
Hari demi hari telah berlalu dan kini tepat satu bulan setelah para perempuan keluarga Abhivandya mempersiapkan segala kebutuhan untuk menyambut kedatangan baby twins yang waktu itu masih berusia 3 bulan di dalam kandungan Fanya.
Dan kehidupan rumah tangga Fanya dan Zico semakin damai. Walaupun ada beberapa kali seorang pengganggu entah wanita atau pria berusaha menghancurkan rumah tangga mereka dengan cara merayu, namun semua itu gagal. Cinta Fanya masih kekal untuk Zico seorang, begitu pula dengan Zico yang akan terus mencintai Fanya sampai kapanpun. Selama masa kehamilan Fanya pun keduanya tak terpisahkan sedetikpun. Sifat posesif yang di miliki Zico, tak membiarkan Fanya sendirian. Namun sayang, sepertinya untuk kali ini mereka harus terpisah. Pasalnya Zico baru mendapatkan sebuah kabar yang membuat dirinya hampir frustasi dibuatnya. Kabar adanya seseorang yang berhasil membobol keamanan anak perusahaannya yang kebetulan berada di luar negeri. Dengan masalah yang tengah menimpa anak perusahaannya ini, ia tak bisa melimpahkan tanggungjawabnya kepada tangan kanannya yang tidak mungkin bisa menangani kasus berat seperti saat ini, walaupun bisa mereka tatap memerlukan pemilik dari perusahaan tersebut yang memegang kendali penuh atas perusahaan. Dan jalan satu-satunya adalah dirinya sendiri lah yang menangani kasus ini yang artinya ia harus terbang ke negara tersebut. Zico tidak masalah jika ia harus terbang ke negara Singapore kapan saja, tapi itu dulu karena sekarang ia merasa tak rela ingin jauh-jauh dari kediamannya. Terlebih meninggalkan Fanya yang tak bisa ikut bepergian jauh yang dikhawatirkan akan berpengaruh dengan kondisi Fanya dan kandungannya jika wanita itu tetap kekeuh melakukan perjalanan jauh. Dan karena hal itu lihatlah Zico dibuat uring-uringan sejak pagi tadi setelah ia mendapat telepon dari tangan kanannya yang memegang anak perusahaan di Singapore.
Bahkan Zico kini tengah melamun di ruang keluarga dengan televisi yang sedari tadi ia biarkan menyala menemani lamunannya. Jangan ditanya Fanya kemana, satu jam yang lalu wanita itu istirahat di kamar mereka tentunya tadi di temani oleh Zico sebelum laki-laki itu berpindah tempat.
Zico mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Ck, kenapa ada masalah disaat-saat seperti ini sih? Sialan!" gumam Zico dengan umpatan diakhir ucapannya. Ia benar-benar frustasi sekarang dengan memikirkan keputusannya apakah sudah tepat meninggalkan Fanya sendirian di kediaman mereka. Ia bisa saja menitipkan Fanya kepada keluarga Abhivandya namun sayangnya, Mommy Della dan Daddy Aiden baru kemarin mereka terbang ke negara yang ditinggali oleh keluarga Edrea dikarenakan Edrea baru mengalami kecelakaan yang lumayan parah bersama suami dan kedua anaknya sehingga bukan hanya Mommy Della dan Daddy Aiden saja yang ke sana melainkan seluruh keluarga Abhivandya terkecuali dirinya dan Fanya yang memang tak bisa ikut, meninggalkan negara tercinta ini dan mereka berencana menginap beberapa minggu disana mungkin sampai mereka sembuh total. Jadi inilah salah satu hal yang membuat Zico gundah gulana karena dia juga tidak mungkin menitipkan Fanya di tempat panti asuhannya dulu karena mereka sudah tidak memiliki hak atas Fanya dan ia juga takut saat Fanya disana, justru istrinya itu terlena akan waktu istirahatnya karena terlalu asik bermain dengan anak-anak panti yang lain. Tapi Zico juga tidak bisa meninggalkan Fanya di kediaman mereka, Zico tidak bisa mempercayakan Fanya kepada maid maupun bodyguardnya.
Helaan nafas panjang Zico lakukan sebelum ia merebahkan kepalanya disandaran sofa dengan kedua tangannya yang ia gunakan untuk menutup kedua matanya.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, lebih tepatnya di kamar utama, tubuh Fanya tampak menggeliat dengan mata yang perlahan terbuka. Beberapa saat ia terdiam, mengumpulkan kesadarannya hingga akhirnya kesadarannya kembali sepenuhnya, ia menolehkan kepalanya kearah samping tubuhnya, dimana disamping itu biasanya tempat Zico tidur.
