My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 61


__ADS_3

Fanya yang melihat tak ada pergerakan sama sekali dari Zico, ia kini mendorong tubuh suaminya cukup kuat sampai laki-laki itu berhasil ia jauhkan dari tubuhnya. Fanya buru-buru mendudukkan tubuhnya agar Zico tak bisa lagi mengurungnya dibawah kungkungan laki-laki tersebut. Tak hanya itu saja, Fanya mengalihkan pandangannya ke segala arah yang terpenting ia tak melihat wajah Zico yang entah kenapa saat ia melihat wajah suaminya, dadanya terasa sangat nyeri mungkin apa yang ia rasakan saat ini berhubungan dengan foto-foto yang baru saja ia lihat dan mungkin juga ia tengah mengalami yang namanya cemburu. Tapi apapun itu, Fanya tetap tak ingin melihat wajah Zico saat ini. Ia juga tak peduli suaminya mau menjelaskan tentang siapa perempuan didalam foto itu dan tentang hubungan mereka berdua sebenarnya karena ia yakin jika perempuan di foto itu tidak memiliki hubungan spesial dengan Zico, suaminya itu pastinya tanpa diminta akan menjelaskan semuanya tapi jika Zico berlagak ia tak pernah melihat apapun, berarti memang tebakan Fanya jika Zico memiliki seorang kekasih sebelum pernikahan mereka itu benar adanya. Jadi tunggu saja, apa yang akan suaminya itu lakukan.


Sedangkan Zico, ia yang mendapatkan dorongan dari sang istri kini menghela nafas panjang saat melihat Fanya menghindari tatapannya.


Tangan Zico yang membawa ponsel milik Fanya kini bergerak, menaruh ponsel itu di nakas samping tubuh Fanya. Lalu setelahnya, Zico memposisikan tubuhnya disamping sang istri kemudahan ia berkata, "Tidurlah. Sebentar lagi waktu subuh tiba."


Ucapan Zico tadi membuat Fanya memejamkan mata. Kedua tangannya pun ia gunakan untuk meremas sprei. Ia tak menyangka jika Zico yang berstatus sebagai suaminya tidak langsung menjelaskan apa yang barusan dia lihat yang Fanya artikan jika tebakannya memang benar adanya jika Zico memiliki seorang kekasih.


"*Ya Allah. Kenapa engkau baru memperlihatkan semuanya setelah hamba menikah dengan Kak Aka? Kenapa tidak sebelumnya saja? Jika saja hamba mengetahui semua ini sebelum hamba menikah dengan Kak Aka, hamba tidak akan pernah menerima lamaran kak Aka. Hamba tidak akan pernah mau menikah dengan dia. Sungguh, demi apapun hati hamba sakit ya Allah. Dan hamba juga sudah melukai hati seorang perempuan yang laki-lakinya hamba ambil. Ya Allah maafkan hamba. Hamba tidak bermaksud melukai hati orang lain. Maafkan hamba ya Allah, maafkan hamba," batin Fanya menjerit. Sungguh ia tak akan sanggup jika dirinya nanti dicap sebagai pelakor karena telah merebut kekasih perempuan lain. Tapi dirinya juga bingung, apa yang harus dia lakukan? Seandainya saja, seandainya ia mengetahui sebelum adanya pernikahan maka ia pastikan ia yang akan menjauh dari Zico. Tapi semuanya sudah menjadi bubur, tepat dihari ini juga ia sudah sah menyandang status sebagai istri Zico yang artinya dia juga terlambat untuk tidak melukai hati perempuan lain yang ia anggap jika perempuan itu kekasih Zico.


"Ya Allah apa yang harus hamba lakukan? Hamba tidak tega melukai hati orang lain tapi hamba juga tidak tau apa yang harus hamba lakukan. Bantu hamba ya Allah*."


Tak bisa dibendung lagi, air mata Fanya menetes membasahi pipinya. Dan bertepatan dengan itu pula, satu hal terlintas di otaknya yaitu bercerai dengan Zico. Ya, Fanya pikir bercerai dengan laki-laki yang menyandang status sebagai suaminya beberapa jam yang lalu tidak terlalu buruk selagi hubungan mereka juga belum terlalu jauh lagi. Ia akan mengorbankan rasa cintanya kepada Zico asalnya dia tidak melukai hati perempuan lain.


Saat Fanya memikirkan tentang perceraiannya dengan Zico, tiba-tiba saja ia merasakan sentilan di keningnya yang otomatis membuat ia tersadar dari lamunannya dan tangannya refleks menyentuh keningnya yang berdenyut sakit. Keterkejutan Fanya tidak berhenti disitu saja pasalnya ia dibuat terkejut lagi saat tiba-tiba tangan kekar melingkar indah di perutnya. Tanpa menoleh pun Fanya tau siapa yang memeluknya saat ini jika bukan suaminya.

