
Vivian menatap lekat wajah Fanya yang tampak serius mengerjakan pekerjaan yang baru saja ia ajarkan kepadanya. Vivian cukup kagum dengan daya ingat Fanya dan juga daya tangkap otak perempuan tersebut pasalnya Vivian hanya butuh sekali saja ia mengajarkan apa saja yang akan Fanya kerjakan, Fanya langsung paham. Tapi Vivian akan tetap menunggu hasil dari pekerjaan Fanya untuk mengoreksi ada yang salah atau tidak sebelum ia pergi dari restoran tersebut.
"Nih cewek cantik banget. Gak heran Jio bisa jatuh cinta bertahun-tahun sama dia sampai bela-belain cari dia sampai di belahan dunia manapun eh taunya malah di Bandung."
Diam-diam Vivian terkekeh kecil, menertawakan kebodohan Zico yang tak menyadari keberadaan Fanya selama bertahun-tahun.
Fanya yang mendengar suara tertawa itu, ia menolehkan kepalanya kearah Vivian yang masih tertawa. Ia mengerutkan keningnya dan karena rasa penasarannya Fanya menyodorkan note booknya yang sudah ia isi tulisan di hadapan Vivian, lalu ia menepuk pelan pundak perempuan tersebut.
Vivian sempat terkejut kala mendapat tepukan di bahunya itu saking asiknya ia dengan dunianya sendiri.
"Ehhh maaf Fanya, saya ganggu kamu ya?" Fanya menggelengkan kepalanya.
"Ehhh bukan. Terus kenapa? Apa ada hal yang perlu saya jelaskan?" tanya Vivian yang lagi-lagi dibalas gelengan kepala oleh Fanya sebelum tangan bergerak menunjuk note booknya. Vivian mengikuti arah tunjuk Fanya dan ia baru menyadari jika dihadapannya ada sebuah kertas dengan tulisan Fanya disana.
"Bu Vivian kenapa tertawa sendiri? Apa ibu tengah menertawakan saya?"
"Tidak, tidak. Saya tidak sedang menertawakan kamu kok. Hanya saja tadi di otak saya tiba-tiba muncul memori lucu yang buat saya tertawa. Jadi tertawanya saya tadi tidak ada kaitannya dengan kamu kok," jawab Vivian dengan senyum di bibirnya. Jujur saja Vivian takut jika Fanya akan salah paham kepadanya dan menganggap ia menertawakan Fanya atau malah menganggap ia tengah menertawakan kekurangan perempuan itu padahal ia tengah menertawakan adiknya sendiri.
"Oh, begitu ya. Kalau begitu maaf telah mengganggu ibu."
__ADS_1
"Ahhh tidak. Kamu tidak mengganggu saya kok. Dan satu lagi, mulai sekarang jangan panggil saya dengan sebutan ibu oke, berasa tua banget kalau kamu panggil saya dengan sebutan itu. Lebih baik kamu panggil saya dengan Kakak saja. Saya tidak menerima penolak!" ucap Vivian mutlak.
Fanya terlihat menghela nafas kemudian ia menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah kalau begitu, kamu teruskan pekerjaan kamu. Kakak keluar dulu. Kamu tidak apa-apa kan Kakak tinggal disini sendirian?" tanya Vivian.
"Tidak apa-apa Kak."
Vivian tersenyum kala membaca balasan dari Fanya tadi kemudian ia segara berdiri. Tapi sebelum ia benar-benar pergi, ia kembali berucap, "Kakak pergi dulu. Kalau kamu lapar atau haus tinggal turun kebawah suruh salah satu juru masak membuatkan makanan untuk kamu atau pelayan suruh membuatkan minuman untuk kamu. Dan kamu tidak perlu membayarnya. Semua yang ada disini gratis untuk kamu," ujar Vivian sembari mengelus kepala Fanya. Lalu setelahnya barulah ia pergi dari ruang kerja Fanya.
Fanya menatap kepergian Vivian sampai perempuan itu menghilang daripadanya setelah melambaikan tangannya kearahnya tentunya ia balas lambaian tangannya itu.
Kepala Fanya kini menengadah, menatap langit-langit ruangan kerjanya.
"Ya Allah, entah dengan cara apa lagi hambamu ini berterimakasih atas apapun yang engkau berikan untuk hamba. Terutama dengan bertemunya hamba dengan Kak Vivian. Ya Allah, hamba sungguh-sungguh berterimakasih kepada engkau. Dan bantu hamba untuk melancarkan pekerjaan hamba ya Allah agar Kak Vivian tidak kecewa dengan hamba dan jangan berikan hamba rintangan diluar batas kemampuan hamba ya Allah, aamiin."
