My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 12


__ADS_3

Sedari semalam ponsel Fanya tak berhenti berbunyi menandakan sebuah notifikasi pesan masuk. Tanpa harus melihat terlebih dahulu siapa pengirim pesan, ia sudah tau siapa pelakunya sampai-sampai Fanya yang merasa risih sekaligus terganggu sempat mematikan ponselnya. Namun di pagi harinya saat ia menyalakan ponselnya, lagi dan lagi ratusan pesan masuk sampai saat ia sarapan bersama keluarganya saja ponselnya tak berhenti berdering.


"Fan, ponsel kamu dari tadi bunyi terus tuh. Angkat dulu gih siapa tau penting," ujar salah satu perempuan yang seusia dengan Fanya.


Fanya mendengus dan dengan gerakan cepat bukannya ia melihat ribuan pesan tersebut, ia memilih untuk mematikan ponselnya kembali. Dan hal tersebut tak lepas dari perhatian beberapa orang yang tengah berada di meja makan.


"Lho kok malah kamu matiin, nak. Kenapa gak di lihat dulu?" Kini giliran ibu Suci yang angkat suara.


Fanya menggelengkan kepalanya dengan tangan yang ia gerakkan membuat kata isyarat lewat pergerakan tangannya.


"Hanya orang iseng ibu. Dan isi pesannya tidak penting."


"Kamu yakin hanya orang iseng saja?" tanya Cantika yang diangguki oleh Fanya.


"Ya sudah kalau memang begitu, lanjutkan sarapan kalian gih," ujar ibu Suci yang tentunya diangguki oleh anak-anaknya yang memiliki usai dewasa.


Sarapan itu selesai menandakan beberapa orang dewasa itu akan memulai aktivitasnya sehari-hari salah satunya Fanya yang saat ini sudah menelusuri jalanan menuju ke tempat kerjanya. Awalnya ia sempat dilarang ibu Suci untuk bekerja mengingat dirinya habis mengalami musibah, tapi Fanya tetap kekeuh untuk berangkat. Alhasil ibu Suci pasrah dengan mengizinkan Fanya untuk tetap bekerja.


Disisi lain, seorang laki-laki tengah menunggu seseorang didalam mobilnya. Tak ada raut bahagia sama sekali diwajahnya, sangat berbeda dengan hari kemarin. Senyum yang seharian kemarin tak pernah luntur kini senyum itu hilang seketika saat ribuan pesan yang ia kirimkan untuk sang pujaan hati tak mendapat balasan sama sekali. Apalagi saat ia tau nomor pujaan hatinya tak bisa ia hubungi yang semakin membuat dirinya kalut dan menganggap jika pujaan hatinya akan pergi lagi darinya. Makanya ia saat ini berada di pinggir taman yang kemarin sempat dirinya dan Fanya kunjungi dengan harapan perempuan itu muncul disana lagi.

__ADS_1


Mata Zico berbinar saat dari kejauhan ia melihat Fanya berjalan menuju kearahnya. Zico tak ingin kehilangan kesempatan, ia segara keluar dari dalam mobilnya, berlari menghampiri Fanya.


Fanya sempat terkejut saat matanya menangkap laki-laki yang semalam mengganggu dirinya. Ia segara berbalik arah, berniat untuk menghindari laki-laki itu dengan cara berlari juga. Namun sayangnya jadi kalah cepat, baru juga beberapa langkah ia berlari, lengan sudah di cekal oleh laki-laki tersebut. Otomatis Fanya menghentikan langkahnya kala Zico berdiri menjulang di depannya.


"Kenapa kamu menghindariku? Apa aku memiliki salah kepadamu?" tanya Zico dengan nafas memburu antara cepek berlari sekaligus kesal dengan Fanya yang terlihat jelas sekali tengah menghindari dirinya.


Fanya gelagapan sendiri dibuatnya. Jujur saja ia sangat takut dengan aura Zico yang terlihat mengerikan, sangat berbeda dengan kemarin. Jika kemarin ia memandang Fanya dengan tatapan lembutnya, saat ini ia justru menatap dengan tajam. Entah Zico sadar atau tidak dengan perubahan dirinya itu yang secara tidak langsung membuat Fanya takut kepadanya.


"Jawab Fanya! Kenapa kamu menghindariku?" ucap Zico menuntut jawaban dari Fanya.


