
Baru juga ponselnya ia tempelkan di telinganya, suara cempreng di sebrang sana terdengar.
📞 : "Halo. Kak Jio! Kakak kemana saja sih? Kenapa dari tadi aku telepon tidak diangkat dan kenapa ratusan pesan yang aku kirim tidak Kakak balas? Tidak mungkin kan kalau Kakak sibuk? Kalau pun sibuk, kakak pasti menyempatkan untuk mengangkat telepon dariku ataupun sekedar membalas pesannya sama seperti yang selalu Kakak lakukan saat Kakak masih bekerja disini. Jadi dari tadi pagi ahhh tidak bahkan Kakak mengabaikanku dari kemarin pagi, sejak dua hari ini Kakak kemana saja? Kenapa Kakak mengabaikanku? Kakak tau kalau aku merindukan Kakak. Dan kata Kakak kalau aku merindukan Kakak, aku harus menelepon atau sekedar mengirim pesan tadi lihatlah semua yang aku lakukan hanya diabaikan oleh Kakak begitu saja! Menyebalkan!"
Zico tampak menghela nafas sebelum ia mulai angkat suara kala ia tak mendengar suara dari seseorang di sebrang sana.
"Sudah?! Kamu sudah selesai bicaranya?"
📞 : "Ck, sebenarnya sih belum tapi aku perlu jawab dari Kakak. Alasan Kakak mengabaikanku apa?"
"Kakak tidak mengabaikanmu."
__ADS_1
📞 : "Kalau tidak meng---"
"Katanya kamu mau mendengarkan jawaban dari Kakak tapi kenapa kamu malah memotong ucapan dari Kakak tadi?" balas Zico jengah.
📞 : "Maaf. Baiklah kalau begitu lanjutkan. Aku tidak akan memotong ucapan Kakak nanti."
"Jika kamu memotong ucapan Kakak lagi, Kakak tidak akan meneruskan ucapan Kakak."
📞 : "Iya-iya. Aku janji."
📞 : "Tapi kenapa dulu saat Kakak masih disini mau sesibuk apapun Kakak selalu mengabari aku. Tapi kenapa sekarang tidak. Apa kira-kira kesibukan Kakak lebih penting dariku?" tanyanya masih tak terima karena diabaikan oleh Zico.
__ADS_1
Zico memejamkan matanya sesaat untuk menekan emosinya yang kapan saja bisa meledak. Tolonglah, ia sudah lelah hari ini dan ia butuh istirahat sebelum besok dirinya akan sibuk kembali dengan aktivitasnya.
"Jadwal Kakak disini lebih padat, Cheasea. Jadi pengertiannya. Dan tidak selamanya Kakak harus memprioritaskan kamu, karena jika boleh jujur kerjaan Kakak lebih penting dari kamu," ujar Zico yang akhirnya bisa mengungkapkan apa yang selama ini ia pendam. Ia sebenarnya tidak mempermasalahkan jika harus mengangkat atau sekedar membalas pesan dari Cheasea, jika gadis itu tidak menghubungi dirinya setiap menit. Ayolah, Vivian yang notabenenya Kakaknya yang mengurus dia sejak kecil saja tidak menghubungi dirinya setiap menit, satu hari sekali saja sudah cukup mereka berdua berkomunikasi. Tidak seperti Cheasea yang menuntutnya untuk menuruti semua kemauan gadis itu. Layaknya seperti sepasang kekasih, padahal ia hanya menganggap Cheasea sebagai adiknya saja dan Zico juga berpikir Cheasea memiliki pikiran yang sama seperti dirinya.
Dan ucapan dari Zico tadi mungkin menurut laki-laki itu hanya biasa saja tapi menurut Cheasea, ucapan Zico tadi membuat hatinya terluka.
