
Tok tok tok!!!
Suara ketukan pintu terdengar nyaring yang disebabkan oleh Fanya. Perempuan itu saat ini sudah berdiri didepan kamar milik ibu Suci.
Didalam sana ibu Suci yang tengah sibuk dengan kertas pekejaannya mengalihkan pandangannya kearah pintu sebelum ia berteriak, "Masuk!"
Tak berselang lama pintu itu terbuka, menampakkan Fanya yang tersenyum manis kepadanya. Tentunya hal tersebut membuat wanita paruh baya itu tutur tersenyum. Ia menaruh kertas pekerjaannya tadi diatas nakas lalu tangannya bergerak menepuk-nepuk tempat kosong yang berada disampingnya.
"Sini Nak, masuk sini." Fanya menganggukkan kepalanya. Dan setelah dipersilahkan, Fanya akhirnya masuk juga kedalam kamar ibu Suci tak lupa ia menutup pintu kembali.
"Akhirnya kamu pulang Nak. Sudah 3 hari lho kamu selalu menginap di tempat kerja kamu. Ibu kangen," ucap ibu Suci lalu memeluk tubuh Fanya dari samping yang langsung dibalas oleh Fanya.
Beberapa saat kedua perempuan itu saling berpelukan, menyalurkan rindu mereka masing-masing sebelum pelukan itu kini terlepas.
"Fanya juga merindukan ibu," balas Fanya dengan bahasa isyaratnya.
Ibu Suci tersenyum dengan tangan yang mengusap lembut kepala Fanya.
Fanya menikmati setiap usapan penuh kasih sayang dari wanita yang selama ini merawatnya sampai-sampai ia menutup matanya. Hanya sesaat saja karena setelahnya ia teringat tujuan dirinya menemui ibu Suci di kamar wanita itu.
"Ibu maaf Fanya hampir lupa untuk mengatakan tujuan Fanya datang kesini. Jadi Fanya kesini karena ada seseorang yang mau bertemu dengan ibu. Apa ibu berkenaan menemui dia sekarang?"
Ibu Suci terlihat memincingkan salah satu alisnya. Siapa gerangan yang datang bertamu dimalam hari seperti ini?
"Seseorang? Siapa itu?" tanya ibu Suci penasaran.
"Dia kenalan Fanya, ibu dan dia ingin membicarakan sesuatu yang lumayan penting dengan ibu. Dia sekarang juga sudah berada disini tepatnya berada di ruang tamu."
"Ehhh kamu tau orangnya berarti?" Fanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan ibu Suci.
__ADS_1
"Dia laki-laki atau perempuan?" Seperti seorang ibu pada umumnya, ibu Suci cukup posesif kepada anak-anaknya.
Fanya tampak menggaruk hidungnya karena gugup sebelum ia menjawab, "Dia seorang laki-laki, ibu."
"Seorang laki-laki yang kamu kenalin dan saat ini ingin bertemu dengan ibu untuk membicarakan sesuatu. Hmmm ibu curiga jika topik pembicaraannya nanti mengenai kamu, Fanya," goda ibu Suci yang berhasil membuat pipi Fanya merona.
Ibu Suci yang melihat itu, mati-matian dirinya menahan tawanya.
Dan dengan jahil, ibu Suci mencolek dagu Fanya sembari berkata, "Pipi kamu kenapa tuh? Kok merah kayak tomat."
Fanya semakin dibuat memerah. Dan dengan ia berusaha menyembunyikan wajahnya agar ibu Suci tak semakin gencar menggodanya, ia menggerakkan tangannya, memberikan bahasa isyarat untuk wanita paruh baya tersebut.
"Ibu, jangan menggodaku terus menerus seperti itu. Dan lebih baik kita segara turun kebawah untuk menemui dia."
Dengan tawa kecil yang tak bisa lagi ibu Suci tahan, ia berdiri dari duduknya, "Ayo. Kita temui dia."
Tangan Fanya bergerak, menepuk kecil lengan ibu Suci, "Ibu, jangan menggoda Fanya terus!"
"Hahahaha baiklah-baiklah ibu tidak akan menggoda kamu lagi. Jadi ayo kita temui dia, kasihan dia sudah lama menunggu kedatangan kita berdua," ujar ibu Suci yang dibalas anggukan kepala oleh Fanya. Kemudian dua perempuan itu melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar ini Suci dengan tangan mereka yang saling bertautan.
