My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 6


__ADS_3

Seperti yang dikatakan oleh Zico, tepat di pagi harinya ia berserta sang sekretaris yang memiliki nama Baim menuju ke kota Bandung dengan mengendarai mobil milik Zico. Selama perjalanan, Zico hanya menatap ke samping jalan, melihat pemandangan di tepian jalan dengan pikirannya yang tentu saja masih di penuhin dengan satu nama yaitu Fanya, perempuan pujaannya.


Sedangkan Baim yang di tugaskan Zico untuk menyetir mobil sesekali ia melihat kearah Zico yang duduk di kursi belakang tentunya menggunakan kaca spion yang berada di atas kemudi. Selain Kris, Baim juga tau kisah cinta bosnya itu yang sangat rumit menurutnya. Jadi saat Zico memilih diam seperti saat ini, ia tak ingin mengusiknya dan membiarkannya saja karena jika dirinya menggangu Zico, takutnya bosnya itu akan marah kepada-nya. Jadi lebih baik ia diam dan fokus menyetir. Walaupun didalam lubuk hatinya ia sangat prihatin dengan Zico yang sangat terlihat jelas perubahannya. Ya walaupun laki-laki itu sudah mencukur kumis serta jenggotnya dan merapikan potongan rambutnya. Namun dengan adanya kantung mata dan mata panda sudah cukup membuat Baim mengerti sebagaimana frustasinya Zico saat ini.


Saat fokus Baim terbagi hanya untuk memikirkan nasip Zico dan sempat melamun, Baim tersadar saat tiba-tiba ia melihat seorang anak kecil yang entah darimana asalnya berlari ketengah jalan.


"Shittt!" umpat Baim dengan kaki berusaha untuk mengerem laju mobil agar tak menabrak tubuh anak kecil tersebut yang jaraknya sangat-sangat dekat dengan mobilnya.


Chiittt!


Rem mendadak yang dilakukan Baim tentunya mengejutkan Zico saat tubuhnya tiba-tiba terdorong kedepan sebelum kembali terdorong kebelakang dengan keras.


"Baim! Apa yang kamu lakukan?!" Marah Zico. Jantung laki-laki itu hampir copot akibat terkejut atas ulah Baim tadi. Untung saja ia menggunakan sabuk pengaman jika tidak mungkin ia sudah mendapatkan beberapa lebam di tubuhnya.


Baim yang masih shock dengan apa yang barusan terjadi pun, ia dengan cepat melepas sabuk pengamannya kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Zico.


"Maaf tuan jika saya menggangu ketenangan tuan. Tapi saya sekarang tengah menabrak anak kecil!" ucap Baim mulai panik.

__ADS_1


"Apa?! Kenapa bisa Baim? Astaga! Kita turun sekarang! Tanggungjawab atas apa yang telah kamu perbuat," ujar Zico dengan tegas. Lalu setelahnya, ia bergegas turun dari dalam mobil tentunya diikuti oleh baik.


Dengan berlari kecil Zico menuju ke depan, namun ia tak menemukan ada seorang pun yang tergeletak di depan mobilnya. Tapi saat ia mengedarkan matanya, ia melihat ada dua perempuan dan satu anak laki-laki yang kemungkinan anak laki-laki itulah yang dimaksud oleh Baim tadi karena terlihat satu perempuan yang kemungkinan ibunya tengah mengecek kondisi tubuhnya.


"Lho dimana orangnya? Kok gak ada?" beo Baim mencoba mencari orang yang ia rasa dirinya tabrak tadi. Di kolong mobil pun ia periksa namun tak ada tanda-tanda anak kecil yang ia tabrak tadi.


Sedangkan Zico, ia tak mempedulikan ucapan dari Baim, dirinya memilih untuk segara berlari menuju mobilnya kembali, mencari kotak P3K lalu setalah ia mendapatkan kota obat-obatan itu, ia berlari kecil mendekati seorang perempuan yang sudah di tinggal oleh sepasang ibu dan anak tadi. Perempuan itu terlihat berjalan dengan pincang, mungkin perempuan itu tadi yang menyelamatkan anak laki-laki yang ditabrak Baim, pikir Zico. Jadi karena ia tak sempat meminta maaf kepada sepasang ibu dan anak tadi karena sudah keburu pergi, ia bisa meminta maaf kepada perempuan yang saat ini tengah terluka itu.


Zico berlari mengejar perempuan tersebut sembari berteriak, "Tunggu!"


