
Keterdiaman Zico membuat Fanya yakin jika sang suami saat ini memang tengah memiliki masalah.
Fanya kembali menepuk lengan Zico hingga berhasil menyadarkan Zico dari lamunannya.
"Kenapa diam saja? Ayo katakan, kamu punya masalah apa? Bukannya kamu dulu melarangku untuk menyembunyikan sesuatu entah itu masalah seberat apapun? Tapi kenapa kamu malah yang melakukannya?"
"Sayang bukan begitu," balas Zico karena memang ia tak berniat untuk menyembunyikan masalah yang tengah ia hadapi ini kepada Fanya karena ia juga butuh keputusan dari Fanya yang memang mau di tinggal atau tidak. Dan Zico berharap jika Fanya tidak ingin di tinggal.
"Bukan begitu gimana? Orang kamu saja tidak mau cerita kok."
Zico tampak menghela nafas panjang, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
"Baiklah-baiklah aku akan cerita semuanya kepadamu." Seulas senyum terbit di bibir Fanya, perempuan itu juga kini merubah posisi duduknya menjadi lebih nyaman lagi dan ia juga sudah siap mendengar semua cerita dari Zico.
Zico tampak mengambil nafas dalam-dalam sebelum ia mulai angkat suara kembali.
"Jadi begini, aku tadi pagi baru dapat telepon dari Zikri, tangan kanan aku yang selama ini memantau perkembangan perusahaanku yang ada di Singapura, bisa dibilang dia menggantikanku sebagai pemegang kendali di perusahaan itu. Nah tadi pagi dia mengabarkan jika ada masalah yang cukup besar yang tengah terjadi di perusahaanku disana, dimana ada seorang oknum yang mencuri data pribadi perusahaan. Dan masalah itu tidak bisa di kendalikan oleh orang-orang disana termasuk tangan kananku sendiri karena harus ada pemilik asli perusahaan itu yang tidak lain adalah aku sendiri untuk membantu memecahkan masalah disana karena walaupun Zikri pengendali perusahaanku yang ada di negara itu, tapi pengendali terbesar tetap di tanganku," jelas Zico dengan sangat jujur tak ada yang ia tutup-tutupi dari perkataannya tadi.
__ADS_1
"Jadi?"
Zico kembali menghela nafas.
"Seperti yang aku jelaskan tadi, jika aku adalah pengendali terbesar sekaligus masalah ini memang memerlukan bantuan dariku, aku mungkin akan terbang kesana," ucap Zico tak rela. Tatapan matanya pun tak lepas dari wajah Fanya, menunggu reaksi apa yang akan di berikan oleh istrinya itu. Ia berharap Fanya memberikan ekspresi kecewa, namun nyatanya Fanya justru mengangguk-anggukkan kepalanya yang membuat Zico mengerutkan keningnya.
"Kapan kamu akan terbang kesana?"
Pertanyaan dari Fanya tadi membuat Zico melongo tak percaya. Apa-apaan ini? Kenapa dengan entengnya istrinya itu malah bertanya mengenai keberangkatannya yang sudah di pastikan jika Fanya mensetujui dirinya pergi? Ayolah bukan ini yang diinginkan Zico. Walaupun sempat bimbang dan galau, hati Zico lebih berat untuk meninggalkan Fanya sendirian.
"Apa? Kamu tanya apa tadi?" ucap Zico untuk memastikan apa yang baru saja ia lihat tadi.
Zico tampak menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Sayang, kamu sadar kan apa yang kamu tanyakan tadi?" Fanya tampak mengerutkan keningnya sebelum ia menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku sadar sepenuhnya. Memangnya kenapa sih? Kok kelihatannya kamu malah tidak suka saat aku tanya tentang keberangkatanmu?"
__ADS_1
Zico mencebikkan bibirnya.
"Ya gimana aku mau senang kalau kamu malah mengizinkanku pergi sedangkan hatiku saja menolak untuk meninggalkan kamu sendirian disini sayang. Sungguh aku tidak rela jika harus berjauhan dengan kamu," ucap Zico memelas berharap Fanya merubah pikirannya.
Fanya hanya tersenyum saat mendengar ucapan dari suaminya itu.
