My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 13


__ADS_3

Baru juga Fanya masuk kedalam restoran yang masih sangat sepi, ia langsung mendapat tatapan dari teman-temannya. Bukan tatapan permusuhan melainkan tatapan menggoda. Fanya yang tau jika dirinya akan di interogasi sekaligus digoda oleh teman-temannya pun ia hanya bisa menghela nafas. Kemudian ia melangkahkan kakinya dengan loyo mendekati teman-temannya yang berdiri menghalangi jalan menuju ke ruangan khusus karyawan.


"Pacar baru nih? Kenalin sama kita-kita dong Fan." Benar kan feeling Fanya pasti digoda oleh teman-temannya.


"Iya nih kenalin dong. Siapa namanya?" Fanya menatap teman-temannya yang berjumlah 5 orang itu satu persatu sebelum ia memutar bola matanya malas. Ia berniat untuk menerobos tubuh teman-temannya namun baru juga ia ingin melangkah, lengannya di cekal lebih dulu oleh salah satu perempuan yang memiliki nama Aci.


"Eits. Gak boleh masuk dulu sebelum kasih tau ke kita. Siapa nama pacar kamu itu? Dia baik atau tidak? Sejak kapan kalian jadian? Dan kenapa kamu tidak pernah cerita ke kita kalau kamu sudah memiliki pacar setampan dia? Oh apa kamu takut kalau kita merebut kekasih kamu itu? Ck, harga diri kita masih tinggi kali Fan. Jadi tidak mungkin kita menjadi pelakor," ucap Aci panjang lebar. Fanya tau jika teman-temannya tak akan pernah melakukan hal yang bisa menjatuhkan harga diri mereka dengan merebut kekasih orang lain terlebih kekasih temannya sendiri. Tapi masalahnya, ia tak memiliki hubungan dengan Zico seperti yang di tuduhkan oleh teman-temannya tadi.


Fanya yang tak ingin masalah kesalahpahaman ini terus berlarut, ia segara menjawab pertanyaan yang sempat teman-temannya itu ajukan kepadanya.


Fanya kini mengangkat note booknya, menghadap kearah ke-lima temannya tadi agar mereka dengan seksama membaca tulisannya.


"Aku tidak pernah berpikiran jika kalian akan menjadi pelakor atau apalah itu. Tapi masalahnya aku sedang tidak memiliki hubungan dengan laki-laki manapun. Termasuk laki-laki yang mengantarku tadi. Kita hanya saling kenal saja tidak lebih."


Ke-lima orang tadi dengan serempak menyipitkan mata mereka. Mereka tak percaya dengan jawaban dari Fanya.

__ADS_1


"Gak percaya. Kalau cuma kenalan, kenapa dia kelihatan perhatian sekali dengan kamu dan juga sangat romantis sampai-sampai pintu mobil pun dia yang membukakan untukmu. Dan satu lagi, kalau kalian cuma sekedar saling kenal, kenapa dia bisa mengantarmu sampai disini?" Tingkat kekepoan yang dimiliki oleh para teman-temannya itu membuat Fanya harus banyak-banyak bersabar.


Fanya kembali menulis tentunya kali ini ke-lima temannya merapatkan tubuhnya, mengintip tulisan Fanya.


"Aku dan dia tadi tidak sengaja bertemu di jalan. Dia menawarkanku tumpangan karena kebetulan dia akan melewati tempat ini. Kalau masalah perhatian dan romantis, aku rasa itu hanya perasaan kalian saja. Jadi aku tegaskan sekali lagi jika laki-laki tadi bukan siapa-siapaku. Aku rasa jawaban dariku ini sudah cukup jelas. Aku akan masuk kedalam buat bersiap. Dan untuk kalian segara ke tugas kalian sebelum bos datang. Ingat bos kita galak."


Fanya menatap wajah teman-temannya yang tampak mencebikkan bibirnya mereka. Ia tau apa yang membuat wajah teman-temannya yang super kepo itu menjadi masam seperti tentunya alasannya hanya satu yaitu ia mengingatkan mereka semua jika memiliki seorang bos yang sangat galak. Melihat raut wajah para temannya, Fanya tertawa terkekeh kecil lalu setelahnya ia menerobos masuk kedalam ruang khusus karyawan, meninggalkan teman-temannya yang tengah menggerutu kesal, lalu tak berselang lama mereka memilih untuk berpencar, kembali ke tugas mereka masing-masing.


