
Apa yang di katakan oleh Zico adalah sebuah kebohongan. Bagaimana tidak, jika dia tadi meminta hanya satu ronde saja tapi yang dia lakukan lebih dari satu ronde dan hal tersebut berhasil membuat tubuh Fanya rasanya akan hancur saat itu juga ditambah rasa sakit di bagian intinya membuat dirinya tidak bisa berjalan. Kurang ajar memang suaminya itu, untung saja Fanya sayang jika tidak sudah ia sunat burung Zico.
"Masih sakit sayang?" tanya Zico dengan tatapan penuh kekhawatiran. Bahkan saking khawatirnya, ia mandi saja hanya butuh 10 menit saja. Zico melangkahkan kakinya mendekati Fanya yang tengah duduk manis di pinggir ranjang. Mereka berdua belum juga pulang dari hotel.
Dengan wajah datar Fanya menatap kearah sang suami yang berdiri disampingnya. Dan dengan tak santai, ia menyodorkan sebuah notebook kehadapan Zico. Tentunya langsung diambil oleh laki-laki itu.
"Menurut kamu?"
Zico yang barusan membaca jawaban dari Fanya, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sembari nyengir seperti tak berdosa.
"Maaf sayang. Aku beneran khilaf tadi." Fanya memutar bola matanya malas dengan bibir yang bergerak seperti berkata, "Alasan."
Zico yang menangkap pergerakan dari bibir Fanya langsung menggelengkan kepalanya.
"Sumpah demi apapun, apa yang aku katakan tadi tidak hanya sekedar alasan saja sayang tapi memang apa adanya. Aku khilaf, beneran deh suwer," ucap Zico dengan mengangkat kedua jarinya yang membentuk huruf ****V****.
"Terserah kamu saja lah. Mau kamu khilaf atau tidak toh semuanya juga sudah terjadi. Tapi masalahnya kita ini mau pulang sedangkan aku tidak bisa jalan sama sekali dan ini karena ulah kamu," kata Fanya dengan bahasa isyarat.
__ADS_1
Zico tersenyum kala melihat Fanya tak marah lagi kepadanya. Ia mendudukkan tubuhnya disamping sang istri, tak sampai disitu saja ia justru langsung memeluk tubuh Fanya dari samping, dagunya pun ia taruh di bahu Fanya, menatap wajah Fanya sungguh kecantikan istrinya itu tak bisa di uraikan dengan kata-kata. Dari sisi manapun ia melihat, maka kecantikan itu akan terus terpancar.
"Cantik," ucap Zico. Namun langsung mendapat geplakan pelan di lengannya dari Fanya.
"Aws, sakit sayang. Kok di pukul sih?" Zico melepaskan pelukannya. Tangannya pun kini mengelus lengannya yang terkena pukulan dari Fanya tadi.
"Bodoamat. Salah siapa pertanyaanku tadi tidak dijawab sama sekali dan kamu malah membicarakan hal yang tidak penting sama sekali," omel Fanya.
"Ya maaf sayang. Kalau mengenai pertanyaan kamu tadi, gampang kita menginap disini satu malam lagi, gimana?" Fanya menggelengkan kepalanya.
"Mommy akan mengerti sayang. Jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak sama Mommy. Lagian setelah kita pergi dari sini kita tidak akan tinggal di rumah Mommy sana Daddy lagi," ujar Zico yang membuat Fanya mengerutkan keningnya.
"Tidak tinggal sama Mommy dan Daddy?"
"Iya. Tapi kita akan tinggal di rumah baru kita berdua. Ya walaupun aku belum bicara masalah ini dengan Mommy dan Daddy tapi aku yakin kalau mereka akan setuju kita bangun rumah tangga di rumah kita sendiri," tutur Zico walaupun sebenernya ia tak yakin Mommy Della akan mengizinkan dirinya membawa Fanya kerumah baru yang sudah ia persiapkan jauh-jauh hari untuk ia tempati bersama keluarga kecilnya. Tau sendiri, Mommy Della sangat sayang kepada Fanya. Jadi kemungkinan sedikit susah untuk mendapatkan izin dari ibundanya itu.