"Sayang, kalau kamu tetap disini, bagaimana dengan nasib perusahaan kamu yang ada di Singapura? Memangnya kamu yakin jika mereka semua akan berhasil menghandle masalah yang tengah terjadi di perusahaanmu itu? Padahal kamu tadi bilang kalau mereka butuh bantuan kamu. Jadi untuk apa aku melarang kamu pergi kesana membantu mereka? Apa karena aku takut sendirian di negara ini? Ayolah sayang, istrimu ini bukanlah perempuan penakut. Lagian disini kan aku di temani sama beberapa maid dan ada bodyguard kamu yang super banyak itu. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkanku karena aku sudah banyak yang menjaga disini. Dan ingat sayang, jika kamu tetap memutuskan untuk menemaniku disini alias kamu tidak mau pergi membantu mereka semua yang tengah kesusahan mengahadapi masalah yang ada perusahaan kamu akan gulung tikar nantinya."
"Aku tidak peduli jika memang perusahaanku akan gulung tikar nantinya," balas Zico yang menganggap jika kehilangan satu perusahaan saja tidak masalah baginya dan tidak ada bandingannya jika saat ia meninggalkan Fanya, justru Fanya terluka. Demi apapun Fanya lebih berharga daripada harta, benda atau bahkan nyawanya sendiri.
Sedangkan Fanya yang mendengar jawaban super santai yang keluar dari bibir Zico menghela nafas lelah.
"Kamu mungkin memang tidak masalah jika harus kehilangan perusahaan kamu mengingat masih banyak perusahaan kamu yang lainnya karena kamu akan tetap mendapatkan penghasilan dari perusahaan kamu yang lainnya yang tersebar dimana-mana itu. Tapi apa kamu tidak berpikir dengan nasib para karyawan kamu yang ada di perusahaan Singapura itu? Jika perusahaanmu itu mengalami kebangkrutan yang artinya perusahaan itu akan tutup maka para karyawan kamu itu akan kehilangan pekerjaan mereka, akan kehilangan sumber pencarian mereka. Sayang, mungkin karyawan kamu memang ada yang terlahir dari keluarga yang kaya tapi aku yakin ada satu atau dua orang atau mungkin lebih dari itu yang lahir dari keluarga sederhana sama sepertiku yang mengandalkan uang gajian mereka yang mereka dapatkan dari perusahaan kamu untuk biaya hidupnya, biaya hidup orangtuanya mereka atau bahkan ada yang dibuat untuk biaya sekolah adik-adiknya dan masih banyak lagi. Dan jika mereka benar-benar kehilangan pekerjaan mereka, mereka harus memenuhi kebutuhan mereka darimana? Di jaman sekarang sudah lho cari pekerjaan karena aku sendiri pernah merasakannya. Jadi demi kepentingan bersama sayang. Aku tidak melarang kamu untuk pergi mengurus masalah yang tengah terjadi di perusahaan kamu yang ada di Singapura. Pergilah, tolong semua karyawan kamu untuk tetap mendapatkan pekerjaannya di dalam perusahaan yang sudah kamu bangun dengan susah payah. Dan tolong percaya denganku, jika selama kamu pergi aku bisa menjaga diriku sendiri dan juga twins."
Mata Zico tampak berkaca-kaca, entah terbuat dari apa hati Fanya ini. Disaat Fanya membutuhkan suaminya sendiri selalu berada disampingnya karena kandungannya yang semakin membesar yang tentunya mempersulit pergerakannya dan selalu membutuhkan bantuan orang lain, justru di dalam harinya masih memikirkan orang lain.
Zico kini merengkuh tubuh Fanya, ia peluk tubuh Fanya dengan erat walaupun terhalang oleh perut buncit sang istri. Tangisnya pun pecah saat itu juga. Dan Fanya tau akan hal itu karena bahunya yang terasa basah dan juga tubuh Zico yang tampak bergetar.
__ADS_1
"Berjanjilah kepadaku jika kamu tidak akan terluka dan berjanjilah jika kamu akan menjaga diri kamu dan twins sampai aku kembali nanti," ucap Zico dengan suara yang terdengar bergetar.
Fanya yang mendengar itu pun ia menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan Zico tadi tanpa menghentikan elusan di punggung sang suami.