My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 41


__ADS_3

Setelah bujuk rayu yang dilakukan oleh Daddy Aiden, akhirnya pria paruh baya itu berhasil membawa istrinya keluar dari dalam kamar Fanya. Dan saat sepasang suami-istri istri itu melewati ruang keluarga, keduanya bisa melihat ada Zico, Vivian, serta Erland disana.


Mata Zico seketika berbinar saat melihat sang Mommy sudah menjauh dari kekasihnya. Dan dengan secepat kilat ia berlari menuju ke kamar Fanya.


Mommy Della yang melihat hal tersebut pun ia berniat untuk meneriaki Zico agar tak ke kamar Fanya yang ia suruh untuk segera istirahat. Tapi sayangnya saat ia baru membuka mulutnya, Daddy Aiden sudah membekap bibir Mommy Della sembari ia berkata, "Sudahlah. Biarkan Jio bertemu dengan Fanya. Dan lebih baik kita segara berdiskusi mengenai pernikahan Jio."


Masih dengan tangan yang berada di bibir Mommy Della, tatapan Daddy Aiden beralih kearah kedua putra dan putrinya.


"Kalian berdua, ikut Daddy sama Mommy terutama kamu, Vi karena Daddy yakin kamu sudah tau segalanya tentang Vivian walaupun lewat cerita dari Jio saja. Tapi Daddy sama Mommy mau mendengar cerita kehidupan Fanya," ucap Daddy Aiden yang tentunya diangguki oleh kedua putra putrinya itu.


Lalu setelahnya mereka berempat berjalan menuju ke ruang kerja Daddy Aiden masih dengan mulut Mommy Della yang di bekap oleh Daddy Aiden. Dan bekapan itu baru di lepas saat mereka telah sampai di ruang kerja pria paruh baya tersebut.


Mommy Della yang sudah bebas, ia memberikan tatapan tajam kearah sang suami dan dengan tau wajah masam, ia berjalan lalu mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa yang ada di dalam ruangan tersebut. Hal itu membuat Daddy Aiden hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Kalian duduklah," perintah Daddy Aiden kepada Erland juga Vivian. Tentu saja kedua keturunannya itu langsung mengikuti perintahnya.

__ADS_1


Setelah semuanya duduk dengan tenang, Daddy Aiden kembali berkata, "Ceritakan semuanya tentang Fanya sekarang juga, Vi."


Vivian menganggukkan kepalanya, kemudian seperti yang di perintahkan oleh Daddy Aiden, ia mulai menceritakan semua hal yang berkaitan dengan Fanya tentunya sesuai yang ia tau saja dan yang pernah ia dengar dari Zico yang sering curhat kepadanya.


Saat di ruang keluarga tengah membahas tentang Fanya, disisi lain tepatnya di kamar Fanya, ia sempat terkejut tadi kala pintu kamarnya dibuka secara kasar oleh seseorang padahal dirinya baru saja berniat mengunci pintu tersebut. Dan untung saat pintu itu terbuka, ia refleks melangkahkan mundur, menghindari tubuhnya terkena pintu.


Belum juga rasa terkejut Fanya hilang ia semakin terkejut kala tubuhnya langsung di tubruk lalu di peluk oleh seseorang yang dari parfumnya saja ia sudah tau jika dia adalah Zico, kekasihnya sehingga ia mengurungkan niatnya untuk memukul orang yang memeluknya dengan erat itu.


"Sayang, aku rindu," ungkap Zico dengan suara yang teredam karena kepalanya saat ini ia sembunyikan di ceruk leher Fanya yang justru membuat Fanya kini merasa merinding karena lehernya terkena terpaan nafas dari Zico. Namun tak urung tangan Fanya bergerak untuk menepuk-nepuk pelan punggung Zico, membiarkan laki-laki itu tetap memeluknya sampai 15 menit telah berlalu dan akhirnya Zico melepaskan pelukannya juga.


Fanya tampak menghela nafas lega karena ia merasa tak ada lagi beban yang tadi sempat membebani bahunya.


Fanya yang melihatnya, ia kalang kabut. Dan saat Zico berbalik, lalu menatapnya, ia mulai melayangkan protesannya kepada kekasihnya itu dengan sebuah kalimat yang sudah tersusun di dalam notebooknya.


"Kenapa kamu menutup pintunya dan menguncinya?"

__ADS_1


"Aku tidak mau ada seseorang yang mengganggu waktu kita berdua. Aku tidak mau Mommy kembali mengambil seluruh waktumu lagi," balas Zico dengan diakhiri kerucutan di bibirnya.