📞 : "Ja---jadi Kakak sudah tidak peduli lagi dengan Cheasea? Kakak sudah tidak menganggap Cheasea penting lagi di kehidupan Kakak?! Padahal Cheasea saja memproritaskan segala sesuatu tentang Kakak daripada kehidupan pribadi Cheasea sendiri. Dan apa Kakak lupa, saat Kakak harus melawan penyakit Kakak, siapa yang selalu berada disamping Kakak? Aku Kak aku. Dan balasan yang Kakak berikan ke aku justru menyakiti hatiku. Aku hanya meminta Kakak untuk meluangkan waktu Kakak hanya sekedar mengangkat telepon dariku jika mengangkat telepon tidak sempat setidaknya Kakak balas pesanku!" Ucap Cheasea terdengar nyaring. Mungkin gadis itu tengah berbicara sembari teriak-teriak.
Sedangkan Zico, laki-laki itu kini mengepalkan tangannya kala Cheasea membahas masa lalunya. Ia paling benci jika ada orang lain yang menyinggung penyakitnya itu kecuali dirinya sendiri.
"Berhentilah berbicara omong kosong Cheasea. Saya dari dulu sampai sekarang tidak meminta kamu untuk menemani saya! Karena kamu nyatanya tidak memberikan pengaruh apapun untuk kesembuhan penyakit saya dulu. Saya bangkit sendiri, saya sembuh dengan usaha dan tekat saya sendiri tanpa ada campur tangan darimu! Jadi berhentilah bertingkah seolah-olah saya harus membalas budi semua yang telah kamu lakukan untuk saya. Karena nyatanya kamu tidak memberikan pengaruh apapun untuk saya! Dan apa kamu lupa, dulu kamu juga sempat mengacaukan proses penyembuhan saya karena saat kita hanya berdua saja kamu justru memanggil saya dengan nama Zico yang mana saat itu saya belum bisa sepenuhnya menghilangkan karakter saya yang itu! Dan saat itu juga semuanya kacau karena saya harus mengulang proses pengobatan saya dari awal lagi! Dan itu semua gara-gara kamu, Cheasea! Arkhhh, sudahlah. Terserah kamu mau menganggap saya orang yang super sibuk atau apalah karena perlu saya tegaskan sekali lagi jika pekerjaan saya lebih penting dari kamu dan saya tidak pernah hutang budi denganmu. Assalamu'alaikum!" Ucap Zico yang benar-benar sudah tak bisa menahan lagi untuk tak mengungkapkan semua isi hatinya. Ia memperlakukan Cheasea dengan baik selama ini karena ia menghargai kedua orangtua Cheasea yang sudah membuka tangannya lebar-lebar untuk menerima dirinya dan merawatnya sampai sembuh, kedua orangtua itu lebih berjasa dalam hidupnya dan merekalah yang harus Zico balas semua budi yang mereka lakukan selama ini kepadanya bukan malah Cheasea yang sama sekali tidak melakukan hal yang bermanfaat untuknya karena gadis itu biasanya hanya mengacaukan dan menempel kepadanya 24 jam dengan segala ke-posesifannya layaknya posesif ke seorang kekasih.
__ADS_1
Dan ucapan Zico tadi sekaligus akhir dari sambungan telepon dari mereka, tentunya dengan Zico yang mematikan sambungan telepon secara sepihak. Ia tak peduli jika ucapannya tadi menyakiti hati Cheasea. Karena apa yang ia lakukan tadi menurutnya sudah benar. Jika ia tak tegas seperti tadi maka Cheasea tidak akan sadar dengan kelakuan dirinya yang ingin memang sendiri.
Zico meletakkan ponselnya dengan kasar diatas nakas. Lalu setelahnya ia mengusap wajahnya sebelum dirinya beranjak dari atas ranjang menuju kamar mandi untuk sekedar cuci muka dan menggosok giginya sebelum akhirnya ia kembali merebahkan tubuhnya di ranjang king size tersebut dan mulai menutup matanya, menyelami alam mimpi.