__ADS_1


Fanya ingin memberontak, melepaskan pelukan Zico. Namun pelukan itu justru semakin mengerat dan tak berselang lama suara rendah menyapa indra pendengarannya.


"Hilangkan pikiran negatif kamu tentangku, sayang karena perlu aku tegaskan jika semua hal yang tengah kamu pikirkan mengenai diriku saat ini adalah salah besar," ucap Zico yang berhasil membuat Fanya menghentikan aksinya untuk melepaskan pelukan dari sang suami.


Untuk beberapa saat Zico diam saja menunggu Fanya selesai menangis. Dan setelah ia merasa Fanya sedikit tenang baru lah ia angkat suara kembali.


"Sudah nangisnya? Kalau sudah, harap sini. Akan aku jelaskan semuanya tentang kecurigaanmu kepadaku, tentang semua yang ingin kamu tangannya akan aku jawab dengan sejujur-jujurnya. Jadi hadap sini," ucap Zico yang sudah melepaskan pelukannya di tubuh Fanya. Lalu memutar tubuh Fanya sampai mereka berdua saling berhadapan.


Zico menatap intens wajah sang istri. Kedua mata dan hidung perempuan itu tampak memerah yang membuat Zico menghela nafas panjang. Tangannya pun kini terulur, menghapus sisa-sisa air mata di pipi istrinya.


"Sudah ya jangan sedih lagi. Aku akan menjelaskan semuanya tentang siapa orang yang berada di foto itu tadi. Jadi nama dia Cheasea Genoveva, putri tunggal Daddy Max dan Mommy Jea. Nah Daddy Max ini merupakan Kakak dari Mommy Della yang artinya Cheasea merupakan saudara sepupuku ya walaupun kita tidak ada ikatan darah sama sekali tapi karena aku diangkat sebagai putra Mommy Della maka status itu tetap berlaku untukku. Dan kamu tidak lupa kan kalau aku dulu sempat milik penyakit mental yang menyebabkan aku harus berobat ke Rusia?" Samar-samar Fanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Zico tadi.


"Jadi dari semua penjelasanku tadi, aku tegaskan jika aku tidak memiliki hubungan spesial apapun dengannya. Dan mengenai postingan dia itu, aku tidak tau menahu karena aku tidak mengikuti akun media sosial milik dia. Kalau tidak percaya, kamu lihat saja di sosial media dia apa nama akunku mengikutinya. Cari saja nama akunku Alzico_bgskr." Bukannya melakukan apa yang diperintahkan oleh Zico, Fanya justru menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Apa kamu tidak percaya semua yang aku katakan tadi?" Fanya menggelengkan kepalanya dan dengan cepat ia menjawab, "Aku percaya sama kamu. Dan karena percaya maka aku tidak akan melakukan apa yang kamu lakukan."

__ADS_1


Mata Zico berbinar melihat jawaban dari Fanya tadi.


"Kamu yakin sudah percaya kepadaku?" Fanya menganggukkan kepalanya.


"Kamu tidak lagi curiga kepadaku?" Fanya menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak curiga kepadamu. Dan maaf tadi aku sempat berpikir macam-macam kepadamu. Terimakasih sudah menjelaskan semuanya kepadaku." Balasan dari Fanya tadi membuat Zico dengan seketika bisa menghela nafas lega tak lupa laki-laki itu kini tersenyum kearah istrinya. Lalu kedua tangannya merentang kesamping.


Fanya yang paham akan hal tersebut pun ia langsung memeluk tubuh suaminya. Pelukan erat penuh kehangatan saling mereka berikan satu sama lain hingga tiba-tiba suara Zico terdengar, "Sayang, apa boleh aku meminta hakku sekarang?"


Permintaan dari Zico membuat tubuh Fanya seketika menegang.


Zico yang merasakan hal tersebut pun, tangannya mengelus punggung Fanya.


"Tapi jika kamu belum siap, tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa ka---" belum juga Zico menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja ia merasakan sebuah benda kenyal menempel di bibirnya.

__ADS_1


Zico mengerjabkan matanya berulang kali setelah ciuman yang diberikan oleh Fanya tadi menjauh dari bibirnya. Namun saat ia melihat Fanya, senyum di bibirnya terangkat dan tanpa ba-bi-bu lagi, ia langsung menerjang tubuh Fanya, mengukung tubuh istrinya di atas tubuhnya dan bertepatan dengan hal itu ia mencium bibir Fanya. Awalnya ciuman itu sangat lembut sebelum akhirnya ciuman itu berubah menjadi ciuman panas apalagi saat Fanya seakan-akan memberikan kode jika perempuan itu malam ini sudah siap memberikan hak Zico kepada laki-laki itu.


Dan ya, di malam ini juga pergulatan panas mereka terjadi.


__ADS_2