Waktu terus berlalu, Zico yang tengah meeting dengan beberapa kliennya yang berurusan dengan proyek barunya itu, matanya melirik kearah ponsel yang sedari tadi ia letakkan di mejanya. Tertera disana nama salah satu anak buahnya yang ia tugaskan untuk memantau Fanya.


📨 : "Nona Fanya bekerja di restoran ini tuan, sebagai pelayan biasa."


Tentu saja mengetahui hal itu tangan Zico mengengga ponselnya dengan erat. Jujur ia tak suka Fanya bekerja. Tapi mengingat ia tak memiliki hak untuk melarang, ia hanya bisa pasrah dengan keadaan namun di dalam lubuk hatinya ia berkata, "Secepatnya aku akan menikahimu. Aku akan membiayai kehidupanmu. Aku akan menuruti semua yang kamu mau. Sehingga kamu tidak perlu bekerja lagi seperti ini, Fanya. Secepatnya aku akan menaklukkanmu."


Tekat kuat yang Zico ramalkan di dalam hatinya membuat dirinya semangat untuk mengetahui semua seluk beluk Fanya. Termasuk alasan dia kenapa bekerja diusia perempuan itu yang cukup muda, pasalnya ia sangat yakin usia Fanya sama dengan usia Cheasea.

__ADS_1


Ngomong-ngomong soal Cheasea, perempuan itu diabaikan begitu saja oleh Zico, sama seperti Zico yang diabaikan oleh Fanya. Entah Zico yang sangat fokus mengejar Fanya sampai melupakan Cheasea atau justru laki-laki itu sudah muak dengan deretan teror pesan serta panggilan dari Cheasea? Entahlah hanya Zico dan tuhan yang tau.


"Baik, sepertinya meeting kali ini cukup sampai disini. Semua masalah juga sudah menemukan titik terang. Saya harap setelah kejadian yang sangat merugikan kemarin tidak terulang lagi. Cukup sekian, terimakasih atas waktu kalian semua, selamat sore," ucap Zico bertanda meeting seharian ini telah selesai dilaksanakan. Dan setelah menutup acara meeting tadi, Zico bergegas keluar dari dalam ruang meeting. Ia sangat buru-buru untuk pergi ke restoran tempat Fanya bekerja. Saking terburu-burunya dia, ia sampai mengabaikan panggilan dari Bima.


Sedangkan Bima, ia menghela nafas menatap kepergian Zico yang tak melirik sedikitpun kepadanya.


"Nasib punya bos bucin akut. Pekerjaan belum tuntas semua udah ngacir duluan. Huh," keluh Bima sebelum dirinya masuk kedalam ruang meeting untuk menyelesaikan pekerjaan Zico yang berpindah menjadi pekerjaannya.


Sedangkan Zico, secepat kilat ia menjalankan mobilnya. Untung saja letak pembangunan proyek sangat dekat dengan tempat kerja Fanya jadi hanya membutuhkan waktu 5 menit saja ia sudah sampai.


Senyum mengembang pun Zico perlihatkan kala ia melangkahkan kakinya mendekati restoran tersebut. Ia sudah tak sabar menatap wajah cantik nan menenangkan milik Fanya.


Saat Zico sudah berada di depan pintu restoran, ia menghela nafasnya untuk menetralkan kegugupan yang tiba-tiba melanda dirinya. Dan setelah dirasa kegugupannya sedikit berkurang, Zico mendorong pintu restoran tersebut.


Saat pintu sudah ia buka, senyum yang awalnya ia perlihatkan hilang seketika. Tatapan lembut kini tergantikan dengan tatapan tajam penuh amarah. Kedua tangannya pun terkepal erat sampai memperlihatkan urat-urat ditangannya kala dirinya melihat pemandangan didalam restoran yang membuat api amarah mendidih di dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2