My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 89


__ADS_3

Pertanyaan yang diajukan oleh Fanya tentunya membuat semua orang di sekitarnya terdiam tak terkecuali Zico. Laki-laki itu bingung harus menjelaskan dengan cara apa agar Fanya tidak terlalu terluka.


Keterdiaman semua orang membuat Fanya mulai curiga. Pikirannya pun sudah mengarah ke hal-hal yang tak pernah ia inginkan. Detak jantungnya pun berdetak cepat kala melihat sang suami menundukkan kepala.


Namun kepala itu kembali tegak, saat Fanya menggenggam erat pergelangan tangan Zico sembari menggoyangkan tangan itu.


Dan ketika tatapan mata sepasang suami istri itu saling bertemu, Fanya kembali melayangkan pertanyaan, "Kenapa diam saja? Jawab pertanyaanku. Bagaimana kondisi calon anak kita? Dia baik-baik saja kan?"


Zico menggigit bibir bawahnya. Rasanya lidahnya sangat kelu hanya untuk menjawab pertanyaan dari Fanya.


Fanya yang tak sabar menunggu jawaban dari sang suami, ia mengalihkan pandangannya kearah sang mertua. Ia sangat yakin jika mertuanya itu tau kabar dari calon cucu mereka.


Namun saat Fanya ingin bertanya kepada kedua mertuanya, pintu ruang inap terbuka lebar dan muncullah dokter Ariana serta Adam bersama dengan dua suster masuk kedalam ruangan yang terdapat 6 orang di sana.


Dan kedatangan dari empat tenaga medis itu membuat semua orang yang tadi sempat menegang, kini menghela nafas lega. Setidaknya mereka ada waktu untuk memikirkan cara menjelaskan kepada tanya tentang semua hal yang terjadi hari ini terutama tentang sang buah hati yang sudah tak ia kandung lagi.

__ADS_1


Sedangkan Zico, ia memaksakan senyumannya kepada Fanya yang tampaknya masih menunggu jawaban darinya karena tatapan perempuan itu terus tertuju kearahnya. Tak peduli jika ada dua dokter yang saat ini tengah berdiri disamping sang suami.


Zico mengusap puncak kepala Fanya dengan lembut sembari berkata, "Biar Dokter cek keadaanmu ya sayang. Aku akan mundur sebentar agar tidak menghalangi dokter yang akan memeriksamu."


Setelah mengatakan hal tersebut, tanpa menunggu balasan dari Fanya, ia mengikuti para anggota keluarganya yang lain yang lebih dulu mundur di belakang kedua dokter tadi.


Dan setelah tak ada lagi seseorang yang menghalangi mereka untuk mulai bekerja, dua dokter itu mulai bergerak memeriksa keadaan Fanya yang hanya diam dengan tatapan lurus kearah langit-langit kamar inap itu.


Sedangkan di belakang sana, Zico mendudukkan tubuhnya sembari mengusap wajahnya dengan kasar dan diakhiri dengan ia menjambak rambutnya.


Hingga tepukan di bahunya membuat dirinya melepaskan jambakannya tadi bahkan ia saat ini menolehkan kepalanya kearah tepukan bahunya tadi. Dan saat ia menoleh, ia lihat sang Kakak tengah tersenyum kepadanya.


Ucapan dari Vivian justru membuat Zico mendudukkan kepalanya sebelum ia berkata, "Jio takut dia akan menangis saat tau akan hal itu Kak. Jio tidak akan kuasa melihat dia meneteskan air matanya."


Tangan yang sedari tadi bertengger di bahu Jio, perlahan berpindah ke tangan dingin adiknya itu. Ia genggam tangan dingin nan besar tersebut seakan-akan dengan genggaman tangan itu bisa membangkitkan semangat Zico.