Namun sayangnya teriakan Zico tak di gubris sama sekali oleh perempuan tadi. Mungkin perempuan itu menganggap jika teriakan Zico bukan untuknya sehingga dirinya terus saja berjalan dengan kaki serta lengannya yang mengeluarkan darah. Ia harus segara menemukan peralatan P3K agar luka-lukanya itu tak infeksi nantinya.


"Tunggu sebentar. Kamu sekarang tengah terluka. Luka kamu harus segara di obati," ujar laki-laki itu yang tak lain dan tak bukan adalah Zico.


Tentunya ucapan Zico itu membuat perempuan yang tengah ia hentikan langkahnya kini menolehkan kepalanya kearahnya. Zico yang melihat jelas wajah perempuan didepannya, ia terlihat terkejut dengan debaran jantung yang memacu lebih cepat dari sebelumnya, matanya terasa memanas, ingin sekali ia menangis saat ini. Perempuan yang saat ini berada di depannya adalah perempuan yang selama ini ia cari, perempuan yang sudah merebut hatinya, perempuan yang membuat dirinya seperti orang gila yang setiap detik, menit, jam ataupun setiap harinya selalu memikirkan dia, perempuan yang membuat dirinya merasakan frustasi yang begitu hebat. Ya, perempuan didepannya itu adalah Evanthe Fanya Zahira. Perempuan yang wajahnya selalu menemani mimpi di waktu tidur Zico.


Bibir Zico seakan kelu untuk mengucapkan sepatah kata pun saat ini, ia hanya bisa terus menatap Fanya. Biarkan saja tatapan matanya yang berbicara kepada perempuan pujaannya itu.

__ADS_1


Sedangkan Fanya, ia dibuat bingung dengan tingkah laki-laki di hadapannya.


"Ada apa dengan dia? Kenapa menatapku seperti itu?" ucap Fanya didalam hatinya.


Tangan Fanya kini bergerak, melambai di depan wajah Zico, mencoba menyadarkan lamunan laki-laki tersebut. Namun sayangnya, lambaian tangannya itu tak mempengaruhi Zico sama sekali. Sehingga mau tak mau Fanya menepuk pundak Zico cukup keras mengingat ia harus segara pergi dari lokasinya saat ini sekaligus ia sudah risih dengan tatapan Zico.


Aksi dari Fanya berhasil membuat Zico tersadar dari lamunannya. Ia mengerjabkan matanya, namun tetap saja walaupun ia sudah sadar sepenuhnya, ia tak ingin mengalihkan pandangannya dari Fanya sedikitpun.


Fanya yang sudah jengah sekaligus takut pun segara melepaskan genggaman tangan Zico dari lengannya. Untungnya genggaman tangan tersebut tak cukup kuat jadi ia bisa dengan mudah melepasnya. Lalu setelahnya ia bergegas pergi dari hadapan Zico, sebelum laki-laki itu berbuat lebih kepadanya. Jujur saja Fanya tidak bisa berpikir positif kepada Zico yang sangat aneh, menurutnya.


Tentunya kepergian Fanya itu diikuti oleh Zico. Dan lagi-lagi Zico meraih lengan Fanya sembari berkata, "Mau kemana kamu? Kita obati dulu luka kamu, Fanya."


Fanya yang sedari tadi memberontak agar Zico melepaskan tangannya, aksinya itu terhenti kala mendengar namanya disebut oleh laki-laki tersebut.


"Apa aku tidak salah dengar tadi? Dia menyebutkan kata Fanya, bukan? Apa aku mengenalnya? Tidak, jelas aku tidak mengenalnya. Tapi kenapa dia tadi memanggil namaku? Apa dia kenal denganku?" tanya Fanya terus memutar di otaknya.


Zico yang melihat keterbengongan Fanya, ia tersenyum. Tangannya yang tadi berada di lengan Fanya kini berpindah ke sela-sela jari perempuan itu, ia genggam tangan Fanya penuh dengan kelembutan sebelum ia berkata, "Kita pergi ke rumah sakit saja, untuk memastikan kamu mendapat luka di bagian mana saja. Takutnya ada luka dalam juga."

__ADS_1


Ucapan Zico tentunya berbanding terbalik dengan niat awalnya yang hanya ingin memberikan P3K kepada perempuan yang menyelamatkan anak laki-laki tadi. Namun setalah ia tau jika perempuan itu adalah Fanya, perempuan kesayangannya maka Zico harus memastikan keadaan Fanya secara menyeluruh. Ia tak ingin Fanya memiliki luka yang tak kasat mata dan menimbulkan resiko berbahaya untuk pujaan hatinya itu.


__ADS_2