Kerutan di kening Fanya terlihat saat ia tak menemukan suaminya di sampingnya. Tatapan mata Fanya kini beralih kearah kamar mandi yang mana lampu kamar mandi tidak menyala yang berarti tidak ada orang di dalam kamar mandi tersebut.
"Kemana sih mas suami? Tumben-tumbenan gak ikut tidur. Biasanya kalau aku tidur dia selalu nempel kayak cicak," batin Fanya sembari mulai bangkit dari posisi rebahannya tadi. Lalu perlahan ia turun dari ranjang, ia berniat mencari keberadaan sang suami tercinta.
Ruangan pertama yang Fanya tuju adalah ruang kerja Zico. Namun ketika ia membukanya, ia tak melihat Zico ada di ruangan tersebut sehingga dirinya memilih untuk pergi menuju ke ruangan lain. Ia kini menuju ke lantai satu menggunakan lift yang ada di rumah itu. Hingga saat ia sudah sampai di lantai satu yang kebetulan terletak di ruang keluarga, baru saja pintu lift terbuka ia bisa melihat suaminya tengah berada di ruangan tersebut. Namun yang membuatnya bertanya-tanya, kenapa gestur tubuh suaminya seperti orang yang tengah frustasi? Ada apa dengan suaminya itu?
Fanya mempercepat langkah kakinya hingga ia telah duduk di samping tubuh Zico yang sepertinya tidak menyadari keberadaannya.
"Lho sayang. Sejak kapan kamu ada disini? Bukannya kamu tadi lagi istirahat di kamar?" tanya Zico.
__ADS_1
"Iya, aku tadi memang lagi istirahat di kamar tapi saat aku bangun kamu tidak ada di sampingku jadinya aku cari kamu. Ehhh kamu ternyata kamu malah disini."
Senyum Zico terukir kala melihat jawab yang diberikan oleh Fanya. Tangannya pun terulur mengusap lembut kepala Fanya.
"Maafkan aku karena sudah meninggalkanmu sendirian di kamar tadi." Fanya hanya menganggukkan kepalanya sebagai balasan atas ucapan dari Zico tadi. Lalu sesaat setelah itu tak ada lagi dari mereka berdua yang bersuara. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Hingga Fanya yang sudah tak tahan lagi memendam rasa penasarannya, akhirnya ia mulai membuka topik pembicaraan dengan menepuk pelan lengan Zico agar sang suami tersadar dari lamunannya.
Dan saat Zico menatap penuh kearahnya, Fanya mulai menggerakkan tangannya membuat rangkaian kata yang mewakili suaranya.
"Aku lihat-lihat ada yang beda dari kamu saat ini. Wajah kamu kelihatan murung dari tadi pagi dan gestur tubuh kamu juga kelihatan seperti orang yang lagi frustasi. Ada apa? Sini cerita."
Zico memang belum memberitahu Fanya tentang masalahnya. Dan pertanyaan dari Fanya tadi membuat Zico kini menggigit bibir bawahnya. Ia sangat ragu ingin menceritakan semuanya kepadanya sang istri karena ia belum memutuskan apakah ia akan meninggalkan Fanya sendirian di negara ini atau ia memilih merelakan salah satu perusahaannya bangkrut dengan kerugian yang sangat besar? Demi apapun Zico tidak bisa memutusakan keputusan apa yang akan ia ambil saat ini. Padahal waktunya hanya tinggal saat ini saja. Karena jika ia memilih untuk berangkat ke negara tetangga maka ia akan berangkat besok pagi untuk meminimalisir terjadi masalah yang cukup besar terhadap perusahaannya.
__ADS_1
...****************...
Hay Hay Hay! Apa kalian semua siap menuju konflik? Aku rasa kalian semua udah siap π€ tenang-tenang konfliknya cuma ecek-ecek aja kok alias sangat-sangat ringan kalau gak ringan boleh kalian marahin aku sebagai pencetus dari masalah yang ada di cerita iniπ Oh ya jangan lupa tinggalkan komentar yang banyak ya sama LIKE juga ahhh satu lagi Hadiahnya dong biar semangat nih π Udah ah itu aja pengumuman dari saya, sekian dan terimakasih. See you next eps bye bye π Love you sekebon untuk kalian semua πβ€οΈ