
Zico memijit pangkal hidungnya, terhitung sudah satu hari setelah kejadian di restoran kemarin, Fanya langsung memblokir seluruh sosial media milik Zico tak hanya itu saja melainkan nomor ponsel milik laki-laki itu juga turut terkena imbasnya. Mungkin sudah terhitung 50 kali ia mengganti nomor ponselnya dengan nomor ponsel baru. Tapi tetap saja Fanya langsung memblokirnya padahal ia baru mengirimkan sebuah pesan kepada perempuan pujaan hatinya dengan nomor ponselnya itu. Ingin sekali Zico pergi ke tempat panti asuhan yang terakhir kali ia melihat Fanya berada disana. Tapi ia takut saat dirinya datang untuk menemui Fanya, perempuan itu akan semakin marah dengannya yang tentunya akan membuat Zico sulit mendekatinya nanti. Dan sialnya lagi para anak buahnya dari kemarin tidak memberikan kabar apapun tentang Fanya. Alhasil Zico dibuat pusing memikirkan cara apalagi yang harus ia lakukan untuk menghubungi Fanya. Ia juga sempat berpikir apa dirinya sudah tidak memiliki kesempatan lagi untuk mendekati Fanya karena perempuan itu benar-benar menjauh darinya?
Zico menggelengkan kepalanya, "Tidak. Fanya hanya sedang tidak mau diganggu saja. Dia masih ingin sendiri bukan karena dia mau menjauh dariku. Ya dia hanya butuh waktu sendiri."
Saat hatinya sudah mulai goyah, Zico selalu meyakinkannya lagi jika dirinya bisa mendapatkan Fanya.
Saat Zico tengah bergelut dengan perasaannya sendiri, disisi lain terlihat Fanya turun dari lantai dua sebuah panti asuhan yang selama ini ia tempati dengan balutan kemeja putih dan celana panjang berwarna hitam jangan lupakan sepatu yang senada dengan warna celananya. Tas berukuran kecil terselempang di bahunya. Dan jangan lupakan di tangan kanannya saat ini membawa sebuah map berwarna coklat.
Saat ia sudah berada di lantai bawah, ia langsung mencari keberadaan ibu Suci yang kebetulan tengah berada di ruang tamu bersama anak-anak lainnya.
Kedatangan Fanya mengalihkan seluruh pandang orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Fanya, apa kamu yakin ingin melamar pekerjaan lagi, nak?" tanya ibu Suci kala Fanya sudah berdiri di depannya. Ia sudah tau masalah Fanya kemarin. Tentunya dengan Fanya yang cerita kepadanya. Ia sempat marah dengan orang-orang yang dengan beraninya mencemooh Fanya. Ingin sekali ibu Suci merobek mulut sampah mereka jikalau mereka berada di hadapannya.
Fanya yang ditanya pun ia menganggukkan kepalanya dengan mantap. Walaupun ia tau mencari pekerjaan dengan keterbatasan yang ia punya juga dirinya yang hanya lulusan SMA sangat sulit untuk mendapatkannya. Tapi Fanya yakin Tuhan akan membantunya.
Ibu Suci menghela nafas panjang sebelum ia berdiri lalu kedua tangannya ia letakkan di kedua bahu Fanya.
"Nak, ibu sudah mengatakan berkali-kali dengan kamu, kalau kamu lebih baik tidak usah bekerja lagi. Kamu cukup bantu ibu mengontrol adik-adik kamu saja. Ibu juga masih bisa membiayai kebutuhan kamu, nak. Jadi kamu jangan cari pekerjaan baru ya."
__ADS_1
Fanya yang mendengar perkataan dari ibu Suci, ia meraih kedua tangan wanita paruh baya yang berada di kedua bahunya tadi, kemudian ia genggam tangan yang sudah berkeriput itu dengan sangat lembut. Sebuah senyuman kini Fanya perlihatkan sebelum ia melepaskan genggaman tangannya tadi lalu menggerakkan tangannya membuat sebuah isyarat yang berkata, "Ibu, Fanya tidak apa-apa kok kalau Fanya bekerja di luar panti. Fanya justru sangat senang karena dengan Fanya bekerja di luar, Fanya bisa mendapatkan teman baru serta pengalaman baru. Fanya juga tidak bisa selalu merepotkan ibu. Fanya ingin belajar mandiri ibu. Jadi Fanya mohon restui Fanya untuk bekerja dan doakan agar Fanya segara mendapatkan pekerjaan yang lebih bagus dari sebelumnya."
"Tapi nak---" Belum sempat ibu Suci menyelesaikan ucapannya kedua tangannya kembali digenggam oleh Fanya yang otomatis membuat ibu Suci menatap wajahnya. Wajah yang saat ini tengah menampilkan ekspresi memohon.
Ibu Suci menghela nafas panjang. Kalau sudah seperti ini, ia tidak bisa menolak keinginan Fanya lagi. Walaupun didalam lubuk hatinya ia tak rela Fanya bekerja, takut jika ada orang yang menyakiti Fanya seperti kemarin.
