
Fanya merasa gugup saat sebentar lagi ia akan sampai di restoran yang menyatakan dirinya di terima untuk menjadi salah satu karyawan disana.
"Huh, rileks Fanya. Jangan gugup," ucap Fanya menenangkan dirinya sendiri.
Fanya terus melangkahkan kakinya dengan sesekali ia menghela nafas agar debaran jantungnya sedikit berkurang sembari matanya sedari tadi fokus ke layar ponselnya yang memperlihatkan rute menuju ke restoran tersebut. Saat map tersebut mengatakan jika dirinya sudah sampai di tempat yang ia tuju, Fanya menegakkan kepalanya menatap tempat kerja barunya itu. Tapi tunggu, Fanya merasa restoran ini sangat familiar dan pernah ia kunjungi?
Otak Fanya terus berputar mengingat apakah benar ia pernah ke restoran tersebut hingga kedua bola matanya terbuka lebar saat dia mengingat sesuatu.
"Restoran ini bukannya restoran yang kemarin aku datangi? Yang pemiliknya perempuan galak itu? Dan setahuku nama restoran ini bukan Diamond cafe and resto tapi Jiu cafe."
Fanya menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia merasa bingung saat ini. Mau berpikir jika dirinya salah alamat, tapi map yang ia lihat menunjukkan jika di depannya lah tempat yang ia tuju dan tak hanya itu papan nama restoran itu pun juga terpampang jelas disana. Jadi sudah di pastikan jika Fanya tidak salah alamat.
Saat Fanya tengah bergulat dengan pikirannya, tepukkan di pundaknya membuat ia terperanjat kaget. Ia menolehkan kepalanya kearah belakang. Disana terdapat seorang perempuan cantik dengan dress berwarna putih melekat di tubuhnya.
"MasyaAllah, cantik sekali," ucap Fanya mengagumi keindahan perempuan didepannya itu.
"Hey, kamu Fanya bukan?" Ucapan dari perempuan itu membuat Fanya mengerjabkan matanya lalu ia menganggukkan kepala.
"Waahhh kebetulan sekali kita bertemu disini. Perkenalkan nama saya Vivian, pemilik restoran ini," ujar Vivian dengan mengulurkan tangannya dihadapan Fanya.
Fanya tersenyum dan dengan rasa gugup sekali takut jika perempuan didepannya itu akan mencemooh dirinya seperti yang lainnya, Fanya membalas uluran tangan Vivian tadi.
Vivian tersenyum kala uluran tangannya dibalas oleh Fanya.
__ADS_1
"Kalau begitu, ayo kita masuk." Dengan patuh fanya menganggukkan kepalanya walaupun di dalam hatinya kini tengah berkata, "Nama restoran beda, pemilik pun juga beda. Fiks berarti hanya perasaanku saja jika restoran ini adalah Jiu cafe."
Diam-diam Fanya menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan hatinya tadi. Tapi tak urung ia terus mengikuti langkah Vivian sampai mereka sampai di dapur restoran tersebut.
"Nah Fanya, saya akan menjelaskan pekerjaanmu terlebih dahulu. Jadi begini kamu saya tugaskan untuk mengontrol cara kerja karyawan di restoran ini, menghitung laba dan rugi pendapatan restoran setiap harinya sebelum nanti kamu serahkan ke saya. Untuk masalah kamu yang belum bisa menghitung laba dan rugi nanti saya ajarkan di ruangan atas yang nanti akan menjadi ruangan kamu. Kamu juga nantinya akan mengurus masalah gaji untuk para karyawan. Kamu tinggal kirim saja data gaji para karyawan disini 3 hari sebelum tanggal gajian tiba, nanti akan saya transfer ke kamu. Saya tinggal terima bersih saja dari kamu," jelas Vivian yang tentunya berhasil membuat Fanya terkejut bukan main. Dan dengan tangan yang bergetar, ia menulis sebuah kalimat lalu ia sodorkan kearah Vivian.
Vivian melirik kearah kertas tersebut dan dengan senyum yang mengambang ia mulai membacanya.
"Maaf sebelumnya, apa saya tidak salah dengar tadi, Bu Vivian? Maksudnya kenapa tugas saya seperti itu dan kenapa ruangan saya harus di lantai atas. Atau memang ruang atas merupakan ruangan khusus karyawan?"
Vivian menggelengkan kepalanya lalu mengembalikan note book kepada Fanya.
