
Dua bulan telah berlalu sejak Fanya dinyatakan hamil, semua orang yang ada di kediaman keluarga Abhivandya sangat posesif terhadap diri wanita hamil itu. Dia tidak diperbolehkan melakukan apapun bahkan membantu Mommy Della memasak saja tidak diizinkan. Terkadang Fanya cukup kesal dengan ke posesifan semua orang terlebih suaminya yang hanya memperbolehkan dia terus beristirahat atau hanya sekedar jalan-jalan kecil saja. Tapi setelah ia pikir-pikir lagi, apa yang dilakukan oleh semua orang itu memang hal yang biasa terlebih satu bulan yang lalu saat ia memeriksakan kandungannya, ternyata dokter menyatakan jika kandungannya itu lemah dan rawan akan keguguran. Jadi ia diharuskan untuk benar-benar menjaga kandungannya.
Fanya menyingkap baju yang ia kenakan ketika ia berdiri di depan cermin yang berada di kamarnya. Ia tersenyum kala melihat perutnya yang sudah membuncit. Ia elus perut buncit itu dengan penuh kehati-hatian, takut-takut ketika ia terlalu excited mengelus perutnya bisa membahayakan calon anaknya.
"Baik-baik di dalam sini ya sayang. Mommy sangat mencintaimu," batin Fanya sebelum ia menutup kembali baju yang tengah ia kenakan.
Dengan senyum yang masih mengembang, Fanya berjalan meninggalkan kamar yang sudah sepi karena sang suami sudah berangkat ke kantor satu jam yang lalu.
Masih penuh dengan kehati-hatian, Fanya melangkahkan kakinya masuk kedalam lift di rumah tersebut. Hingga akhirnya ia sampai di lantai pertama. Terlihat di lantai itu tampak sepi, hanya ada beberapa maid yang masih menjalankan tugasnya. Sedangkan para anggota keluarga Abhivandya yang lain sudah kembali menjalankan aktivitas mereka masing-masing, tak terkecuali Mommy Della yang tadi menyempatkan dirinya berpamitan dengan Fanya, wanita paruh baya itu mengatakan jika dia akan ke supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan pribadi miliknya. Bahkan wanita paruh baya itu tadi sempat mengajak Fanya ikut bersamanya dengan syarat harus memakai kursi roda, namun sayangnya Fanya menolak ajakan Mommy Della. Alhasil dirinya sekarang hanya sendirian di rumah.
__ADS_1
Fanya kini berjalan menuju ke taman belakang. Ia butuh udara segar untuk menenangkan dirinya.
Sesampainya dirinya di taman belakang, matanya terbuka lebar kala melihat banyaknya bunga mawar yang bermekaran.
"Astaga, cantik sekali. Padahal baru 2 minggu aku tidak kesini. Dan terakhir aku kesini, tidak ada satupun bunga yang mekar. Sangat jauh berbeda dengan sekarang. Bunga-bunga ini seolah-olah tengah menyambut kedatanganku. Menginginkan aku untuk memetiknya," batin Fanya. Tangannya sudah gatal, ingin memetik semua bunga yang ada di taman itu lalu ia rangkai menjadi buket bunga yang sangat indah kemudian akan ia berikan kepada suaminya tercinta.
Dengan riang, Fanya mengambil keranjang kecil yang tersedia tak jauh dari taman tersebut tak lupa ia juga mengambil gunting yang memang sudah disiapkan disana, mungkin semua itu dipersiapkan oleh maid agar mempermudah Mommy Della memanen bunga-bunga segar di taman tersebut.
Fanya mulai melangkahkan kakinya, memasuki area taman bunga itu. Satu persatu bunga itu berhasil ia petik dan ia taruh di keranjang bunga.