__ADS_1


"Kakak tau jika Fanya akan bersedih nanti. Tapi apa kamu tidak berpikir, jika kamu terus diam tak mau menjelaskan tentang calon buah hati kalian kepada Fanya atau malah kamu merahasiakan semuanya kepada dia, apa tidak akan ada dampak lain untuk Fanya nantinya? Tentu saja ada Jio, bahkan dampaknya akan sangat besar jika kamu berencana untuk terus bungkam. Fanya pasti akan berpikir dengan bungkamnya kamu berarti buah hati kalian baik-baik saja di dalam kandungannya dan dia akan terus menganggap jika dirinya masih hamil. Dia akan terus melakukan aktivitas selayaknya ibu hamil pada umumnya dan salah satunya mungkin dengan mengajak calon bayinya berbicara. Hingga waktu yang terus berjalan menjawab semua hal yang telah kamu sembunyikan. Ingat pepatah yang mengatakan sepandai-pandainya kamu menyimpan bangkai pasti akan tercium juga bau busuknya. Dan pepatah ini akan berlaku kepadamu. Dan kamu tau dampak apa yang akan kamu terima? Tentu saja yang pertama kemarahan dari Fanya. Kedua, kamu akan melihat Fanya menyesal dengan air mata yang tak pernah surut menetes dari pelupuk matanya. Ketiga, kamu akan melihat rasa bersalah yang berkepanjangan dari Fanya yang menganggap jika dia tidak bisa menjaga buah hatinya. Keempat, kamu akan melihat Fanya mengalami stress ataupun depresi. Hingga hal fatal yang akan kamu lihat mungkin Fanya akan gila karena masalah ini atau mungkin kamu akan melihat Fanya nekat melakukan aksi bunuh diri. Dan masih banyak lagi hal yang akan kamu lihat ketika kamu enggan untuk menjelaskan semuanya kepada Fanya saat ini juga. Ketahuilah Jio, saat kamu menjelaskan semuanya sekarang dampak yang akan kamu jalani tidak akan seburuk yang Kakak katakan tadi. Mungkin kamu hanya akan melihat Fanya menangis meraung, termenung, penyesalan dan mungkin juga rasa bersalah yang cukup besar didalam diri Fanya. Tapi percaya dengan Kakak dengan kamu yang terus mendampingi dan menyemangati Fanya disaat dia terpuruk seperti ini, dia akan perlahan bangkit dari keterpurukannya. Dia perlahan akan ikhlas menerima kepergian dari calon buah hati kalian. Dan mungkin setelah Fanya bangkit, kalian bisa mendapatkan buah hati lagi seperti yang kalian inginkan. Jadi Kakak harap kamu tidak egois dengan menyembunyikan semua ini sendiri dan membiarkan Fanya hidup tanpa kejujuran darimu. Kakak yakin kamu bisa melakukannya. Kakak percaya itu," tutur Vivian panjang lebar.


Zico yang tadinya mendudukkan kepalanya, ia kini telah menatap kembali wajah sang Kakak. Ucapan dari Vivian tadi lagi-lagi berhasil membuat dirinya bangkit dan percaya jika ia bisa melakukan semua hal yang terlihat menyakitkan itu.


Dan tanpa aba-aba Zico menerjang tubuh Vivian, memeluknya dengan sangat erat. Ia sangat bersyukur diberikan keluarga yang selalu memberikan support kuat kepadanya kala ia terpuruk seperti ini. Entah akan menjadi apa dirinya jika tidak memiliki keluarga seperti keluarga Abhivandya ini.


Disela pelukannya, ia berkata, "Terimakasih atas support yang Kakak berikan ke Jio. Terimakasih karena ucapan Kakak tadi membuka mata Jio jika Jio tidak boleh egois. Fanya memiliki hak untuk tau keadaan janin yang sempat ia kandung. Sekali lagi terimakasih atas semuanya Kak. Jio janji akan selalu menyemangati dan berada disamping Fanya saat ia bersedih karena kehilangan."


Vivian yang mendengar ucapan dari sang adik, ia tersenyum sembari menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan Zico tadi.


Pelukan itu tak berlangsung lama saat para dokter dan suster datang mendekati mereka semua yang tengah berkumpul di sofa. Dokter Ariana sempat memberitahukan keadaan Fanya yang semakin membaik sebelum ia dan yang lain tak terkecuali Adam pergi dari ruang inap Fanya.


Dan kepergian dari para dokter dan suster tadi, membuat empat pasangan mata menatap kearah Zico sepenuhnya.


"Kamu siap, Jio?" tanya Daddy Aiden yang sedari tadi berdiri disamping sang putra.

__ADS_1


Zico menengadahkan kepalanya sekilas untuk menatap kearah sang Daddy sebelum tatapan mata itu menuju kearah Fanya yang tengah melamun di depan sana. Hingga sebuah anggukan mantap Zico berikan sebagai jawaban dari pertanyaan Daddy Aiden tadi. Anggukan kepala dari Zico tentunya membuat keempat orang itu tersenyum.


"Ya sudah kalau begitu tunggu apa lagi. Selesaikan sekarang juga. Tetap tegar demi istrimu," tutur Daddy Aiden yang lagi-lagi diangguki oleh Zico. Tapi tak urung Zico mulai berdiri dari duduknya lalu mulai melangkahkan kakinya mendekati Fanya dengan sesekali ia menghela nafas panjang berharap semoga ia bisa melalui ini semua begitu juga dengan Fanya yang bisa menerima semuanya dengan hati yang lapang.


__ADS_2