My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 114


__ADS_3

Tepat di sore harinya barulah keluarga besar Abhivandya pulang dari kediaman keluarga kecil Zico, meninggalkan sepasang suami-istri yang mengantar kepergian mereka sampai di depan rumah.


Lambaian tangan pun keduanya berikan kala satu persatu mobil yang membawa lima perempuan tadi perlahan meninggalkan pekarangan rumah. Tatapan Fanya dan Zico pun tak lepas dari 5 mobil itu hingga kelima mobil tersebut hilang dari pandangan mereka.


"Huh, akhirnya mereka pulang juga," ucap Zico menghela nafas lega. Bukannya ia tak senang keluarganya berkunjung di kediamannya, dia justru sangat senang sekali tapi Zico hanya tak suka kala mereka merebut waktu Zico untuk berduaan dengan Fanya. Pasalnya ketika kelima perempuan tadi ada, Fanya tak dibiarkan dekat dengan Zico hingga tadi sempat terjadi cek cok antara kelima perempuan dan Zico sendiri hanya untuk memperebutkan Fanya seorang. Namun sayang, Zico yang tidak memiliki pasukan terlebih Fanya justru memihak kearah keluarganya membuat Zico mau tak mau harus mengalah walaupun tak ada rasa rela di dalam dirinya untuk menjauh dari Fanya. Sehingga seharian tadi, Zico uring-uringan sendiri. Bahkan pekerjaan kantornya ia abaikan begitu saja karena otaknya hanya di penuhi oleh satu nama yaitu Fanya. Jadi tak perlu heran kenapa Zico tampak lega setelah kepergian kelima perempuan tadi pasalnya waktu berduaan dengan sang istri tidak akan ada yang bisa mengganggu lagi.


Fanya yang mendengar ucapan dari sang suami, ia menolehkan kepalanya kearah Zico dengan gelengan di kepalanya.


"Senang banget kayaknya bapak satu ini," kata Fanya saat tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Zico.


"Oh tentu saja dong," balas Zico yang lagi-lagi mendapat gelengan kepala oleh Fanya.


"Baru kali ini aku lihat ada seseorang yang sangat senang keluarganya pergi. Dasar."


"Ya, gimana aku tidak senang sih sayang. Mereka tuh dari tadi menghalangi aku buat berduaan sama kamu tau. Padahal aku tuh tidak bisa sehari saja tidak bermanja-manja dengan kamu. Aku tuh rindu kamu selalu ngusap rambut aku ketika aku capek kerja. Tapi tadi saat otakku sudah mengepul karena pusing dengan pekerjaan, aku tidak mendapatkan usapan dari kamu. Dan itu semua gara-gara mereka tadi," ujar Zico dengan bibir yang mengerucut.


Fanya yang mendengar hal itu ia hanya terkekeh kecil dan tanpa membalas ucapan dari Zico, ia melangkahkan kakinya meninggalkan Zico yang melongo melihat kepergiannya.

__ADS_1


"Lah kok aku ditinggal sih?!" teriak Zico saat Fanya sudah menjauh darinya.


Fanya menghentikan langkah kakinya, kemudian dirinya menolehkan kepalanya. Dapat ia lihat wajah Zico yang sangat-sangat tak enak di pandang.


"Kamu mau aku manja kan?"


Seketika mata Zico berbinar dan dengan cepat ia menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kalau begitu ke kamar sekarang karena aku tidak mau memanjakan kamu di depan rumah. Malu, dilihatin para maid sama bodyguard kamu."


Zico mencoba melihat kearah sekelilingnya dan benar saja banyak pasangan mata entah dari para bodyguardnya ataupun para maid menatap kearah dirinya.


Setelah mengatakan ancamannya tadi, Zico bergegas mendekati Fanya yang ternyata masih berdiri di tempatnya semula. Dan tanpa aba-aba kala ia telah berada didekat sang istri, ia membopong tubuh Fanya ala bridal style.


Wajah terkejut bisa Zico lihat. Namun ketika Fanya ingin protes, ia lebih dulu berkata, "Tenang saja, sayang, mereka tidak akan berani melihat kearah kita. Jadi kamu tidak perlu malu lagi."


Fanya hanya bisa menghela nafas panjang, ia memilih pasrah saja dengan apa yang diinginkan oleh Zico. Ia tak melakukan protesan ataupun memberontak. Sampai akhirnya mereka sampai di dalam kamar.

