
Tak terasa acara pertunangan telah berakhir tepat di pukul 12 malam. Dua keluarga itu tak ada yang pulang dari hotel tempat diadakan pesta tadi, mereka semua menginap di hotel tentunya tanpa mengeluarkan biaya sepeserpun karena hotel itu masih milik salah satu keluarga besar Abhivandya.
Sepasang kekasih yang baru saja menggelar pesta itu, bukannya langsung mengistirahatkan tubuh mereka setelah berkeliling menyapa atau sekedar mengucapakan kata terimakasih kepada tamu undangan, mereka justru berjalan berdua menuju ke taman yang berada tepat di belakang gedung hotel padahal waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
"Aku kan tadi sudah bilang, pakai jaket yang sudah aku belikan," ujar Zico sembari melepas jaket yang ia kenakan. Lalu setelahnya ia memakaikan jaketnya tadi ke tubuh Fanya.
Fanya yang sedari tadi mendengar omelan dari Zico, ia memberengut kesal. Ia kira tadi suhu di luar gedung tak sedingin sekarang ini, jadi ia tak memakai jaket yang calon suaminya belikan.
"Kedinginan kan kamu sekarang. Ngeyel sih kalau di bilangin." Cukup sudah telinga Fanya panas mendengar omelan itu, sehingga dirinya kini menghentikan langkah kakinya lalu ia memutar tubuhnya menjadi menghadap kearah Zico. Dan dengan rasa kesal, ia menempelkan jari telunjuknya didepan bibirnya dengan bibir yang ia maju beberapa senti kedepan, kode agar Zico menutup mulutnya.
Zico yang melihat itu pun ia tak kuat lagi menahan kegemasan dari sang kekasih.
"Kenapa kamu sangat menggemaskan. Jangan begitu lagi, kalau kamu kembali buat aku gemas, aku tidak menjamin kalau kamu akan kembali dengan keadaan selamat," ucap Zico diakhiri dengan ia mencubit pelan pipi Fanya.
Fanya kini memelototkan matanya, bukan karena ia terkejut akan cubitan yang diberikan oleh Zico tadi melainkan ia terkejut akan ucapan dari calon suaminya. Jika dia berhasil buat Zico merasa gemas maka laki-laki itu tidak menjamin keselamatannya? Maksudnya dia akan di bunuh begitu sama calon suaminya sendiri? Oh astaga, Fanya sudah tidak bisa berpikir positif tentang perkataan ambigu dari Zico tadi.
Entah Zico yang menyadari pikiran Fanya yang sudah kemana-mana itu, ia menyentil kening Fanya yang membuat perempuan itu meringis kesakitan sembari mengusap lembut keningnya.
__ADS_1
"Pikiran kamu jangan ke hal yang negatif. Aku tidak akan menyakiti kamu, contohnya membunuh kamu. Tidak, aku tidak setega itu," ujar Zico menyangkal pikiran negatif Fanya.
"Kalau memang kamu tidak mau membunuhku, lalu apa maksud dari ucapanmu yang tidak akan menjamin keselamatanku?" balas Fanya dengan bahasa isyarat diakhiri dengan ia berkacak pinggang.
Zico yang memang semakin lancar berbahasa isyarat pun ia sudah tak kesulitan lagi jika Fanya mengeluarkan bahasa isyaratnya.
"Jadi begini, aku memang tidak akan membunuhmu tapi aku akan memakanmu," ujar Zico yang kembali mendapat pelototan mata dari Fanya.
"Sama aja aku mati kalau begitu. Kamu gimana sih?!"
Fanya menghentak-hentakkan kakinya sebelum ia melangkahkan kakinya, meninggalkan Zico yang tengah terkekeh dibelakang. Laki-laki itu cukup puas membuat Fanya kesal kepadanya, karena jika Fanya tengah kesal maka sisi imut dari perempuan itu akan dia perlihatkan dan Zico sangat menyukainya.
Zico memusatkan pandangannya kearah Fanya yang justru membuang wajahnya. Dan lagi-lagi hal itu membuat Zico terkekeh kecil sebelum ia melingkarkan kedua tangannya di tubuh Fanya, memeluk tubuh kecil kekasihnya itu dari samping.
Fanya sempat ingin memberontak tapi saat ia mendengar perkataan dari Zico, ia mengurungkan niatnya.
"Aku hanya bercanda sayang. Aku tidak akan membunuh ataupun memakanmu. Ya kali aku melakukan hal itu karena kalau aku melakukannya artinya aku akan kehilangan kamu selamanya. Aku tidak mau kehilangan kamu, sayang. Apalagi setelah perjuanganku selama 5 tahun untuk menemukanmu dan aku justru malam mau menghilangkan kamu, yang benar saja. Dan jika hal itu terjadi maka aku akan terus menyalahkan diriku sendiri. Aku benar-benar sayang dengan kamu, Fanya. Aku tidak mau kehilanganmu. Jadi tetaplah di sampingku selamanya," ucap Zico panjang lebar.
__ADS_1
Fanya kini menolehkan kepalanya kearah Zico sehingga tatapan keduanya bertemu.
