
Ibu Suci mengalihkan pandangannya kearah Zico yang sedari tadi tak melepaskan genggaman tangannya yang ia rasa semakin menguat.
"Masa kelam Fanya tidak hanya sampai disitu saja. Saat dia berusia 5 tahun, dia sempat diculik saat ibu titipkan Fanya ke pengurus panti ini waktu itu. Beberapa pihak kepolisian ibu kerahkan sampai saat hari ke tiga akhirnya Fanya di temukan di satu rumah yang berada di tengah-tengah hutan. Dan didalam rumah itu tidak hanya Fanya saja melainkan ada beberapa anak kecil dan yang paling mengerikan, beberapa anak kecil itu---" Ibu Suci menggigit bibir bagian dalam dengan kepala yang ia tundukkan. Sangat berat ia melanjutkan ucapannya tadi.
Tapi Zico yang sudah sangat penasaran dirinya berkata, "Apa yang terjadi dengan anak-anak itu?"
"Anak-anak itu sudah meninggal dengan keadaan yang sangat mengenaskan dan sangat mengerikan. Beberapa bagian penting dalam tubuh anak-anak itu sudah diambil karena menurut penyelidikan para penculik yang tertangkap merupakan sebuah perkumpulan jual organ manusia ilegal. Tapi saat itu ibu cukup bersyukur karena Fanya dan satu anak lainnya selamat walaupun di tubuh Fanya ataupun anak itu terdapat luka yang cukup serius. Bahkan Fanya mengalami kritis dan koma selama satu bulan karena dia mengalami pendarahan di otaknya akibat pukulan benda keras. Dia juga mengalami patah tulang di tangan kanannya dan juga kedua kakinya retak. Tapi akhirnya Fanya bisa melewati masa kritisnyan dan sadar walaupun sempat mengalami trauma hebat," jelas ibu Suci yang sudah menegakkan kepalanya kembali.
Zico semakin shock dibuatnya. Ia ingin mengakhiri mengorek informasi mengenai kehidupan Fanya yang sangat menyayat hatinya. Hingga tanpa ia sadari satu tetes air mata keluar yang langsung dengan cepat ia hapus.
Zico berdehem sesaat untuk meredakan rasa sakit di hatinya. Mungkin ia memang akan mengakhiri untuk mengorek informasi kehidupan Fanya saat ini juga tapi ia perlu tanya satu hal yang selalu saja berputar di otaknya.
"Ibu, apa Zico boleh bertanya?" Ibu Suci menganggukkan kepalanya dengan salah satu tangannya menghapus air matanya.
"Apa boleh Zico tau alasan Fanya hanya diam saja? Saat kita bertanya atau berkomunikasi dengan dia, dia tidak membalas kita melalui suaranya melainkan hanya dengan sebuah tulisan. Apa Fanya, maaf memiliki keterbatasan dalam berbicara?" tanya Zico takut menyinggung ibu Suci. Walaupun wanita paruh baya itu bukan ibu kandung Fanya, tapi ia sangat yakin jika wanita itu sangat menyayangi Fanya.
Ibu Suci menghela nafas sebelum ia menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya, seperti yang kamu kira jika Fanya memang memiliki keterbatasan dalam berbicara istilah kasarnya dia bisu sejak lahir. Ibu dulu juga tidak menyangka jika Fanya memiliki keterbatasan itu karena dia cukup peka saat kecil dulu. Dia juga termasuk anak-anak yang suka menangis dan selalu merespon saat ibu atau pengurus panti yang lainnya berkomunikasi dengan dia walaupun hanya dengan gerakkan tubuhnya saja karena pada dasarnya orang yang memiliki keterbatasan dalam bicara biasanya dia cenderung tidak menangkap respon yang kita berikan dan biasanya juga orang yang memiliki keterbatasan itu pasti juga memiliki gangguan pada pendengarannya. Tapi Fanya justru sebaliknya, dia memang tidak bisa bicara tapi alat pendengarnya berfungsi secara normal. Ibu juga tidak tau kenapa bisa seperti itu. Tapi ibu percaya dengan kalimat dibalik kekurangan seseorang pasti ada kelebihannya. Dan kelebihan Fanya ada di pendengarnya. Makanya saat kita berkomunikasi dengan dia, dia bisa menangkap apa yang kita bicarakan tapi dia tidak bisa membalas melalui suaranya melainkan melalui tulisan atau melalui bahasa isyarat," jelas ibu Suci.