__ADS_1


Perlahan Zico merebahkan tubuh Fanya di atas ranjang berukuran king size itu. Saat Fanya sudah nyaman dengan posisi rebahannya, Zico menatap lekat wajah istrinya yang semakin hari entah kenapa semakin cantik di matanya. Tangan Zico perlahan naik, membelai lembut pipi Fanya yang terlihat semakin berisi.


"Sayang, kamu capek tidak?" tanya Zico tiba-tiba yang membuat Fanya mengerutkan keningnya. Capek? Tentu saja Fanya tidak merasa hal itu pasalnya seharian ia tak melakukan apapun hanya melakukan pekerjaan ringan seperti membuatkan minuman untuk ketiga iparnya saja tidak lebih dari itu. Jadi sudah sangat jelas jika ia tak merasakan yang namanya lelah. Namun entah kenapa saat Zico bertanya seperti tadi, ingin sekali ia menjawab jika ia sangat lelah. Tatapan mata Zico yang membuat ia takut menjawab dengan jujur pertanyaan dari sang suami. Pasalnya tatapan mata itu sangat berbeda dengan tatapan mata Zico yang biasanya.


"Sayang, kamu capek tidak?" tanya ulang Zico.


Fanya mengerjabkan matanya dan dengan takut-takut ia menganggukkan kepalanya. Ayolah walaupun ia memiliki keinginan untuk berbohong, ia tak akan pernah bisa melakukan hal itu kepada suaminya sendiri.


Sesaat setelah ia menganggukkan kepalanya, ia bisa melihat seringai di bibir Zico yang membuat Fanya bergidik ngeri hanya sekedar melihatnya saja. Bahkan alarm bahaya di dalam tubuhnya telah berbunyi, menginstruksi agar ia segara pergi dari hadapan sang suami. Tapi sayang seribu sayang, kala Fanya ingin beranjak dari posisi rebahannya, tubuh Zico tiba-tiba sudah berada di atas tubuhnya, mengukung tubuh Fanya dengan kedua tangan kekar Zico yang diletakkan di samping tubuh Fanya.


"Mau kenapa sih sayang? Bukannya kamu tadi mau memanjakan aku? Aku saat ini tengah menagih apa yang kamu katakan tadi lho sayang." Sumpah demi apapun suara Zico yang terdengar sangat berat itu membuat Fanya kesusahan hanya untuk sekedar menelan salivanya sendiri.


"Iya, aku memang akan memanjakanmu tapi tidak dengan kamu yang berada di atasku seperti ini. Jadi perbaikan posisi kamu terlebih dahulu. Kamu tidur di sampingku, aku akan mengusap kepalamu." Fanya pikir Zico menginginkan usapan lembut yang sering ia berikan. Namun nyatanya salah karena Zico menginginkan hal lain.


"Aku sudah tidak menginginkan usapanmu lagi untuk saat ini. Tapi aku menginginkan hal yang lebih. Aku ingin juniorku bertemu dengan baby twins." Fanya bukan perempuan yang polos sehingga ia tak tau maksud dari ucapan Zico tadi. Ia sangat tau betul maksud dari ucapan Zico itu jika suaminya menginginkan mereka berhubungan badan.


Fanya tampak menimang-nimang apakah ia akan mengizinkan Zico melakukan keinginannya atau justru menolaknya? Tapi diingat-ingat kembali, mereka berdua tidak melakukan hal itu selama dua bulan ini, setelah mereka tau jika Fanya tengah mengandung. Fanya sangat yakin selama itu Zico pasti mati-matian menahan hasratnya. Fanya jadi tidak tega jika ia harus membiarkan Zico kembali menahan hasratnya itu. Toh dokter juga tidak melarang mereka berhubungan karena kandungan Fanya sudah tidak lemah lagi. Jadi dengan banyaknya pertimbangan serta ia tak ingin mengecewakan Zico kembali. Akhirnya ia menganggukkan kepalanya, memberikan izin untuk sang suami memulai permainan panas ini.

__ADS_1


Tentunya izin dari Fanya membuat Zico tersenyum lebar. Kemudian ia beralih menatap kearah perut Fanya, mengusap perut itu sembari berkata, "Sebentar lagi, junior Daddy akan mengunjungi kalian. Sehat-sehat ya. Love you."


Zico memberikan kecupan di perut buncit istrinya itu sebelum ia menerjang bibir sang istri dengan ciuman panasnya.


__ADS_2