Dengan tangan bergetar, Fanya menuliskan kalimat yang akan menjawab pertanyaan dari Zico tadi. Dan tanpa membalas tatapan Zico, ia menyerahkan buku note kepada Zico.


Dengan tak sabaran Zico merebut buku note tadi.


Tentu saja jawaban dari Fanya itu sebuah kebohongan karena tuduhan Zico tadi benar adanya. Fanya berniat menghindari Zico. Tapi karena melihat Zico yang sangat menakutkan, ia tak berani mengatakan sebuah kejujuran.


Baru saja Zico selesai membaca kalimat dari Fanya, satu buku note yang lainnya terulur di hadapannya.


"Bisakah kamu tidak menatapku seperti itu? Sungguh aku sangat takut dengan tatapanmu."

__ADS_1


Zico terkejut membaca kalimat tersebut dan dengan cepat ia melunakkan tatapan matanya diiringi dengan helaan nafas panjang. Lalu setelahnya ia meraih dagu Fanya dengan lembut agar kepala Fanya sedikit menengadah menatap dirinya.


"Maaf aku tidak bermaksud menakutimu. Jadi katamu, kamu sekarang tengah buru-buru kan. Mau kemana memang? Biar aku antar." Dengan cepat Fanya menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa. Aku tidak merasa di repotkan olehmu. Jadi ayo ikut aku, aku akan mengantarmu," ucap Zico tanpa mau di tolak lagi oleh Fanya. Sehingga ia langsung menggandeng tangan Fanya menuju ke mobilnya tanpa melihat raut wajah pasrah Fanya. Sepertinya setelah kejadian kemarin ia tak akan bebas dari laki-laki yang berjalan disampingnya saat ini.


Fanya kini sudah duduk di samping kemudi. Ia sudah tak terkejut dengan mobil mewah milik Zico, mengingat saat pertemuan mereka kemarin laki-laki itu memakai pakai formal yang sudah sangat jelas jika laki-laki tersebut merupakan orang terpandang.


"Katakan tujuan kamu," ujar Zico menatap lekat wajah cantik Fanya.


Tanpa membalas tatapan Zico, ia menyerahkan secarik kertas dihadapan Zico, tentu saja langsung di baca oleh laki-laki tersebut.


"Galaksi resto. Oke, kita ke sana sekarang." Dengan penuh semangat Zico menjalankan mobilnya.


Tentunya didalam perjalanan itu tak ada yang mengeluarkan suara, Zico hanya sesekali melirik kearah Fanya dengan senyum manisnya. Sedangkan Fanya, ia memilih untuk melihat pemandangan di samping jalan.


"Kita sudah sampai," ujar Zico dengan melepas selt beltnya. Kemudian ia lebih dulu keluar daripada Fanya, berlari memutari mobilnya untuk membukakan pintu untuk pujaan hatinya.


"Silahkan," ucap Zico yang sudah membuka pintu mobil di samping Fanya.

__ADS_1


Fanya hanya bisa menghela nafas sebelum dirinya keluar dari dalam mobil tersebut. Lalu ia menyerahkan kertas yang langsung di terima oleh Zico. Saat kertas tersebut sudah berpindah tangan, Fanya bergegas masuk kedalam restoran tersebut meninggalkan Zico yang menatap kepergiannya tanpa berhasil mencegah.


"Ck, kenapa dia saat ini sangat cuek sekali kepadaku? Padahal aku sudah meminta maaf untuk kesalahanku tadi. Mana aku belum tanya lagi ada keperluan apa dia kesini? Dan kertas ini juga cuma isinya tulisan terimakasih saja," gerutu Zico. Ingin sekali ia menyusul kepergian Fanya tadi. Tapi sialnya ia tak bisa melakukannya sekarang karena ketenangannya sudah di ganggu oleh Bima yang meminta dirinya untuk datang langsung ke pelaksanaan proyek mereka dengan ancaman jika ia tak datang maka Bima akan menyeret dirinya sampai di tempat tujuan mereka. Alhasil Zico memilih untuk pergi ke proyek saja daripada ia dibuat malu dihadapan Fanya nantinya jika sampai Bima benar-benar melakukan ancamannya tadi. Dan untuk Fanya, jangan lupakan niat Zico tadi malam yang akan mulai menyelidiki Fanya.


__ADS_2