Fanya berdoa dengan sungguh-sungguh. Ia tak tau lagi jika dirinya melakukan kesalahan dan berakhir dirinya keluar dari pekerjaannya yang sekarang karena kesalahan fatal yang ia perbuat, dimana lagi ia akan mendapatkan bos sebaik Vivian. Tentunya ia tak akan menemukannya lagi. Maka dari itu Fanya bertekad untuk membuat Vivian puas dengan hasil kerjanya.
Fanya kini kembali fokus dengan layar laptop dihadapannya saat ini. Matanya terus bergerak melihat tulisan di layar monitor tersebut sedangkan jari-jari tangannya bergerak lincah di atas keyboard.
__ADS_1
Saat Fanya tengah fokus dengan pekerjaan barunya, disisi lain Vivian telah sampai di sebuah apartemen mewah. Ia segara turun dari mobilnya. Kemudian ia bergegas menuju ke salah satu unit apartemen di gedung tersebut.
Tanpa mengetuk pintu apartemen yang berada dihadapannya, ia langsung membuka kunci apartemen tersebut sebelum ia memutar kenop pintu. Saat pintu terbuka lebar dan ia mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam, ia bisa melihat seorang laki-laki yang tak lain adalah Zico tengah duduk di sofa dengan televisi yang menyala.
Sebisa mungkin Vivian tidak menimbulkan bunyi apapun. Sampai-sampai langkahnya pun ia pelankan agar Zico tak menyadari kehadirannya. Dan saat ia sudah berada tepat di belakang Zico, ia mengintip kearah iPad yang tengah dipegang oleh Zico sekaligus yang sedari tadi menyita seluruh atensi laki-laki itu sampai-sampai televisi yang menyala tak membuat Zico menatapnya sedetikpun.
Vivian memutar bola matanya kala ia sudah tau apa yang tengah adiknya itu lihat tentunya apalagi kalau bukan Fanya. Yap, Zico tengah menatap Fanya melalui rekaman CCTV yang berada di restoran barunya.
Dengan jahil Vivian menoyor pelan kepala Zico sembari berkata, "Bucin terus!"
Zico melirik kearah Vivian, lalu berdecak, "Ck, ganggu!"
Vivian mencebikkan bibirnya sebelum ia duduk di sebelah Zico. Ia menatap kearah adiknya yang kembali fokus kearah layar iPadnya.
"Gimana? Udah senang kan sekarang bisa lihat Fanya setiap hari walaupun cuma lewat rekaman CCTV doang?" Zico menatap sebentar kearah Vivian dengan senyum yang mengembang.
"Banget," balas Zico yang justru membuat Vivian menghela nafas kasar.
"Kamu ingat kan masih hutang penjelasan ke Kakak mengenai kamu yang tidak mau turun langsung buat mengontrol restoran itu dan sejak kapan kamu punya usaha di bidang makanan seperti ini?" ucap Fanya menagih janji Zico. Pasalnya tadi malam adiknya itu tiba-tiba telepon dirinya, menyuruh ia untuk pergi ke Bandung malam itu juga dengan alasan genting. Vivian yang malam itu panik dengan pikiran jika Zico tengah mengalami kesulitan yang tidak bisa laki-laki itu tangani sendiri, alhasil tanpa bertanya pun ia langsung pergi ke kota Bandung. Tapi saat ia telah sampai di kota itu, ia mendapati Zico tengah tertidur pulas tanpa ada luka sedikitpun di badannya. Dan karena ia tak tega membangunkan Zico alhasil ia menunda untuk bertanya alasan utama Zico menyuruhnya untuk datang ke Bandung. Sampai tadi pagi laki-laki itu meminta ia untuk datang ke Diamond cafe and resto miliknya dengan menyamar sebagai pemilik restoran yang sebenarnya kepada Fanya yang akan mengambil alih restoran itu. Vivian yang masih tak mengerti, menuntut Zico untuk menjelaskan secara rinci tapi laki-laki itu berjanji akan menjelaskannya ketika Fanya sudah menjadi manager di restoran itu.
__ADS_1
Berhubung Fanya sudah mengambil alih restoran, Vivian kini menagih janji adiknya itu yang sedari tadi berhasil membuatnya penasaran.