Fanya tampak mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum dirinya kembali berkata dengan bahasa isyaratnya.
__ADS_1
"Tapi aku tetap tidak mau lama-lama disini. Aku mau pulang sekarang."
"Lho kenapa? Kamu tidak betah disini?" Fanya menganggukkan kepalanya. Padahal bukan hal itu yang memicu dirinya ingin segara keluar dari hotel ini, melainkan ia takut biaya menginap di hotel mewah dengan segala fasilitas yang memumpuni akan membuat dompet Zico terkuras habis. Ia tau jika suaminya itu merupakan salah satu pengusaha sukses bahkan sebutan CEO muda juga terpatri di nama Zico, tapi walaupun begitu bukan berarti ia harus foya-foya dengan uang jerih payah suaminya kan jika dirinya bisa menghemat? Dan lebih baik uang-uang yang terbuang untuk kebutuhan yang tidak penting itu disumbangkan ke orang-orang yang membutuhkan.
Zico menghela nafas panjang.
"Ya sudah kalau kamu tidak betah disini, kita pulang sekarang. Untuk urusan kamu yang tidak bisa berjalan, aku akan menggendong kamu kemanapun kamu mau. Kamu tunggu saja disini, jangan kemana-mana, aku mau beresin barang-barang kita dulu," ujar Zico yang mulai bangkit dari posisi duduknya tadi. Dan sebelum ia beranjak, ia sempat mengusap lembut kepala Fanya. Tapi saat ia baru saja memutar tubuhnya, ia melihat Fanya ingin bergerak dengan ringisan kecil di bibirnya sehingga Zico memutar tubuhnya kembali menghadap kearah Fanya.
"Mau kemana?" tanya Zico.
"Jangan bilang kamu mau ikut bantu aku beresin semua barang kita?" sambung Zico kala Fanya menatapnya. Dan saat Fanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan dari Zico tadi, laki-laki itu langsung menolak dengan tegas, "Tidak. Kamu tetap duduk anteng disini saja. Nanti kalau kamu gerak tampak sakit lagi. Kamu mau aku bawa ke rumah sakit?"
Tentu saja Fanya menggelengkan kepalanya. Ia tadi bahkan sudah di bujuk Zico untuk dibawa ke rumah sakit akibat ia tadi sempat kesakitan. Namun Fanya menolaknya. Ya kali ia ke rumah sakit dengan keluhan kalau dirinya habis berhubungan dengan suaminya berkali-kali sampai pusat intinya yang ada di bawah sana sakit, kan Fanya malu. Alhasil ia menolaknya. Biarkan saja, toh seiring berjalannya waktu rasa sakit itu akan sembuh sendiri.
"Kalau tidak mau tambah sakit dan aku paksa kamu lagi untuk ke rumah sakit makanya nurut perintah suami itu. Tetap duduk disini, jangan membantah," ujar Zico tak ingin dibantah kembali.
Ucapan tegas dari Zico mau tak mau Fanya menuruti perintah itu. Sehingga ia tetap duduk di tepi ranjang dengan menatap punggung Zico yang mulai menjauh darinya. Ia terus menatap lekat suaminya itu yang bergerak kesana-kemari untuk membereskan semua barang-barang mereka berdua. Bahkan Zico tak segan lagi untuk membereskan pakaian dalam milik Fanya, toh dia sudah tau isi yang selalu dibalut pakaian dalam itu jadi ia tak perlu malu lagi bukan. Tapi berbeda dengan Fanya, pipi wanita itu bersemu merah saat melihat Zico dengan santainya membereskan pakaian dalamnya tanpa melihat ekspresinya saat ini. Dan dengan cepat Fanya menolehkan kepalanya ke segala arah, ia tak ingin menatap kearah Zico yang justru akan membuat dirinya semakin salah tingkah nantinya.
__ADS_1