
Cheasea menggenggam erat tangan Mommy Jea yang kebetulan duduk disampingnya kala mobil yang dikendarai oleh Daddy Max sudah memasuki pekarangan rumah keluarga Abhivandya.
Mommy Jea yang menyadari akan hal tersebut pun, ia mengusap lembut punggung tangan Cheasea.
"Apapun yang terjadi nanti, Mommy akan tetap berada di sampingmu." Cheasea menatap kearah sang ibunda yang baru saja mengatakan kata-kata dukungan untuknya. Walaupun kata-kata tadi tidak menghilangkan rasa cemas yang tengah melanda dirinya, setidaknya ia masih memiliki seseorang yang akan terus mendukungnya.
Cheasea menganggukkan kepalanya sembari tersenyum kearah Mommy Jea yang dibalas senyuman pula oleh wanita paruh baya tersebut. Hingga suara Daddy Max mengalihkan atensi kedua perempuan itu.
"Kita sudah sampai. Apa kamu siap sayang?" tanya Daddy Max menatap kearah belakang tepat dimana istri dan putrinya berada.
Cheasea menganggukkan kepalanya.
"Kamu yakin?" tanya Daddy Max untuk memastikan.
"Cheasea yakin Dad. Cheasea benar-benar sudah siap. Kalaupun nanti keluarga Uncel Aiden masih marah kepada Cheasea, Cheasea akan terima kemarahan mereka sebagai bentuk tanggungjawab atas apa yang Cheasea lakukan sebelumnya. Toh Mommy dan Daddy juga akan berada disamping Cheasea kan?" Kedua orangtua itu menganggukkan kepalanya. Orangtua mana yang akan meninggalkan anaknya untuk menghadapi masalah sendiri, sebisa mungkin orangtua akan tetap membantu anaknya agar segara terbebas dari yang namanya masalah karena hal itu merupakan bentuk kepedulian mereka terhadap buah hatinya.
Cheasea tersenyum, "Nah karena Mommy sama Daddy ada disamping Cheasea terus, Cheasea tidak akan takut menghadapi kemurkaan mereka nanti. Jadi ayo Mom, Dad. Kita temui mereka sekarang. Cheasea tidak ingin mengulur waktu lagi untuk meminta maaf kepada orang-orang yang Cheasea rugikan."
Cheasea melepaskan genggaman tangannya dari tangan Mommy Jea. Lalu ia membuka pintu mobil, ia keluar terlebih dahulu dari kedua orangtuanya yang saat ini tengah melempar tatapan satu sama lain sebelum helaan nafas keluar dari mulut keduanya. Dan karena tak ingin Cheasea menunggu lama, mereka akhirnya ikut keluar dan berdiri disamping Cheasea yang tengah menatap rumah mewah di depannya.
Namun saat ia menyadari kedua orangtuanya sudah berada disampingnya, ia menggandeng tangan mereka dan tanpa mengatakan kata apapun, ia membawa kedua orangtuanya mendekati pintu utama rumah keluarga Abhivandya.
Cheasea menghela nafas panjang kala dirinya dan kedua orangtuanya yang sedari tadi hanya diam saja telah sampai di depan pintu utama itu. Cheasea melepas salah satu genggaman tangannya dari tangan orangtuanya guna menekan bel.
__ADS_1
Hanya sekali saja bel rumah itu berbunyi karena sesaat setelahnya pintu itu terbuka oleh salah satu maid di rumah tersebut.
"Ehh selamat siang tuan, nyonya dan nona. Silahkan masuk," ucap maid tadi dengan membuka pintu rumah tersebut lebar-lebar agar memudahkan ketiga orang tadi masuk kedalam.
"Terimakasih bik," ucap Cheasea yang dibalas anggukan serta senyuman dari maid tadi.
Ketiga orang itu kini masuk kedalam ruang besar tersebut.
Rumah itu tampak sepi, seperti tidak ada penghuninya saja selain para pekerja.
"Maaf bik, mau tanya Aunty Della, Uncle Aiden dan yang lainnya dimana ya? Kok kayak sepi. Apa mereka belum pulang dari hotel?" tanya Cheasea menatap kearah maid yang baru saja menutup pintu utama itu kembali.
"Nyonya sama tuan ada di taman belakang Nona," jawab maid tadi.
Saat ketiganya telah sampai dan baru saja kaki mereka menginjak lantai di taman tersebut, tatapan Mommy Jea dan Daddy Max langsung terfokus kearah Cheasea yang tiba-tiba berhenti berjalan.