Setibanya keduanya di ruang tamu, ibu Suci terlihat terkejut saat melihat laki-laki yang sudah tak asing lagi di matanya. Laki-laki yang selama seminggu sekali itu selalu menemui dirinya untuk memberikan sumbangannya guna mencukupi kebutuhan panti karena laki-laki itu merupakan donatur terbesar di panti.
Zico yang melihat kedua perempuan tadi sudah berada di hadapannya, dengan senyum terbaiknya Zico nefdigu dari duduknya, menghampiri ibu Suci yang masih membeku ditempat, lalu menyodorkan tangannya.
"Apa kabar ibu Suci?" ucap Zico sembari mengecup punggung tangan ibu Suci saat sudah berada didalam genggamannya.
Ibu Suci mengerjabkan matanya guna menyadarkan dirinya dari keterkejutannya tadi.
"Ehhhhh kabar ibu baik. Nak Zico sendiri bagaimana?" tanya balik ibu Suci yang sekarang giliran membuat Fanya terkejut.
__ADS_1
Fanya menepuk pelan pundak ibu Suci dan saat wanita paruh baya itu menolehkan kepalanya kearahnya barulah ia bertanya tentunya dengan bahasa isyarat karena jika di panti ia lebih aktif menggunakan bahasa isyaratnya daripada menggunakan notebooknya untuk berkomunikasi. Toh semua orang di panti semuanya paham dengan bahasan isyarat.
"Ibu kenal dengan dia?"
Ibu Suci menganggukkan kepalanya.
"Tentu saja ibu kenal dengan Nak Zico karena nak Zico ini merupakan donatur terbesar disini."
Lagi-lagi Fanya dibuat terkejut akan satu fakta yang baru ia ketahui.
"Oh ya Fan, katanya kamu tadi ada teman kamu yang mau bertemu dengan ibu. Mana dia sekarang?" tanya ibu Suci dengan menatap ke sekitarnya, mencari sosok laki-laki yang katanya teman Fanya itu. Namun sejauh mata memandang, ia tak menemukan keberadaan laki-laki lain di sana selain Zico atau jangan-jangan...
Ibu Suci menatap kearah Fanya dengan mata yang terbuka lebar sembari ia berkata, "Jangan bilang nak Zico lah orang yang kamu maksud tadi?"
Fanya menggigit bibir bawahnya, kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Oh astaga," ucap ibu Suci sembari menutup sebagian wajahnya dengan satu tangannya. Pantas saja waktu pertama kali Zico bertemu dengannya langsung bertanya tentang Fanya. Ternyata oh ternyata mereka berdua berteman.
"Maaf jika kedatangan saya ini mengejutkan ibu Suci ataupun mengganggu kegiatan ibu." Ucapan dari Zico membuat ibu Suci menjauhkan telapak tangannya dari sebagian wajahnya.
Dan dengan senyum ramah, ia membalas, "Tidak-tidak, nak Zico. Saya tidak merasa terganggu atas kehadiran kamu, nak Zico. Tapi kalau soal saya terkejut atau tidaknya, tentu saja saya terkejut saat tau nak Zico ternyata berteman dengan Fanya. Oh ya nak, silahkan duduk lagi dan nikmati hidangannya. Maaf sajiannya tidak mewah dan hanya alakadarnya saja."
Zico hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala sebelum ia duduk di tempatnya tadi setelah ibu Suci dan Fanya duduk terlebih dahulu.
"Kata Fanya tadi, nak Zico ingin berbicara sesuatu dengan ibu. Benarkah begitu?" tanya ibu Suci yang diangguki oleh Zico.
"Apa yang dikatakan oleh Fanya memang benar adanya Bu. Tujuan saya kesini ingin membicarakan sesuatu yang cukup penting untuk saya dab Fanya," jawab Zico.
"Baiklah kalau begitu, hal apa yang ingin kamu bicarakan dengan ibu? Katakan," ujar ibu Suci yang membuat Zico tersenyum dan sebelum mengutarakan maksud dan tujuannya, Zico sekilas menatap Fanya yang tampak malu-malu dengan kepala yang ia tundukkan, benar-benar terlihat sangat menggemaskan bagi Zico.
__ADS_1