Fanya kembali menulis kala ia sudah mendengar jawaban dari Zico. Lalu setelahnya ia mengangkat notebooknya agar laki-laki yang berada dihadapannya itu bisa membaca balasannya.


"Tapi tidak dengan cara kamu mengunci pintu kamar ini. Kita disini hanya berduaan saja. Dan bagaimana jika nanti Mommy, Daddy atau adik kamu mengira kalau kita berbuat macam-macam disini? Aku tidak mau di cap buruk oleh keluargamu. Aku tidak mau kalau mereka yang tadinya merestui hubungan kita beralih menjadi tidak merestui hubungan kita ini dan lebih parahnya lagi mereka membenciku."


"Tidak akan. Mereka tidak akan membencimu. Kalaupun mereka mencurigai kita telah berbuat hal kelewat batas. Palingan aku yang akan dimarahi oleh mereka. Kalau kamu, yakinlah mereka tidak akan berani melakukannya. Mereka terlalu sayang sama kamu. Dan mereka juga tidak akan berubah pikiran mengenai restu mereka untuk kita, mereka justru akan mempercepat pernikahan kita dan kemungkinan lagi pernikahan itu akan dilaksanakan besok seperti keinginan Mommy," ujar Zico.


Saat Fanya ingin membalas ucapan dari kekasihnya, pena yang berada di tangannya sudah lebih dulu di rebut oleh Zico. Ia menegakkan kepalanya, menatap Zico yang tengah memberikan cengiran kepadanya.


"Sudahlah sayang jangan dipikirkan lagi. Masalah mereka nanti yang akan salah paham ke kita, biar aku yang menanganinya nanti. Dan sebaiknya kamu kembali peluk aku. Aku benar-benar rindu sama kamu." Zico merentangkan kedua tangannya, kode agar Fanya segera masuk kedalam pelukannya. Namun bukannya langsung memeluk tubuhnya, Fanya justru menatapnya dengan datar, tanpa ekspresi di wajahnya. Lalu tanpa ba-bi-bu lagi, perempuan itu justru memutar tubuhnya, berniat menuju kearah sofa untuk membaca sebuah novel yang Mommy Della berikan kepadanya tadi, membiarkan Zico melakukan apapun yang dia mau di dalam kamar sementaranya itu. Dan ingat, Fanya akan ngambek dengan Zico.


Tapi sayangnya rencananya tadi hanya tinggal rencana saja karena baru beberapa langkah, tubuhnya sudah melayang di udara berkat ulah Zico yang menggendongnya ala bridal style. Fanya sempat memberontak, namun sekuat apapun ia memberontak Zico tak akan menurunkan gendongannya. Sampai ketika duanya berada disamping ranjang, Zico perlahan menurunkan tubuh Fanya yang sudah tak memberontak seperti tadi. Dan tanpa membiarkan Fanya beranjak dari atas ranjang, Zico ikut merebahkan tubuhnya di samping tubuh kekasihnya, memeluk erat tubuh Fanya yang kembali memberontak didalam pelukannya bahkan perempuan itu kini memukul-mukul dada bidangnya. Zico yang sudah jengah pun, ia sedikit melonggarkan pelukannya, lalu dengan sigap ia menangkap salah satu tangan Fanya dengan satu tangannya yang ia lepaskan dari pinggang Fanya.


Si pemilik tangan itu pun menengadahkan kepalanya sampai tatapan mata mereka berdua beradu. Raut wajah datar Zico seketika membuat nyali Fanya menciut apalagi saat ia mendengar suara dingin dari kekasihnya untuk pertama kalinya membuat niatnya yang ingin merajuk dengan seketika ia urungkan dan lebih baik ia memilih mengikuti perintah dari Zico saja daripada ia dalam bahaya jika dirinya memberontak lagi seperti tadi.

__ADS_1


"Berhentilah memukulku. Aku hanya meminta kamu memelukku bukan untuk menganiayaku. Jadi hentikan dan biarkan aku melepaskan rasa rinduku kepadamu."


Setelah mengatakan hal tadi, Zico yang merasa jika Fanya tak akan memberontak lagi, ia melepaskan cekalan di tangan sang kekasih kemudian ia memeluk erat tubuh Fanya dengan kepala yang ia sembunyikan di leher Fanya sembari menghirup wangi Fanya sebagai obat dari rasa rindunya. Sedangkan Fanya, ia hanya bisa pasrah saja sekaligus ia sesekali menggigit bibir bawahnya kala ia lagi-lagi merasa merinding akibat nafas Zico yang menerpa lehernya.


__ADS_2