My Angel Wife

My Angel Wife
Bab 98


__ADS_3

Fanya menutup bibirnya yang tengah menganga lebar dengan kedua tangannya. Kakinya pun ia langkahkan mundur beberapa langkah. Kepalanya pun ia gelangkan, merasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.


"Gak. Gak mungkin kan? Aku pasti salah lihat?" batin Fanya dan untuk memastikan penglihatannya, kakinya kembali ia langkahkan mendekati wastafel.


Saat ia sudah berada di tempat sebelumnya dan melihat dengan jelas hasil dari benda pipih panjang itu, mata Fanya berkaca-kaca dan tak berselang lama tangisnya pun pecah. Ia raih salah satu dari kelima rest pack itu yang menunjukkan kata pregnant di layar digitalnya dengan tangan yang bergetar hebat. Kakinya pun terasa seperti jeli sehingga ia tak bisa menopang tubuhnya. Sampai akhirnya ia duduk diatas lantai dingin di kamar mandi itu.


Fanya terus menangis dengan mata yang menatap lekat hasil test pack itu. Sungguh Fanya tak menyangka jika ia masih di beri kesempatan untuk melihat catatan pregnant di benda pipih itu sebelum 3 bulan yang lalu ia divonis oleh dokter Ariana jika ia akan sulit mengandung bahkan mungkin ia sudah tidak bisa mengandung lagi mengingat ia sudah mengalami keguguran sebanyak 4 kali selama 2 tahun umur pernikahannya. Ya sebanyak itu tentunya dengan alasan yang berbeda-beda, yang pertama tentunya karena ia keguguran karena ulahnya sendiri diusia kandungan 2 bulan lebih. Yang kedua selang 2 bulan setelah ia keguguran, ia kembali di nyatakan mengandung namun sayang, baru di usia 8 minggu ia harus menjalani kuret dikarenakan hamil kosong. Yang ketiga, hampir sama kasusnya dengan kehamilannya yang kedua namun saat itu usia kandungannya yang baru ia ketahui 4 minggu harus kembali di angkat karena dokter Ariana memvonis jika ia mengalami yang namanya hamil anggur. Dan selang 1 bulan, ia kembali dinyatakan hamil bayi kembar namun lagi-lagi ia harus merelakan calon buah hatinya karena di usia 3 bulan, kedua calon buah hatinya tak bisa bertahan dan berakhir meninggal di dalam kandungannya.


Miris jika Fanya mengingat-ingat kejadian-kejadian menyedihkan itu. Bahkan disaat kegugurannya yang ke empat kali, ia sudah menyerah. Ia hampir mati karena dirinya melakukan aksi bunuh diri dengan menegak banyak obat tidur sekaligus obat penenang. Ia berharap dengan ia mati, ia tak merasa jika dirinyalah pembunuh calon bayi-bayinya. Ya, selama mengalami keguguran ke empat kakinya ia selalu menyalahkan dirinya sendiri walaupun Zico selalu memintanya untuk tak pernah menyalahkan siapapun atas kejadian ini termasuk Fanya sendiri. Dan selama masa-masa ia down, suaminya itu terus berada disampingnya dengan berusaha menghiburnya namun sayang usaha suaminya hanya ia abaikan. Hingga pada akhirnya ia mengurung dirinya sendiri di dalam kamar saat Zico waktu itu mengambil makan siang untuknya dan tentunya waktu luang itu ia manfaatkan untuk melaksanakan aksi bunuh dirinya. Tapi mungkin memang bukan waktunya ia dipanggil, sehingga Zico masih bisa menyelamatkan nyawanya. Dan saat itu juga ketika ia sadar dari masa kritisnya yang lagi-lagi karena ulah bodohnya itu, hal pertama yang ia lihat adalah wajah frustasi Zico yang terus menangis di sampingnya. Bahkan saat laki-laki itu tau ia sudah sadar, dia langsung sujud syukur dengan mengucapkan ribuan kata terimakasih kepada yang maha kuasa dan dengan Fanya sendiri. Dan saat itu juga Fanya berjanji tak akan mengulangi tindakan bodohnya itu dan ia juga berjanji akan bangkit demi suaminya. Hingga akhirnya ia saat ini sudah berhasil damai dengan dirinya sendiri dan dengan takdirnya.


Namun saat ia benar-benar sudah damai bahkan Zico juga sudah pasrah jika memang mereka tidak di anugrahi seorang anak pun karena Zico pernah berkata, "Aku tidak masalah jika kita hanya hidup berdua sampai tua, sayang, jika memang itu sudah menjadi takdir kita. Karena aku tidak akan melawan takdir dari yang maha kuasa, tapi jika memang kita masih diberi kesempatan lagi, aku juga tidak akan menolak. Tapi jika tidak ya tidak masalah asal kamu selalu ada di sampingku. Tapi semua itu kembali lagi dengan keputusanmu sayang. Jika kamu tidak terima hanya hidup berdua denganku sampai tua dan menginginkan anak di tengah-tengah keluarga kita, kita bisa angkat seorang bayi dari panti asuhan kalau memang benar-benar kita sudah tidak di percaya lagi sama yang maha kuasa. Semua itu tergantung kamu sayang. Mau hidup berdua denganku saja, atau memiliki seorang anak angkat. Aku ngikut apa maumu."