__ADS_1
Perasaan bahagia pun membuncah dihati Fanya, hingga tiba-tiba senyum di bibirnya perlahan memudar kala ia melihat seekor ular berada di depan kakinya. Jantung Fanya memicu begitu kencang, ingin sekali ia meminta bantuan tapi sayangnya di sekitar taman itu tak ada siapapun selain dirinya seorang. Ular yang Fanya tau kalau ular itu ular kobra perlahan mendekati kakinya sehingga Fanya perlahan memundurkan kakinya. Hingga kala ular kobra tersebut menegakkan kepalanya, Fanya dengan refleks memundurkan kakinya dengan cepat hingga ia tak tau jika di belakangnya terdapat undukan tanah yang berhasil membuat dirinya terjatuh bersama dengan keranjang bunga dan gunting yang tadi berada di kedua tangannya sudah tergeletak begitu saja diatas tanah hingga membuat bunga-bunga yang ia petik tadi berhamburan diatas tanah tersebut. Ringisan di bibirnya terdengar lirih dengan kedua tangan yang saat ini berada di perutnya. Ia mencengkram kuat baju yang ia kenakan sebagai pelampiasan rasa sakit yang tengah ia rasakan di area perutnya. Namun sekali-kali Fanya menatap kearah ular yang perlahan menjauh darinya saat salah satu tangan Fanya meraih keranjan bunga tadi lalu ia ayun-ayunkan kearah ular tadi untuk menghalau ular itu semakin mendekati dirinya. Dan saat Fanya merasa jika ular tersebut benar-benar sudah menjauh darinya, ia kembali memegangi perutnya. Bulir-bulir keringat pun kini mulai membasahi tubuhnya saat rasa sakit semakin menjadi ia rasakan. Hingga membuat Fanya menitihkan air matanya. Sumpah demi apapun, dirinya baru merasakan rasa sakit yang luar biasa seperti saat ini. Fanya ingin berteriak meminta bantuan kesiapan namun itu tidak mungkin karena keterbatasan yang ia miliki. Dan satu-satunya cara agar ada seseorang yang melihatnya lalu memberikan pertolongan kepadanya hanya satu yaitu dengan ia berjalan keluar dari area taman ini.
Fanya berusaha keras berdiri, tapi sayang tubuhnya terlalu lemas hingga berkali-kali ia mencoba, berkali-kali pula ia gagal. Tangis Fanya semakin menjadi kala ia merasakan sebuah cairan yang keluar dari area sensitifnya dibawah. Ia yakin cairan itu bukan air kencing ataupun keputihan, melainkan sesuatu yang tak ia inginkan yaitu darah. Dan benar saja saat ia memegang bagian belakang celananya, ia merasakan basah dan ketika ia melihat tangannya, ia lihat disana terdapat bercak darah yang berhasil membuat jantung Fanya hampir berhati berdetak rasanya.
"Ya Allah. Kenapa keluar darah. Hamba mohon ya Allah kuatkan lah janin yang ada di dalam rahim hamba. Jangan biarkan janin hamba kenapa-napa ya Allah. Hamba mohon." Fanya saat ini tak bisa berbuat apa-apa selain berdoa untuk kebaikan sang buah hati yang ada di dalam rahimnya.
"Nak, Mommy mohon bertahanlah," sambung Fanya. Berharap calon anaknya mendengarkan apa yang barusan ia katakan di dalam hatinya dan calon anaknya itu akan menuruti apa yang ia katakan.
Kaki Fanya yang terasa seperti jeli tak memungkinkan untuk Fanya berdiri sehingga ia berusaha keluar dari dalam taman bunga itu, tapi hal tersebut tak membuat Fanya menyerah. Ia keluar dari taman bunga tersebut dengan cara merangkak sedikit demi sedikit hingga ia berhasil keluar dari dalam taman bunga tersebut. Namun Fanya masih merangkak menuju ke pintu belakang, ia tak peduli kedua telapak tangannya serta lututnya terluka. Karena kepeduliannya saat ini tertuju penuh kepada calon anaknya. Demi apapun Fanya menyesali apa yang sudah ia lakukan tadi. Ia menyesal kenapa ia harus banyak bergerak, ia menyesal kenapa ia menuruti keinginan otaknya yang memiliki ide yang sebenarnya cukup bagus sampai ia melupakan keadaan buah hatinya yang berada di dalam rahimnya. Harusnya ia tetap berada di dalam kamar, beristirahat penuh untuk kebaikan dirinya serta calon buah hatinya. Namun sayang, nasi sudah menjadi bubur. Ia tak bisa mencegah apa yang tengah terjadi saat ini. Dan ia hanya bisa berdoa untuk kebaikan calon buah hatinya. Dan jika buah hatinya terjadi sesuatu nanti, Fanya tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
__ADS_1