terlebih dahulu.
Dengan menatap langit-langit dikamarnya, tangan Fanya bergerak mengelus perut buncitnya itu.
"Apakah memang seorang ibu hamil yang memiliki kandungan lemah harus melewati pemeriksaan lebih lanjut lagi saat usia kandungan memasuki 5 bulan, padahal sudah dinyatakan jika kondisi janin atau ibunya sehat dan tidak ada kendala sedikitpun? Apakah di setiap rumah sakit menerapkan hal yang sama? Kalau memang iya, kenapa aku merasa aneh dengan hal ini? Aku tau jika pemeriksaan yang di maksud oleh dokter Safitri memiliki tujuan yang sangat baik. Tapi entah kenapa aku berpikir lain. Pemeriksaan ini bukan merupakan pemeriksaan biasa saja melainkan memang ada sesuatu yang janggal dengan diriku atau mungkin dengan twins yang ada di dalam kandunganku," batin Fanya menebak-nebak apa yang sebenarnya tengah di sembunyikan oleh dokter Safitri.
Fanya tampak mengusap wajahnya dengan kasar. Dan bersamaan dengan hal itu, ia merasakan pergerakan di dalam perutnya membuat ia sedikit terkejut sehingga dirinya mengelus perut buncitnya itu.
Ia tersenyum kala merasakan pergerakan twins yang cukup aktif di usia 4 bulan ini walaupun pergerakan itu masih samar ia rasakan belum cukup kuat.
"Ada apa baby? Apa kalian setuju dengan perasaan Mommy tadi?"
Entah kenapa saat Fanya bertanya melalui suara hatinya, justru ia tak lagi merasakan tendangan itu kembali yang membuat Fanya mengetuknya keningnya.
__ADS_1
"Kenapa kalian berhenti? Apa jangan-jangan kalian tidak suka ya kalau Mommy berpikir negatif tentang dokter Safitri ataupun tentang kita?"
Seolah mengiyakan ucapan dari Fanya tadi, ibu hamil itu merasakan pergerakan itu kembali yang justru semakin membuat dirinya melebarkan senyumnya.
"Astaga, ternyata kalian tidak setuju ya sama pikiran Mommy tadi?"
Lagi dan lagi Fanya merasakan pergerakan sama itu hingga ia terkekeh geli.
"Baiklah-baiklah maafkan Mommy karena sempat berpikir yang tidak-tidak. Mommy sekarang percaya apa yang dikatakan dokter Safitri tadi benar adanya. Beliau hanya akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi mengenai kandungan Mommy yang lemah ini. Dan Mommy percaya jika kalian berdua baik-baik saja di dalam perut Mommy sampai kalian lahir di dunia ini. Mommy sangat-sangat sayang ke kalian berdua. Love you, my little baby twins."
Fanya membentuk pola love diatas perutnya setelah ia berbicara dari hatinya kepada sang calon buah hati. Dan lagi-lagi ia mendapatkan respon yang sama dari kedua calon anaknya itu.
Senyum bahagia pun tak pernah luntur dari bibir Fanya saat ini. Ia berjanji tak akan berpikir yang macam-macam lagi ataupun berpikir hal yang negatif terhadap apapun itu. Ia akan mencoba terus berpikir positif demi dua buah hatinya yang sepertinya tak suka jika dirinya selalu overthinking. Toh jika dia selalu berpikir negatif terus menerus justru akan mempengaruhi kondisi mentalnya ataupun kondisi fisiknya yang berakhir akan mempengaruhi perkembangan kedua calon buah hatinya itu. Fanya tak akan membiarkan hal itu terjadi. Bayi-bayi harus terus sehat hingga mereka melihat indahnya dunia ini.
Dengan memperlihatkan senyum lebarnya, Fanya mengangkat sambung video call tersebut.
📱 : "Assalamualaikum sayang," sapa Zico dengan senyum teduhnya.
"Waalaikumsalam. Apa meetingnya sudah selesai sampai-sampai kamu sudah telepon aku begini?" tanya Fanya pasalnya hanya selang 1 jam lebih sedikit dari Zico yang berpamitan kepadanya untuk melakukan meeting tapi lihatlah laki-laki itu sekarang yang tampak santai di ruang kerjanya.
📱 : "Belum. Meetingnya di jeda dulu karena waktu istirahat. Walaupun pembahasan meeting kali ini sangat penting tapi urusan istirahat nomor satu. Aku tidak akan merebut hak mereka," balas Zico yang diangguki oleh Fanya.
📱 : "Oh ya, bagaimana hasil pemeriksaan tadi? Semuanya baik-baik saja kan? Dan kamu tadi sudah janji kepadaku untuk memfotokan hasil USG bukan? Jadi jangan lupa untuk melakukannya. Aku tunggu ya."
__ADS_1
Fanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya sebelum membalas ucapan dari Zico tadi.
"Aku tidak akan lupa akan janjiku tadi. Nanti akan aku kirim fotonya. Dan untuk pemeriksaan tadi, semuanya baik-baik saja. Baby twins banyak perkembangannya."
📱 : "Syukurlah kalau memang ibu dan baby-nya baik-baik saja."
Fanya tampak menganggukkan kepalanya.
"Tentu dong harus bersyukur. Oh ya satu lagi yang ingin aku sampaikan ke kamu kalau sekarang baby twins sudah mulai banyak bergerak lho. Aku tadi merasakannya," kata Fanya bercerita sangat excited. Pasalnya Zico belum pernah merasakan pergerakan dari kedua calon buah hati mereka.
📱 : "Benarkah?" tanya Zico yang juga ikut excited mendengar kabar bahagia itu.
"Iya. Ya walaupun pergerakkannya masih samar sih tapi tetap saja sudah bisa di rasakan."
📱 : "Wahhh kalau begini ceritanya, aku sudah tidak sabar lagi untuk pulang. Bertemu dengan kalian sekaligus merasakan pergerakkan baby. Pasti sangat membahagiakan."
"Sangat, sangat bahagia saat merasakan pergerakan mereka. Tapi kamu boleh merasakan pergerakan mereka saat kamu sudah menyelesaikan urusan kamu disana. Jangan berniat macam-macam jika tidak mau ancamanku yang aku katakan 1 jam yang lalu benar-benar terjadi."
Wajah Zico berubah menjadi cemberut kala rencananya yang lagi-lagi ingin meninggalkan tanggungjawabnya di negara Singapura sudah terendus terlebih dahulu dari sang istri. Alhasil ia tak bisa berkutik karena lagi-lagi ancaman sang istri lah yang membuatnya harus dengan besar hati mengurungkan niatnya.
Fanya yang melihat wajah Zico tampak cemberut pun ia terkekeh geli. Andai saja suaminya itu saat ini berada di sampingnya, sudah pasti ia akan menguncir bibir manyun Zico itu.
Setelahnya kedua pasangan itu kembali melanjutkan obrolan mereka sekaligus melepas rindu walaupun belum bisa bertemu.
__ADS_1