__ADS_1


Begitu kira-kira ucapan dari Zico tiga bulan yang lalu yang terus saja Fanya ingat sampai sekarang, sampai takdir justru berkata lain. Mereka yang sudah menyerah karena sudah berbagai cara mereka lakukan untuk mendapatkan seorang bayi yang tentunya hasilnya selalu gagal, justru kini bayi itu saat ini hadir di rahim Fanya kembali. Tentu saja rasa haru tak bisa lagi Fanya sembunyikan.


Tangan Fanya kini bergerak, menyentuh perut datarnya. Senyum pun kini ikut tercetak di bibirnya kala ia mulai mengusap perutnya itu.


"Aku mohon tuhan untuk kali ini saja berikan hamba kesempatan untuk merasakan yang namanya hamil besar, merasakan tendangan bayi di dalam perut hamba, mendengar detak jantungnya dan merasakan sakitnya proses melahirkan. Berikan hamba kesempatan untuk memberikan gelar ayah untuk suami hamba. Hamba mohon kepadamu, tuhan, jangan ambil lagi apa yang telah engkau titipkan di dalam rahim hamba kali ini. Aamiin." Doa itu Fanya panjatkan di tengah-tengah rasa haru yang membuncah. Jujur saja, ia takut harus mengalami kegagalan lagi dalam masa mengandung seperti yang ia alami sebelumnya. Ia takut mengecewakan Zico dan keluarga suaminya itu yang sudah menunggu kehadiran cucu dari Zico. Tak hanya itu juga, ketakutan Fanya yang paling besar adalah ia akan kembali mengalami yang namanya depresi yang akan membahayakan nyawanya kembali dan tentunya jika ia nekat melakukan aksi bunuh diri, maka artinya ia juga melanggar janji yang telah ia ucapkan untuk tidak meninggalkan Zico.


Fanya terus mengelus perutnya dengan senyum yang masih senantiasa terbit di bibirnya hingga elusan serta senyuman itu terhenti.


Fanya menggelengkan kepalanya.


"Tidak. Aku tidak mau bertemu dengan dokter Ariana lagi. Aku akan memeriksa kandunganku ini di rumah sakit lain dan di dokter lain selain dokter Ariana. Ya, aku harus cari dokter lain," batin Fanya penuh tekat. Ia yakin jika Dokter lain yang menangani kehamilannya, pasti akan membawa kabar baik untuknya.

__ADS_1


Fanya kini terkejut dari lamunannya saat ia mendengar gedoran pintu kamar mandi dengan teriakan yang tentunya ia sangat kenal betul teriakan itu berasal dari siapa, tentu saja dari Zico.


"Sayang! Apa kamu di dalam?! Kalau iya, bisa keluar sebentar! Aku mual!" teriak Zico.


Fanya yang mendengar hal itu pun ia memaksa kakinya yang masih lemas untuk segara bangkit dari posisi duduknya. Kemudian dengan gerakan cepat, ia mengantongi kelima test pack itu lalu membasuh wajahnya yang terdapat jejak air mata. Dan setelahnya ia berjalan, membuka pintu kamar mandi tersebut. Saat pintu itu sudah terbuka lebar, tanpa ba-bi-bu Zico langsung berlari kearah wastafel, memuntahkan isi perutnya. Tentunya Fanya dengan sigap memijit tengkuk Zico.


...****************...


Eyyy yoooo what up geng!😂 gimana-gimana eps ini? Terkejut bukan saat tau fakta Fanya pernah keguguran sebanyak itu? Dan jika kalian tanya kenapa saat keguguran sebanyak itu gak di tulis? Akan aku jawab, entar kebanyakan say jumlah eps cerita ini. Dan entah kenapa aku pikir mungkin kalian akan bosen kalau aku ikut sertakan masa-masa Fanya keguguran dari keguguran ke dua karena ke 1 udah ada babnya sampai keguguran yang ke 4. Jadi ya aku persingkat saja karena yakinlah di eps ini justru awal-awal konflik muncul 😂 Hayo siap tidak melewati konflik kali nanti? Tenang gak berat kok.


Udah itu aja yang mau aku sampaikan ke kalian. Jangan lupa seperti biasa, LIKE, VOTE , KOMEN, dan HADIAHNYA WOY JANGAN LUPA! Love you sekebon buat para cintaku. See you next eps bye bye 👋

__ADS_1


__ADS_2