Zico memejamkan matanya, menahan air matanya agar tak tumpah lagi. Selama ini tebakannya benar jika Fanya merupakan seseorang yang memiliki keterbatasan, ia awalnya selalu menepis pikirannya itu dengan menganggap mungkin Fanya hanya malas bersuara saja dengan orang asing sepertinya. Tapi fakta yang baru ia ketahui secara tidak langsung membenarkan tebakannya tadi.
Ibu Suci yang melihat mata Zico senantiasa tertutup dengan kepala yang menengadah, ia mengelus lembut tangan Zico.
"Nak, kamu tidak apa-apa?" tanya ibu Suci yang membuat Zico mengalihkan pandangannya kearah wanita paruh baya tersebut dengan senyum di bibirnya.
"Saya tidak apa-apa, Bu. Oh ya, ibu saya kesini bukan hanya ingin tau tentang Fanya saja melainkan saya juga ingin menjadi salah satu donatur di panti ini, apakah bisa?" ucap Zico. Yap, Zico datang ke panti bukan hanya sekedar mencari tahu tentang Fanya saja melainkan ingin menjadi seorang donatur. Bahkan ia juga akan tetap menjadi donatur panti kalau Fanya tidak tinggal di tempat itu sekalipun karena ini niatnya dari dalam lubuk hati Zico sendiri.
"Apa ibu tidak salah dengar?" Zico menggelengkan kepalanya.
"Kamu serius ingin menjadi salah satu donatur disini?" Tanya ibu Suci untuk memastikan karena melihat dari penampilan Zico, ia bisa menebak jika laki-laki itu masih sangatlah mudah yang tentunya didalam pikiran ibu Suci, Zico hanya mengandalkan uang dari orangtuanya yang jelas sudah kaya melihat dari penampilannya ibu Suci sudah tau Zico dari kalangan keluarga apa. Ia tidak berniat untuk meremehkan Zico, hanya saja ia takut jika memang Zico berniat menjadi donatur dengan uang kedua orangtuanya, justru kedua orangtuanya tidak mensetujui niatnya itu dan malah menuntut panti asuhan miliknya.
"Tidak ada keraguan sama sekali didalam diri saya, ibu. Jadi saya sangat serius dengan ucapan saya tadi," timpal Zico.
"Tapi apa kamu sudah mendapat izin dari kedua orangtuamu? Kalau belum meminta izin lah kepada mereka terlebih dahulu," ujar ibu Suci.
__ADS_1
"Mereka pasti akan mengizinkan saya untuk berbuat kebaikan ibu."
"Jangan seperti itu nak Zico, walaupun kamu sangat yakin mereka akan mengizinkan kamu tapi lebih baik kamu tetap izin saja dulu ya." Zico menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak perlu izin ibu karena orangtua saya sudah dipanggil oleh Allah. Jadi walaupun saya tidak izin, mereka sudah tau dan sangat pasti sudah mengizinkan saya. Saya juga sudah bekerja, uang yang akan saya jadikan uang donatur adalah uang pribadi saya. Jadi saya mohon ibu mau mensetujui saya menjadi salah satu donatur disini," ujar Zico tentunya membuat ibu Suci tidak enak hati sekaligus terkejut akan fakta jika Zico sudah bekerja.
"Ahhh maaf ibu tidak tau jika kedua orangtuamu sudah tidak ada."
"Tidak apa-apa ibu. Jadi gimana? Apa ini mensetujui niat saya tadi?" Zico sudah tidak sabar mendengar jawaban ibu Suci.
Ibu Suci tampak menghela nafas sebelum kedua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman lalu ia berkata, "Ibu tidak akan menghalangi seseorang untuk berbuat kebaikan. Ibu akan ambilkan surat tanda bukti kamu menjadi salah satu donatur disini. Tapi sebelumnya ibu ucapkan beribu-ribu terimakasih ke kamu, nak Zico yang mau membantu kebutuhan panti ini."
Zico tersenyum, "Tidak perlu berterimakasih ibu karena apa yang saya lakukan saat ini tidak sebanding dengan kasih sayang dan waktu yang ibu habiskan untuk merawat juga membesarkan anak-anak di panti ini."
Ibu panti cukup tersentuh dengan ucapan Zico tadi sehingga tangannya terulur untuk mengelus kepala Zico sembari berkata, "Kamu memang anak baik. Kamu tunggu sebentar ya, ibu ambilkan suratnya dulu."
Zico menganggukkan kepalanya, membalas ucapan dari ibu Suci tadi. Sedangkan ibu Suci yang melihat anggukkan tersebut ia bergegas menuju ke satu ruangan yang masih berada di dalam ruang kerja wanita paruh baya tersebut untuk mengambil surat donatur yang akan ia berikan ke Zico nantinya.
__ADS_1