Sebuah kertas kini berada dihadapan ibu Suci, menyadarkan wanita paruh baya itu dari keterbengongannya tadi. Entah sejak kapan Fanya menulis sebuah kalimat yang diberikan kepadanya yang pastinya ibu Suci tidak merasakan ataupun tau pergerakan Fanya.
"Ibu, Fanya mohon."
Tulisan itu lagi-lagi membuat ibu Suci menghela nafas sebelum ia menganggukkan kepalanya.
Senyum lebar terbit di bibir Fanya dan dengan memberikan isyarat berterimakasih, Fanya mencium pipi ibu Suci. Lalu setelahnya ia segara menjauh dari ruang tamu itu setelah dirinya mencium punggung tangan ibu Suci dengan melambaikan tangannya.
Dengan langkah riang Fanya kini keluar dari halaman panti. Tanpa ia ketahui jika ia tengah diawasi oleh 10 pasang mata yang kini menatap kearahnya.
Salah satu dari 10 orang itu segara mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang bos.
Disisi lain Zico yang tengah bersandar di sandaran kursi sofa dengan mata terpejam, kini mata itu ia buka lebar kala mendengar suara dering ponselnya. Dengan cepat Zico meraih ponselnya itu, ia kira yang tengah menghubunginya saat ini adalah Fanya tak taunya malah anak buahnya. Tapi tetap saja Zico mengangkat sambungan telepon tersebut walaupun ia sedikit merasakan kecewa.
__ADS_1
"To the point!" ucap Zico tanpa mau mendengar anak buahnya mengucapakan kata basa-basi kepadanya.
📞 : "Nona Fanya baru saja keluar dari panti asuhan kasih bunda tuan sejak semalam yang artinya nona Fanya tidur di panti asuhan. Dan kemungkinan besar nona Fanya tinggal panti ini."
Zico terdiam sesaat karena apa yang dikatakan oleh anak buahnya itu sama dengan apa yang berada di benaknya kemarin jika Fanya memang tinggal di panti asuhan.
📞 : "Dan tuan, saya meminta maaf atas keterlambatan saya untuk memberikan informasi tentang Nona Fanya karena semalam ponsel saya mati," sambung anak buah Zico yang merasa tak enak hati karena sudah membuat Zico menunggu informasi darinya semalam.
Zico hanya mendengus untuk menimpali ucapan dari anak buahnya tadi. Tapi beberapa saat setelahnya ia kembali berucap.
"Kamu ikuti kemana perginya Fanya. Pastikan jika dia selalu baik-baik saja. Jika sampai dia terluka sedikitpun, nyawa kalian akan lenyap di tangan saya. Kerjakan perintah saya ini segara dan saya tunggu informasi dari kamu tanpa saya mau mendengar alasan ponsel kamu mati lagi! Segara bergeraklah!" perintah Zico sebelum dirinya menutup sambungan telepon secara sepihak. Lalu setelahnya ia berdiri dari posisi duduknya, meraih jaket Hoodienya kemudian ia bergegas keluar dari apartemen yang tengah ia tempati.
Zico melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang dan hanya membutuhkan waktu 10 menit saja ia sudah sampai di tempat yang ia tuju. Tanpa ada rasa ragu sedikitpun, ia turun dari mobil dan dengan langkah tegap nan mempesona ia mulai mendekati sebuah gerbang besi. Ia menatap kearah dalam halaman yang terdapat beberapa anak kecil bermain disana lewat celah gerbang tersebut yang cukup besar. Tak lama setelahnya, tangannya bergerak menekan bel yang tertera di sebelah gerbang tersebut.
Zico terus menekan bel tersebut sampai yang ketiga kalinya pintu gerbang terbuka menampilkan seorang gadis yang mungkin usainya terpaut satu tahun dengan Fanya kini menatap dirinya dari bawah sampai atas sebelum ia menyipitkan matanya.
"Siapa ya?" tanya gadis tersebut yang tak mengenali laki-laki yang tengah berdiri didepannya saat ini.
"Saya Zico. Bolehkah saya bertemu dengan pengurus, hmmm lebih tepatnya pendiri atau pemilik panti ini. Ada satu urusan yang perlu saya bicarakan dengan beliau," ujar Zico.
__ADS_1
"Oh anda memiliki urusan dengan ibu Suci ya?" Zico yang tak tau siapa itu ibu Suci, ia hanya menganggukkan kepalanya berharap jika nama yang gadis itu sebutkan memang nama pemilik panti asuhan tersebut.
"Kalau begitu masuk. Saya akan antar anda." Gadis itu membuka pintu gerbang tersebut sedikit lebar agar Zico bisa masuk kedalam. Tentu saja kedatangan Zico membuat atensi semua orang teralihkan kepadanya dengan tatapan penuh tanya di setiap mata yang memandangnya. Tapi Zico tak peduli dengan tatapan mereka, ia justru saat ini berjalan mengikuti arah perginya gadis tadi.