
Senyum cerah tak pernah luntur dari bibir Fanya maupun Zico sampai acara pernikahan mereka telah selesai pun keduanya masih tersenyum bahagia.
"Apa kamu capek sayang?" tanya Zico saat setelah dirinya menutup pintu kamar inap yang akan mereka tempati malam ini dan ia melihat Fanya langsung merebahkan tubuhnya di ranjang king size.
Fanya menolehkan kepalanya kearah sang suami lalu ia menggerakkan tangannya untuk menjawab pertanyaan dari Zico tadi.
"Cakep, tapi cuma sedikit."
Zico tersenyum saat melihat jawaban dari sang istri. Walaupun ia tak yakin jika memang Fanya hanya sedikit merasakan lelah, pasalnya perempuan itu hampir 13 jam berdiri menyambut para tamu undangan yang jumlahnya tak sedikit, terlebih Fanya memakai gaun yang Zico percaya gaun itu sangat berat dan jangan lupakan sepatu high heels yang dikenakan oleh Fanya tadi. Zico yang hanya melihat saja ia merasa lelah apalagi sang istri. Dan ia tadi juga tidak sengaja melihat Fanya beberapa kali memijit kakinya disela-sela menyambut para tamu undangan walaupun di wajah Fanya selalu tersenyum.
Dan karena pikirannya itu, Zico kini melirik kearah kaki Fanya yang menjuntai ke bawah. Tanpa pikir panjang, Zico menjongkokkan tubuhnya hingga ia berhadapan langsung dengan kedua kaki Fanya, ia meraih salah satu kaki istrinya lalu ia letakkan di pahanya.
Fanya yang merasakan kakinya di sentuh pun ia terperanjat kaget. Saking kagetnya, ia sampai mendudukkan tubuhnya. Dan ia semakin kaget kala Zico berada di bawahnya. Terlihat laki-laki itu ingin menyibak gaun yang menutupi kakinya namun sebelum hal itu terjadi, Fanya menyentuh lengan Zico sehingga membuat laki-laki itu menghentikan pergerakan tangannya kemudian ia menolehkan kepalanya kearah Fanya.
"Ada apa?" tanya Zico.
"Apa yang kamu lakukan?" Bukannya menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh Zico, Fanya justru bertanya balik tentunya dengan bahasa isyarat.
"Aku hanya ingin memijat kakimu, sayang. Walaupun kamu tadi bilang cuma capek sedikit. Tapi aku yakin kakimu butuh pijatan sedikit dariku. Jadi bolehkan aku memijit kakimu?" pintu Zico.
"Tidak perlu. Aku benar-benar hanya capek sedikit kok. Nanti rasa capekku juga hilang setelah aku istirahat beberapa menit lagi. Jadi lebih baik kamu juga ikut istirahat sama aku sini." Fanya menepuk-nepuk ranjang yang masih kosong disebelahnya. Namun perintahnya itu dibalas gelengan kepala oleh Zico.
"Tidak. Aku mau memijitmu. Jadi menurutlah, sayang," ucap Zico memohon.
Fanya menghela nafas panjang, ia ingin menolak lagi keinginan sang suami tapi saat ia melihat tatapan penuh permohonan yang terpancar di kedua mata Zico, ia jadi tak tega melakukannya. Alhasil dengan berat hati Fanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
Zico yang mendapat lampu hijau, ia tersenyum kemudian ia kembali memfokuskan dirinya dikaki Fanya. Ia segera menyingkirkan gaun yang menutupi kaki Fanya dan setelahnya ia dengan sangat hati-hati membuka sepatu high heels.
Mata Zico seketika terbuka lebar saat melihat di beberapa titik di kaki Fanya terdapat lebam dan ia sangat yakin jika lebam itu disebabkan oleh sepatu high heels sialan itu. Dengan kasar Zico membuang sepatu high heels yang tadi masih berada di genggaman tangannya.
Namun setelahnya ia mengelus lembut kaki Fanya.
"Apa ini sakit sekali, sayang?" tanya Zico yang dijawab gelengan kepala oleh Fanya.
Zico hanya mendengus kesal. Ia tau Fanya bohong, mana ada seseorang yang mendapatkan lebam tidak merasakan sakit?
"Setelah ini jangan pernah kamu pakai sepatu yang bentuknya sama kayak sepatu itu lagi. Kalau sampai aku lihat kamu pakai sepatu itu, aku akan mengambilnya lalu akan aku bakar. Aku tidak mau jika kakimu terluka karena sepatu sialan itu lagi," ujar Zico memperlihatkan sisi posesifnya.
Fanya yang mendengar hal tersebut pun ia terkekeh kecil.
"Kenapa kamu malah ketawa? Aku serius ini," ucap Zico cemberut.