Tatapan mata dari gadis itu tertuju ke salah satu orang yang berada di taman tak jauh dari mereka. Kedua orangtua itu tau, tanpa harus mengikuti arah pandang Cheasea. Karena mereka tadi sempat menatap beberapa orang yang ada di sana, dimana di taman itu bukan hanya ada Mommy Della dan Daddy Aiden saja melainkan ada Zico juga. Dan tentu gadis itu menatap kearah laki-laki yang sudah mencuri hatinya.
Mommy Jea yang tak tega melihat tatapan mata Cheasea yang seakan-akan memperlihatkan betapa sedihnya dia, kini tangan Mommy Jea yang masih bebas mengusap pundak Cheasea. Usapan lembut itu berhasil menyadarkan Cheasea dari keterdiamannya tadi.
"Mau lanjut atau tidak?" tanya Mommy Jea kala tatapan matanya bertatapan langsung dengan mata Cheasea.
"Kita sudah sampai sini Mom. Masak iya kita harus pulang lagi," balas Cheasea dengan senyum yang terlihat ia paksakan.
__ADS_1
Untuk kesekian kalinya Mommy Jea menghela nafas panjang sebelum ia menganggukkan kepalanya.
"Oh ya, Mommy sana Daddy tunggu disini saja ya. Biar Cheasea sendiri yang menemui mereka," ucap Cheasea. Bagaimanapun ia harus bisa menghadapi mereka sendiri.
"Eits Cheasea tidak mau mendengar penolakan," sambung Cheasea kala melihat Mommy Jea ingin buka suara.
"Cheasea kesana dulu. Doakan semoga Cheasea berhasil mengantongi maaf dari mereka. Cheasea sayang kalian." Cheasea memberikan kecupan di pipi kedua orangtuanya sebelum ia melangkahkan kakinya mendekati ketiga orang yang masih asik mengobrol tanpa menyadari keberadaannya sedari tadi.
Cheasea menghembuskan nafasnya kala selangkah lagi ia sudah berada di hadapan ketiganya.
"Ayo Cheasea, kamu pasti bisa menghadapi masalah yang sudah kamu buat. Jangan jadi pengecut," batin Cheasea menyemangati dirinya sendiri.
Satu kali hembusan nafas kasar kembali Cheasea lakukan sebelum ia memutuskan untuk semakin mengikis jarak antara dirinya dengan ketiga orang tadi dengan tangan yang senantiasa menggenggam erat dressnya.
Ketiga orang itu masih tidak menyadari keberadaan Cheasea padahal gadis itu sudah berdiri disamping ketiganya.
"Ehemmm maaf mengganggu Aunty, Uncel dan Kak Jio," ujar Cheasea. Lidahnya terasa kelu saat akan mengatakan nama Zico.
Suara dari Cheasea tadi berhasil membuat ketiga orang yang tadi tengah mengobrol, menghentikan obrolan mereka dan dengan kompak ketiganya menolehkan kepalanya kearah sumber suara berasal.
Ketiganya terlihat jelas terkejut atas kedatangan Cheasea. Namun keterkejutan itu hanya berlangsung beberapa detik saja sebelum mereka merubah ekspresi wajah mereka masing-masing. Mungkin Daddy Aiden dan Mommy Della menampilkan ekspresi seperti biasa, seperti mereka tidak marah sama sekali dengan Cheasea. Tapi berbeda dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh Zico, laki-laki itu memperlihatkan raut ketidaksukaan dirinya terhadap Cheasea. Bagaimanapun gadis yang berdiri tak jauh darinya sudah membuat dirinya merasa risih beberapa tahun yang lalu, gadis itu juga yang membuat acara pernikahannya hampir hancur, tak hanya itu saja tapi gadis itu juga hampir membuat istrinya tercinta salah paham kepadanya, dan satu lagi gara-gara gadis itu, ia harus menghapus segala macam berita pernikahannya yang menampilkan sosok Cheasea didalamnya. Dan kerena semua ulah yang dilakukan Cheasea, jangan salahkan jika Zico membenci gadis itu.
Sedangkan Cheasea yang sempat menangkap ekspresi Zico, ia mendudukkan kepalanya dengan genggaman tangannya yang menggenggam dressnya semakin ia pererat, hatinya pun terasa begitu sakit. Ini kali pertama dirinya mendapat tatapan ketidaksukaan dari orang yang ia cintai itu. Padahal dulu laki-laki itu selalu menatapnya dengan tatapan lembut jauh berbeda dengan sekarang. Dan Cheasea sadar jika semua perubahan Zico itu gara-gara dirinya sendiri. Andai saja perasaan sialan ini tidak hadir di dalam dirinya, mungkin hubungannya dengan Zico jauh lebih baik dari sekarang. Tapi semuanya sudah terlambat, perasaan itu justru tanpa permisi mengendap di hatinya tanpa harus di cegah. Dan Cheasea menyesali akan hal itu.
__ADS_1