"Kamu tidak salah dengar sama sekali, Fanya. Dan kalau kamu tanya kenapa tugas kamu seperti itu, ya karena kamu akan menjadi manager disini, menggantikan saya yang harus kembali ke Jakarta. Mengenai ruangan diatas itu khusus ruangan kamu seorang bukan ruangan para karyawan semuanya," jawab Vivian.
Vivian menganggukkan kepalanya setelah membaca tulisan dari Fanya kembali.
"Kenapa harus saya Bu? Maksud saya, saya kan tidak memiliki pengalaman apapun tentang dunia bisnis. Saya juga hanya tamatan SMA saja. Tingkat kepintaran saya standar bukan yang pintar sekali. Saya juga melamar pekerjaan di bagian waiters kalau tidak juga sebagai cleaning servis bukan melamar di bagian manager. Dan..."
Vivian menyerukan keningnya saat tulisan itu terputus begitu saja.
Vivian menatap kearah Fanya yang diam-diam menggigit bibir bawahnya sembari tangannya menyingkap kertas note booknya ke kertas yang lainnya.
"Saya memiliki keterbatasan dalam berbicara."
__ADS_1
Vivian menganggukkan kepalanya.
"Saya sudah tau akan hal tersebut. Saya juga tidak memandang seseorang dari dia tamatan apa yang terpenting dia mau belajar dan memiliki tekat kuat, saya tidak mempermasalahkan hal itu. Dan jika kamu tanya kenapa saya memilih kamu maka saya akan jawab jika saya melihat kamu memiliki tekat yang sangat kuat dan tidak malu untuk belajar. Jadi besar harapan saya restoran ini akan berkembang di bawah kepemimpinanmu. Saya percayakan sepenuhnya ke kamu. Dan saya harap kamu tidak mengecewakan saya," ucap Vivian.
Saat tangan Fanya ingin menulis kembali untuk menimpali ucapan dari Vivian tadi, tangan Vivian sudah lebih dulu menghalangi dirinya. Tangan kanannya yang masih memegang bolpoin digenggam oleh Vivian.
"Jangan menolak tawaran saya ini Fanya. Ingat mencari pekerjaan itu sangat sudah sekarang jadi saya harap kamu menerima pekerjaan yang saya berikan ini," ujar Vivian dengan menatap penuh permohonan kearah Fanya.
Fanya yang tiba-tiba tak tega jika menolak permintaan dari perempuan di sampingnya itu, dengan helaan nafas pasrah ia menganggukkan kepalanya arti jika ia menerima pekerjaan yang Vivian berikan kepadanya.
Vivian tersenyum melihat anggukkan dari Fanya tadi. Lalu setelahnya ia melihat kearah beberapa karyawan yang tengah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Vivian mengambil nafas dalam-dalam sebelum ia berteriak.
"Tolong perhatiannya sebentar!" Teriakan Vivian mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dalam dapur tersebut. Mereka semua langsung menghentikan aktivitasnya lalu berkumpul menjadi satu tepat di depan Vivian dan Fanya.
"Disini saya akan memperkenalkan seseorang yang akan menggantikan saya ke kalian semua." Vivian menatap kearah Fanya sesaat lalu pandangannya kembali kearah para karyawan.
"Nama dia, Evanthe Fanya Zahira, dia adik saya! Kalian bisa memanggil dia dengan sebutan Ibu Fanya. Dia akan menjadi atasan kalian mulai hari ini maka hormati dia, jangan ada yang bersikap semena-mena dengan adik saya. Jika kalian bersikap semena-mena maka saya tidak akan tinggal diam. Dan konsekuensi yang akan kalian terima tentunya dengan keluarnya kalian dari restoran ini dan bisa juga sampai masuk penjara jika kalian bersikap kurang ajar atau sampai melukai adik saya. Apa kalian paham!" Ucapan tegas dengan aura yang tiba-tiba mencekam itu membuat semua karyawan menganggukkan kepalanya.
"Baik, jika kalian paham. Kalian boleh kembali ke pekerjaan kalian masing-masing." Para karyawan itu langsung berpencar kembali ke tempat mereka semula dan mulai aktivitas mereka.
Sedangkan Vivian, tangannya yang masih menggandeng tangan Fanya, ia berkata, "Ayo kita ke ruang kerjamu sekarang. Saya akan mengajari semua yang belum kamu bisa."
Tanpa menunggu persetujuan dari Fanya, Vivian lebih dulu menarik lembut lengan Fanya hingga mau tak mau, Fanya ikut melangkahkan kakinya menuju ke tempat yang Vivian tuju.
__ADS_1