"Awas ya kalau kamu sampai tidak menuruti apa yang aku perintahkan. Aku kurung kamu dikamar seharian jika kamu melanggar," tutur Zico yang lagi-lagi melayangkan ancaman untuk Fanya.
"Baiklah-baiklah aku akan menuruti semua ucapanmu, suamiku." Fanya mencubit gemas hidung mancung Zico.
Sedangkan laki-laki itu, mencoba mengalihkan pandangannya dari sang istri kala ia merasakan rasa panas di wajahnya. Zico tengah salting teman-teman.
"Baiklah aku percaya kepadamu. Aku akan mulai memijitmu. Kalau kamu nanti merasakan sakit, cengkram saja pundakku. Mengerti?" Fanya lagi-lagi hanya menganggukkan kepalanya. Setelah mendapat anggukan, Zico mulai memijit kaki Fanya perlahan agar istri tak merasa kesakitan. Namun apalah daya, Fanya tetap merasa sakit tapi sebisa mungkin perempuan itu tahan. Dan daripada ia mencengkram bahu Zico, ia memilih untuk mencengkeram sprei di samping badannya dan menggigit bibir bawahnya.
Hingga beberapa saat setelahnya, Zico tampak telah selesai untuk memijit kedua kaki Fanya yang membuat Fanya menghela nafas lega. Tak bisa ia pungkiri lagi, pijatan yang diberikan oleh Zico tadi sangat berpengaruh di kakinya. Yang awalnya saat kakinya ia gerakkan saja rasanya sakit sekali, kini lebih baik dari sebelumnya.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Fanya kala tatapan matanya bertemu dengan tatapan mata Zico.
Zico tersenyum lalu ia berdiri dari jongkoknya tadi, lalu tangannya ia gunakan untuk mengusap lembut kepala Fanya.
"Sama-sama kesayangan. Sekarang mau mandi?" tanya Zico yang diangguki oleh Fanya.
"Kalau begitu bagaimana jika kita mandi bersama biar hemat waktu," ucap Zico dengan menaik turunkan alisnya.
Fanya mendelikkan matanya saat mendengar perkataan dari suaminya itu. Lalu dengan refleks tangannya meraih bantal kemudian ia lempar tepat di wajah Zico. Dan setelahnya ia buru-buru berdiri dari duduknya kemudian ia berlari menuju ke arah kamar mandi meninggalkan Zico yang tengah melongo menatap kepergian dirinya.
Tapi hanya sesaat saja karena setelah itu Zico tersenyum melihat wajah Fanya yang tampak menggemaskan itu. Ahhh kalau begitu bagaimana kalau Zico menggoda istrinya itu lagi?
"Lho lho lho sayang! Kok kamu ninggalin aku sih?! Aku kan tadi bilang kalau kita mandi bareng!" teriak Zico sembari mendekati kamar mandi lalu mengetuk pintu kamar mandi itu.
"Sayang buka. Aku mau masuk. Aku juga mau mandi ini!" teriak Zico dengan gedoran yang semakin lama semakin kencang.
Sehingga membuat Fanya yang berada di dalam kamar mandi menggeram kesal sekaligus malu saat otaknya itu tiba-tiba membayangkan kegiatan yang belum pernah ia dan Zico lakukan yaitu mandi bersama. Astaga, hanya membayangkan saja wajah Fanya memerah.
"Sayang! Buka!" Namun teriakkan Zico yang kembali terdengar membuat Fanya mendengus kesal. Lalu dengan cepat ia membuka pintu kamar mandi namun hanya sedikit saja. Ia membuka pintu kamar mandinya bukan untuk mempersilahkan suaminya masuk lalu melakukan apa yang dia mau, namun dia membuka pintu hanya untuk melemparkan tatapan tajam kepada Zico sebelum dirinya menutup kembali pintu itu dengan kasar sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras sampai-sampai Zico terkejut. Tapi setelahnya laki-laki itu terkekeh geli.
"Sayang! Aku ikut masuk!" teriak Zico kembali dan beberapa saat setelahnya, entah apa yang di lempar oleh Fanya karena Zico mendengar pintu kamar itu berbunyi benturan dengan sangat keras yang lagi-lagi membuat dirinya tertawa.
"Sa---"
Brakkk!
__ADS_1
Belum juga Zico melanjutkan ucapannya, suara dentuman dari dalam terdengar kembali.
"Hahahaha baiklah-baiklah. Aku akan mandi setelahmu," ujar Zico yang sudah sangat puas mengerjai Fanya sekaligus ia tak ingin membuat istrinya itu marah. Kalau sampai marah, siap-siap saja ia tak mendapat jatah malam pertamanya malam ini dan Zico tak ingin hal itu terjadi.