"Jadi apakah kamu mau berjanji untuk tidak meninggalkanku, apapun yang terjadi di masa depan, sayang?" Fanya terdiam sesaat sebelum ia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya kemudian membalas pelukan Zico. Apa yang dilakukan oleh Fanya tadi merupakan balasan atas permintaan dari Zico tadi. Toh dirinya juga tidak memiliki niatan untuk meninggalkan Zico, entah apapun keadaan mereka nantinya. Ia akan selalu setia menemani Zico disamping laki-laki itu hingga mereka menua.
Zico yang mendapat balasan dari Fanya, ia tersenyum sangat lebar. Entah kenapa rasanya begitu melegakan saat Fanya berjanji kepadanya untuk selalu bersamanya. Cukup lama mereka saling berpelukan di bawah sinar rembulan malam, sampai Fanya melepaskan pelukannya terlebih dahulu yang membuat Zico melakukan hal yang sama. Namun perempuan itu kini merubah posisinya, ia menyenderkan kepalanya di bahu Zico sedangkan Zico, ia melingkarkan salah satu tangannya di pinggang sang kekasih dan satu tangan yang lainnya ia gunakan untuk menggenggam erat tangan Fanya.
Beberapa saat terjadi keheningan diantara mereka berdua, hingga suara Zico kembali terdengar dan memecahkan keheningan yang sempat melanda tadi.
"Sayang, aku ingin bicara sesuatu yang mungkin belum kamu ketahui dan ini cukup penting." Fanya menengadahkan kepalanya, menatap Zico dari bawah dengan kerutan di keningnya. Tapi tak urung ia menganggukkan kepalanya sebelum dirinya kembali menatap lurus kedepan.
"Ini mengenai identitas asliku sekaligus keluargaku." Zico menghela nafas panjang kala ia dipaksa untuk kembali mengenang ke masa lalu yang cukup menyakitkan untuknya. Sedangkan Fanya, ia sempat terkejut namun ia tetap diam, menunggu Zico melanjutkan ucapannya.
"Jika kamu pikir keluarga Abhivandya itu adalah keluarga asliku maka itu salah besar. Mereka justru keluarga angkatku. Entah hati mereka terbuat dari apa sampai-sampai mereka memaafkan segala hal yang sudah aku perbuat dengan mereka dan mereka membantuku untuk sembuh dari keterpurukan. Kamu tau dengan penyakit alter ego? Seseorang yang memiliki karakter berbeda dalam satu raga?" Fanya tampak menganggukkan kepalanya.
"Aku dulu memiliki penyakit itu sampai-sampai aku hampir membunuh semua keluarga angkatku karena penyakit mengerikan itu." Fanya sangat terkejut mendengarnya sampai-sampai dirinya menegakkan tubuhnya dan menatap sepenuhnya kearah Zico yang tengah tertunduk lesu.
"Maaf aku tidak berniat untuk menakutimu. Tapi aku hanya mau jujur denganmu tentang masa kelamku." Zico menegakkan kepalanya dan menatap penuh ke manik mata Fanya.
__ADS_1
"Karakter yang pertama didalam tubuh memiliki nama Zico, dia yang memegang kendali penuh akan diriku saat itu karena obsesi dirinya untuk balas dendam dengan keluarga Abhivandya yang ia kira sudah membunuh keluargaku. Padahal itu semua hanya sebuah kesalahan pahaman saja dan justru keluargaku lah yang jahat ke keluarga Abhivandya, keluargaku karena Mama sudah menyembunyikan Kak Vivian yang merupakan putri kandung Mommy dan Daddy, istilah lain Mama sudah menculik Kak Vivian dari mereka. Dan karakter kedua yang aku miliki adalah Jio. Dia yang saat ini memegang penuh kendali didalam tubuhku karena karakter Jio merupakan karakter asliku. Aku sudah sembuh sepenuhnya setelah hampir 4 tahun aku berobat di Rusia atas bantuan keluarga Abhivandya. Dan karakter Zico sudah tak ada lagi didalam tubuhku. Jadi siapapun yang memanggilku dengan nama itu maka tidak ada pengaruhnya sama sekali. Dan kamu tau selama pengobatan itu tak mudah aku lalui, aku hampir depresi karena berusaha menekan karakter Zico yang dominan. Dan kamu tau, salah satu semangatku untuk sembuh selain keluarga angkatku adalah kamu. Entah kenapa aku waktu itu bertekad untuk sembuh agar aku bisa mencarimu dan menemuimu dalam keadaan mentalku yang baik. Dan lihatlah sayang, aku berhasil sekarang," sambung Zico dan tanpa ia minta air matanya menetes, diantara ia yang bangga akan perjuangan dirinya untuk sembuh dan ia yang menyesali perbuatannya di masa lalu.
Fanya yang tadi memang sempat takut dengan Zico, ia kini merengkuh tubuh calon suaminya, memeluk erat tubuh Zico dengan menepuk-nepuk pelan punggung Zico. Hal tersebut justru membuat Zico semakin deras mengeluarkan air matanya sembari memeluk erat tubuh Fanya. Ia tak peduli jika Fanya menganggapnya laki-laki cengeng lah atau laki-laki lemah, karena ia juga hanya seorang manusia biasa yang memiliki perasaan dan bisa menangis entah karena rasa bahagia yang membuncah atau sedih yang mendalam.